Cerita Pendek Kancil Mencuri Mentimun

Sang Kancil tak pernah menyangka peristiwa hari itu akan mengubah secara total hidupnya. Sore itu Sang Kancil yang masih remaja belia baru saja beranjak keluar hutan setelah seharian menempuh perjalanan dari rumahnya -- sebuah gua cantik di tengah hutan. 

Tepat di pinggir hutan ada tebing dengan dinding yang melandai. Sang Kancil sedang melangkah menuruni tebing itu ketika tiba-tiba tanah yang diinjaknya ambles sehingga Sang Kancil tergelincir dan meluncur cepat ke arah bawah tebing. 





Sang Kancil berteriak panik sambil kakinya terus melangkah dengan cepat agar keseimbangan tubuhnya terjaga dan dirinya tidak jatuh terguling-guling. Laju luncuran tubuh Sang Kancil semakin lama semakin cepat sebelum akhirnya menubruk patung orang-orangan yang berada di pinggir kebun mentimun di dasar tebing.

Hewan cerdik itu bernafas lega mendapati kakinya dan tulang-tulang tubuhnya tidak patah. Namun sejenak kemudian dia sadar bahwa orang-orangan ini telah dilumuri getah yang sangat lengket sehingga dirinya tidak bisa lepas darinya.  Tak berapa lama kemudian Sang Kancil mendapati dirinya dimasukkan karung dan dibawa Pak Tani meninggalkan ladang di tepi hutan. 

Sepanjang jalan didengarnya Pak Tani mengomel tentang para pencuri mentimun yang harus diberi pelajaran. Sadarlah Sang Kancil bahwa dirinya dituduh sebagai salah satu pencuri mentimun -- artinya banyak pencuri mentimun yang menjarah ladang Pak Tani.

Sang Kancil diikat di sebuah pohon jeruk bali di kebun belakang Pak Tani. Tatkala dia mengamati area sekelilingnya, dilihatnya banyak binatang yang bernasib sama dengan dirinya. 

Ada seekor rusa jantan yang terikat di pohon pete. Ada kambing hutan yang diikat di pohon mandingan. Seekor banteng kecil diikat di pohon mangga. Beberapa binatang lain dikurung dalam kurungan dari kayu. Dari jumlah yang hanya seekor dan perlakuan diikat atau dikurung terhadap mereka, Sang Kancil menyimpulkan mereka juga dituduh mencuri di ladang Pak Tani. Binatang piaraan Pak Tani biasanya jumlahnya banyak dan tidak diikat.

Pagi harinya seorang anak perempuan imut masuk ke kebun belakang dan memberi makan semua hewan yang terikat. Rupanya dia anak Pak Tani. Saat menghampiri pohon tempat Sang Kancil terikat, dia nampak kaget sekali. Diamat-amatinya tubuh Kancil, dielus-elusnya bulunya, diraba dan diperiksanya beberapa bagian tubuh Sang Kancil dengan teliti -- setelah selesai memeriksa mendadak dia tertawa senang. Entah apa sebabnya.

Kemudian dia bertanya-tanya tentang banyak hal kepada Sang Kancil. Tentang kebiasaannya, kesukaannya, hal-hal yang disukai, yang tidak disukai, pendapatnya tentang berbagai masalah kehidupan, juga tentang calon pendamping yang diinginkan.  Nampaknya dia puas dengan jawaban yang didapatkan. 

Setelah menaruh wortel dan daun-daunan di depan Sang Kancil, anak perempuan itu kemudian bergegas pergi meninggalkan rumah Pak Tani. Tak berapa lama kemudian muncul Pak Tani menghampiri Kancil.

"Hai pencuri, banyak makanan di hutan mengapa kamu mencuri timun di ladangku?"

"Woii woii Aku bukan pencuri! Aku rasa hewan-hewan lain yang kau tangkap juga bukan pencuri!"

"Pasti kau akan bilang tergelincir saat keluar dari hutan!. Itu adalah alasan yang dipakai semua hewan yang berhasil kutangkap" tuduh Pak Tani

Sang Kancil terdiam sejenak. Tak ada gunanya berdebat dengan orang yang mendapati dirinya berada di ladangnya -- dan terjebak pada orang-orangan yang memang khusus dibuat untuk menangkap pencuri. Bantahan tanpa menunjukkan bukti yang cukup tidak akan banyak gunanya. Setelah berpikir sejenak Sang Kancil kemudian berkata:

"Kau membuat ladang di tempat yang salah. Ladangmu tepat berada di jalan utama hutan -- tempat hewan-hewan keluar masuk hutan. Mungkin diantaranya ada yang suka makan timunmu. Kalo kamu mau akan aku tunjukkan tempat berladang yang lebih baik. Tempat yang jauh dari lalu lalang hewan dan tersedia air sepanjang tahun".

"Ah mana ada tempat seperti itu di daerah yang kering ini. Semua petani di sini bertanam dengan mengandalkan air hujan!" bantah Pak Tani

"Ada sungai kecil mengalir di tepi hutan. Asal lokasi ladangmu tepat, kau bisa memanfaatkannya untuk mengairi tanamanmu sepanjang tahun"  kata Sang Kancil

"Hahaha.... umurku sudah 26 tahun. Aku terbilang tua dan berpengalaman dibanding dirimu. Seumur hidup aku tinggal di tempat ini dan aku tidak pernah melihat tanah yang letaknya lebih rendah dari sungai sehingga bisa diairi. Kamu terlalu banyak berkhayal anak muda. Banyaklah belajar dari orang-orang tua seperti kami!"

"Tak ada ruginya kau beri kesempatan aku menunjukkannya. Saat kutunjukkan tempatnya, ikatlah leherku dengan tali jika kau takut aku melarikan diri" tawar Sang Kancil.

Setelah lima menit merenung, Pak Tani setuju dengan usulan Sang Kancil. Tak ada salahnya melihat tempat yang akan ditunjukkan Sang Kancil. Mungkin Kancil ini masih  belum punya pengalaman bahwa air itu tidak bisa mengalir keatas. Seperti hal anak perempuannya yang menjelang remaja yang kadang-kadang merasa paling tahu. Sebagai orang tua dia akan menjelaskannya semua kesalahan Sang Kancil di lokasi yang ditunjukkannya.

^_^

Ternyata Pak Tani tidak mau repot-repot menuntun Sang Kancil.  Dimasukkannya Sang Kancil ke dalam karung dan dipanggulnya. Namun kali ini pada karung diberi lubang yang cukup besar sehingga Sang Kancil bisa menunjukkan jalan yang harus ditempuh Pak Tani menuju lokasi ideal buat membuat ladang. 

Saat Pak Tani membawanya keluar halaman rumah -- dilihatnya anak perempuan Pak Tani masuk ke halaman rumah sambil menuntun seekor kancil belia yang setahun atau dua tahun lebih muda dari dirinya. Bulu-bulunya yang bersih dan berwarna putih kecoklatan tampak berkilauan tertimpa sinar matahari. Badannya kokoh berisi, kakinya yang ramping memiliki otot-otot yang liat, cara berjalannya gesit dan nampak keceriaan menghiasi wajahnya. 

Dari tatapan matanya yang berbinar-binar, tindak tanduknya yang penuh tata krama, dan punggungnya yang membawa tas-tas penuh sayuran, Sang Kancil menyimpulkan Kancil Belia itu pastilah kancil betina yang baik, rajin dan ceria. Sayup-sayup terdengar dia bercakap-cakap tentang perjodohan dengan anak perempuan Pak Tani.   

Ketika sampai di tempat ideal membuat ladang -- Pak Tani mengeluarkan Sang Kancil dari dalam karung. Kemudian Pak Tani mulai berceramah tentang sifat-sifat air, diantaranya bahwa air tidak bisa mengalir ke atas karena adanya gravitasi bumi. Lokasi tanah yang dimaksud Sang Kancil berada diatas sungai dan lokasinya cukup jauh dari sungai yang mengalir di pinggir hutan. Jadi intinya tidak mungkin menanam tanaman sepanjang tahun di tempat ini. Sama saja kondisinya  dengan ladang Pak Tani dan ladang milik para tetangganya. 

Setelah Pak Tani selesai berbicara tentang sifat-sifat air dan semua kelemahan rencana Sang Kancil -- barulah hewan yang bijak ini menjelaskan rencananya. Jika dia berbicara sebelum Pak Tani menyelesaikan semua kata-katanya, tentu yang akan terjadi adalah perdebatan sia-sia yang tiada ujungnya.

"Kau lihat bukit-bukit batu yang mengelilingi lembah bertanah keras di depan kita ini Pak Tani?. Bukit-bukit kecil ini mengelilingi area yang cukup luas dan salah satu tepinya berbatasan dengan sungai" kata Sang Kancil

"Apa hubungannya bukit-bukit batu dengan air untuk tanah yang akan kita jadikan ladang" 

"Bendung sungai itu. Maka dalam tiga bulan air akan memenuhi ruang di antara bukit-bukit ini. Lembah diantara bukit ini akan menjadi danau kecil yang bisa mengairi tanah-tanah yang ada di bawahnya, termasuk tanah yang akan kau jadikan ladang ini" kata Sang Kancil

Selesai mendengar penjelasan Sang Kancil mendadak Pak Tani berlari menuju sungai yang jaraknya cukup jauh dari tempat itu. Sampai di tepi sungai Pak Tani mengamat-amati sungai yang nampak jauh di bawah sana dengan tebingnya yang curam. Kemudian diamatinya area sekitar tebing bagian atas -- kemudian dia tersenyum dan menoleh kepada Sang Kancil yang nampak berdiri terengah-engah disampingnya karena barusan ikutan berlari menyusul Pak Tani.

"Kamu benar Sang Kancil!. Walau masih muda kamu lebih bijak dan berpengetahuan dibanding aku yang tua ini. Gampang sekali membendung sungai kecil ini!. Cukup dengan memasang kayu-kayu melintang diantara tebing dan diperkuat dengan menjatuhkan batu-batu yang banyak terdapat di atas tebing maka sungai akan terbendung".

"Hati-hati yah Pak Tani. Kau harus memastikan tinggi air bendungan cukup untuk mengairi ladang, tapi tidak terlalu tinggi karena bisa menyebabkan banjir" kata Sang Kancil

"Hahaha... pastilah Sang Kancil. Kami para penduduk desa ini adalah para tukang batu yang berpengalaman. Pada saat musim kemarau dimana ladang tidak bisa ditanami --  kami merantau ke kota Tuban dan Gresik untuk bekerja sebagai tukang batu yang membangun aneka macam bangunan di kota" jawab Pak Tani

"Kami pernah membangun masjid, madrasah, pasar, bimaristan, menara pengamatan bintang, benteng pertahanan kota, jembatan, sampai parit besar yang mengelilingi kota. Jadi jangan khawatir kami salah menghitung!. Aku juga ingin membangun masjid di tengah ladang, sehingga saat kami sedang berada di ladang tetap bisa sholat di masjid!" lanjut Pak Tani.

Maka dengan sukacita Pak Tani mengajak Sang Kancil pulang ke rumahnya untuk dijamu. Pak Tani sangat senang membayangkan desanya akan menjadi makmur karena bisa bertanam sepanjang tahun. Pastilah tetangga-tetangganya akan senang mendengar kabar ini. 

Banyak ladang baru bisa dicetak dan diharapkan penduduk desanya semuanya akan menjadi pembayar zakat dan mampu menyembelih hewan kurban setiap tahun. Sebagai orang tua dia juga bahagia membayangkan anak-anak muda akan menjadi cerdas karena memiliki cukup uang untuk membeli kitab-kitab  karya para cendekiawan Baghdad dan Andalusia di toko buku-toko buku di Bonang. 

Nanti malam akan dijamunya Sang Kancil dengan jamuan istimewa atas jasanya yang luar biasa. Dia juga berjanji akan membebaskan semua hewan yang ditangkap karena dituduh mencuri timun. Pada dasarnya dia orang baik, terbukti semua hewan yang ditangkapnya diberi makan yang cukup dan diperlakukan dengan baik.

^_^
Sampai di rumah mereka mendapati anak perempuan Pak Tani dan Kancil Belia sedang duduk menunggu di teras rumah sambil berbincang-bincang. Melihat Pak Tani datang bersama Sang Kancil, cepat-cepat anak itu berdiri menyongsong kedatangan mereka. Pak Tani menceritakan ide brilian Sang Kancil untuk membangun bendungan dan semua manfaat yang akan didapat oleh penduduk desa. 

Anak perempuan Pak Tani dan Kancil Belia tampak membelalakkan matanya tanda sangat kagum atas dampak yang timbul dari dibangunnya bendungan. 

Sesaat kemudian anak itu menghampiri bapaknya dan meraih pundaknya agar Pak Tani membungkuk. Kemudian dia membisikkannya sesuatu ke telinga bapaknya -- lalu bapaknya tersenyum sambil mengangguk-angguk.

"Hai Sang Kancil -- apakah dirimu sudah memiliki pasangan?" tanya anak perempuan Pak Tani

Sang Kancil kaget dengan pertanyaan tersebut. Tapi kemudian dia teringat perbincangan tadi pagi antara anak perempuan Pak Tani dengan kancil betina belia yang sekarang berdiri dengan takzim di depannya. Mereka bicara tentang perjodohan. Pastilah anak perempuan Pak Tani ingin menjodohkan dirinya dengan kancil belia tersebut. Jadi sekarang dia paham dan tahu apa yang perlu dia lakukan.

"Belum!. Aku belum punya pasangan dan aku tertarik untuk menjadikan Kancil Belia temanmu itu menjadi istriku!" kata Sang Kancil

"Sudah dua tahun aku tinggal di rumah sendiri terpisah dari orangtuaku. Tahun depan aku kuliah -- jadi aku cukup dewasa untuk menikah!. Aku juga punya ladang wortel dan brokoli di hutan sebagai matapencaharian. Sebagai istriku dia bisa membantuku mengurus ladang kalo dia mau!" Sang Kancil melanjutkan kata-katanya.

Anak perempuan Pak Tani terkejut mendengar Sang Kancil langsung hendak melamar Kancil Belia. Tadinya dia hanya berharap mereka menikah lima tahun lagi saat Sang Kancil lulus kuliah di Universitas Hutan Raya. Tapi nampaknya sekarangpun dua ekor kancil remaja itu sudah matang dan sudah sewajarnya menikah. 

Kancil Belia pun tersipu-sipu malu mendengar kata-kata Sang Kancil. Dia telah mendengar deskripsi tentang Sang Kancil dari anak perempuan Pak Tani yang tadi pagi memeriksa tubuh dan menginterogasi Sang Kancil dengan teliti. Dia setuju untuk  menikah dengan Sang Kancil. 

Dia yakin Bapaknya pun pasti setuju karena bapaknya sangat mengidolakan Sang Kancil yang bijaksana. Biarpun masih remaja dan bukan hewan yang kaya raya tapi dia sangat bijaksana sehingga menjadi teladan binatang seantero hutan raya.

Malam itu Bapak Ibu Kancil Belia diundang ke rumah Pak Tani untuk ikut acara makan bersama sekaligus membicarakan pernikahan putrinya. Awalnya mereka kaget dengan rencana pernikahan putrinya -- tapi setelah melihat calon suaminya adalah Sang Kancil yang bijaksana serta merta mereka setuju. Tak ada pergaulan yang lebih baik bagi putri mereka selain bersuamikan seekor kancil yang bijaksana. 

Sementara itu Pak Tani mulai menghitung-hitung umurnya. Dia punya anak sepuluh tahun yang lalu tatkala dirinya sebaya Sang Kancil. Tak terasa dalam beberapa tahun mendatang dia akan menjadi kakek tatkala anak perempuannya menikah dan melahirkan anak-anaknya. Alangkah cepatnya hidup ini dan rugi jika tidak untuk melakukan hal-hal yang baik. 

Begitulah kisahnya. Sang Kancil yang awalnya dituduh mencuri timun -- ternyata pada akhirnya dengan keuletannya dan kebijaksanaannya justru memberikan manfaat bagi Pak Tani dengan membangun bendungan dan juga manfaat bagi dirinya sendiri (Undil -2015).  

Gambar diambil dari picassopictures com    

Gambaran Sifat Tokoh-tokoh Utama:
1. Sang Kancil: remaja, cerdas, bijaksana, memahami sifat-sifat manusia, dan mengambil keputusan dengan pertimbangan seksama
2. Petani senior: petani merangkap tukang batu yang trampil, baik hati, agak terburu-buru mengambil kesimpulan, dan walaupun sangat menghargai senioritas beliau berpikiran terbuka terhadap perubahan.
3. Anak perempuan petani: berusia menjelang remaja, ceria, teliti, suka menolong
4. Kancil betina: remaja belia yang rajin dan santun

1 comment:

  1. Menarik... dongeng Kancil Mencuri Timun dalam cerita yang berbeda...

    ReplyDelete