Showing posts with label bandung. Show all posts
Showing posts with label bandung. Show all posts

Museum Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda

If we stand tall it is because we stand on the shoulders of many ancestors.
Bila sekarang kita bisa berdiri tegak dengan penuh percaya diri, itu karena kita berdiri di atas bahu para pendahulu kita

Anonymous
Yoruba proverb.

Salah satu obyek wisata menarik di Dago Pakar, Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda, adalah bangunan Pusat Informasi dan Museum Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda.

Museum tersebut didirikan diantaranya untuk mengenang Ir. H. Djuanda Kartawidjaja, seorang tokoh asal Tanah Pasundan dan juga seorang pahlawan nasional.

Di ruangan berukuran 8 x 10 meter tersimpan benda-benda kenangan tokoh pejuang yang pada tanggal 28 September 1945 memimpin para pemuda mengambil-alih Jawatan Kereta Api dari Jepang, dan kemudian disusul pengambil-alihan Jawatan Pertambangan, Kotapraja, Keresidenan dan obyek-obyek militer di Gudang Utara, Bandung.


Terdapat bermacam-macam penghargaan yang diterima pahlawan nasional kelahiran Tasikmalaya ini yang tersimpan di dalam museum. Mulai dari piagam penghargaan dari pemerintah RI dan negara-negara asing, hingga medali, kancing, dan wings dari berbagai negara seperti Rusia, Thailand dan Malaysia. Terdapat juga foto Pak Djuanda berukuran besar di dalam museum. Disamping itu ada juga koleksi herbarium dan offset satwa serta artefak purbakala.

Tak kenal maka tak sayang. Barangkali kita tidak akan tertarik mengunjungi museum tersebut bila tidak mengenal Ir. H. Djuanda lebih dekat.

Siapakah beliau? Apakah jasa terbesar Ir. H. Djuanda bagi Indonesia?

Ir. H. Djuanda adalah perdana menteri terakhir di era penerapan demokrasi parlementer di Indonesia. Jasa terbesar beliau bagi Indonesia adalah mengumumkan Deklarasi Djuanda pada tanggal 13 Desember 1957. Pada deklarasi tersebut dinyatakan bahwa semua pulau dan laut nusantara adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan.

Sebelum Deklarasi Djuanda, masyarakat internasional hanya mengakui batas laut teritorial adalah 3 mil laut terhitung dari garis pantai terendah.

Akibatnya negara kepulauan seperti Indonesia tersusun dari pulau-pulau yang terpisah oleh perairan internasional. Misalnya antara pulau Sulawesi & Nusatenggara terdapat perairan internasional, demikian juga antara pulau Jawa & Kalimantan, dan antara Kalimantan & Sulawesi. Itu artinya kapal-kapal asing bebas berlalu-lalang diantara pulau-pulau Indonesia sehingga akan mempersulit penjagaan kedaulatan wilayah Indonesia.

Pasca Dekalarasi Djuanda tidak ada lagi perairan internasional di antara pulau-pulau nusantara. Wilayah Indonesia merupakan satu kesatuan yang utuh dengan batas-batas laut berada pada pulau-pulau terluar.

Deklarasi Djuanda juga membuat luas wilayah Indonesia bertambah menjadi lebih dari 5 juta km2. Di dalam wilayah perairan Indonesia terdapat belasan ribu pulau dan dikelilingi garis pantai sepanjang puluhan ribu kilometer. Wilayah laut yang sangat luas tersebut menjadikan Indonesia memiliki sumberdaya alam yang melimpah ruah, mulai dari sektor perikanan, sumberdaya bioteknologi kelautan, minyak bumi & mineral hingga wisata bahari.

Pada saat diumumkan -- Deklarasi Djuanda ditentang oleh Amerika Serikat dan Australia. Namun kemudian berhasil diperjuangkan oleh Djuanda dan para penerusnya seperti Mochtar Kusumaatmadja dan Hasyim Djalal, sehingga konsep negara nusantara diterima dan ditetapkan dalam konvensi hukum laut PBB, United Nation Convention on Law of the Sea (UNCLOS) 1982.

Tokoh yang ditangkap Belanda pada saat Agresi Militer II (1948) dan menolak ketika dibujuk Belanda untuk ikut serta dalam Pemerintahan Negara Pasundan, semasa hidupnya beberapakali memangku jabatan menteri. Beliau juga menjadi Ketua Panitia Ekonomi dan Keuangan Delegasi Indonesia pada perundingan KMB (Konferensi Meja Bundar) yang berakhir dengan pengakuan Belanda atas kedaulatan Pemerintahan Republik Indonesia.

Salah seorang pendiri Pesatuan Insinyur Indonesia yang mengawali karirnya sebagai guru SMA Muhammadiyah di Jakarta pada tahun 1933, setelah menolak tawaran menjadi asisten dosen di Technische Hogeschool ini, meninggal pada tahun 1963 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.

Jika ingin mengenal lebih dekat kiprah Pak Djuanda, kita dapat melihat-lihat koleksi museum yang berlokasi di Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda. Hutan lindung itu terletak tak jauh dari ujung utara Jalan Dago. Kita sudah sering sekali mendengar nama beliau yang merupakan nama resmi Jalan Dago, tak ada salahnya bila kita juga mengenal kehidupan dan jasa-jasa beliau (undil - 08).

Referensi
1. tokohindonesia.com
2. pikiran-rakyat
3. id. wikipedia
4. swaramuslim
5. Dishut Jabar
6. Proverb diambil dari Microsoft ® Encarta ® 2006. © 1993-2005 Microsoft Corporation.



BIOGRAFI IR. H. DJUANDA KARTAWIDJAJA
sumber: tokohindonesia.com

Nama:
Ir H Djuanda Kartawidjaja
Lahir:
Tasikmalaya, Jawa Barat, 14 Januari 1911
Meninggal:
Jakarta 7 November 1963
Agama:
Islam

Pendidikan:
Technische Hogeschool (Sekolah Tinggi Teknik) – sekarang Institut Teknologi Bandung (ITB), 1933

Karir:
- Guru SMA Muhammadiyah di Jakarta, 1933-1937
- Kepala Jawatan Kereta Api untuk wilayah Jawa dan Madura
- Menteri Perhubungan
- Menteri Pengairan
- Menteri Kemakmuran
- Menteri Keuangan
- Menteri Pertahanan
- Perdana Menteri

Organisasi:
- Pendiri Persatuan Insinyur Indonesia (PII) bersama Ir Rooseno Soeryohadikoesoemo, 23 Mei 1952

Penghargaan:
Pahlawan Pergerakan Nasional


DEKLARASI DJUANDA DALAM WIKIPEDIA
sumber: id. wikipedia
Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia.
Deklarasi Djuanda yang dicetuskan pada tanggal 13 Desember 1957 oleh Perdana Menteri Indonesia pada saat itu, Djuanda Kartawidjaja, adalah deklarasi yang menyatakan kepada dunia bahwa laut Indonesia adalah termasuk laut sekitar, di antara dan di dalam kepulauan Indonesia menjadi satu kesatuan wilayah NKRI.

Sebelum deklarasi Djuanda, wilayah negara Republik Indonesia mengacu pada Ordonansi Hindia Belanda 1939, yaitu Teritoriale Zeeën en Maritieme Kringen Ordonantie 1939 (TZMKO 1939). Dalam peraturan jaman Hindia Belanda ini, pulau-pulau di wilayah Nusantara dipisahkan oleh laut di sekelilingnya dan setiap pulau hanya mempunyai laut di sekeliling sejauh 3 mil dari garis pantai. Ini berarti kapal asing boleh dengan bebas melayari laut yang memisahkan pulau-pulau tersebut.

Deklarasi Djuanda menyatakan bahwa Indonesia menganut prinsip-prinsip negara kepulauan (Archipelagic State) yang pada saat itu mendapat pertentangan besar dari beberapa negara, sehingga laut-laut antarpulau pun merupakan wilayah Republik Indonesia dan bukan kawasan bebas. Deklarasi Djuanda selanjutnya diresmikan menjadi UU No.4/PRP/1960 tentang Perairan Indonesia. Akibatnya luas wilayah Republik Indonesia berganda 2,5 kali lipat dari 2.027.087 km² menjadi 5.193.250 km². Dengan perhitungan 196 garis batas lurus (straight baselines) dari titik pulau terluar, terciptalah garis maya batas mengelilingi RI sepanjang 8.069,8 mil laut[1].

Setelah melalui perjuangan yang penjang, deklarasi ini pada tahun 1982 akhirnya dapat diterima dan ditetapkan dalam konvensi hukum laut PBB ke-III Tahun 1982 (United Nations Convention On The Law of The Sea/UNCLOS 1982). Selanjutnya delarasi ini dipertegas kembali dengan UU Nomor 17 Tahun 1985 tentang pengesahan UNCLOS 1982 bahwa Indonesia adalah negara kepulauan.

Pada tahun 1999, Presiden Soeharto mencanangkan tanggal 13 Desember sebagai Hari Nusantara. Penetapan hari ini dipertegas dengan terbitnya Keputusan Presiden RI Nomor 126 Tahun 2001, sehingga tanggal 13 Desember resmi menjadi hari perayaan nasional.

Bandung Berkabut : What a Wonderful World!

Aku paling seneng kalo pagi-pagi mau berangkat ke kantor turun kabut. Wah rasanya seperti berada di pegunungan yang sejuk dan berudara bersih. Pohon-pohon besar yang berada di jalanan, dan di halaman belakang kantor, menambah kesan seperti berjalan melintasi arboretum (hutan buatan) di pegunungan. Seneng banget loh! Coba bayangkan aku ambil cuti panjang, terus sedang jalan kaki menyusuri jalan setapak menuju kebun anggrek di suatu tempat di dataran tinggi yang sejuk (wahhhh impian siang bolong niy!).

Aku jadi scientist tamu yang sehari-hari bertanggung jawab memperbanyak anggrek dengan kultur jaringan (itu tuh teknik memperbanyak tumbuhan dengan menanam jaringan tumbuhan pada medium yang mengandung nutrien dan hormon pertumbuhan sehingga diperoleh tumbuhan baru dalam jumlah banyak dan seragam, mirip-mirip menanam bakteri pada medium produksi gituh). Tentu saja aku diajari dulu sebelum bisa melakukan sendiri.

Trus aku juga diperbolehkan ambil bagian dalam beberapa proyek penyilangan anggrek dengan perantaraan serbuk sari maupun rekayasa genetika. Pastilah perkebunan anggrek itu memiliki laboratorium kultur jaringan yang tidak kalah dengan laboratorium sejawatnya di UI, UGM atau yang di Amsterdam sekalipun! (wew, tambah ngelantur!). Yang pasti setiap hari aku bisa jalan-jalan diantara ribuan tanaman hijau berhias warna-warni yang menawan dan menebarkan udara sejuk yang menyegarkan paru-paru (Gak usah diceritain kalo weekend bisa rame-rame duduk di sekeliling api unggun, ngobrol sambil ditemani bandrek dan jagung bakar!)

Produk yang dihasilkan perkebunan adalah anggrek-anggrek khas tropis yang sangat eksotis, karena bahan-bahannya yaitu anggrek asli dari alam udah keren dari sononya dan juga akibat cita rasa sang penyilang yang sangat menawan (yaitu aku hihihi! Bercanda gak serius niy!). Anggrek-anggrek itu telah dipesan jauh-jauh hari sebelumnya (Indent!!) oleh para pembeli yang tersebar di seluruh dunia (weleh-weleh! ngimpi kowe yah!).

Stop mimpinya sampai di sini dulu dan bangun hadapi kenyataan (hiks!). Dibawah ini adalah foto-foto Bandung dalam kabut beneran, khususnya di halaman belakang kantorku. Lapangan bola di belakang itu ternyata sangat indah dalam selimut kabut. Lihat aja foto-foto yang diambil pake Olympus FE-110 ini. Selamat menikmati frends.(UNDIL)


Halaman Belakang Kantor




Lapangan Tenis di Halaman Belakang




Jalanan Sepi Berkabut

Biopori Against Kanal Banjir dan Kekeringan

Aku adalah salah satu orang yang tidak sependapat dengan proyek kanal banjir di Jakarta (juga kalau ada proyek serupa di Bandung). Karena menurutku spirit dari proyek itu adalah mengalirkan air secepatnya ke laut. Padahal air hujan adalah anugrah Tuhan untuk manusia yang seharusnya disimpan di dalam tanah. 

Seperti yang terjadi pada masa lalu dimana rumah-rumah memiliki halaman yang luas, air hujan akan terserap ke dalam tanah dan menjadi cadangan air di musim kemarau. Atau seperti yang terjadi di hutan hujan tropis, dimana keberadaan pohon-pohon besar membantu air terserap ke dalam tanah, sehingga persediaan air tanah akan melimpah ruah.

Proyek kanal banjir yang konon telah dirancang sejak jaman pemerintahan Hindia Belanda nampaknya sudah ketinggalan jaman, tidak sesuai lagi dengan kondisi saat ini dimana penduduk sering kesulitan mendapatkan air bersih. 

Aku lebih setuju dengan proyek pembuatan sumur resapan dan penanaman pepohonan untuk menahan air agar tetap berada di dalam tanah dan tidak terbuang percuma ke laut. Dengan adanya persediaan air di dalam tanah, kelak pada musim kemarau diharapkan tidak akan terjadi kesulitan air bersih .

^_^

Baru-baru ini aku menemukan informasi menarik tentang metode alternatif untuk meresapkan air hujan ke dalam tanah. Aku mendapatkannya dari transkrip wawancara wartawan Republika dengan Kamir Raziudin Brata, peneliti IPB yang memperkenalkan teknologi yang disebut biopori. Biopori adalah teknologi alternatif penyerapan air hujan selain dengan sumur resapan. Istilah beken untuk biopori adalah istana cacing, walaupun sebenarnya penghuni biopori bukan hanya cacing saja.

Teknologinya sederhana, cukup dengan membuat lubang di dalam tanah dengan kedalaman sekitar 1 meter dan diameter kurang lebih 10 cm, kemudian sampah-sampah organik dimasukkan kedalamnya untuk memancing binatang-binatang, semut, cacing atau rayap masuk dan membuat biopori berupa terowongan-terowongan kecil sehingga air cepat meresap. Karenanya walaupun air tekumpul disitu, kondisinya tidak jenuh air yang berarti air cukup, udara cukup, dan makanan tercukupi dari sampah -- yang juga menyebabkan sampah tidak menyebarkan bau. Untuk mencegah orang terperosok, biopori dapat dilengkapi dengan jaring kawat pengaman.

Biopori membuat keseimbangan alam terjaga, sampah organik yang sering menimbulkan bau tidak sedap dapat tertangani, disamping itu kita dapat menabung air untuk keperluan musim kemarau. Penerapan biopori di rumah tangga sangat mungkin dilakukan karena sampah organik dapat dengan mudah ditemukan di dalam rumah.

Caranya dengan memasukkan sampah rumah tangga organik ke dalam biopori setelah memisahkan sampah anorganik ke dalam wadah lain. Dengan cara itu sampah organik yang sering menimbulkan bau tak sedap akan habis dimakan “penghuni” lubang biopori. Pemisahan sampah bermanfaat untuk mempermudah pemulung sehingga mereka tidak perlu mengais-ngais sampah lagi. Pembuatan biopori juga mengurangi aliran air dari halaman rumah satu ke halaman rumah lainnya, atau ke daerah lain yang lebih bawah, yang bisa menyebabkan banjir. Air hujan yang terserap ke dalam lubang biopori juga menambah jumlah cadangan air tanah di daerah itu.



Kelebihan lain dari biopori adalah memperkaya kandungan air hujan. Bila sumber air hanya berupa air hujan tanpa tambahan apa-apa berarti kandungannya hanya H2O. Namun setelah diresapkan kedalam tanah lewat biopori yang mengandung lumpur dan bakteri, air akan melarutkan dan kemudian mengandung mineral-mineral yang diperlukan oleh kehidupan.

^_^

Jangan bayangkan lubang biopori hanya bisa dibuat di kampung-kampung yang masih punya halaman luas. Biopori dapat dibuat di rumah yang halamannya terbatas karena ukuran diameternya hanya sekitar 10 cm. Bahkan bisa dilakukan di bangunan-bangunan modern yang halamannya telah di beton atau di semen. Tentu saja harus ada pengorbanan yang dilakukan, yaitu dengan melakukan pelubangan terhadap beton dan semen -- memang memakan biaya -- namun perlu dilakukan karena sangat bermanfaat untuk mencegah banjir dan memperbanyak cadangan air tanah. Pembuatan biopori mungkin tidak cukup dengan himbauan sukarela, tetapi harus dengan sedikit “paksaan” atau jika perlu dengan peraturan daerah. Toh hasilnya akan dinikmati oleh semua penduduk kota.

Sang penemu biopori, Kamir Raziudin Brata adalah seorang peneliti dan dosen di Departemen Ilmu Tanah dan Sumber Daya Lahan IPB. Pria kelahiran Cirebon memperkenalkan biopori sebagai teknologi untuk mengurangi sampah organik dan mengatasi banjir. Pemkot Bogor telah menyambut baik teknologi Biopori untuk diterapkan di wilayahnya. Pada ulang tahunnya bulan Juni ini, Kota Bogor menargetkan pembuatan lubang biopori sebanyak 22.407 buah.

Kapan Bandung menyusul nih? Tumpukan sampah, lindi dan bau menyengat bisa-bisa tinggal kenangan bila buangan sampah organik dapat dikurangi dengan biopori. Btw adakah diantara calon Gubernur Jakarta yang tertarik untuk bersusah payah “memaksakan” program pembuatan biopori di belantara beton dan semen di Jakarta dan daerah-daerah penyangganya demi mencegah banjir dan menambah cadangan air bersih untuk musim kemarau ? (Undil)

Bahan Tulisan tentang Biopori:
www.republika.co.id
Republika, Minggu, 20 Mei 2007
Wawancara dengan Kamir R Brata
Membangun Istana Cacing

Tulisan lain
~Pengalaman Membuat Lubang Biopori

~Penanganan Banjir dan Sampah: Biopori



Minggu Pagi di Punclut Bandung

Hari minggu pagi 01 April 2007 Himpunan Karyawan mengadakan acara keakraban di Punclut. Sebuah daerah wisata “jalan-jalan di gunung” dengan udara segar dan aneka jajanan di sepanjang tepian jalan selebar 5 meter. Di kawasan wisata berjarak 11 km dari Lembang tersebut dapat dilihat pemandangan Kota Bandung yang menghampar nun jauh di bawah sana sambil menikmati makanan khas Bandung, yaitu nasi timbel lengkap dengan sambal terasinya. Disini tersedia juga belut goreng, jenis makanan yang sedah mulai langka. Udara bersih pegunungan dan pemandangan lereng-lereng bukit yang indah di kanan-kiri jalan adalah andalan utama Punclut yang merupakan kependekan dari dua nama tempat, yaitu Puncak dan Ciumbuleuit.

Pada saat kami datang disana, malam sebelumnya turun hujan di Punclut sehingga jalanan becek, namun ada keuntungannya yaitu jalanan tidak berdebu. Perjalanan sejauh kurang lebih 4 kilometer menuju tempat acara dapat dilalui dengan nyaman tanpa diganggu panas matahari karena kami datang pagi-pagi. Jalan yang pada awalnya hanya merupakan jalan pintas para pedagang sayur di Lembang itu kini telah berubah menjadi tempat wisata yang didatangi banyak wisatawan dan juga pedagang. Termasuk pedagang jam tangan bekas yang dibandrol dengan harga murah – sebagian seharga 10 ribuan.. Bahkan sebuah Seiko kinetik “hanya “ dijual seharga 45 ribu.

Acara keakraban diisi dengan perkenalan karyawan baru, dialog dengan direksi & pengurus himpunan karyawan dan terakhir pembagian doorprize. Ada juga hiburan musik, yah acara serupa mungkin juga seringkali dilakukan himpunan lain. Ada satu hal menarik yang disampaikan bekas pengurus himpunan karyawan selama dialog. Bahwa pada negara-negara yang ekonominya berkembang baik, investasi utama mereka bukan pada hardware atau mesin-mesin, tetapi pada Human Capital.

Investasi terbesar pada pengembangan kemampuan manusia, sehingga kekayaan utama sebuah perusahaan adalah para pekerjanya yang terdidik baik & profesional. Sebuah pendapat yang sejak lama saya rasakan kebenarannya dan membuat saya belakangan ini sangat tertarik dengan pengembangan knowledge & skill karyawan. Bila para pekerja telah menjadi modal utama perusahaan, maka dengan sendirinya daya tawar pekerja terhadap perusahaan menjadi sangat kuat. Karena jatuh bangunnya perusahaan akan ditentukan oleh pekerja dan bukan oleh prasarana & fasilitas produksi.

^_^






















^_^

Mendung yang menutupi terik matahari siang hari sangat membantu kami yang menuruni bukit untuk kembali ke rumah. Sebelum pulang sempat mampir beli belut goreng dua untai & ikan peda, plus nasi hideung (heran kok bukan disebut nasi merah ya?), seharga total 10 ribu rupiah. Walaupun kaki sakit dan lelah namun perjalanan pagi itu menjadi pengalaman yang menyenangkan – tapi bukan karena saya berjalan dengan sepatu baru loh (hahaha ndeso!). Punclut yang indah ini konon tengah menjadi ajang perdebatan untuk dibangun menjadi kawasan wisata lengkap dengan track buat jogging atau dibiarkan alami seperti sediakala dengan ditambah penghijauan besar-besaran sehingga Punclut kembali dirimbuni oleh pohon-pohon yang rindang. Saya berharap yang kedualah yang akan dilakukan (dibantu dari berbagai sumber)











Bacaan:

REPUBLIKA, Minggu, 19 Mei 2002
Ber-'Cross-Country'di Punclut



Kok Aku dipanggil Mbak Sih?

”Kok dipanggil mbak sih?” kata teman-teman Shinichi Kudo dari Bandung pada suatu ketika mereka diajak main ke Jogja. Bukannya dia lebih tua dari aku, mengapa memanggil diriku “mbak”, bukannya “dik”. lanjut mereka. Rupanya mereka tidak diterima dianggap lebih tua dari umur sebenarnya.


Hal serupa terulang kala Shinichi menyebut mbak pada e-mail yang dikirim ke seorang temannya. Temannya memprotes sebutan itu karena dia lebih muda dari Shinichi. Panggilan mbak dalam persepsinya adalah panggilan untuk perempuan yang lebih tua.

^_^

Sebenarnya panggilan mbak penggunaan utamanya memang untuk kakak perempuan. Namun pada prakteknya digunakan juga untuk panggilan penghormatan kepada perempuan, baik yang lebih tua maupun yang lebih muda. Seorang laki-laki yang belum mengenal seorang perempuan akan memanggil mbak (kalau bukan “Bu”). Sapaan “dik” memiliki konotasi panggilan terhadap junior atau terhadap orang yang memiliki hubungan dekat. Sapaan “dik” biasanya digunakan untuk keluarga, orang yang sudah saling kenal dengan baik atau terhadap anak kecil. Juga dilakukan oleh seorang laki-laki terhadap istrinya.


Oleh karenanya bila suatu saat teman-teman dipanggil mbak oleh bapak-bapak yang sudah tua jangan marah dulu. Bapak itu bermaksud menghormati dan bukannya menganggap teman-teman lebih tua darinya. (nae)

Stop Mengganti Nama Jalan!

Apa yang menarik bagi Shinichi Kudo pada pemberian nama baru buat jalan Cipaganti beberapa tahun lalu -- adalah mengingatkan dia pada kebiasaan mengganti nama-nama jalan dengan nama-nama pahlawan atau nama tokoh di sebuah kota. Sebenarnya pemberian nama pahlawan untuk jalan bukanlah hal yang mengganggu bila dilakukan pada jalan-jalan baru atau jalan yang tidak punya nilai historis.

Namun lain halnya bila dilakukan pada jalan-jalan legendaris seperti jalan Cipaganti di Bandung. Nama itu bukan sekedar nama tetapi memiliki nilai historis yang tinggi. Jalan Cipaganti dikenal sebagai kawasan pemukiman tempo dulu peninggalan jaman Belanda. Penggantian nama jalan membuat jalan itu terpisah dari nilai sejarahnya.

Ada jalan yang telah menjadi “landmark” sebuah kota, seperti Jalan Braga, Jalan Cihampelas & Jalan Dago di Bandung, atau Jalan Malioboro di Jogja. Seandainya Jalan Cihampelas yang sudah identik dengan jeans diganti namanya dengan nama lain – bisa membuat calon pembeli dari luar kota bertanya-tanya dimanakah jalan Cihampelas -- padahal dia telah berada di jalan itu. Jadinya pemilik toko terpaksa menulis nama jalan dengan dua nama. Nama baru dan nama lama demi mempertahankan “jejak sejarah” yang telah berhasil dibangun di benak konsumen.


Tidak banyak manfaat yang dapat diambil dari merubah nama jalan. Toh masih banyak cara lain untuk menghormati para pahlawan. Semoga saja tahun-tahun mendatang tidak ada pihak yang tergoda untuk mengganti nama-nama jalan yang telah melegenda dengan nama-nama tokoh ternama di sebuah kota (nae)


Hari Minggu 18 maret 2007 Bandung Macet Luar Biasa

Ada peristiwa menarik hari minggu kemarin. Yaitu longweekend dan Bandung macet luar biasa. Saya yang habis mengantar kerabat jalan-jalan -- terjebak macet di Cihampelas. Teman yang berniat mancing ke Lembang, sesampai di tengah jalan putar arah, balik lagi ke rumah. Dia tidak ingin waktunya habis di jalan yang dibanjiri mobil-mobil dari luar kota. Konon kemacetan terjadi dimana-mana, bahkan sampai keluar kota. Mungkin banjir pengunjung itu salah satunya disebabkan wisatawan tidak bisa berlibur ke Bali yang sedang merayakan Nyepi, sehingga mereka tumpah ruah di Bandung. Tentu saja para pemilik hotel, outlet pakaian dan makanan boleh bergembira dengan banjirnya wisatawan ke Kota Bandung. Sebuah sisi positif dari datangnya wisatawan dari luar kota



Di balik kemacetan itu sebenarnya ada sebuah peluang yang layak dikaji oleh perusahaan kereta api yang memiliki keunggulan kompetitif, yaitu stasiun yang terletak di dalam kota. Bila perusahaan kereta api mampu menyediakan mobil angkutan & jemputan yang nyaman dari titik titik pemberhentian kereta api di dalam kota ke tempat-tempat wisata & hotel, tentu akan merupakan daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang ingin menghindari kemacetan.

Perusahaan kereta api bisa juga mengkaji kelayakan pembangunan jaringan kereta api ke tempat-tempat wisata yang selalu dihantui kemacetan pada saat banjir wisatawan. Misalnya ke Lembang atau tempat wisata lain yang sering macet pada saat liburan (nae)