Showing posts with label cerita manajemen. Show all posts
Showing posts with label cerita manajemen. Show all posts

Beruntungnya bekerja dalam tim yang memiliki visi yang sama

Sejenak setelah mendengarkan kalimat terakhir kajian Ustadz Megure, pikiran Shinichi Kudo melayang ke tim kerjanya di kantor. Seperti kata Ustadz Megure, alangkah besar dampaknya jika semua anggota tim memiliki visi yang sama. Amatlah besar manfaat yang bisa diambil jika semua orang memandang arah yang sama. Semua anggota tim menuju tujuan yang sama.

Kesamaan visi bukan membuat ketiadaan perbedaan atau menihilkan konflik, tetapi  akan mempermudah solusi penyelesaian konflik. Karena tujuannya sama, cita-citanya sama, maka penyelesaian konflik akan lebih banyak berkisar pada soal-soal teknis dan komunikasi.

Visi yang sama yang dimaksud Ustadz Megure adalah visi semua anggota tim untuk bersama-sama menuju surga. Yoi, visi untuk mendapatkan kebahagiaan sejati saat kita dibangkitkan nanti. Itu artinya yang kita kejar selama bekerja bukan sekedar kesenangan sesaat di dunia, tapi juga mengumpulkan bekal sebanyak-banyaknya untuk menghadapi hari pembalasan nanti. 

Dengan kata lain semua anggota tim pada saat bekerja mengejar kebaikan, mengejar amal soleh, dan mengejar kontribusi. Jadi bukan mencari kesenangan, memilih yang gampang-gampang saja, enggan berpikir, ataupun bermalas-malasan sembari mengharap bonus. Tidak. Mereka tidak ragu bersusah payah demi memperbesar kontribusi yang diberikan kepada sesama. Sembari berharap pahala yang menjadi bekal saat kematian tiba.

Tim bervisi surga adalah impian Shinichi Kudo. Seperti halnya rumah tangga yang bervisi surga, akan memudahkan masing-masing anggotanya untuk terharmonisasi. Konflik wajar saja terjadi karena semakin dekat interaksi potensi konflik juga muncul. Namun bisa diharapkan karena tujuannya sama-sama menuju surga, maka penyelesaiannya akan lebih gampang. Tim bervisi surga adalah tim impian, beyond impian membentuk tim bervisi sama (Undil-2016).

Don't Just Do What I Tell You

Suatu ketika saat Sonoko dan Haibara baru saja menyelesaikan uji titer, mendadak Pak Kadiv masuk ke dalam Bilik Uji Titer di Area Laboratorium Mikrobiologi. Pada awalnya beliau hanya mengajak berbincang-bincang tentang satu jenis uji immunoassay yang perlu diharmonisasi dengan laboratorium serupa di Eropa dan Amerika. Sesaat kemudian beliau melongok ke dalam Biosafety Cabinet dan meminta Sonoko mengeluarkan barang-barang yang tidak dibutuhkan untuk pengujian -- karena akan mengganggu aliran udara di dalam Biosafety Cabinet.

Jari telunjuk Pak Kadiv kemudian menunjuk label validasi Biosafety Cabinet yang masih berupa label validasi sementara -- dan mengatakan kepada Sonoko untuk meminta label validasi resmi dari QA. Lelaki berkacamata silinder itu kemudian melangkah mendekati waterbath, mengamati airnya yang dikatakannya terdapat material melayang-layang yang bisa menjadi sumber kontaminasi, kemudian beliau mulai menangguk air waterbath dan memindahkan ke dalam can stainless steel. Buru-buru Sonoko dan Haibara membantu membuang air dari waterbath, lalu menggantinya dengan yang baru.

Selesai mengganti air waterbath, Pak Kadiv memberi isyarat kepada Sonoko dan Haibara mengikutinya keluar dari Bilik Uji Titer. Dibukanya refrigerator tempat penyimpanan media yang berada tepat di samping pintu, lalu diambilnya TSA plate dan medium yang sudah kadaluarsa. Dimintanya Sonoko dan Haibara melanjutkan pemilahan medium yang sudah melampaui masa Expired Date, dan mengeluarkannya dari dalam refrigerator

Pak Kadiv berjalan lagi beberapa langkah diikuti dua anak itu. Ditunjuknya passbox keluar barang dari ruang kultur mikrobia -- yang penuh dengan peralatan laboratorium yang telah selesai didisinfeksi. Dimintanya Haibara  untuk mengosongkan passbox itu dan membawa semua peralatan bekas pakai ke Ruang Cuci. Diingatkannya bahwa passbox hanyalah tempat persinggahan sementara dan harus selalu ditinggalkan dalam kondisi kosong.

Sementara Sonoko diajaknya masuk ke Bilik Uji Kimia, dan mereka berdua membereskan lemari tempat penyimpanan pipet yang posisi peletakan pipetnya berantakan akibat ada personil yang mengambil pipet dari bagian bawah dan membiarkan pipet yang berada di tumpukan atasnya menggelinding kesana kemari di dalam lemari.

^_^

Lantai koridor di depan bilik uji potensi yang bercak-bercak coklat akibat tetesan media yang mengering telah kembali kinclong setelah dipel oleh mereka bertiga -- ketika Pak Kadiv berbicara pendek -- namun kalimatnya tidak pernah dilupakan oleh Sonoko.

"Walaupun tugas kalian adalah melakukan pengujian, janganlah kalian membiarkan ketidakberesan di lingkungan sekitar kalian bekerja, hanya karena merasa itu bukan pekerjaan kalian. Please don't just do what I tell you, do what needs to be done". 

Sonoko terdiam mendengar kata-kata itu. Tiba-tiba diingatnya rangkaian kata-kata yang dikirimkan Shinichi Kudo beberapa bulan yang silam.

Telah tiba kesadaran yang mencerahkan,
akulah Sang Kapten semua perbuatan, 
bereskan semua yang perlu dibereskan,
kerjakan tanpa menunggu perintah komandan

Hari ini Sonoko baru memahami maknanya, bahwa dirinya adalah kapten yang berkuasa penuh atas semua inisiatif tindakan dan perbuatan. Sonoko baru "ngeh" bahwa dirinya selama ini terjebak dalam sangkar kecil tugas personalnya. Sementara banyak hal-hal di luar sangkar yang perlu dibereskan, luput dari matanya. Dirinya bagaikan Memedi Sawah yang perlu ditarik-tarik agar tubuhnya bergerak mengusir burung-burung pemakan padi. 

Peluang untuk berinisiatif membereskan semua yang perlu dibereskan tanpa diperintah -- adalah pencerahan baru yang tiba-tiba saja membuat jiwa Sonoko bergolak hebat. Sonoko merasa ada banyak sekali hal yang terlewatkan -- padahal mampu disumbangkannya untuk mempermulus pekerjaan semua orang di laboratorium tempatnya bekerja (Undil - 2016).   

Bukan Karena Merasa Lebih Baik

Suatu ketika di dalam Laboratorium Mikrobiologi, Sonoko melihat seorang seniornya memakai sarung tangan karet dengan posisi pangkal sarung tangan berada di dalam ujung lengan baju lab yang berlengan panjang. Padahal seharusnya pangkal sarung tangan menutupi ujung lengan baju lab. Buru-buru Sonoko menegur orang itu dan mengatakan untuk merubah posisi sarung tangannya.

Sejenak orang itu kaget dan terpana memandang wajah Sonoko, tetapi kemudian dia buru-buru memperbaiki posisi sarung tangannya dan berlalu masuk ke dalam laboratorium.

Tiba-tiba Sonoko merasa tidak enak dengan apa yang telah dilakukannya. Dirinya merasa telah melakukan kesalahan dengan menegur teman kerjanya itu -- padahal dirinya belum tentu lebih baik daripada dia. Mungkin Sonoko bekerja lebih lambat dari dia, mungkin Sonoko lambat dalam mendisinfeksi peralatan setelah pakai, bahkan mungkin Sonoko dalam memakai perlengkapan laboratorium tidak secermat seniornya itu.

Sonoko merasa malu telah menegur teman kerjanya. Saya tidak lebih baik dari dia. Saya khilaf. Begitu Sonoko menceritakan hal itu pada supervisornya pada saat makan siang bareng. Jawaban Supervisornya sungguh seperti petir yang menggelegar di siang bolong -- bikin Sonoko kaget setengah mati.

"Menasehati bukan berarti kita merasa lebih baik. Memberi nasehat bukan parameter bahwa kita lebih baik dari yang dinasehati. Apa yang kamu lakukan sudah benar. Seseorang yang salah dalam prosedur kerja memang harus dikoraksi. Justru dengan saling menasehati dalam kebaikan maka perusahaan kita akan terus memperbaiki diri. Sebaliknya kita bisa mengalami pembusukan dari dalam seandainya semua orang tidak peduli dengan penyimpangan orang lain sepanjang tidak merugikan dirinya"

Sonoko bernafas lega. Dirinya merasa sedikit terhibur dengan kata-kata supervisornya. Walaupun dirinya masih merasa khawatir telah membuat rekan kerjanya tersinggung.

Pada saat mereka berjalan untuk kembali ke laboratorium seusai makan siang, supervisornya menambahkan sebuah pesan yang menurut Sonoko sangat penting bagi dirinya.

"Nasehailah dengan cara yang baik, dengan cara yang ramah dan tidak membuat orang tersinggung. Gunakan keluwesanmu dan keceriaanmu untuk mengemas nasehatmu  menjadi sesuatu yang indah, karena memang tujuanmu indah"

Sonoko tersenyum mendengar kata-kata itu. Dia tahu persis maksud dari Supervisor kesayangannya itu. Cara penyampaian nasehat harus diperhatikan. Sungguh jika sebuah koreksi ditolak karena cara penyampaiannya yang buruk maka dia dan temannya dalam kerugian yang nyata. Sonoko juga senang dengan hakekat menasehati yang adalah menjalankan kewajiban dan bukan cerminan bahwa seseorang merasa lebih baik daripada yang lain (Undil - 2016)   
       

Cara Unik Salihara Dandot Membangkitkan Sensasi Kenikmatan Bekerja Kawula Muda saat Memperingati Ulang Tahun Kotanya

Salihara Dandot sebagai ketua RW-09 dengan suara berat mengemukakan pendapatnya. Sebelumnya para tetangga telah mengusulkan macam-macam perayaan menghadapi ulang tahun kota. Ada yang mengusulkan pentas dangdut, lomba nyanyi, pentas tari-tarian, aneka kesenian tradisional sampai festival kuliner. Bahkan ada yang mengusulkan fashion show pakaian tradisional. Kini Salihara mengemukakan sesuatu yang berbeda.

Semua usulan yang masuk adalah hiburan. Sedangkan warga jarang melakukan sesuatu yang serius secara bersama. Mereka sibuk, dan saat-saat perayaan ulang tahun kota ini adalah saatnya warga berkumpul dan melakukan kegiatan bersama. 

Salihara ingin warga mengerjakan sesuatu yang lebih bermanfaat daripada sekedar hiburan. Bukankah sayang sekali waktu berkumpul yang sangat jarang ini kok hanya untuk bersenang-senang, bukan mengerjakan sesuatu yang lebih besar.

"Saya pikir saat ini bukanlah saatnya untuk bersenang-senang. Banyak tetangga kita yang sedang kesusahan karena bisnisnya merosot atau sedang menghadapi PHK. Kita lebih baik melakukan sesuatu yang lebih bermanfaat dalam kebersamaan kita. Kita jarang-jarang bisa melakukan kegiatan bersama -- jangan sampai hanya diisi dengan hiburan, kuliner dan fashion. Kita sanggup melakukan sesuatu yang lebih besar, lebih bermakna, lebih berarti dan manfaatnya kita rasakan selama-lamanya!" kata Salihara memulai kata-katanya dengan roman muka penuh semangat.

Hadirin diam mendengar kalimat yang muncul dari Pak Ketua RW. Mereka kaget dengan preambule Salihara yang langsung menepis aneka acara hiburan yang mereka usulkan. Diam-diam warga merasakan kebenaran di balik kata-kata Salihara tentang tetangga-tetangga mereka yang kesusahan secara ekonomi. Namun mereka tidak tahu arah kata-kata Salihara.

"Saya mengusulkan kita membenahi fisik kampung kita. Kita bareng-bareng menyisingkan lengan mengerjakan usulan yang pernah kita setujui dalam rapat RW setahun yang lalu. Kita pernah sepakat untuk merobohkan pagar-pagar rumah kita supaya tersedia lebih banyak ruang kosong untuk kita bersama. Manfaatnya akan kita rasakan jangka panjang. Anak-anak punya ruang untuk bermain lebih luas. Lebih banyak tanaman-tanaman yang bisa kita tanam serta kampung kita akan terlihat lebih lega, udaranya segar dan suasananya lebih asri" lanjut Salihara, 

Wagenugraha dan Professionals Day di Sekolah Terpencil

Untuk kesekian kalinya Randy Abdurrahman mendatangi Wagenugraha untuk mendapatkan ide pengembangan sekolah di desanya yang berada di pelosok Subang. Madrasah Ibtidaiyah & Madrasah Tsanawiyah atau setingkat SD & SMP yang merupakan almamater Randy itu butuh terobosan-terobosan baru agar mampu bertahan hidup dan menarik siswa baru dari orang-orang kampung yang kebanyakan dari kalangan tidak mampu agar bersedia mengirimkan anaknya bersekolah. Tujuan lainnya adalah Randy ingin madrasahnya tidak jauh ketinggalan dari sekolah-sekolah yang ada di kota.

 http://duniashinichi.blogspot.com

Ekstrakrikuler yang ada di madrasah relatif sudah lengkap, mulai dari komputer, menjahit, cooking class,  elektronika, hingga pelajaran kumon yang diberikan secara gratis oleh beberapa sukarelawan dari Kota Subang. Namun semua itu belum memuaskan bagi Randy, karena dia merasa belum ada suatu pelajaran atau acara yang akan mengarahkan anak-anak kampung itu menuju masa depan yang sesuai dengan jiwa mereka. Randy ingin anak-anak itu mendapatkan gambaran tentang pilihan-pilihan masa depan sekaligus mendapat suntikan semangat yang akan membuat mereka tabah menghadapi semua masalah dalam usaha mewujudkan cita-cita mereka.

Sudah seminggu Wagenugraha siang malam memikirkan cara untuk membantu Randy mewujudkan cita-citanya. Dan "Tinggggggg......" tiba-tiba pada hari kedelapan Wagenugraha mendapatkan suatu ide yang diyakininya akan mampu membantu anak-anak kampung untuk menentukan pilihan masa depannya. Sebuah acara yang akan memperkenalkan murid-murid madrasah dengan beranekaragam profesi yang dapat mereka geluti kala mereka dewasa nanti.

Wagenugraha, Jalan Mulus dan Bisnis Tanaman Hias

Long weekend kali ini dimanfaatkan Wagenugraha untuk berkunjung  ke rumah sepupunya di sebuah kampung di kaki gunung pedalaman Cianjur. Selama di perjalanan, Wagenugraha mendapati jalan raya dari kota kabupaten ke kampung telah teraspal mulus. Jembatan yang kokoh membentang di atas sungai-sungai yang mengalir di sepanjang jalan. Jalan raya dan jembatan ini juga akan memudahkan transportasi dari Bogor, Sukabumi, Purwakarta dan kota-kota lainnya menuju kampung sepupunya. Angkutan umum pun telah mulai tumbuh dan menjangkau ke kampung-kampung, termasuk kampung tempat saudaranya tinggal. http://duniashinichi.blogspot.com

htt
p://duniashinichi.blogspot.com












Namun ada satu hal yang mengherankan bagi Wagenugraha. Meskipun jalanan telah mulus dan angkutan umum mulai tersedia, tenyata tidak berdampak besar terhadap perekonomian warga. Sepupunya dan tetangga-tetangganya masih berbisnis tanaman hias kecil-kecilan di kebun belakang rumah mereka yang luas. Setiap bulan ada pedagang dari kota yang datang untuk mengambil tanaman untuk dipasarkan ke kota Cianjur dan sekitarnya. Omzetnya tidak seberapa besar, hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari.

Cara Jowarno memilih kepala restoran ayam goreng

Suatu hari seorang pegawai Jowarno datang kepadanya dan protes karena seorang anak muda yang baru dua tahun bekerja justru diangkat menjadi kepala restoran ayam goreng yang baru saja dibuka, sedangkan si pegawai yang sudah belasan tahun bekerja tidak mendapat promosi. Jowarno kemudian bertanya pada pegawai tersebut apa yang akan dia lakukan kalau dia diangkat menjadi kepala restoran:

"Saya akan bekerja sebaik-baiknya Pak. Saya akan berusaha untuk membuat restoran ini dapat menyajikan ayam goreng yang enak, harga terjangkau dan pembeli dilayani dengan ramah"

Kemudian Jowarno memanggil anak muda yang baru saja diangkat menjadi kepala restoran dan menanyakan pertanyaan yang sama.
"Seperti yang pernah saya utarakan Pak. Di sekitar sini sudah berdiri dua belas restoran ayam goreng yang sama dengan kita. Jadi kita harus punya nilai lebih. Makanya dalam restoran saya akan membuat minimarket yang menyediakan aneka cemilan dan barang kebutuhan sehari-hari sehingga orang bisa berbelanja sambil makan. Saya juga akan membuat menu-menu yang tidak dimiliki restoran lain, seperti ayam rica-rica, sop ayam, dan ayam taliwang. Saya juga akan membuat standar waktu penyajian makanan yang menjadi persyaratan seseorang bisa diterima menjadi pelayan restoran, misalnya sop ayam maksimal 1 menit, ayam goreng maksimal  3 menit dan ayam taliwang maksimal 10 menit"

Setelah anak muda itu pergi, Jowarno berkata kepada si pegawai senior.

"Kau dengar itu. Anak muda itu melakukan pengamatan atas posisi restoran kita diantara restoran yang lain. Kemudian dia mencetuskan solusi-solusi yang akan dilakukan untuk mendapatkan pelanggan di arena persaingan itu. Memang solusinya belum tentu benar, tetapi itu menunjukkan bahwa dia bekerja berangkat dari realitas lapangan dan memiliki visi yang jelas tentang pengembangan restoran.  Aku ingin kepala restoranku seperti itu (Undil-2013).      

Istri Pilihan Darmo


Makanya Darmo tertarik tatkala Haji Ruri menawarkan pada Darmo untuk menikahi adiknya yang sudah tiga tahun menjanda karena ditinggal mati suaminya.

^_^ 

Sudarmono Sastrawiragraha dan beberapa kawan sekampungnya adalah lulusan SMK Pertanian yang letaknya di Kota Kabupaten. Setelah lulus sekolah, mereka mulai bekerja ke kota seperti halnya teman-teman sekampungnya. Kebanyakan pergi ke Jogja untuk menjadi buruh bangunan, bekerja di pabrik oleh-oleh atau menjadi penjaga toko. 

Ilmu pertanian yang mereka miliki praktis tidak dipraktekkan karena di kampung pun sawah mereka kurang menjanjikan penghasilan yang cukup untuk digarap. Biasanya sawah disewakan pada para petani penggarap yang rata-rata sudah cukup lanjut usianya, sehingga hasil panen pun kurang melimpah.















Namun Darmo beda dengan teman-temannya. Sekalipun bekerja ke kota, Darmo yang memang cinta mati pada dunia pertanian ini tetap mengolah sawah miliknya sekalipun luasnya hanya lima ratus meter persegi alias seperduapuluh hektar. Darmo biasa mulai menggarap sawahnya dari usai sholat subuh berjamaah di masjid hingga jam delapan pagi. Baru sesudah itu dia berangkat ke kota bersama teman-temannya untuk bekerja menjadi buruh bangunan. undil

Belakangan Darmo mendapat kepercayaan untuk menggarap sawah Haji Ruri yang luasnya hampir satu hektar. Setelah memegang dua sawah, terkadang Darmo meneruskan bekerja di sawah malam hari sehabis mengajar anak-anak membaca Al Quran di Masjid. Jika sedang masa tanam dan panen, praktis Darmo tidak bisa ikutan bekerja ke kota. Kesibukan terakhir ini membuat Darmo tidak bisa sesering kawan-kawannya glidik ke kota. duniashinihi.blogspot.com

Tiga tahun telah berlalu sejak anak-anak muda itu lulus sekolah dan mulai bekerja di kota. Enam bulan terakhir ini satu persatu mereka menikah. Hariman menikah dengan Latri sesama penjaga toko di Malioboro. Guntur menikah dengan Natasya yang jualan pulsa di dekat tempat Guntur sedang bekerja membangun rumah di Jalan Kaliurang. Demikian juga dengan Yogdi, Donny dan Anggito. Mereka rata-rata menikah dengan gadis-gadis yang tak jauh dari tempat mereka bekerja. 

Sebenarnya ada beberapa gadis yang tertarik pada Darmo. Rata-rata mereka tertarik karena Darmo orangnya cerdas, rajin dan cekatan membantu teman-temannya yang butuh pertolongan, disamping paras Darmo yang menawan karena Ibunya dulu juga adalah seorang kembang desa. Namun karena Darmo belakangan tidak serutin dulu pergi ke kota, sehingga tidak ada tindak lanjut atas hubungan mereka.

Teman-teman Darmo sering bertandang ke rumah Darmo untuk menyarankan dirinya agar segera menikahi salah satu dari gadis-gadis itu. Netty yang cantik bak foto model Vogue yang sekarang bekerja di salon spa, Rahmawati yang manis dan bekerja menjadi kasir di salah satu swalayan, atau si Deasy yang tinggi semampai yang kini menjadi staf administrasi gudang sebuah bengkel mobil besar. Namun rupanya Darmo punya pilihan lain.

Jika Darmo menikah dengan salah satu dari gadis-gadis itu artinya dirinya harus pindah ke kota. Sedangkan Darmo ingin tetap tinggal di desa menggarap sawah. Dia cinta mati pada dunia tanam menanam dan berternak hewan piaraan. Menanam padi, sayuran dan memelihara sapi adalah kesenangan yang tidak dapat begitu saja digantikan kegiatan yang menghasilkan uang lebih banyak. Darmo juga tidak tega meninggalkan anak-anak yang rutin belajar membaca Al Quran kepada dirinya. Lagipula Darmo merasa hidupnya akan begitu-begitu saja bila menempuh jalan seperti teman-temannya. Dia ingin melakukan sesuatu yang lebih dari sekedar untuk kepentingan pribadi dan keluarga saja. 

Makanya Darmo tertarik tatkala Haji Ruri menawarkan pada Darmo untuk menikahi adiknya yang sudah tiga tahun menjanda karena ditinggal mati suaminya. Seorang perempuan sarjana peternakan yang sudah naik haji ke mekah dan saat ini menjadi peternak sapi perah yang memiliki sepuluh hektar lahan di kampung.  Klarinta Aliya Husna mengisi hari-harinya dengan mengisi pengajian buat Ibu-ibu di rumahnya dan mengurus panti asuhan anak yatim yang didirikan ayahnya di dekat masjid di kota kecamatan.

Chicken Stays, Eagle Flies: Kisah Persahabatan Ayam dan Burung Elang


Fly, Eagle, Fly!. Ini adalah kisah persahabatan dua ekor binatang pilihan dari jenisnya yang dibesarkan pada kandang yang sama. Seekor Elang Jawa berbulu keemasan yang gagah perkasa, dan seekor Ayam Betina warna kuning langsat yang ramping, cekatan & rajin bertelur.

Kedua sahabat itu telah memutuskan untuk berkelana bersama meninggalkan kenyamanan tempat kelahiran mereka di tanah pertanian yang membentang sepanjang tepian Kali Opak. Tanah pertanian subur yang menyediakan beras, jagung, cantel dan aneka ikan melimpah tanpa perlu bekerja keras. Kadang-kadang dua sahabat itu main ke Pasar Bantul untuk memakan ceceran gandum yang diabaikan pedagang. Memakan serpihan-serpihan geplak di belakang dapur Mbah Wongso. Terkadang bertandang ke Warung Bakso Bangjo punya Mbak Dewi, si pemiliknya suka memberi mereka tiga butir bakso urat yang gurih. Kini mereka rela meninggalkan semua kenikmatan itu demi keinginan menjelajahi tempat-tempat menakjubkan di seluruh penjuru bumi. 




















Puncak-puncak gunung tertinggi berselimut salju, danau-danau terluas membiru, gurun-gurun pasir yang paling panas, padang salju yang paling putih mulus, hingga tanah-tanah pertanian yang paling hijau di muka bumi adalah impian mereka. Hasrat mengatasi tantangan-tantangan tersulit dalam hidup telah membakar gairah jiwa-jiwa muda yang tengah mekar. Dengan berkelana, jiwa mereka terpuaskan oleh beragam pengalaman. Pun ketrampilan hidup mereka terasah dengan sangat baik oleh tantangan alam. Maklumlah, butuh perjuangan berat untuk setiap suap makanan yang masuk ke perut mereka selama dalam pengembaraan 

Mbah Jumadi, petani tua yang memelihara dua ekor unggas itu sengaja telah melatih keduanya sejak masih bayi. Elang dan Ayam mungil rajin dibawa ke Bukit Selarong untuk dilepaskan agar berlatih terbang turun menuju lembah. Pertamakali dilepaskan dua binatang itu masih takut-takut untuk terbang. Namun seiring berjalannya waktu, mereka semakin lihai menggerakkan sayapnya untuk melayang menyusuri Bukit Selarong hingga ke Bukit Menoreh di Barat, kemudian bergerak ke utara sampai ke puncak Merapi dan Merbabu.

Berkat latihan-latihan berat itu, kini baik Elang ataupun Ayam Betina memiliki kemampuan untuk terbang jauh. Walaupun kemampuan Ayam Betina tidaklah sehebat kemampuan Elang. Saat Elang mulai berani mengendarai topan agar bisa terbang tinggi, Ayam Betina tak pernah melakukannya sendirian.

Elang kecil tumbuh dewasa menjadi penerbang tangguh yang berani terjun ke pusaran topan cleret tahun agar bisa terbang makin tinggi ke angkasa. Semakin besar cleret tahun, semakin tinggi juga Elang akan terhempas ke langit menerobos gumpalan-gumpalan awan. Jiwa petualang yang mekar di dalam dirinya telah membuat syaraf rasa takutnya putus sehingga Elang berani mengendarai inti topan hingga mengangkasa setinggi-tingginya langit tanpa rasa takut. Matanya yang tajam melihat mangsa akan membimbingnya terjun bak meteor menjilat bumi tanpa ragu sedikitpun. Jiwanya yang merindu tantangan membuatnya ingin bebas melangit, mewarnai era-era baru dalam penjelajahan bumi.

Sebaliknya Ayam kecil tumbuh menjadi Ayam Betina yang lebih banyak berada  di halaman rumah. Tubuhnya tidak sekuat Elang dan terbangnya tidak setinggi awan membuatnya perlu bekerja keras saat terbang. Namun tekadnya yang keras untuk berdampingan dengan Elang mengangkasa keliling dunia telah membuatnya berbeda dari ayam biasa. Sesekali Elang harus mencengkeram tubuh Ayam agar tidak jatuh ke bumi karena kelelahan. Juga jika ada topan, maka Elang tidak pernah melepaskan pegangan pada tubuh Ayam agar tidak terhempas ke bumi bersama pusaran topan. 

Namun sekalipun lebih lemah, Ayam memiliki kelebihan dibanding Elang. Dia adalah petelur yang handal dan tidak gampang bosan meskipun harus tinggal di halaman rumah dengan sedikit variasi kegiatan. Dalam pengembaraan pun, Ayam meninggalkan telur-telur yang tak terhitung banyaknya sepanjang perjalanan. Tidak peduli punya atau tidak punya majikan, Ayam selalu menyetor telur-telurnya ke bumi. Setidaknya menurut blog http://duniashinichi.blogspot.com
^_^
  
Sebagai para penjelajah, setiap makanan yang masuk ke perut dua sahabat itu bukan didapat dengan cuma-cuma. Butuh perjuangan yang terkadang teramat berat untuk sesuap makanan. Seperti yang dialami kedua sahabat kala sedang terbang di atas bentangan gurun pasir Kalahari. Tidak ada tumbuhan yang hidup  di sana. Tidak ada air dan tidak ada makanan. Satu-satunya makanan yang ada hanyalah tanaman jagung yang terselip di sebuah mulut gua di puncak gunung batu di tengah gurun pasir itu. 
duniashinichi.blogspot.com

Romo Gatu dan Penduduk Desa yang Mendadak Berkecukupan


Saat Romo Gatu datang di desa Kebon Agung, kebanyakan masyarakat di sana masih merasa dirinya miskin dan terbelakang dibanding orang-orang kota. Mereka juga minder kepada orang-orang desa yang merantau ke kota. Banyak juga pemuda Kebon Agung yang merantau ke kota menjadi  tukang bangunan, buruh pabrik hingga membuka warung kakilima.

Saat pulang ke kampung rata-rata para perantau membawa motor keluaran terbaru dan tak lupa menggenggam smartphone sehingga mengundang decak kagum tetangga-tetangganya. Kaum muda banyak yang kemudian tertarik merantau ke kota sehingga beberapa kebun dan sawah milik warga desa mulai terlantar karena tidak ada yang menggarap.

Namun kini semua sudah berubah drastis. Warga desa tidak lagi merasa dirinya lebih miskin dibanding orang-orang kota. Mereka tidak lagi merasa terbelakang dibanding rekan-rekan mereka yang merantau ke kota.  Mereka merasa hidup mereka berkecukupan dan bahkan layak disebut kaya. Itu semua karena Romo Gatu berhasil merubah cara pandang mereka tentang kekayaan. Tentang hal-hal yang dibutuhkan dan cara membedakan dengan hal-hal yang diinginkan.

Lewat pengajian mingguan tafsir Al Quran yang diasuhnya, Romo Gatu selalu berusaha menumbuhkan kesadaran bahwa penduduk desa ini adalah orang-orang yang berkecukupan, cukup maju dan tidak perlu minder dengan warga kota. Mereka tidak perlu mengikuti gaya hidup teman-teman mereka yang pindah ke kota yang memiliki begitu banyak barang-barang untuk melengkapi hidup mereka. Cukuplah dengan apa yang ada.  Mereka tidak miskin jika tidak mengukur diri dengan kepemilikan barang-barang seperti orang kota.

Semua penduduk desa Kebon Agung memiliki rumah, memiliki kebun, memiliki sawah, memiliki kendaraan walaupun mungkin hanya berupa sepeda onthel. Mereka juga cukup makan karena lumbung-lumbung padi mereka bahkan bisa untuk makan selama dua tahun. Sayur mayur, telur, daging ayam, dan ikan bisa diambil dari kebun mereka.

Pakaian murah bisa mereka dapatkan di pasar desa, demikian juga sepatu, dan alat-alat rumah tangga. Meja kursi juga bisa dibeli dengan harga murah di pasar. Jika uangnya mepet para tukang kayu juga dengan senang hati membuat meja dan kursi dengan bahan kayu dari pepohonan yang ada di kebun penduduk. Jadi tak ada yang perlu  diresahkan tentang pemenuhan kebutuhan sehari-hari.

Romo Gatu sering membanding-bandingkan penduduk desa dengan teman-teman mereka yang merantau ke kota. Walaupun pada saat pulang mereka membawa motor, ternyata di kota mereka belum memiliki rumah alias masih mengontrak. Ada satu dua yang memiliki rumah itu-pun mereka harus mencicil pembayarannya selama sepuluh tahun.   Mungkin mereka memiliki tv flat dan AC, tapi penduduk desa cukup puas dengan tv tabung dan angin semilir yang tak kalah sejuk dari AC.  Jika dilihat dari sisi kecukupan kebutuhan perumahan, maka para perantau itu lebih miskin dibanding para penduduk desa.

Rahasia Rumah Kos Romo Gatu


Jika kita bertandang ke rumah kos Romo Gatu tentu kita tidak segera bisa melihat hal yang istimewa dari rumah kostnya selain tampak bersih dan halaman belakang yang luas yang ditanami berbagai macam sayuran, terdapat kandang ayam, dan sebuah kolam ikan besar di pinggirnya. Di bangunan dua lantai itu terdapat kamar-kamar kos ukuran sedang, kamar tamu, ruang tengah yang merangkap ruang makan dan sebuah ruang belajar besar yang dilengkapi dengan meja-meja panjang.  Tak jauh beda dengan rumah kos biasa di wilayah itu, selain keberadaan ruang belajar yang luas.




Letaknya di pinggiran selatan Kota Jogja, rata-rata rumah disitu masih memiliki halaman belakang yang luas. Walaupun di pinggiran kota namun letaknya tidak terlalu jauh dari kampus dan terhitung lebih laku dibanding rumah kos sekitarnya. Padahal harga yang ditawarkan juga sama saja dengan tempat kos lain yang juga ada di sekitarnya.  

Penyebabnya apa? Ternyata ada pada suasana yang dibangun lulusan sebuah pesantren di Jawa Timur ini. Suasana itu timbul dari aturan-aturan yang diterapkan pemilik beberapa toko oleh-oleh di Jogja ini.

Romo Gatu memiliki aturan-aturan yang harus ditandatangani seorang calon anak kos sebelum bisa diterima menjadi penghuni kos. Dia punya dua orang penjaga kos yang bertugas menegakkan aturan-aturan itu. Para pelanggar aturan pastinya harus rela angkat kaki dari tempat kos itu. Diantara aturannya adalah semua penghuni kos pria ini harus sholat berjamaah di mushola samping rumah. 

Sehabis maghrib mereka harus mengaji Al Quran sampai saat sholat Isya. Kemudian pembersihan rumah digilir untuk semua penghuni kos, persis seperti tugas piket anak SD jaman dulu. Mencuci baju juga tidak diperkenankan mempergunakan pembantu, kecuali untuk urusan setrika baju, Romo Gatu menyediakan pembantu untuk melakukannya.

Urusan memasak sudah ada koki yang menyediakan makan malam sederhana, tapi urusan cuci piring harus dilakukan oleh penghuni kos secara bergilir. Biasanya diantara anak-anak itu secara bergiliran menyumbang lauk-pauk untuk melengkapi lauk pauk sederhana yang disediakan Romo Gatu. 

Romo Gatu hampir selalu bergabung makan malam dengan anak-anak kos dan mendiskusikan hal-hal menarik, terutama tentang hal-hal yang menyangkut masa depan anak-anak muda itu. Serunya kos di rumah Romo Gatu terletak pada makan malam ini. Anak-anak kos jadi saling kenal dan mengerti latar belakang keluarga masing-masing serta menjadi lebih akrab.  Setelah akrab mereka jadi tidak sungkan saling bantu dan merasa seperti memiliki keluarga sendiri di perantauan.

Bagaimana Romo Wage Merubah Kebiasaan Kuliner Warga Jalan Komaruddin


Ketika tinggal sementara di rumah pamannya di Jalan Komarudin -- saat ngumpul-ngumpul dengan para pemuda -- Romo Wage sering mendengar mereka membicarakan tentang jajanan enak-enak yang baru saja mereka nikmati. 












Rata-rata mereka memiliki standar cita rasa yang sama.  Jadi saat seseorang mengatakan bahwa bakso anu enak, kemudian seorang yang lain mengatakan bakso ana yang enak, setelah lain hari mereka ramai-ramai mencoba rasa kedua bakso tersebut,  maka mereka akan sepakat bakso mana yang lebih enak.

Pembicaraan akan lebih seru klo ada jajanan yang baru buka di salah satu sudut kota. Si penemu jajanan itu akan dengan antusias menggambarkan rasa jajanan yang baru saja dicobanya. Dari mulai racikan bumbunya, hingga aksesories-aksesories penunjang makanan. 

Jika makanan itu berupa bakmi jawa, maka akan dinilai rasa kuahnya, lalu mienya dan ayamnya. Kemudian menyusul dinilai aksesories seperti perkedel, kerupuk, tambahan brutu dan uritan serta tak lupa minumannya. Dari hasil penilaian itu akan disimpulkan apakah bakmi jawa tersebut layak dicoba atau tidak. Pendeknya warga Jalan Komaruddin rata-rata memiliki bakat kuliner dan selera yang bagus tentang cita rasa makanan.

Romo Wage yang mengamati kebiasaan warga itu menjadi tertarik untuk mendorongnya ke arah yang lebih bermanfaat. Jalan Komaruddin adalah jalan utama yang sangat strategis di Jogja.  Jalan peninggalan Belanda ini bagus dan lebarnya sampai 10 meter sehingga kanan kirinya bisa dipakai untuk parkir. Udah gitu gampang dicapai, tidak terlalu ramai dan rumah-rumah penduduk rata-rata memiliki halaman depan yang lumayan luas.  

Yang terpikir di benak Romo Wage adalah merubah kebiasaan penduduk dari sekedar pecinta kuliner menjadi pelaku bisnis kuliner. Dengan bekal pengetahuan mereka tentang cita rasa makanan dan lokasi rumah-rumah penduduk yang strategis, maka tak ada alasan untuk tidak membuka bisnis kuliner. 

Saat Romo Wage mencetuskan ide tersebut di rapat warga, banyak pemuda yang terhenyak. Selama ini kebanyakan mereka membayangkan bekerja di toko atau di kantor setamat sekolah. Bagi yang sekolah sampai universitas tentu memimpikan kerja di Jakarta atau di luar negeri.

Yang tak kalah terhenyak adalah para orang tua yang selama ini ikut pontang-panting mencarikan pekerjaan bagi anak-anak mereka yang sudah lulus kuliah. Kebanyakan mereka serta merta mengatakan tidak ragu untuk memberikan modal pada anak-anaknya. Hitung-hitung sambil menunggu dapat kerja.

Tentu saja ada juga yang pesimis dengan ide Romo Wage. Penduduk Jalan Komaruddin tidak terbiasa menjadi wirausahawan kuliner. Sebagian besar para orang tua bekerja sebagai dosen, pegawai negeri, dan juga pemilik toko kelontong di sejumlah pasar. Sementara para anak muda banyak bekerja di bengkel, percetakan, usaha fotokopi dan pemilik counter handphone di mal.  Ide Romo Wage ini dengan cepat diterima oleh para anak muda, terutama yang sudah selesai sekolah tetapi belum mendapat pekerjaan.

Ada tiga puluh anak muda yang tertarik untuk berbisnis kuliner. Romo Wage yang mengumpulkan mereka di rumah pamannya segera saja memberi kursus kilat tentang bisnis kuliner kepada mereka. Kursusnya cuman 15 menit, karena menurut Romo Wage bisnis kecil bisa dipelajari sambil jalan. Isi kursusnya sederhana, bahwa mereka harus kerja keras, klo perlu mengurangi jam tidur dan harus berdisiplin membelanjakan uang. Habis itu Romo Wage membagi mereka menjadi enam kelompok, masing-masing diminta memilih makanan yang akan dijual.

Seminggu kemudian anak-anak muda itu telah memutuskan makanan yang akan dijual, ada enam jenis makanan sesuai dengan jumlah kelompok, yaitu Bakso Malang, Batagor, Rawon, Sushi, Bakmi Godhog dan Surabi. Modal bukan masalah buat mereka karena rata-rata orang tua mereka mampu menyediakan modal yang dibutuhkan. Tinggal masalah cara memasaknya. Walaupun mereka jago menilai makanan, mereka tidak berpengalaman dalam meracik makanan. Karenanya Romo Wage sengaja mengundang ekspert untuk masing-masing makanan.

Untuk Bakso Malang, Romo Wage mengundang temannya dari Malang yang sudah terbiasa mengajari orang membuat Bakso. Kelompok yang akan menjual Batagor diperkenalkan oleh Romo Wage dengan temannya dari Bandung yang memiliki warung Batagor yang laris di Bandung.

Demikian juga dengan pembuatan Bakmi Godhog akan langsung diajari oleh suhunya bakmi dari Gunung Kidul, Rawon oleh Empu Rawon dari Ponorogo, Surabi oleh Tukang Surabi dari Solo dan pembuatan Sushi akan diajari oleh teman Romo Wage yang menjadi koki di hotel bintang lima di Bali. Semua ahli meracik makanan itu disewa Romo Wage selama dua minggu. Seminggu untuk mengajari meracik makanan dan seminggu lagi untuk mendampingi berjualan makanan.

Selama tujuh hari para anak muda itu belajar membuat makanan di rumahnya. Dan mulai hari kedelapan hingga keempat belas  mereka langsung praktek membuat makanan yang hasilnya langsung dijual di cafe-cafe tenda yang dibangun di depan rumah mereka. Awalnya finishing pembumbuan masih dilakukan oleh para expert, namun setelah hari ketujuh para expert tinggal mengawasi saja sambil memberi petunjuk bila bumbu-bumbu yang ditambahkan kurang pas.

Seni Penolakan Haibara kala Mempersiapkan Family Gathering

Haibara kesal dengan sesuatu menyebalkan yang harus dilakukan untuk kesekian kalinya. Ini gara-gara dirinya diseret  Shinichi Kudo untuk ikut serta menjadi panitia family gathering di kantornya. Jabatannya gak tanggung-tanggung lagi.  Koordinator acara family gahthering!

Haibara yakin seyakin-yakinnya bahwa sembilan puluh persen pekerjaan panitia family gathering ini ada di seksi acara.  Jadi Shinichi memberi “gunung gajah” untuk dipikul Haibara. Kerjanya pasti berat banget, berjibun-jibun serta akan memakan habis waktunya. Gimana nggak berat kalo harus membuat acara yang menarik buat 4000 orang!.



Udah gitu Shinichi dan teman-teman lainnya pengen acara beda sama sekali dari tahun lalu. Gak boleh sama!  Harus ada novelty-nya kata mereka.  Sebagai salah satu dampaknya pengisi acara dari mulai pembukaan hingga penutup  adalah kaum profesional dari luar perusahaan. 

Definisi profesional menurut Shinichi adalah layak masuk TV. Artinya jika si pengisi acara belum pernah ditayangkan di TV berarti dia belum bisa dipentaskan di family gathering.  Sebuah persyaratan yang ditentukan oleh Shinichi, tapi dampaknya langsung terasa oleh Haibara, yaitu dirinya harus jungkir-balik & pontang-panting mencari pengisi acara.

Sebenarnya semua itu menyenangkan Haibara yang emang demen bikin acara seperti ini. Yang menyebalkan hanya satu, yaitu wanti-wanti Shinichi kepada Haibara untuk pandai-pandai menolak semua permintaan dari kalangan internal untuk tampil — termasuk bila ada request dari para petinggi di kantor.

Bahkan bos-nya sendiri pun harus ditolak jika minta anaknya bisa tampil di family gathering.  Itu semua karena cita-cita Shinichi untuk membuat integrated family gathering. Entah dari mana dia mendapat istilah itu. Yang pasti Haibara yakin itu bukan ide asli Shinichi, secara anak itu bukanlah ahli tentang acara-acara seperti ini. 

Integrated Family Gathering menurut Shinchi berarti  acara dari awal sampai akhir adalah satu kesatuan yang sudah dipersiapkan dari sejak membuat konsep acara.  Jadi pengisi acara ditentukan berdasarkan konsep acara dan bukan sebaliknya.  Nyatanya emang demikian. Setelah ditentukan konsep acara, maka panitia kecil yaitu Shinichi, Haibara, Kogoro dan dua teman lainnya membutuhkan waktu tiga minggu hanya untuk memperdebatkan susunan detail acara dan siapa saja yang akan mengisi acara.

Debat selepas jam kerja yang berlangsung hingga larut malam bahkan terkadang sampai dini hari itu untungnya berhasil melahirkan blueprint family gathering yang menjadi panduan bersama semua panitia. Disitu sudah tercantum semua pengisi acara, tidak boleh ada tambahan lagi. 

Blueprint itu juga menjadi panduan dalam hal tolak menolak para peminat jadi pengisi acara. Jadi masalahnya bukanlah kualitas para peminat tersebut,  tapi karena konsep acara menghendaki pengisi acara yang sesuai dengan konsep itu dan mereka telah selesai dipilih oleh panitia.  

Alhasil sampai tujuh hari menjelang acara, Haibara udah menolak belasan calon pengisi acara. Dari mulai band lokal karyawan, anak karyawan, keluarga rekanan kantor, hingga pihak-pihak luar yang ingin berpartisipasi. Semuanya ditolak dengan sukses oleh Haibara.   

Namun kali ini yang minta beda. Dia adalah seorang petinggi, bekas koordinator Haibara saat dirinya mengikuti satu project yang dipimpin orang itu beberapa tahun yang lalu. Si Bapak ingin anaknya tampil di panggung family gathering.

Paduan suara anak-anak SMP.  Sebenarnya seru juga siy karena Haibara tahu persis suara mereka bagus-bagus. Dia pernah melihat mereka pentas di Sabuga.  Namun blueprint  udah terbit.  Slot acara sudah tersusun rapi.  Bisa dibom Shinichi bila dirinya merubahnya hanya karena dirinya  gagal menolak satu permintaan saja.

Wuhhh kali ini Haibara harus berusaha keras untuk menolaknya dengan halus.  Secara dirinya banyak berhutang budi pada si Bapak yang telah mengajarinya banyak hal tentang perprojekan.  Sungguh sial dirinya harus melakukan penolakan ini.  Satu hal yang tidak pernah diduganya menjadi bagian dari tugas sebagai koodinator acara family gathering -– menjadi Sang Penolak.  Dus Haibara tiba-tiba merasa menggenggam bola panas yang harus secepatnya dia padamkan.

Haibara ingat seminggu yang lalu dirinya dengan susah payah berhasil menolak permintaan teman dekatnya untuk menampilkan adiknya yang telah lima tahun ikut sanggar tari dengan cita-cita ingin bisa pentas di kantor kakaknya.  Dirinya harus tegar saat melihat si adik kecewa dari sebelumnya hatinya berbunga-bunga karena mengira dapat tampil di panggung dengan ditonton ribuan orang itu.  Secara Haibara sering banget berenang bareng si adik itu di hari-hari libur – dapatlah dibayangkan kekeluan lidahnya.  Pahitnya mengecewakan teman dekat benar-benar dia rasakan saat itu

Penolakan yang lebih ringan -- dilakukan Haibara terhadap salah satu instansi keamanan yang ingin menampilkan band yang baru saja mereka bentuk.  Juga dari  klub lawak yang salah satu anggotanya adalah karyawan kantor. Juga dari beberapa orang luar yang berminat mengisi acara. Untunglah  mereka semua  bisa mengerti alasan yang dikemukakan Haibara.

Haibara berusaha keras menjelaskan adanya blueprint family gathering yang harus dipatuhi. Juga tentang  DP semua pengisi acara yang sudah dibayar dan acara sudah tersusun rapi hingga hitungan menit.  Semua itu membuat pengisi acara tak memungkinkan untuk dirubah lagi. Dan memang demikianlah adanya.  Kadangkala dia menghibur para peminat tersebut dengan menyarankan mereka untuk mengajukan diri pada acara yang lain seperti ulang tahun himpunan kayawan atau acara DKM.  Sebuah penolakan yang dikritik Shinichi sebagai melemparkan bola panas pada orang lain.

^_^

Setelah hampir satu jam dalam keraguan, akhirnya Haibara memberanikan diri menjawab SMS itu. Dia sudah terlalu lelah mencari-cari  kalimat yang enak untuk diungkapkan.

“Mohon maaf Pak,  slot waktu pengisi acara sudah penuh, gak bisa diselip-selipin lagi. Jadi panitia tidak bisa menampilkan paduan suara si adik”

“Saya hanya butuh waktu paling lama 20 menit untuk menampilkan 4 lagu. Please tolonglah mereka sudah sangat antusias untuk tampil di family gathering”. Demikianlah bunyi  jawaban atas SMS Haibara

Duh! Haibara pusing gimana cara dia bisa menolak permintaan kedua  ini. Secara dia sudah divonis mati oleh Shinichi gak boleh merubah-rubah acara lagi karena semuanya sudah dihitung hingga satuan menit oleh Show Director. Tak satu menit-pun yang dibiarkan lowong tanpa detail kegiatan yang harus dilakukan pada menit tersebut.  Memasukkan pengisi acara baru berarti mulai kerja besar lagi menyusun acara.

Akhirnya Haibara memutuskan untuk melenggang ke ruangan Shinichi untuk minta “pertanggung jawaban” dengan cara memilihkan jawaban yang paling pas buat Si Bapak. Saat dirinya duduk di depan meja Shinichi dan ngomong tentang hal itu, anak itu hanya nyengir kuda seraya menyuruh Haibara mengatakan hal-hal yang lain bersamaan dengan SMS penolakan yang akan dikriimkannya.

“Kalo gak salah si Bapak baru saja pindah ke rumah baru yang ada kolam di halaman depannya. Omongin saja tentang itu, mudah-mudahan membantu mencairkan suasana” kata Shinichi

“Busyet lu!. Dasar tukang kasiy beban moral berat ke orang, udah tahu aku dekat dengan dia malahan aku yang disuruh menolak dia!” kata Haibara sambil tiba-tiba saja kepalanya serasa muncul tanduk saking kesalnya melihat kecuekan Shinichi. Rasa-rasanya dirinya ingin menyeruduk Shinichi dengan tanduk itu.  Tapi sudahlah. Percuma saja berantem dengan si tukang nyengir. Malahan dia seneng kalo diseruduk Haibara. Akhirnya dengan hati masygul Haibara memakai juga saran Shinichi pada SMS-nya.

“Punten pisan Pak, kita sudah susun acara hingga hitungan menit. Jadi benar-benar kami tidak bisa lagi menyelipkan pengisi acara lain. Semua jadwal sudah confirm ke pengisi acara, dan kami kesulitan bila harus buat konfirmasi baru lagi dengan mereka.  Btw saya sudah lihat rumah bapak yang baru, asyik banget ada kolam besar di halaman depan, saya pernah lihat Bapak baca koran sambil duduk di gazebo di tengah kolam. Kayaknya seru banget!”

Satu jam belum ada jawaban dari Si Bapak. Hingga Haibara mulai gelisah sambil sesekali melirik Shinichi yang masih sibuk dengan kertas-kertas pekerjaannya.  Akhirnya Haibara membuka laptopnya dan mulai sibuk dengan SOP-SOP baru yang harus dibuatnya.  Dia memutuskan untuk menenggelamkan diri dalam pekerjaanya. Namun untunglah, dua jam kemudian ada jawaban dari si Bapak, dan isinya pendek namun sangat melegakan.

 “OK, saya pernah mengalami jadi panitia, jadi saya dapat memahami kesulitan Haibara”.

Cara Mitsunari Mengatasi Rasa Kantuknya

Seperti malam-malam sebelumnya Mitsunari kembali keluar kamar karena kantuk tak tertahankan. Jarum jam menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Tugas presentasi kuliah buat besok pagi, serta tumpukan dokumen kantor yang harus dibereskan malam ini telah memaksanya untuk menunda tidurnya. Semua harus beres malam ini. Sialnya matanya tak tahan lagi untuk tidak terpejam.

Maka seperti yang biasa dilakukannya, Mitsunari keluar dari rumahnya sambil menenteng ransel dan berjalan menuju warung tenda yang berada hanya 300 meter dari rumahnya. Warung itu melekat pada pinggiran sebuah taman kecil di tengah pertigaan Jalan Eijkman. Taman berbentuk segitiga dengan panjang sisinya 20 meter itu pada dua sisinya dijejali deretan warung. Satu sisi yang lain berisi mobil-mobil yang diparkir. Mitsunari menuju salah satu warung yang menjadi langganannya.

Warung langganan Mitsunari menjual makanan standar kakilima. Pecel lele, sop kikil, soto ayam, bebek goreng dan ayam goreng. Mitsunari biasa memilih salah satu menu secara bergantian. Namun untuk malam ini yang hanya bertujuan mengusir kantuk, Mitsunari memesan kopi susu plus beberapa potong pisang goreng saja. Dia ngobrol barang 5-10 menit dengan Bapak yang melayani makan, baru kemudian menyingkir ke tempat duduk dari semen yang sekaligus berfungsi sebagai benteng pembatas taman.

Di bawah penerangan sinar lampu taman yang lumayan terang, Mitsunari meneruskan segala tetek bengek tugas kuliah dan kerjaan kantor di situ. Dikeluarkannya laptop dan buku-buku dari dalam tas, kemudian Mitsunari mulai beraksi membereskan tugasnya.

Anehnya saat mengerjakan tugas di warung ini Mitsunari berkurang jauh kantuknya. Mungkin karena pengaruh angin malam, mungkin juga karena obrolan orang-orang di warung yang membuatnya bersemangat mengerjakan tugas karena melihat orang lain juga terjaga. Sesekali diseruputnya kopi dan dicomotnya pisang goreng sebagai selingan. Satu dua kali dia ikutan nyeletuk menimpali obrolan yang tengah berlangsung seru di warung.

Biasanya pengunjung warung secara konstan datang dan pergi silih berganti. Jarang warung sampai kosong. Obrolan di sana pun bervariasi topiknya, tergantung selera pengunjungnya. Mitsunari tak ambil pusing dengan isi obrolan karena pikirannya tertuju paa tugas-tugasnya. Dia menyelesaikan semua tugas kuliah dan dokumen kantornya bersamaan dengan jam tutup warung. Pukul 3 pagi kala penjaga warung beres-beres warungnya, saat itulah biasanya pekerjaan Mitsunari juga sudah selesai.

Persahabatan Romo Wage dan Romo Sunu

Salah seorang sahabat yang sering disambangi Romo Wage adalah Romo Sunu. Nama lengkapnya Sunu Catur Gunawan Wibisono, seorang juragan bubur kacang hijau  (burjo) yang berjualan di pertigaan menuju Jalan Sukajadi. Di kiri kanan jalan tersebut terdapat banyak kios-kios kelontong dan pakaian yang terkenal harga barangnya murah sehingga selalu ramai dikunjungi pembeli.
 

Dampaknya warung burjo Romo Sunu juga selalu ramai dikunjungi pelanggan dan juga sopir-sopir angkot yang sedang ngetem cari penumpang di pertigaan Sukajadi.

Salah satu yang dikagumi Romo Wage pada diri Romo Sunu adalah keteraturan hidupnya. Romo Sunu selalu mulai berjualan pukul 9 pagi dan tutup pukul 3 sore, sesaat sebelum Ashar. Sehabis itu dia pulang ke Langgarnya dan menjadi imam Sholat Ashar di sana. Kemudian dia pergi ke kebun untuk menyiram sayuran-sayurannya.

Nanti pukul 5 dia sudah ada di langgar lagi untuk mengajar mengaji orang-orang tua hingga maghrib. Dilanjutkan dengan mengajar ngaji anak-anak kecil hingga Isya. Khusus untuk malam Jumat, Romo Sunu memberi pengajian umum yang diikuti oleh banyak sopir angkot yang rata-rata telah kenal baik dengan Romo Sunu.

Keistimewaan yang lain dari Romo Sunu adalah dia seorang pecinta buku, khususnya buku-buku agama. Menurut Romo Sunu, dia butuh selalu baca buku agar materi pengajiannya ada rujukan tertulisnya dan sesuai dengan kondisi masakini.

Di warung buburnya terdapat rak-rak buku yang berisi ratusan buku agama. Setiap hari, disela-sela waktu melayani pembeli dia menyempatkan diri membaca buku-buku tersebut. Awalnya sebagian besar bukunya berbahasa arab, oleh-oleh dari melanglang buana selama 10 tahun sejak lulus dari STM . Namun saat ini Romo Sunu sengaja membeli buku-buku berbahasa Indonesia agar bisa dipahami oleh teman-temannya yang sering pinjam buku untuk dibaca di rumah.

Biasanya setelah mencorat-coret bahan pengajian di kertas bekas, Romo Sunu akan mengetiknya di sebuah laptop kuno yang dibelinya saat masih menjadi awak kapal dagang. Setelah selesai diketik, tulisan itu dibagikan pada para peserta pengajian.

Don't Just Clever, It’s Not Enough

Dian and Doni had just graduated from university. Dian took the study of bacteria, while Doni the fungi. Both are willing to work hard and be ready to stay for months in the microbiology laboratory for completed the research.

They are smart students, but Dian’s academic achievement is much prominent than Doni. Dian is a student with a very brilliant academic achievement, and additionally her non-academic achievements are no less convincing.

Cum laude predicate and a wad of certificates of her non-academic achievement make almost all their friends be sure that Dian will steadily moving toward the professional work faster than Doni who his achievement was not so prominent.

However the reality is different with their friends prediction. Just less than a month Doni be accepted to work at a factory of papers. Doni also gets offering of jobs from several companies. Otherwise Dian have need of one year in waiting before gets a job in a little bank. She don’t get any offering of jobs from another companies.

Why?

Common Sense

Suatu ketika Shinichi Kudo bertemu Kirana yang sedang bingung untuk mengetahui volume tangki penampung air yang baru saja dipinjamnya dari Departemen lain. Tangki setinggi delapan meteran tersebut adalah tangki lama yang sudah tidak terpakai, sehingga tidak dilengkapi dokumen-dokumen pendukung yang berisi informasi tentang dimensi, volume, material tangki maupun spesifikasi teknis lainnya. Jadilah Kirana pusing mencari cara mengetahui volume tangki.

“Kalo mo ngukur volume tangki gampang. Gak perlu repot-repot menghapal rumus yang bikin pusing. Volume itu sebenarnya luas alas kali tinggi. Jika barang berbentuk silinder, tentu saja luas alas adalah luas lingkaran alas silinder dan tinggi direpresentasikan oleh tinggi silinder. Dirimu cukup suruh anak buahmu mengukur diameter alas tangki lalu dihitung luasnya, kemudian dikalikan tinggi tangki. Langsung ketemu volume tangki deh!”

Kirana manggut-manggut tanda setuju. Ternyata dia tidak perlu bersusah payah untuk mengetahui volume tangki. Gak perlu nyari-nyari dokumen tangki jaman baheula yang belum tentu ada. Semua dapat diatasi dengan mempergunakan pengetahuan sederhana yang sebenarnya dapat dengan mudah dikuasai semua orang.

^_^

Kali lain Shinichi Kudo kedatangan seorang tamu yang membicarakan tentang pengiriman tabung gas. Saat tamu tersebut bertanya tentang prosedur keselamatan penanganan tabung gas, Shinichi diam. Tidak tahu harus menjawab apa, karena dirinya tidak pernah memperhatikan bagaimana tabung gas diterima di perusahaannya. Untunglah waktu itu ada Samijo yang kebetulan sering memesan tabung gas.

Samijo mengatakan bahwa prosedur penanganan tabung gas mengikuti prosedur keselamatan standar. Tabung gas di dalam mobil diberdirikan dengan posisi tegak lurus dan diikat dengan rantai sehingga tidak akan terguling. Tabung gas juga dilengkapi dengan valve pengaman sehingga tidak akan bocor.

Sebelum diterima dari vendor, dipastikan terlebih dahulu bahwa kondisi fisik tabung tidak cacat, sambungan-sambungan, gasket, & regulator terpasang dengan benar dan berfungsi dengan baik. Metode penurunan tabung gas dari mobil-pun dilakukan secara aman, dengan mempergunakan alat bantu dan dilakukan oleh minimal dua orang untuk menghindari jatuh atau tergulingnya tabung gas saat diturunkan.

Samijo dapat menjelaskan dengan runtut dan jelas sehingga tamu itu puas dan dapat mengerti bahwa perusahaan sangat memperhatikan prosedur keselamatan dalam penanganan tabung gas. Samijo ingat dan mampu menjelaskan peristiwa sederhana yang sebenarnya juga sering dilihat Shinichi. Hal itu membuat Shinichi diam termangu, apa yang salah pada dirinya?

^_^

Common sense adalah pengetahuan sederhana yang dipahami oleh masyarakat umum. Common sense bukanlah merupakan pengetahuan khusus dan luar biasa yang hanya bisa dikuasai segelintir orang. Kebanyakan orang dapat menguasai common sense dengan menggunakan akal sehat. Bahkan common sense bisa diketahui dengan sendirinya oleh seseorang seiring pengalaman hidupnya.



Contoh common sense adalah perkalian 5 x 5 = 25, 10 x 10 = 100 dan 25 x 25 = 625, yang dapat dijawab oleh banyak orang dengan nyaris tanpa perlu berpikir. Pengetahuan itu telah meresap selama duduk di bangku sekolah dasar dan siap dipergunakan bila diperlukan. Common sense berupa penguasaan perkalian tersebut bukan sesuatu yang luar biasa atau perlu kejeniusan. Cukup dengan kemampuan otak yang biasa-biasa saja dan memori ala kadarnya seseorang dapat menguasai perkalian-perkalian sederhana.

Dalam banyak kasus, common sense sangat berguna untuk memecahkan permasalahan yang kita hadapi sehari-hari. Seperti masalah volume tangki yang dihadapi Kirana dan masalah penanganan tabung gas yang ditanyakan oleh tamu Shinichi Kudo. Sebenarnya baik Kirana maupun Shinichi Kudo dapat memecahkan permasalahan mereka dengan mempergunakan common sense yang telah mereka ketahui. Hanya saja mereka berdua tidak terlatih dalam penggunaan common sense untuk memecahkan masalah.

Perlu latihan agar dapat mempergunakan common sense. Manusia perlu berlatih untuk mempergunakan informasi yang tersedia dan merangkainya menjadi informasi yang sistematis & berguna. Dalam kasus Kirana, dia dapat memperoleh informasi ukuran-ukuran fisik tangki, seperti tinggi dan diameter. Selanjutnya dia mempergunakan common sense yang diketahuinya sewaktu SD tentang metode mengukur volume tabung. Dari penggabungan informasi dan common sense, akan diperoleh informasi tentang volume air yang dapat ditampung oleh tangki.

Kirana perlu berlatih mempergunakan informasi yang tersedia pada tangki dan menghubungkan dengan khasanah pengetahuan dan pengalaman yang telah dia miliki.

Dalam kasus Shinichi Kudo, tentu dia pernah mendengar atau membaca bagaimana cara penanganan tabung gas yang sering ditayangkan di media massa. Shinichi hanya perlu menceritakan ulang pengetahuan tersebut dengan runtut dan sistematis untuk menjawab pertanyaan tamunya tentang penanganan tabung gas. Tidak perlu menghapal prosedur atau petunjuk teknis karena semua itu hanyalah common sense yang bisa diketahui semua orang. Apalagi Shinichi sering melihat tabung gas diturunkan dari mobil pengangkutnya.

Shinichi dapat melatih common sense dengan mencoba menceritakan kembali sesuatu yang dilihatnya dalam kalimat-kalimat yang runtut dan sistematis. Berusaha menceritakan kembali sebuah peristiwa step demi step secara berurutan dan logis akan memaksa Shinichi untuk melihat lebih seksama. Dengan melihat lebih seksama dia akan bisa menceritakan dengan lebih sistematis. Hal itu tidak memerlukan kemampuan istimewa, hanya perlu sedikit berpikir untuk mengelaborasi apa yang baru saja dilihatnya.

Pengamatan secara seksama bukan berarti harus menghapal langkah demi langkah secara mendetail, yang diperlukan adalah mengetahui langkah-langkah utama dan alasan dibalik langkah tersebut. Dengan mengetahui hal-hal yang penting maka kita akan dapat dengan mudah mengelaborasi keseluruhan langkah dengan penjelasan yang sistematis dan logis.

Pendeknya common sense adalah sebuah tool yang sangat powerful untuk memecahkan permasalahan sehari-hari. Kita hanya perlu mengamati dengan lebih seksama dan berlatih mengelaborasi hasil pengamatan itu dengan sistematis (Undil, 26 Juni 2010. Inspired by kuliah immuno engineering Prof. Santoso. MD, 25/06/10).