Showing posts with label Beyond Imagination. Show all posts
Showing posts with label Beyond Imagination. Show all posts

Don't Just Do What I Tell You

Suatu ketika saat Sonoko dan Haibara baru saja menyelesaikan uji titer, mendadak Pak Kadiv masuk ke dalam Bilik Uji Titer di Area Laboratorium Mikrobiologi. Pada awalnya beliau hanya mengajak berbincang-bincang tentang satu jenis uji immunoassay yang perlu diharmonisasi dengan laboratorium serupa di Eropa dan Amerika. Sesaat kemudian beliau melongok ke dalam Biosafety Cabinet dan meminta Sonoko mengeluarkan barang-barang yang tidak dibutuhkan untuk pengujian -- karena akan mengganggu aliran udara di dalam Biosafety Cabinet.

Jari telunjuk Pak Kadiv kemudian menunjuk label validasi Biosafety Cabinet yang masih berupa label validasi sementara -- dan mengatakan kepada Sonoko untuk meminta label validasi resmi dari QA. Lelaki berkacamata silinder itu kemudian melangkah mendekati waterbath, mengamati airnya yang dikatakannya terdapat material melayang-layang yang bisa menjadi sumber kontaminasi, kemudian beliau mulai menangguk air waterbath dan memindahkan ke dalam can stainless steel. Buru-buru Sonoko dan Haibara membantu membuang air dari waterbath, lalu menggantinya dengan yang baru.

Selesai mengganti air waterbath, Pak Kadiv memberi isyarat kepada Sonoko dan Haibara mengikutinya keluar dari Bilik Uji Titer. Dibukanya refrigerator tempat penyimpanan media yang berada tepat di samping pintu, lalu diambilnya TSA plate dan medium yang sudah kadaluarsa. Dimintanya Sonoko dan Haibara melanjutkan pemilahan medium yang sudah melampaui masa Expired Date, dan mengeluarkannya dari dalam refrigerator

Pak Kadiv berjalan lagi beberapa langkah diikuti dua anak itu. Ditunjuknya passbox keluar barang dari ruang kultur mikrobia -- yang penuh dengan peralatan laboratorium yang telah selesai didisinfeksi. Dimintanya Haibara  untuk mengosongkan passbox itu dan membawa semua peralatan bekas pakai ke Ruang Cuci. Diingatkannya bahwa passbox hanyalah tempat persinggahan sementara dan harus selalu ditinggalkan dalam kondisi kosong.

Sementara Sonoko diajaknya masuk ke Bilik Uji Kimia, dan mereka berdua membereskan lemari tempat penyimpanan pipet yang posisi peletakan pipetnya berantakan akibat ada personil yang mengambil pipet dari bagian bawah dan membiarkan pipet yang berada di tumpukan atasnya menggelinding kesana kemari di dalam lemari.

^_^

Lantai koridor di depan bilik uji potensi yang bercak-bercak coklat akibat tetesan media yang mengering telah kembali kinclong setelah dipel oleh mereka bertiga -- ketika Pak Kadiv berbicara pendek -- namun kalimatnya tidak pernah dilupakan oleh Sonoko.

"Walaupun tugas kalian adalah melakukan pengujian, janganlah kalian membiarkan ketidakberesan di lingkungan sekitar kalian bekerja, hanya karena merasa itu bukan pekerjaan kalian. Please don't just do what I tell you, do what needs to be done". 

Sonoko terdiam mendengar kata-kata itu. Tiba-tiba diingatnya rangkaian kata-kata yang dikirimkan Shinichi Kudo beberapa bulan yang silam.

Telah tiba kesadaran yang mencerahkan,
akulah Sang Kapten semua perbuatan, 
bereskan semua yang perlu dibereskan,
kerjakan tanpa menunggu perintah komandan

Hari ini Sonoko baru memahami maknanya, bahwa dirinya adalah kapten yang berkuasa penuh atas semua inisiatif tindakan dan perbuatan. Sonoko baru "ngeh" bahwa dirinya selama ini terjebak dalam sangkar kecil tugas personalnya. Sementara banyak hal-hal di luar sangkar yang perlu dibereskan, luput dari matanya. Dirinya bagaikan Memedi Sawah yang perlu ditarik-tarik agar tubuhnya bergerak mengusir burung-burung pemakan padi. 

Peluang untuk berinisiatif membereskan semua yang perlu dibereskan tanpa diperintah -- adalah pencerahan baru yang tiba-tiba saja membuat jiwa Sonoko bergolak hebat. Sonoko merasa ada banyak sekali hal yang terlewatkan -- padahal mampu disumbangkannya untuk mempermulus pekerjaan semua orang di laboratorium tempatnya bekerja (Undil - 2016).   

Ryu dan Inovasi Kebun Binatang

Seperti yang telah direncanakan -- pagi sepulang dari joging keliling lapangan -- Shinichi Kudo bertemu dengan Ryu di depot susu murni di jalan gajah. Sambil menikmati susu murni, soto lamongan, martabak basah dan pemandangan belasan kuda sewaan yang lalu lalang di depan mereka, mengalirlah serangkaian cerita menarik dari mulut Ryu.

Tiga tahun silam seusai lulus kuliah, Ryu hanya berminat untuk bekerja di area yang tak jauh-jauh dari binatang, terutama burung. Sebagai bekas koordinator Klub Pengamat Burung di kampus, Ryu sangat ingin menerapkan pengetahuannya tentang burung ke dalam pekerjaan, dan pilihannya jatuh pada bonbin (kebun binatang). Dengan sedikit sentuhan kreatif, Ryu yakin bonbin bisa menawarkan lebih dari sekedar “melihat binatang liar di kandang”, tetapi juga bisa menjadi arena hiburan dan pengetahuan yang menarik.

Dengan serangkaian presentasi yang melelahkan, ditambah dukungan data dari teman-temannya, Ryu berhasil meyakinkan pimpinan kebun binatang saat itu untuk menerima usulan-usulannya tentang program pengembangan bonbin, dan sekaligus menjadikan Ryu sebagai bagian dari tim yang akan melaksanakan program tersebut.

Sebelum meluncurkan program, bonbin terlebih dahulu melakukan program pendahuluan dengan melengkapi koleksi binatang-binatang peliharaan populer, misalnya ikan hias. Hampir semua jenis ikan hias favorit yang disukai masyarakat dimasukkan sebagai koleksi baru bonbin untuk menarik minat para pecinta ikan hias. Langkah lain adalah bonbin menyediakan Guide yang akan memimpin tur keliling bonbin dan memberi penjelasan pada pengunjung mulai dari jenis binatang, sifat-sifatnya di alam bebas, sampai sejarah bagaimana binatang itu sampai ke bonbin, dan untuk semua itu pengunjung tidak dipungut biaya tambahan.

Setelah program pendahuluan dilaksanakan, mulailah belasan program baru diluncurkan. Diantara serentetan program, ada tiga program yang berhasil mendongkrak jumlah pengunjung. Program pertama yang menyumbang lebih dari 60% pengunjung adalah “PROGRAM SAHABAT SEKOLAH”.

Program ini menawarkan praktikum lapangan untuk mata pelajaran yang berkaitan dengan binatang. Ryu menyediakan “guru-guru” yang akan membimbing para siswa selama kunjungan di bonbin. Para pembimbing tak lain adalah mahasiswa-mahasiswa yang bekerja part time, mereka telah diberi kursus singkat tentang kurikulum sekolah sehingga bisa memberi penjelasan sesuai dengan tuntutan kurikulum. Program ini juga menawarkan potongan harga bila kunjungan tidak dilakukan hari sabtu-minggu. Hasilnya nyata! Bonbin selalu ramai dikunjungi anak sekolah walaupun bukan hari sabtu minggu.

Program kedua adalah”DUNIA BURUNG” yang menawarkan kursus singkat tentang burung, meliputi pengenalan jenis-jenis burung, sifat-sifat & tingkah laku alami burung sampai praktek mengidentifikasi seekor burung dengan menggunakan buku manual. Bonbin juga menawarkan program mengamati burung di alam bebas (tentu saja menggunakan teropong), dengan cara mengkoordinir “wisata pengamatan burung” ke daerah-daerah yang masih banyak dihuni kawanan burung-burung liar. Program lain yang mirip dengan ini adalah “DUNIA ULAR” yang mengajak pengunjung berkenalan dengan ular & binatang melata lainnya, walaupun peminatnya tidak sebanyak dunia burung.

Program ketiga adalah “DUNIA TANAMAN’. Pada program ini bonbin menawarkan kursus singkat cara identifikasi tanaman menggunakan buku manual disertai praktek identifikasi pohon-pohon di bonbin, mengenal sifat-sifat berbagai jenis tanaman, cara menanam & merawat tanaman yang sedang ngetrend, misalnya adenium, kantong semar dan anthurium. Yang paling menarik minat pengunjung adalah tur keliling kebun anggrek & kursus singkat merawat Anggrek. Untuk mendukung program ini bonbin rela membangun rumah kaca yang ditanami ratusan spesies anggrek, termasuk anggrek hasil silangan paling mutakhir. Program ini menyumbang lebih dari 20% penghasilan bonbin.

^_^

Tak terasa matahari telah meninggi--pengunjung depot susu-pun telah berganti bukan lagi orang-orang yang usai berolah raga-- saat Ryu mengakhiri ceritanya. Sebelum berpisah Ryu sempat menceritakan permintaan sejumlah pengunjung bonbin untuk membangun klinik & tempat penitipan hewan peliharaan. Tantangan baru buat Ryu setelah keberhasilannya mengembangkan bonbin bukan saja menjadi arena hiburan, tetapi juga pusat pengetahuan yang hampir setiap hari dibanjiri anak-anak berseragam putih-merah, putih-biru dan putih-abu-abu yang sedang melakukan praktikum lapangan (UNDIL).

Bandung Berkabut : What a Wonderful World!

Aku paling seneng kalo pagi-pagi mau berangkat ke kantor turun kabut. Wah rasanya seperti berada di pegunungan yang sejuk dan berudara bersih. Pohon-pohon besar yang berada di jalanan, dan di halaman belakang kantor, menambah kesan seperti berjalan melintasi arboretum (hutan buatan) di pegunungan. Seneng banget loh! Coba bayangkan aku ambil cuti panjang, terus sedang jalan kaki menyusuri jalan setapak menuju kebun anggrek di suatu tempat di dataran tinggi yang sejuk (wahhhh impian siang bolong niy!).

Aku jadi scientist tamu yang sehari-hari bertanggung jawab memperbanyak anggrek dengan kultur jaringan (itu tuh teknik memperbanyak tumbuhan dengan menanam jaringan tumbuhan pada medium yang mengandung nutrien dan hormon pertumbuhan sehingga diperoleh tumbuhan baru dalam jumlah banyak dan seragam, mirip-mirip menanam bakteri pada medium produksi gituh). Tentu saja aku diajari dulu sebelum bisa melakukan sendiri.

Trus aku juga diperbolehkan ambil bagian dalam beberapa proyek penyilangan anggrek dengan perantaraan serbuk sari maupun rekayasa genetika. Pastilah perkebunan anggrek itu memiliki laboratorium kultur jaringan yang tidak kalah dengan laboratorium sejawatnya di UI, UGM atau yang di Amsterdam sekalipun! (wew, tambah ngelantur!). Yang pasti setiap hari aku bisa jalan-jalan diantara ribuan tanaman hijau berhias warna-warni yang menawan dan menebarkan udara sejuk yang menyegarkan paru-paru (Gak usah diceritain kalo weekend bisa rame-rame duduk di sekeliling api unggun, ngobrol sambil ditemani bandrek dan jagung bakar!)

Produk yang dihasilkan perkebunan adalah anggrek-anggrek khas tropis yang sangat eksotis, karena bahan-bahannya yaitu anggrek asli dari alam udah keren dari sononya dan juga akibat cita rasa sang penyilang yang sangat menawan (yaitu aku hihihi! Bercanda gak serius niy!). Anggrek-anggrek itu telah dipesan jauh-jauh hari sebelumnya (Indent!!) oleh para pembeli yang tersebar di seluruh dunia (weleh-weleh! ngimpi kowe yah!).

Stop mimpinya sampai di sini dulu dan bangun hadapi kenyataan (hiks!). Dibawah ini adalah foto-foto Bandung dalam kabut beneran, khususnya di halaman belakang kantorku. Lapangan bola di belakang itu ternyata sangat indah dalam selimut kabut. Lihat aja foto-foto yang diambil pake Olympus FE-110 ini. Selamat menikmati frends.(UNDIL)


Halaman Belakang Kantor




Lapangan Tenis di Halaman Belakang




Jalanan Sepi Berkabut

Google Ini Gambar Apa? - Kebutuhan Mesin Pencari Gambar

Belakangan terlintas dalam benakku -- andai Google bisa menyediakan layanan pencarian berdasar gambar, tentu akan jauh lebih mudah melacak si dolmen.


^_^

Ketika mendapat kiriman gambar dibawah ini, aku penasaran. Salah satu gambar dari rangkaian gambar keluaran National Geographic ini sangat menarik. Gambar deretan rumah-rumah antik dari batu yang bentuknya langsing, sempit dan lonjong -- membuatku ingin tahu bagaimana cara penghuninya tidur. Deretan rumah yang ukuran lebarnya tidak memungkinkan orang berbaring telah membuatku penasaran tentang kondisi kehidupan di dalamnya.



Untuk menguak misteri dibalik gambar — pertama yang terlintas di benakku adalah Google. Bagaimanakah mencari tahu benda itu di mesin pencari yang powerful dan halaman mukanya bersih dari iklan tersebut.

Karena setahuku -- Si Google tidak menyediakan layanan pencarian berdasar gambar – maka terpaksalah diriku mencari-cari satu dua kata yang terpampang dalam gambar. Untunglah kutemukan kata-kata Celtic Realm beserta Majalah National Geographic dan nama fotografer yang mengambil gambar. Dengan bekal kata-kata itulah aku menelusurinya di Google.

^_^

Pada akhirnya aku tidak berhasil menemukan gambar yang benar-benar mirip dengan gambar tersebut – walau aku juga mencarinya di Ensiklopedi Britannica dan Encarta. Tetapi secara kira-kira aku telah mengambil kesimpulan. Gambar rumah-rumah aneh berjendela kecil – kuanggap sebagai Dolmen (mudah-mudahan tidak salah). Rumah batu yang digunakan oleh orang-orang Celtic -- yang kebudayaannya mendominasi banyak wilayah Eropa Barat dan Tengah pada milenium pertama sebelum masehi -- untuk mengubur orang mati. Jadi rumah itu bukan diperuntukkan untuk manusia yang masih hidup, tapi semacam kuburan.

Belakangan terlintas dalam benakku -- andai Google bisa menyediakan layanan pencarian berdasar gambar, tentu akan jauh lebih mudah melacak si dolmen. Cukup dengan meng-upload gambar ke Google – seperti yang dilakukan pengguna situs flickr & blog saat ingin memajang gambar di web — kemudian Google akan melakukan pencarian gambar-gambar yang menyerupai gambar tersebut di dunia maya.

Kurang lebih proses pencarian akan berjalan seperti ini. Google menerjemahkan gambar ke dalam kode-kode tertentu dan kemudian mencari gambar-gambar yang ada di internet dengan kode-kode yang sama dengan gambar itu. Mungkin proses pencariannya akan lebih lama karena Google harus menerjemahkan gambar ke dalam kode-kode terlebih dahulu.

Sebenarnya gambar-gambar tertentu, seperti gambar berformat jpeg adalah serangkaian kode-kode yang diterjemahkan oleh software menjadi gambar. Jadi Google tidak perlu membuat kode-kode baru untuk gambar seperti itu. Untuk tahap awal Google bisa saja membatasi pencarian pada gambar dengan format yang sama. misalnya gambar jpeg hanya dapat dicari ke rimbaraya gambar berformat jpeg yang tersedia di internet.

Memang ada faktor kesulitan tentang kode itu. Sedikit perubahan pada gambar-- misalnya ukuran dan gelap-terang gambar akan membuat kode-kode berubah sehingga mempersulit pencarian. Namun Google bisa saja mengatasinya dengan mengembangkan software yang mampu mendeteksi perubahan-perubahan kecil pada gambar. Dengan sofware itu Google akan bisa mengenali gambar-gambar serupa -- yang kodenya berbeda karena telah mengalami sedikit perubahan.

Google juga harus mengembangkan software untuk men-select bagian tertentu dari sebuah gambar agar memudahkan pelacakan. Karena gambar-gambar tidak selalu berlatar belakang kosong, Bisa saja gambar sebuah benda yang ingin dicari berada ditengah-tengah benda lain. Misalnya gambar dolmen yang berada ditengah lapangan rumput. Google harus memastikan pencarian dilakukan terhadap dolmen, bukan terhadap rerumputan.

^_^

Manfaat searching dengan keyword berupa gambar adalah kita tidak perlu kebingungan lagi mencari tahu gambar-gambar yang tidak kita mengerti -- seperti gambar dolmen dari National Geographic. Manfaat bagi Google adalah perusahaan itu bisa punya lahan bisnis baru, yaitu sebagai mesin identifikasi. Bila dengan kamera digital kita mengambil gambar bunga, tanaman, burung, ikan, lemari, lukisan & awan, atau kita memiliki hasil foto sel-sel darah, bakteri, virus, bahkan gambar hasil foto ronsen – kita bisa mengandalkan Google untuk memberi informasi tentang gambar itu.


Tentu akan sangat menarik bila gambar hasil foto ronsen bila dilacak penjelasannya di Google. Karena hal itu akan mendorong demokratisasi dalam pelayanan medis sebagai dampak pengetahuan pasien yang bertambah. Pasien dengan mudah mendapat second opinion dari internet sebagai pembanding hasil diagnosa dokter atas foto ronsen. Diskusi dokter-pasien akan lebih hidup karena pasien telah mendapat “advis” dari Google.


Pengembangan lebih lanjut – yang mungkin akan merusak privasi orang — adalah seseorang bisa melacak foto dan sidik jari orang lain di Google. Tentunya untuk itu Google harus punya akses ke database foto dan sidik jari penduduk suatu negara. Seandainya itu terjadi, pencarian pencuri berdasar sidik jari tidak lagi dimonopoli oleh polisi. (Beyond Imagination - May 2007)


comment lewat email :
Technically computer sudah bisa membedakan gambar, misalnya gambar bayi telanjang dan orang dewasa telanjang, di bisa tau yang mana porno dan yang engga
Tapi sementara belum ada search engine yang menyediakan hal ini. Ide Bagus juga nih %&^. Kalau kita bisa buat, bisa kaya juga kayak yang punya google