Saat matahari sedang bersinar
Jangan coba tutupi cahayanya dengan telapak tangan
Jangan pula terangi dengan api lilin
Itu sia-sia saja!
Telapak tangan adalah kekalahan-kekalahanmu
Api lilin adalah kemenangan-kemenanganmu
Keduanya tak banyak artinya buatmu
Karena kamu adalah Sang Matahari terang benderang
yang selalu bersinar dan menghangatkan bumi
Cerita pendek ringan bernuansa psikologi dan manajemen untuk teman minum teh
Ketika Kesempatan Tiba
Alkisah seorang pemuda berkeinginan untuk memperbaiki kehidupannya dengan merantau ke sebuah kota bernama Kota Hukum. Pemuda tersebut berharap di Hukum kehidupannya akan lebih baik dari sebelumnya. Pesona Hukum yang terkenal sebagai sebuah kota yang adil dan sejahtera telah membuatnya benar-benar terpikat untuk pindah ke sana.
Pada suatu hari berangkatlah Si Pemuda menuju Hukum dengan membawa sejuta harapan. Dibayangkannya kehidupannya akan jauh lebih baik dibanding saat dirinya masih tinggal di kampung halaman. Impian itu sebentar lagi akan terwujud setelah dirinya sampai di Hukum. Setelah beberapa hari menempuh perjalanan akhirnya Si Pemuda sampai di pintu gerbang Hukum. Nampak seorang penjaga berdiri tegak mengawal pintu gerbang dengan menyandang senjata lengkap.
Saat si pemuda hendak melintasi pintu gerbang tiba-tiba Si Penjaga menahan langkahnya.
“Berhenti disitu!. Kamu tak boleh masuk!” seru Si Penjaga.
“Mengapakah saya tak boleh nak masuk?”
“Jangan banyak tanya! Pokoknya kamu tak boleh masuk!
‘Tapi saya datang dari jauh untuk tinggal di Kota Hukum. Apa alasanmu mencegahku masuk ke Hukum?
“Pokoknya tunggu saja disitu! Kamu gak boleh masuk!” kata Si Penjaga dengan dingin.
Akhirnya Si Pemuda menyerah dan duduk menunggu di muka Hukum. Sampai malam hari Si Penjaga tak kunjung mengijinkan dirinya untuk masuk ke dalam kota. Si Pemuda kemudian menginap di sana.
Begitu seterusnya hari demi hari si pemuda menunggu ijin dari Si Penjaga pintu yang tak kunjung diberikan. Bulan demi bulan, tahun demi tahun berlalu hingga Si Pemuda telah menjadi kakek-kakek -- ijin melintasi pintu gerbang belum juga di dapat. Sampai kemudian Si Pemuda telah benar-benar uzur. Menjelang ajalnya dia memberanikan diri bertanya kepada Si Penjaga.
“Aku selama ini tak pernah melihat seorang-pun melintasi pintu gerbang ini. Emangnya pintu ini diperuntukkan bagi siapa?”
“Pintu gerbang ini khusus untukmu. Bukan buat orang lain. Sayang kamu tak cukup berani untuk melintasi. Aku akan menutupnya hari ini!”
^_^
Kisah di atas diolah dari cerita Di Muka Hukum karya Franz Kafka (Bruno, 1998). Kisah tersebut menceritakan tentang seseorang yang gagal memanfaatkan kesempatan. Tentang para penunda waktu yang menganggap kesempatan diperuntukkan bagi orang lain dan bukan untuk dirinya. Padahal dengan bekal sedikit keberanian, kesempatan telah terbuka lebar baginya.
Si Pemuda adalah gambaran seseorang yang akan melakukan sesuatu tetapi terus ditunda-tunda karena seolah-olah ada seorang “penjaga pintu gerbang” yang mencegahnya memulai pekerjaan. Penjaga yang sebenarnya tak punya otoritas untuk mencegahnya.
Penjaga itu sebenarnya tidak ada. Dia hanyalah hambatan-hambatan dan risiko-risiko yang mencegah seseorang melakukan sesuatu. Kadangkala seseorang tak punya cukup keberanian melakukan sesuatu karena takut mengambil risiko dan terus menundanya. Padahal risiko itu sebenarnya biasa-biasa saja, tetapi dibesar-besarkannya di dalam benaknya. Rintangan-rintangan itu akan dapat dia atasi bila saja dia punya cukup keberanian.
Pada suatu hari berangkatlah Si Pemuda menuju Hukum dengan membawa sejuta harapan. Dibayangkannya kehidupannya akan jauh lebih baik dibanding saat dirinya masih tinggal di kampung halaman. Impian itu sebentar lagi akan terwujud setelah dirinya sampai di Hukum. Setelah beberapa hari menempuh perjalanan akhirnya Si Pemuda sampai di pintu gerbang Hukum. Nampak seorang penjaga berdiri tegak mengawal pintu gerbang dengan menyandang senjata lengkap.
Saat si pemuda hendak melintasi pintu gerbang tiba-tiba Si Penjaga menahan langkahnya.
“Berhenti disitu!. Kamu tak boleh masuk!” seru Si Penjaga.
“Mengapakah saya tak boleh nak masuk?”
“Jangan banyak tanya! Pokoknya kamu tak boleh masuk!
‘Tapi saya datang dari jauh untuk tinggal di Kota Hukum. Apa alasanmu mencegahku masuk ke Hukum?
“Pokoknya tunggu saja disitu! Kamu gak boleh masuk!” kata Si Penjaga dengan dingin.
Akhirnya Si Pemuda menyerah dan duduk menunggu di muka Hukum. Sampai malam hari Si Penjaga tak kunjung mengijinkan dirinya untuk masuk ke dalam kota. Si Pemuda kemudian menginap di sana.
Begitu seterusnya hari demi hari si pemuda menunggu ijin dari Si Penjaga pintu yang tak kunjung diberikan. Bulan demi bulan, tahun demi tahun berlalu hingga Si Pemuda telah menjadi kakek-kakek -- ijin melintasi pintu gerbang belum juga di dapat. Sampai kemudian Si Pemuda telah benar-benar uzur. Menjelang ajalnya dia memberanikan diri bertanya kepada Si Penjaga.
“Aku selama ini tak pernah melihat seorang-pun melintasi pintu gerbang ini. Emangnya pintu ini diperuntukkan bagi siapa?”
“Pintu gerbang ini khusus untukmu. Bukan buat orang lain. Sayang kamu tak cukup berani untuk melintasi. Aku akan menutupnya hari ini!”
^_^
Kisah di atas diolah dari cerita Di Muka Hukum karya Franz Kafka (Bruno, 1998). Kisah tersebut menceritakan tentang seseorang yang gagal memanfaatkan kesempatan. Tentang para penunda waktu yang menganggap kesempatan diperuntukkan bagi orang lain dan bukan untuk dirinya. Padahal dengan bekal sedikit keberanian, kesempatan telah terbuka lebar baginya.
Si Pemuda adalah gambaran seseorang yang akan melakukan sesuatu tetapi terus ditunda-tunda karena seolah-olah ada seorang “penjaga pintu gerbang” yang mencegahnya memulai pekerjaan. Penjaga yang sebenarnya tak punya otoritas untuk mencegahnya.
Penjaga itu sebenarnya tidak ada. Dia hanyalah hambatan-hambatan dan risiko-risiko yang mencegah seseorang melakukan sesuatu. Kadangkala seseorang tak punya cukup keberanian melakukan sesuatu karena takut mengambil risiko dan terus menundanya. Padahal risiko itu sebenarnya biasa-biasa saja, tetapi dibesar-besarkannya di dalam benaknya. Rintangan-rintangan itu akan dapat dia atasi bila saja dia punya cukup keberanian.
Referensi: Frank J. Bruno, 1998, Stop Procrastinating, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Label:
cerita manajemen,
cerita pendek
Puisi Cinta Keluarga Dimsam dan Dimsum
I
DIMSAM:
Bila aku lari dari kenyataan,
takut mengambil keputusan,
katakan padaku :
Betapapun pahitnya, kenyataan harus kuhadapi,
keputusan menuntut pengorbanan,
aku harus merelakan sesuatu untuk
meraih sesuatu yang lain.
DIMSUM:
Saat kau mulai takut hadapi kenyataan,
akan kukatakan :
Kau tidak sendirian.
Aku selalu mendukungmu, dan
Allah yang Mahaperkasa,
tak sedetik-pun berhenti menjagamu.
II
DIMSAM:
Bila aku hampir putus asa karena
kegagalan yang bertubi-tubi
Katakan padaku untuk melakukan yang
terbaik, jangan pedulikan hasil yang kuraih.
DIMSUM:
Bila kegagalan membuatmu gamang,
akan kuingatkan janji Allah bahwa
orang-orang yang beriman dan
mengerjakan amal-amal saleh
akan berkuasa di muka bumi.
III
DIMSUM:
Bila aku marah
karena aku yang bekerja keras,
tetapi orang lain yang mendapat penghargaan
Ingatkan aku bahwa dalam pencapaian tujuan,
siapa yang kalah
dan siapa yang menang
menjadi tidak penting.
DIMSAM:
Akan kukatakan :
Buat Matahari terang benderang seperti dirimu,
Matahari perkasa yang kehangatan sinarnya
dirasakan oleh semua orang,
Penghargaan atau celaan tak banyak artinya.
IV
DIMSUM :
Bila aku terlalu banyak menonton TV
Tariklah aku ke dunia nyata
DIMSAM :
Akan kuajak kau bertandang
ke rumah sepupu
ke rumah teman-teman,
atau berkebun di halaman rumah
V
DIMSUM :
Bila rekreasi dan jalan-jalan saat liburan
telah membuatku bosan, ajaklah aku
melakukan sesuatu yang lain
DIMSAM :
Akan kuajak kau mencoba resep-resep
baru dalam buku masakmu.
Dan kita akan tertawa bersama untuk
masakan yang lezat atau yang gagal.
VI
DIMSAM :
Bila aku mulai melupakan kata-kata indah
dan kata-kata lembut
yang membahagiakan dirimu,
Katakan padaku bahwa taman indah
yang kubangun dalam hatimu
akan merana bila tak pernah disiram
DIMSUM :
(Kutulis sambil tertawa)
Akan kutuntun dirimu untuk
mengucapkan kata-kata indah buatku ^_^
DIMSAM:
Bila aku lari dari kenyataan,
takut mengambil keputusan,
katakan padaku :
Betapapun pahitnya, kenyataan harus kuhadapi,
keputusan menuntut pengorbanan,
aku harus merelakan sesuatu untuk
meraih sesuatu yang lain.
DIMSUM:
Saat kau mulai takut hadapi kenyataan,
akan kukatakan :
Kau tidak sendirian.
Aku selalu mendukungmu, dan
Allah yang Mahaperkasa,
tak sedetik-pun berhenti menjagamu.
II
DIMSAM:
Bila aku hampir putus asa karena
kegagalan yang bertubi-tubi
Katakan padaku untuk melakukan yang
terbaik, jangan pedulikan hasil yang kuraih.
DIMSUM:
Bila kegagalan membuatmu gamang,
akan kuingatkan janji Allah bahwa
orang-orang yang beriman dan
mengerjakan amal-amal saleh
akan berkuasa di muka bumi.
III
DIMSUM:
Bila aku marah
karena aku yang bekerja keras,
tetapi orang lain yang mendapat penghargaan
Ingatkan aku bahwa dalam pencapaian tujuan,
siapa yang kalah
dan siapa yang menang
menjadi tidak penting.
DIMSAM:
Akan kukatakan :
Buat Matahari terang benderang seperti dirimu,
Matahari perkasa yang kehangatan sinarnya
dirasakan oleh semua orang,
Penghargaan atau celaan tak banyak artinya.
IV
DIMSUM :
Bila aku terlalu banyak menonton TV
Tariklah aku ke dunia nyata
DIMSAM :
Akan kuajak kau bertandang
ke rumah sepupu
ke rumah teman-teman,
atau berkebun di halaman rumah
V
DIMSUM :
Bila rekreasi dan jalan-jalan saat liburan
telah membuatku bosan, ajaklah aku
melakukan sesuatu yang lain
DIMSAM :
Akan kuajak kau mencoba resep-resep
baru dalam buku masakmu.
Dan kita akan tertawa bersama untuk
masakan yang lezat atau yang gagal.
VI
DIMSAM :
Bila aku mulai melupakan kata-kata indah
dan kata-kata lembut
yang membahagiakan dirimu,
Katakan padaku bahwa taman indah
yang kubangun dalam hatimu
akan merana bila tak pernah disiram
DIMSUM :
(Kutulis sambil tertawa)
Akan kutuntun dirimu untuk
mengucapkan kata-kata indah buatku ^_^
Label:
puisi,
Puisi Cinta,
puisi pernikahan
Kemerdekaan Sejati
Adalah negeri Sodom,
di jaman Nabi Luth.
Terjadilah hal,
yang amat mencoreng manusia.
Lelaki kawin lelaki,
Perempuan, perempuan.
Adalah Negeri Sodom,
sarang para pendurhaka.
Manusia terbalik,
dunia ikut terbalik.
^_^
di jaman Nabi Luth.
Terjadilah hal,
yang amat mencoreng manusia.
Lelaki kawin lelaki,
Perempuan, perempuan.
Adalah Negeri Sodom,
sarang para pendurhaka.
Manusia terbalik,
dunia ikut terbalik.
^_^
Saya tidak ingat persis bunyi lirik lagu Bimbo tentang Negeri Sodom tersebut, tetapi kurang lebih isinya seperti itu. Berkisah tentang Negeri Sodom, tempat manusia ditaklukkan oleh hawa nafsunya. Sodom adalah contoh sebuah negeri yang masih berada di era penjajahan. Bukan penjajahan oleh negeri lain, tetapi penjajahan oleh hawa nafsu. Penduduk Sodom memilih tunduk dan patuh pada dorongan hawa nafsu seraya mengabaikan ajaran-ajaran kebenaran yang dibawa Nabi Luth.
Hawa nafsu dianggap sebagai penguasa tertinggi oleh sebagian manusia adalah kisah yang sudah ada sejak jaman dulu kala. Tentu saja bisa saja dicari-cari seribu satu alasan pembenar untuk menuruti hawa nafsu.
^_^
Sebenarnya di jalan raya-pun manusia dituntut oleh peraturan lalu lintas untuk mengendalikan hawa nafsunya. Seorang yang punya kecenderungan lebih pintar mengemudi bila berjalan di sisi kanan jalan-pun, tetap harus mematuhi peraturan lalu lintas untuk mengemudikan kendaraan di sisi kiri jalan. Tidak ada perlakuan khusus untuk orang-orang yang memiliki kecenderungan mengemudi berbeda.
Hawa nafsu dianggap sebagai penguasa tertinggi oleh sebagian manusia adalah kisah yang sudah ada sejak jaman dulu kala. Tentu saja bisa saja dicari-cari seribu satu alasan pembenar untuk menuruti hawa nafsu.
^_^
Sebenarnya di jalan raya-pun manusia dituntut oleh peraturan lalu lintas untuk mengendalikan hawa nafsunya. Seorang yang punya kecenderungan lebih pintar mengemudi bila berjalan di sisi kanan jalan-pun, tetap harus mematuhi peraturan lalu lintas untuk mengemudikan kendaraan di sisi kiri jalan. Tidak ada perlakuan khusus untuk orang-orang yang memiliki kecenderungan mengemudi berbeda.
Mereka mau tak mau harus menundukkan keinginan untuk mengemudi di sebelah kanan jalan. Mereka harus belajar mengemudi di sebelah kiri bila ingin mengemudi kendaraan di Indonesia tanpa ditilang. Mereka harus mengendalikan diri agar sesuai dengan peraturan lalu lintas. Semua itu diperlukan agar lalu lintas menjadi tertib dan teratur yang manfaatnya akan dirasakan oleh semua orang (undil 2008)
Label:
pluralisme dan kebenaran
Kariagus Si Ahli Teori yang tidak pernah Praktek
Kariagus berang kala suatu ketika Mataharikus menyebut Kariagus sebagai THEORON alias Theory-Only. Waktu itu Kariagus sedang menjelaskan tentang kiat-kiat sukses menjadi seorang fotografer. Sebenarnyalah Mataharikus bilang gitu karena kesal dengan si Kariagus yang sangat bersemangat dalam mendiskusikan teknik-teknik memotret tingkat tinggi, tetapi tak pernah datang saat diundang latihan bersama klub fotografi selepas kerja.
“Kamu itu hasil jepretan kamera digitalmu tiga bulan lalu aja belum ditransfer ke komputer kok mau ngajarin kiat sukses jadi fotografer lho!. Mbok ya-o dibuktikan dulu, gak ada tumpukan file-file di memori kameramu!” kata Mataharikus sambil tertawa geli.
Karuan saja Kariagus berang. Berani-beraninya Si Rikus jelek ini menyebut dirinya sebagai tukang teori tanpa pernah praktek. Bagaimana mungkin makhluk ini punya nyali mengejek teori-teorinya yang diklaimnya lebih canggih daripada teori-teori yang mendasari peluncuran Apollo ke bulan!
“Bah-bah! Akan kubuktikan padamu wahai Mataharikus yang berpikiran sempit! Teori-teoriku itu amat canggih dan bukan mimpi siang bolong! Aku akan jadi juara lomba fotografi di kantor tahun ini! kata Kariagus sembari mengomel-ngomel.
^_^
Singkat cerita Kariagus mendadak rajin berdiskusi dengan para fotografer di kantornya. Dia juga memborong buku-buku teknik fotografi. Dibacanya dengan tekun dan dicocokkannya dengan hasil diskusi. Tak puas dengan itu, dibrowsingnya teknik memotret menggunakan kamera digital via Google. Dibacanya dan dipelajari dengan seksama. Semua pengetahuan itu dia sintesa menjadi satu pengetahuan fotografi yang dianggapnya sophisticated!
Akibat sumber pengetahuan yang melimpah ruah itu dalam waktu singkat Kariagus menjadi jagoan fotografi. Bahkan mungkin dia yang paling jago se-kantor. Dari mulai teori cara memegang kamera hingga teori cara mengatur pencahayaan telah dia kuasai dengan baik. Segala yang diperlukan untuk dapat memotret dengan canggih telah dia miliki.
Tapi ada sayangnya. Semua penguasaan itu hanyalah teori. Kariagus hanya tahu teorinya dan tidak pernah mempraktekkannya. Dia sama sekali tidak tertarik untuk berlatih. Bahkan Kariagus tidak tahu fasilitas apa saja yang ada di kameranya. Dia juga tidak tahu teori-teori mana saja yang bisa dipraktekkan di kameranya.
Tak heran menjelang hari-h, Kariagus resah. Dia bingung dengan segala macam teori canggih yang dimilikinya. Dirasakannya dirinya hanya hebat bila bercerita tentang cara memotret yang baik tanpa harus memperagakan dengan kamera. Begitu ada orang yang ingin peragaan, Kariagus jadi pusing. Secara dia tidak pernah praktek, hanya berputar-putar di alam pikiran saja. Dia hanya di awang-awang. Tak mungkinlah dirinya mengajarkan praktek memotret. Lalu bagaimana nanti saat lomba? Mampukah dia merealisasikan sophisticated-mind nya dalam wujud foto-foto menawan?
^_^
Ramalan Mataharikus akhirnya memang terbukti. Akibat kurang berlatih Kariagus gagal mengaplikasikan teorinya! Foto-foto hasil jepretan Kariagus jauh dari standar juara. Kebanyakan gambarnya kabur. Kalau gambarnya tidak kabur ya gelap! Kariagus bete sekali! Kali ini karena segala perkataan Mataharikus tentang dirinya benar-benar terbukti dengan telak!
^_^
Kariagus sadar akan kekurang-berlatihan dirinya. Dia ingin memperbaikinya. Makanya minggu paginya dia keliling Bandung. Dibawanya kamera dan satu buku teknik memotret yang paling tipis. Dibacanya halaman demi halaman dan langsung dipraktekkan. Ternyata tidak mudah! Untuk melintasi satu bab buku saja perlu berjam-jam. Tapi dia terus mencoba dan mencoba. Dia sama sekali tidak rela dicap sebagai seorang theoron. Hiks! Theoron boleh aja. Tapi prakteknya dia juga bisa!
Dia merasa dirinya adalah seorang yang mampu mewujudkan inspirasi menjadi kenyataan. Dia terus membaca dan memotret. Dia hanya istirahat untuk sholat dan makan. Kariagus terus mengelilingi Bandung sambil memotret hingga tengah malam. Seperempat buku telah dibacanya. Dia puas. Paling tidak untuk hari ini dirinya bukanlah seorang theoron.
Lagipula dia merasa menjadi seorang theoron-pun tidak apa-apa -- asal tidak di semua hal hanya bisa teori belaka. Paling tidak kini dia telah mempraktekkan sebagian teorinya. Bahkan dengan bekal teori saja-pun Kariagus merasa bisa bermanfaat dengan mengajarkan teorinya pada orang lain. Siapa tahu mereka bisa merealisasikan dengan lebih baik? Seperti halnya seorang pelatih yang sukses mencetak anak didik yang lebih handal dari dirinya (undil-2008)
“Kamu itu hasil jepretan kamera digitalmu tiga bulan lalu aja belum ditransfer ke komputer kok mau ngajarin kiat sukses jadi fotografer lho!. Mbok ya-o dibuktikan dulu, gak ada tumpukan file-file di memori kameramu!” kata Mataharikus sambil tertawa geli.
Karuan saja Kariagus berang. Berani-beraninya Si Rikus jelek ini menyebut dirinya sebagai tukang teori tanpa pernah praktek. Bagaimana mungkin makhluk ini punya nyali mengejek teori-teorinya yang diklaimnya lebih canggih daripada teori-teori yang mendasari peluncuran Apollo ke bulan!
“Bah-bah! Akan kubuktikan padamu wahai Mataharikus yang berpikiran sempit! Teori-teoriku itu amat canggih dan bukan mimpi siang bolong! Aku akan jadi juara lomba fotografi di kantor tahun ini! kata Kariagus sembari mengomel-ngomel.
^_^
Singkat cerita Kariagus mendadak rajin berdiskusi dengan para fotografer di kantornya. Dia juga memborong buku-buku teknik fotografi. Dibacanya dengan tekun dan dicocokkannya dengan hasil diskusi. Tak puas dengan itu, dibrowsingnya teknik memotret menggunakan kamera digital via Google. Dibacanya dan dipelajari dengan seksama. Semua pengetahuan itu dia sintesa menjadi satu pengetahuan fotografi yang dianggapnya sophisticated!
Akibat sumber pengetahuan yang melimpah ruah itu dalam waktu singkat Kariagus menjadi jagoan fotografi. Bahkan mungkin dia yang paling jago se-kantor. Dari mulai teori cara memegang kamera hingga teori cara mengatur pencahayaan telah dia kuasai dengan baik. Segala yang diperlukan untuk dapat memotret dengan canggih telah dia miliki.
Tapi ada sayangnya. Semua penguasaan itu hanyalah teori. Kariagus hanya tahu teorinya dan tidak pernah mempraktekkannya. Dia sama sekali tidak tertarik untuk berlatih. Bahkan Kariagus tidak tahu fasilitas apa saja yang ada di kameranya. Dia juga tidak tahu teori-teori mana saja yang bisa dipraktekkan di kameranya.
Tak heran menjelang hari-h, Kariagus resah. Dia bingung dengan segala macam teori canggih yang dimilikinya. Dirasakannya dirinya hanya hebat bila bercerita tentang cara memotret yang baik tanpa harus memperagakan dengan kamera. Begitu ada orang yang ingin peragaan, Kariagus jadi pusing. Secara dia tidak pernah praktek, hanya berputar-putar di alam pikiran saja. Dia hanya di awang-awang. Tak mungkinlah dirinya mengajarkan praktek memotret. Lalu bagaimana nanti saat lomba? Mampukah dia merealisasikan sophisticated-mind nya dalam wujud foto-foto menawan?
^_^
Ramalan Mataharikus akhirnya memang terbukti. Akibat kurang berlatih Kariagus gagal mengaplikasikan teorinya! Foto-foto hasil jepretan Kariagus jauh dari standar juara. Kebanyakan gambarnya kabur. Kalau gambarnya tidak kabur ya gelap! Kariagus bete sekali! Kali ini karena segala perkataan Mataharikus tentang dirinya benar-benar terbukti dengan telak!
^_^
Kariagus sadar akan kekurang-berlatihan dirinya. Dia ingin memperbaikinya. Makanya minggu paginya dia keliling Bandung. Dibawanya kamera dan satu buku teknik memotret yang paling tipis. Dibacanya halaman demi halaman dan langsung dipraktekkan. Ternyata tidak mudah! Untuk melintasi satu bab buku saja perlu berjam-jam. Tapi dia terus mencoba dan mencoba. Dia sama sekali tidak rela dicap sebagai seorang theoron. Hiks! Theoron boleh aja. Tapi prakteknya dia juga bisa!
Dia merasa dirinya adalah seorang yang mampu mewujudkan inspirasi menjadi kenyataan. Dia terus membaca dan memotret. Dia hanya istirahat untuk sholat dan makan. Kariagus terus mengelilingi Bandung sambil memotret hingga tengah malam. Seperempat buku telah dibacanya. Dia puas. Paling tidak untuk hari ini dirinya bukanlah seorang theoron.
Lagipula dia merasa menjadi seorang theoron-pun tidak apa-apa -- asal tidak di semua hal hanya bisa teori belaka. Paling tidak kini dia telah mempraktekkan sebagian teorinya. Bahkan dengan bekal teori saja-pun Kariagus merasa bisa bermanfaat dengan mengajarkan teorinya pada orang lain. Siapa tahu mereka bisa merealisasikan dengan lebih baik? Seperti halnya seorang pelatih yang sukses mencetak anak didik yang lebih handal dari dirinya (undil-2008)
Label:
cerita manajemen,
cerita pendek
Manusia yang Mengumpulkan Kepingan-kepingan Puzzle Ilmu Jiwa Manusia
Seorang manusia yang mengumpulkan
kepingan-kepingan sifat-sifat manusia
hingga terkumpul dalam sebuah puzzle ilmu jiwa manusia.
Dia belajar dari hal-hal yang telah dia lakukan
Dia menilai dan menimbang reaksi-reaksi orang
terhadap apa yang dia lakukan
Lalu dia belajar untuk bisa bertindak lebih bijak
Terkadang saat akan melakukan sesuatu
dalam area kepingan puzzle yang masih kosong
dia hanya bisa meraba-raba dalam sebersit rasa ragu.
Dan dia tetap melakukan karena menurut dia baik.
Kemudian reaksi-reaksi orang membuatnya
menilai ulang perbuatannya,
dan terkadang membuatnya didera rasa bersalah
Dan dia sadar,
maksud baik saja tidak cukup,
harus disertai pemahaman terhadap sifat-sifat manusia,
agar maksud baik itu terealisasi dalam harmoni,
agar tidak menabrak benang-benang halus perasaan manusia,
agar kebaikan itu teraplikasi dengan cantik,
dalam sebuah orkestra indah hubungan antar manusia
Label:
Mengenal Diri
Puisi tentang Hal Remeh Temeh: Lupakan Saja!
Kadang-kadang sesuatu yang sepele lebih baik tidak dikatakan
Kadang-kadang hal remeh temeh lebih baik disimpan dalam hati
Kadang-kadang kekecewaan lebih baik dilupakan daripada dikatakan
Daripada bikin orang lain bete
Daripada bikin orang lain merasa bersalah
Daripada bikin jarak dari mereka
Lagipula buat apa berkeringat oleh persoalan kecil!
(Undil-2008)
Kadang-kadang hal remeh temeh lebih baik disimpan dalam hati
Kadang-kadang kekecewaan lebih baik dilupakan daripada dikatakan
Daripada bikin orang lain bete
Daripada bikin orang lain merasa bersalah
Daripada bikin jarak dari mereka
Lagipula buat apa berkeringat oleh persoalan kecil!
(Undil-2008)
Label:
Mengenal Diri,
puisi
Cerpen Ketika Gerimis Rintik-rintik
Kariage terhenyak melihat tumpukan sampah dalam kantong plastik di depan pintu kamarnya. Tumpukan sampah itu mengganggu indahnya pemandangan laut lepas dari kamarnya. Sudah beberapa hari sampah tidak dia buang ke bak sampah di belakang rumah. Pangkalnya adalah kamar kostnya yang terletak di lantai dua membuatnya harus turun tangga dan menyeberangi halaman dalam terus membuka pintu garasi, baru dia bisa ke halaman belakang untuk membuang sampah. Hiks!
Pulang kerja saat tubuh terasa letih membuatnya enggan turun sambil menjinjing plastik sampah. Padahal bila dibiarkan teronggok di depan kamarnya bakalan mengundang barisan semut-semut merah untuk merubungnya. Kalo sudah gitu si semut sebentar lagi akan memperluas jelajahnya ke dalam kamar dan mengganggu aktifitas Kariage.
Bila semut sudah menginvasi kamar akan berakibat fatal. Sebentar saja meninggalkan makanan dalam kondisi terbuka akan segera dirubung segerombolan semut. Lupa tidak menutup gelas akan segera dicemplungin kawanan semut. Bahkan botol aqua galon yang tidak tertutup rapat-pun segera menjadi arena berenang buat ratusan semut. Sungguh gangguan yang akan membuatnya bete Kariage.
Makanya sore ini sepulang kerja dia berniat-- walau hanya dengan setengah hati--untuk membuang kantong sampah itu. Segera setelah berganti pakaian, dibukanya pintu kamarnya. Ditatapnya kantong sampah itu dengan pendangan enggan. Namun dipaksanya tangan kanannya menggapai pegangan kantong sampah. Lalu perlahan-lahan diangkat dan berjalan menuju anak tangga dengan penuh kelesuan.
Tik-tik-tik-tik.....
Tik-tik tik-tik-tik tik-tik-tik-tik....
Mendadak terdengar bunyi gerimis rintik-rintik. Dilihatnya langit yang berhias garis-garis gerimis. Dilihatnya percikan kecil air membasahi atap di depan kamarnya. Dilihatnya halaman luar mulai terbasahi oleh air dan segera menyebarkan bau hujan yang menusuk hidung. Wajah kariage berubah cerah. Perlahan-lahan langkahnya berbalik menuju kamar lagi. Diturunkan kantong plastik sampah. Dibukanya pintu kamar, dan dia segera berbaring sambil menikmati kembali talkshow di radio yang baru saja ditinggalkannya. Dia membatalkan membuang kantong sampah sore ini.
^_^
Yah! Kariage mendapat alasan yang dianggapnya kuat untuk tidak membuang sampah saat ini.
Kan hari lagi gerimis, nanti bisa basah bajuku!
Kan sampah akan terbasahi air hujan, bisa-bisa menebarkan bau tak sedap!
Kan kalo kehujanan bisa sakit aku nanti!
Kan lebih baik buang sampah kalo hujan udah reda!
Kan kalo lagi hujan semut-semut mungkin enggan merubung plastik sampahku!
Kan gerimis paling sebentar saja, sampah bisa tak buang nanti malam!
Kan aku harus menjagai sepatuku, siapa tahu tiba-tiba datang hujan campur angin sehingga sepatu harus kumasukin ke dalam kamar !
Kan aku baru aja buat kopi panas, takut ntar jadi dingin!
Kan aku baru aja sakit, takut sakit lagi bila kehujanan!
Kan aku lagi nungguin telpon, ntar gak kedengaran kalo tertutup suara hujan!
Kan aku harus mengetik undangan, ntar lupa kalo aku buang sampah sambil berhujan-hujan!
Kan aku harus bersihin kamar, ntar malah tambah kotor kalo aku balik ke kamar habis kehujanan!
Hehehe! Ini namanya rasionalisasi! Gerimis rintik-rintik membantu Kariage merasionalisasi keengganannya membuang sampah sore ini. Kariage pada dasarnya enggan membuang sampah, jadi alasan sekecil apapun akan dia manfaatkan untuk menolak pekerjaan itu. Dia mencari-cari alasan untuk pembenar keengganannya. Padahal turun ke bawah untuk membuang sampah tak akan memakan waktu lebih dari 2 menit. Sebuah angka yang membuat semua alasan Kariage untuk tidak membuang sampah menjadi gugur. (undil-2008).
Pulang kerja saat tubuh terasa letih membuatnya enggan turun sambil menjinjing plastik sampah. Padahal bila dibiarkan teronggok di depan kamarnya bakalan mengundang barisan semut-semut merah untuk merubungnya. Kalo sudah gitu si semut sebentar lagi akan memperluas jelajahnya ke dalam kamar dan mengganggu aktifitas Kariage.
Bila semut sudah menginvasi kamar akan berakibat fatal. Sebentar saja meninggalkan makanan dalam kondisi terbuka akan segera dirubung segerombolan semut. Lupa tidak menutup gelas akan segera dicemplungin kawanan semut. Bahkan botol aqua galon yang tidak tertutup rapat-pun segera menjadi arena berenang buat ratusan semut. Sungguh gangguan yang akan membuatnya bete Kariage.
Makanya sore ini sepulang kerja dia berniat-- walau hanya dengan setengah hati--untuk membuang kantong sampah itu. Segera setelah berganti pakaian, dibukanya pintu kamarnya. Ditatapnya kantong sampah itu dengan pendangan enggan. Namun dipaksanya tangan kanannya menggapai pegangan kantong sampah. Lalu perlahan-lahan diangkat dan berjalan menuju anak tangga dengan penuh kelesuan.
Tik-tik-tik-tik.....
Tik-tik tik-tik-tik tik-tik-tik-tik....
Mendadak terdengar bunyi gerimis rintik-rintik. Dilihatnya langit yang berhias garis-garis gerimis. Dilihatnya percikan kecil air membasahi atap di depan kamarnya. Dilihatnya halaman luar mulai terbasahi oleh air dan segera menyebarkan bau hujan yang menusuk hidung. Wajah kariage berubah cerah. Perlahan-lahan langkahnya berbalik menuju kamar lagi. Diturunkan kantong plastik sampah. Dibukanya pintu kamar, dan dia segera berbaring sambil menikmati kembali talkshow di radio yang baru saja ditinggalkannya. Dia membatalkan membuang kantong sampah sore ini.
^_^
Yah! Kariage mendapat alasan yang dianggapnya kuat untuk tidak membuang sampah saat ini.
Kan hari lagi gerimis, nanti bisa basah bajuku!
Kan sampah akan terbasahi air hujan, bisa-bisa menebarkan bau tak sedap!
Kan kalo kehujanan bisa sakit aku nanti!
Kan lebih baik buang sampah kalo hujan udah reda!
Kan kalo lagi hujan semut-semut mungkin enggan merubung plastik sampahku!
Kan gerimis paling sebentar saja, sampah bisa tak buang nanti malam!
Kan aku harus menjagai sepatuku, siapa tahu tiba-tiba datang hujan campur angin sehingga sepatu harus kumasukin ke dalam kamar !
Kan aku baru aja buat kopi panas, takut ntar jadi dingin!
Kan aku baru aja sakit, takut sakit lagi bila kehujanan!
Kan aku lagi nungguin telpon, ntar gak kedengaran kalo tertutup suara hujan!
Kan aku harus mengetik undangan, ntar lupa kalo aku buang sampah sambil berhujan-hujan!
Kan aku harus bersihin kamar, ntar malah tambah kotor kalo aku balik ke kamar habis kehujanan!
Hehehe! Ini namanya rasionalisasi! Gerimis rintik-rintik membantu Kariage merasionalisasi keengganannya membuang sampah sore ini. Kariage pada dasarnya enggan membuang sampah, jadi alasan sekecil apapun akan dia manfaatkan untuk menolak pekerjaan itu. Dia mencari-cari alasan untuk pembenar keengganannya. Padahal turun ke bawah untuk membuang sampah tak akan memakan waktu lebih dari 2 menit. Sebuah angka yang membuat semua alasan Kariage untuk tidak membuang sampah menjadi gugur. (undil-2008).
Label:
cerita pendek,
satire
Kekuatan Visualisasi dengan Gambar dibanding Tulisan
Bandingkan dua cara mengambarkan bunga matahari berikut ini. Cara pertama adalah teknik deskipsi menggunakan kata-kata. Cara kedua menggunakan gambar bunga matahari.
1. Bunga Matahari
Sebuah bunga berbentuk bulat besar, dengan mahkota bunga berwarna kuning, mahkota berbentuk bulat telur, terdiri atas beberapa lapis dan tersusun rapi mengelilingi sebuah lingkaran berwarna coklat. Pada lingkaran coklat tersebut terdapat biji-biji bunga matahari...
2. Bunga Matahari
Gambar bunga matahari
^_^
Perhatikan bedanya. Dengan bantuan sebuah gambar, bunga matahari cukup diterangkan dengan tiga buah kata, yaitu gambar bunga matahari. Tidak dibutuhkan deskripsi panjang lebar untuk menggambarkan penampakan sekuntum bunga matahari. Hasilnya juga lebih jelas dibanding penggambaran menggunakan kata-kata. Sebuah gambar mewakili sejuta kata yang tidak terucapkan secara verbal.
Penggunaan gambar pada SOP (Standard Operating Procedure) dikenal dengan nama visualisasi SOP. Berkat visualisasi -- sebuah SOP menjadi lebih mudah dimengerti oleh operator. Visualisasi juga mencegah operator salah menafsirkan kata-kata yang tertera pada prosedur kerja. Pada kasus perakitan sebuah alat, visualisasi sangat membantu operator untuk mencocokkan pekerjaannya dengan gambar yang tertera pada SOP. Operator melihat gambar kemudian merakit komponen-komponen alat sesuai gambar. Dengan cara demikian pekerjaaan jauh lebih mudah dilakukan dan kesalahan perakitan dapat diminimalkan (Undil-2008)
Bacaan:
Anonymous, 2008, Bahan Pelatihan Autonomuos Maintenance, PQM Consultants, Jakarta
Label:
cerita manajemen
Penawaran Menarik Lomba Menulis tingkat SMU se- Bandung Raya dengan Hadiah Utama 3 Juta Rupiah
Ada penawaran menarik lomba menulis tingkat SMU dan sederajat se-Bandung Raya dengan hadiah utama uang tunai Rp. 3 juta, juara kedua dan ketiga masing-masing mendapat Rp. 2 juta dan Rp. 1 juta. Lomba diselenggarakan untuk memperingati ulangtahun satu produsen vaksin dengan reputasi internasional di Bandung dan HUT RI ke-63. Waktunya pendek, naskah paling lambat masuk ke panitia tanggal 31 Juli 2008.
Ada 2 pilihan tema tulisan, yaitu (1) Penanganan sampah di Kota Bandung dan (2) Mengapa saya perlu vaksinasi Hepatitis B?. Panjang tulisan maksimal 10 halaman kertas A4. Persyaratan ikutan lomba gampang, cukup kirimkan naskah beserta fotokopi kartu pelajar dan formulir pendaftaran ke panitia. Tidak perlu pengesahan kepala sekolah atau cap sekolah untuk dapat ikut lomba. Jumlah peserta untuk setiap sekolah tidak dibatasi. Lomba menulis ini gratis, tidak dipungut biaya pendaftaran.
Ketentuan cara penulisan naskah, cara mengikuti lomba dan formulir pendaftaran dapat di download di www.biofarma.co.id atau http://lombamenulis.wordpress.com. Informasi lebih lanjut dapat menghubungi Ida Nurnaeni no. hp 0813 220 73 026 atau Wagenugraha 0856 2483 6504 atau bila pada jam kerja hubungi sekretariat panitia lomba menulis di PT. Bio Farma, JL. Pasteur 28 Bandung telp. Tjut Vina/Ida Nurnaeni 022-2033755 ext 132, email poppy@biofarma.co.id
Ada 2 pilihan tema tulisan, yaitu (1) Penanganan sampah di Kota Bandung dan (2) Mengapa saya perlu vaksinasi Hepatitis B?. Panjang tulisan maksimal 10 halaman kertas A4. Persyaratan ikutan lomba gampang, cukup kirimkan naskah beserta fotokopi kartu pelajar dan formulir pendaftaran ke panitia. Tidak perlu pengesahan kepala sekolah atau cap sekolah untuk dapat ikut lomba. Jumlah peserta untuk setiap sekolah tidak dibatasi. Lomba menulis ini gratis, tidak dipungut biaya pendaftaran.
Ketentuan cara penulisan naskah, cara mengikuti lomba dan formulir pendaftaran dapat di download di www.biofarma.co.id atau http://lombamenulis.wordpress.com. Informasi lebih lanjut dapat menghubungi Ida Nurnaeni no. hp 0813 220 73 026 atau Wagenugraha 0856 2483 6504 atau bila pada jam kerja hubungi sekretariat panitia lomba menulis di PT. Bio Farma, JL. Pasteur 28 Bandung telp. Tjut Vina/Ida Nurnaeni 022-2033755 ext 132, email poppy@biofarma.co.id
Label:
lomba menulis
Poka Yoke
Minggu lalu saya ikut pelatihan autonomous maintenance, yaitu perawatan mandiri mesin-mesin produksi oleh personil produksi. Tujuannya untuk mencegah terjadinya breakdown, yaitu mesin rusak dan berhenti bekerja. Inti dari pelatihan yang diselenggarakan oleh PQM Consultants, Jakarta pada tanggal 9-10 Juli 2008 itu adalah orang produksi sebagai personil yang sehari-hari mengoperasikan mesin adalah orang yang paling tahu bila terjadi penyimpangan kecil pada mesin dan dapat segera melakukan tindakan perbaikan.
Dengan deteksi dini gangguan kecil pada mesin, maka gangguan yang lebih besar diharapkan dapat dicegah. Dengan memelihara mesin secara benar dan mengoperasikan mesin sesuai prosedur, maka breakdown mesin dapat dicegah. Disamping mengoperasikan mesin, seorang operator produksi juga diharapkan melakukan improvement untuk memperbaiki kinerja mesin. Salah satu trik yang diajarkan untuk improvement dan mencegah kesalahan pengoperasian mesin adalah poka yoke.
Apa itu poka yoke?
Contoh poka yoke adalah sim card handphone kita. Bentuk sim card handphone adalah segiempat dengan salah satu sudut dipotong. Dengan bentuk seperti itu pemasangan simcard ke dalam handphone tidak akan terbalik. Seandainya terbalik-pun sim-card tidak akan dapat masuk ke tempatnya. Dengan poka yoke kemungkinan rusaknya mesin oleh kesalahan pemasangan komponen alat dapat dicegah.
Contoh lain poka yoke adalah colokan pada bagian belakang komputer. Setiap colokan berbeda bentuknya sesuai peruntukan, sehingga tidak akan terjadi kesalahan pemasangan. Untuk mesin-mesin tertentu poka yoke sangat diperlukan, terutama bila kesalahan pemasangan akan mengakibatkan kerusakan mesin atau kerusakan produk.
Untuk tangki penampung produk di departemen produksi, poka yoke dapat diterapkan pada adapter koneksi pipa. Ukuran adapter untuk koneksi pipa udara, pipa produk dan pipa lainnya dapat dibedakan sehingga operator tidak akan melakukan kesalahan penyambungan yang bisa mengganggu produk. Suplai udara tidak akan disambungkan pada jalur produk yang dapat mengakibatkan produk berbuih, demikian juga sebaliknya.
Pada software komputer poka yoke juga tersedia. Misalnya pada saat kita hendak keluar dari word processor seperti MS Word biasanya ada pemberitahuan apakah kita akan menyimpan file yang sudah dibuat atau tidak. Sehingga kita tidak akan kehilangan hasil kerja berjam-jam hanya karena lupa tidak menyimpan. Demikian juga bila kita menyimpan dengan nama yang sama dengan file lama, otomatis akan diberi warning bahwa file baru kita akan menimpa file yang lama. Warning itu membuat kita tidak akan kehilangan file lama karena tertimpa file baru.
Untuk uang kertas sepertinya perlu poka yoke ukuran. Uang pecahan yang berbeda seperti 10 ribu dan 100 ribu selain perlu dibedakan warnanya juga perlu dibedakan ukurannya. Sehingga tidak akan terjadi pecahan 10 ribu terselip diantara gepokan uang 100 ribuan yang bisa mengakibatkan pertikaian antar orang yang bertransaksi.
Poka yoke lain yang diperlukan saat ini adalah poka yoke untuk standar samping sepeda motor. Pengendara sepeda motor kadangkala lupa belum menaikkan standar samping saat menjalankan motornya, akibatnya pada saat dia berbelok ke kiri, standar akan menyentuh jalan dan bisa mengakibatkan terganggunya keseimbangan pengendara. Seandainya ada aksesori tambahan atau sistem yang mencegah terjadinya kelupaan itu tentu menjadi nilai lebih bagi merek sepeda motor yang memilikinya. Ada ide untuk poka yoke standar samping sepeda motor ini? (undil-2008)
Label:
cerita manajemen
Tidak Butuh Kata-kata
terkadang saya terheran-heran
penilaian saya terhadap sesuatu atau seseorang
ternyata sama dengan penilaian orang lain
terkadang saya terheran-heran
lelucon yang tidak membuat saya tertawa
ternyata garing juga di telinga orang lain
terkadang saya terheran-heran
apa yang saya rasakan pada perilaku seseorang
ternyata dirasakan juga oleh orang lain
terkadang saya terheran-heran
orang yang saya anggap ramah dan menyenangkan
ternyata juga dianggap baik oleh orang lain
terkadang saya terheran-heran
kita disatukan oleh rasa dan standar yang sama
sehingga penilaian tak harus selalu diungkapkan dengan kata-kata
penilaian terhadap perilaku seseorang
adakalanya lebih baik disimpan dalam hati
toh orang lain juga merasakan hal yang sama
(Nailul-2008)
penilaian saya terhadap sesuatu atau seseorang
ternyata sama dengan penilaian orang lain
terkadang saya terheran-heran
lelucon yang tidak membuat saya tertawa
ternyata garing juga di telinga orang lain
terkadang saya terheran-heran
apa yang saya rasakan pada perilaku seseorang
ternyata dirasakan juga oleh orang lain
terkadang saya terheran-heran
orang yang saya anggap ramah dan menyenangkan
ternyata juga dianggap baik oleh orang lain
terkadang saya terheran-heran
kita disatukan oleh rasa dan standar yang sama
sehingga penilaian tak harus selalu diungkapkan dengan kata-kata
penilaian terhadap perilaku seseorang
adakalanya lebih baik disimpan dalam hati
toh orang lain juga merasakan hal yang sama
(Nailul-2008)
Label:
Mengenal Diri,
puisi
Subscribe to:
Posts (Atom)