Showing posts with label Bahasa Indonesia dan EYD. Show all posts
Showing posts with label Bahasa Indonesia dan EYD. Show all posts

Peribahasa Indonesia - Belanda: Goede Manieren Bestaan uit Kleine Opofferingen

Apa perlunya peribahasa?

Supaya kita tidak perlu mengulangi kesalahan yang pernah dilakukan orang lain.

Peribahasa membantu kita untuk memetik kebijaksanaan yang diperoleh lewat pengalaman berpuluh-puluh tahun oleh manusia terdahulu. Singkatnya peribahasa menghemat umur kita sehingga lebih banyak waktu untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat. Peribahasa-peribahasa yang ditampilkan dibawah ini bersumber dari Adang Doerachman, 2005.

Goede manieren beestan uit kleine opofferingen
Good manners consists of small sacrifices

Tidak memerlukan pengorbanan besar untuk menjadi manusia sopan. Hanya dibutuhkan pengorbanan-pengorbanan kecil untuk menjadi orang yang sopan. Kesopanan adalah minyak pelumas dalam dunia kerja. Dalam pekerjaan seseorang tidak dituntut menyukai orang-orang yang berurusan dengannya. Tetapi diperlukan pelumas yang membuat hubungan tetap mulus walaupun mereka tidak saling menyukai, yaitu sopan santun. Sepanjang sopan santun tetap dijaga, hubungan kerja tidak akan terganjal oleh pertentangan pribadi.


De meeste verloren kansen worden veroorzaakt door aarzeling.
Most chances are lost through hesitancy
Hiks! Kalah sebelum bertanding. Gagal meyakinkan diri sendiri. Terlalu banyak pertimbangan. Kesempatan hilang karena kita ragu-ragu untuk menyambarnya. Orang lain yang lebih berani telah terlebih dahulu mendapatkannya.


De kunst van het onthouden is de kunst van het belangstellen
The art of remembering is the art of being interested in the matter

Orang tidak akan lupa untuk hal-hal yang dia anggap sangat penting, misalnya hari pernikahan yang telah dia rencanakan. Kunci memperkuat ingatan adalah mempertinggi tingkat ketertarikan kita terhadap hal-hal yang harus diingat.


Kop op als het water je tot de lippen reikt
Hold it if the water reaches your lips.
Ketika segalanya terasa gelap. Ketika semua kesulitan telah mencapai puncaknya. Bertahanlah! Sebentar lagi matahari terbit. Karena puncak kesulitan adalah awal dari munculnya kemudahan. Barangsiapa mampu bertahan di puncak kesulitan, dia akan segera memetik hasilnya.

De diepte van de zee kan meten, de diepte van het hart niemand weet.

The depth of the sea can be measured, the depth of the heart is unknown

Dalamnya laut dapat diduga, dalamnya hati manusia siapa yang tahu?. Jika kamu tidak pernah memintanya, aku tidak akan tahu kalau kamu menginginkannya. Manusia tidak selalu bisa membaca pikiran manusia lain. Menyatakan keinginan kita adalah jembatannya.


Het zijn vaak kleine dingen die ontoeren
Small matters often touch the feeling

Saat kita tertusuk duri, sebuah ucapan “Kamu tidak apa-apa?” cukup untuk membuat diri kita tersentuh dan mengagumi orang yang mengatakannya. Perhatian-perhatian kecil pada orang-orang sekitar kita akan membuat hari-hari terasa lebih indah.


Doe kleine dingen en de grote dingen zullen straks bij u komen en vragen om gedaan te worden
Do small things, and the big ones will come to you to get done.

Bagaimana orang percaya kamu bisa menyelesaikan pekerjaan besar, bila kamu tidak pernah membuktikan dirimu mampu menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan kecil dengan baik.


Het begin van effieciency is ordelijkheid
The beginning of efficiency is order
Aduuuh meeting molor gara-gara harus mencari-cari kabel infocus yang tidak disimpan lagi di tasnya. Langkah pertama efisiensi adalah keteraturan.

Wat overbodig is, is altijd duur.
Everything which is useless is expensive
Jangan tergoda barang murah. Jangan tergoda kata-kata mumpung. Mumpung lagi discount, mumpung lagi ada program yang memberi kemudahan mendapat layanan, mumpung lagi ada bonus jika bergabung menjadi pelanggan. Lihatlah apakah kita memerlukannya? Pada obral dengan discount gila-gilaan, sesuatu yang tidak kita perlukan tetap saja berharga mahal. Buku-buku tebal super murah yang tidak akan kita baca, adalah buku yang mahal!. Pakaian dan barang-barang yang harganya supermurah tetapi tidak banyak manfaatnya buat kita adalah barang yang mahal.

Mode is de kost-baarste belasting
Fashion is the most expensive tax
Perubahan mode diperlukan manusia agar tidak bosan dan membuat kehidupan lebih indah. Munculnya mode-mode baru pada barang-barang yang kita gunakan sehari-hari adalah cermin keinginan manusia untuk terus menerus melakukan perbaikan. Handphone, laptop, pakaian, mobil, motor, televisi selalu memunculkan mode-mode baru setiap tahun. Terserah kita untuk memilihnya. Bila keuangan kita terbatas ada baiknya kita tinjau ulang rencana pembelian kita. Apakah tambahan feature 3G yang ditawarkan oleh handphone seri terbaru itu benar-benar akan kita gunakan? Ataukah kita masih tetap akan menggunakan HP untuk sekedar menelpon dan SMS, serta sekali-sekali memotret?.


Moellijkheden die u niet klein krijgen, maken u groot Problems which do not make you small should make you big
Bila kita berani mengatasi kesulitan, bila gagal-pun kita masih akan mendapat keuntungan berupa kebijaksanaan dan kebesaran jiwa.



Bacaan:

Adang Doerachman, 2005, Kumpulan Kata-kata Mutiara Indonesia-Inggris-Belanda, CV. Yrama Widya, Bandung.


Peribahasa Indonesia

Semua peribahasa dibawah ini untuk menasehati diriku untuk
:> setia bekerja keras
:> jangan mudah mengeluh
:> jangan cengeng!
:> jangan banyak tuntutan ini itu ga jelas
:> jangan hobby klarifikasi, biarkan orang lain dengan pikirannya!
:> jangan anggap orang lain harus sibuk mikirin diriku
:> jangan mood-mood-an dalam selesaikan pekerjaan
:> jangan males pengen yang gampang-gampang ajah!

Tapi semua itu emang sulit dilakukan! :(



Jer basuki mawa bea

(Untuk sejahtera perlu pengorbanan)

Berakit-rakit ke hulu berenang-renang kemudian

(Bekerja keras terlebih dahulu sebelum bisa menikmati hasilnya)

Kerasi dirimu sebelum dikerasi orang lain

(Silakan pilih: disiplin karena kesadaran sendiri atau orang lain yang akan mendisiplinkan kamu!)

Waktu adalah pedang

(Bila kita habiskan waktu untuk melakukan hal-hal gak penting, akan membuat kita panik dikejar-kejar "pedang" tenggat waktu untuk menyelesaikan pekerjaan penting)

Tidak ada makan siang gratis

(Untuk mendapat sesuatu perlu pengorbanan. Kehormatan kita akan terjaga bila kita tidak sekedar menerima tetapi juga memberi kontribusi)

Peristiwa mereka salah potong rambut, lebih penting daripada masalah kamu kehilangan laptop!

(Temanmu punya masalahnya sendiri. Kasihan de kalo harus selalu ikut pusing atas masalahmu)

Tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah

(Kebahagiaan ada pada memberi)

Sirah-sirah dinggo sikil, sikil-sikil dinggo sirah
(kepala untuk kaki, kaki untuk kepala)
(Gambaran orang yang bekerja keras setengah mati untuk meraih sesuatu)

Kebahagiaan ada pada kaki-kaki yang bergerak
(Kebahagiaan ada pada kerja keras, bukan diraih ketika seseorang diam saja menunggu datangnya kebahagiaan)

Pintu-pintu yang semula tertutup akan terbuka kalau kita mau bertekad melakukan apa saja!
(Sebelum ada komitmen, selama masih ada terbersit keinginan mundur, segalanya akan terlihat sulit)

Jangan cengeng! Dunia tidak berhutang apa-apa pada anda!

(Please de....males kerja kok banyak tuntutan!)

Tertawalah, dunia akan tertawa bersamamu. Menangislah dan kamu akan menangis sendirian!
(Cape de kalo tiap hari diajak sedihin masalah sepelemu!)


Tidak perlu selalu mengoreksi! Apa pikiran orang tentang dirimu adalah urusan dia!

(Jangan habiskan waktu untuk selalu melakukan klarifikasi atas perkataan orang lain. Pilih yang benar-benar penting saja)

Pejalanan seribu mil dimulai dengan satu langkah kecil
(Pekerjaan besar terdiri atas serangkaian pekerjaan kecil-kecil dan gak akan selesai-selesai kalau gak dimulai)

Omongan saja tidak akan menyelesaikan masalah!

(Pikiran-pikiran cemerlang dalam meeting tidak banyak artinya jika tidak diwujudkan dalam tindakan nyata!)

Siapa yang terbesar diantara kita harus menjadi pelayan bagi semua orang!

(Sudah jelas!)

Peribahasa Indonesia - Undil - Revisi ke-1 tanggal 15 Nopember 2009

Puisi Idul Fitri Bilingual English - Indonesia

Seneng banget, lebaran tahun ini (1428H) ada yang berbaik hati men-translate puisi idul fitriku jaman dulu (2 tahun lalu). Trims ya Mbak Andaliman atas translatenya.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang berusaha keras menekan rasa unggul pada dirinya, melupakan semua prestasi dan kebaikan yang pernah dilakukannya, lalu memaksa dirinya untuk merendahkan hati, dan memohon dengan penuh hormat pada orang lain untuk membukakan pintu maaf bagi dirinya.


Puisi dan terjemahannya ada di bawah ini:

Today
As I humble myself
forgetting my arrogance
defeating my head
As I'm occupied motionless
at the front of the window of your heart
waiting for your forgiveness to open for me

Hari ini
kurendahkan diriku
kulupakan kesombonganku
kutundukkan kepalaku
lalu kududuk terpaku
di depan jendela hatimu
menanti pintu maafmu
terbuka untukku

undil








Aku, Bahasa dan Bete

Kata bete (bad temperament) muncul pada judul karena aku ingin menjelaskan perasaan subyektif diriku tentang bahasa. Sebenarnya kata kurang sreg lebih tepat untuk menggantikan kata bete-- dalam menjelaskan perasaanku tentang praktek berbahasa, khususnya bahasa tulisan. Namun berhubung kata bete lebih ekpresif, aku senang memakainya untuk pengganti kata kurang sreg (menganggap sesuatu kurang pas, tidak sependapat).

Dalam bahasa tulisan ada hal-hal yang benar & estetis (indah); ada hal-hal yang salah tapi estetis & dapat dimaklumi; dan ada hal-hal yang salah, bikin bete & sama sekali tidak dapat diterima.

Sekalipun ada guidance–nya, pada dasarnya bahasa adalah demokratis, benar salahnya tidak didiktekan oleh orang-orang yang ada di pemerintahan atau lembaga bahasa. Para jurnalis, penulis, pemilik media massa, pembaca dan masyarakat umum yang banyak mempraktekkan bahasa tulisan -- berperan besar dalam mempengaruhi penentuan benar-salahnya sebuah ejaan kata, arti sebuah kata maupun susunan frase kata.

Penulisan ejaan (cara penulisan kata dengan huruf) adalah masalah klasik dalam bahasa. Ada penulisan yang disebut benar ada juga penulisan yang dianggap salah. Dalam hal penulisan ejaan, diriku relatif tidak begitu rewel, kecuali bilamana kesalahan penulisan ejaan benar-benar aku anggap fatal.

Predikat kesalahan fatal berlaku untuk kata-kata yang biasa ditemui dan telah lama dipergunakan tetapi masih terjadi penulisan ejaan yang salah. Misalnya menulis fasilitas dengan “pasilitas”; salah paham dengan “salah faham”; fenomena dengan “venomena”; virus dengan “firus”; file dokumen dengan “fail dokumen” dan komputer dengan “kompiyuter”. Untuk kesalahan seperti itu memang harus dikoreksi dan sama sekali tidak dapat dimaafkan.

Namun bila kesalahan penulisan itu telah umum dilakukan, dan banyak digunakan maka aku tidak begitu peduli. Apalagi bila penulisan yang “salah” itu kelihatan lebih estetis dibanding penulisan yang diklaim benar. Contohnya adalah “Pebruari” ditulis “Februari”. Menurutku kata Februari terdengar lebih indah dibanding Pebruari dan bukan sebuah kesalahan besar bila ada yang menggunakannya (hiks! walaupun demikian tetap saja harus dikoreksi).

Kesalahan lain yang berpeluang terjadi adalah pada penulisan kosa kata baru. Misalnya menulis “remunerasi” dengan “renumerasi” -- karena kata itu berkaitan dengan pembayaran gaji atau ganti rugi -- orang sering menyangka ada hubungannya dengan “numerik” sehingga menulisnya re-numerasi. Padahal kata yang bersinonim dengan remunerasi diantaranya adalah wage, salary, fee, pay, honorarium, dan stipend yang artinya berkisar pada pembayaran. Menurutku kesalahan penulisan kata remunerasi dapat dimaafkan karena merupakan kosa kata baru yang belum banyak dikenal –- hanya saja bisa menimbulkan kesan si penulis ingin menggunakan kata-kata canggih tetapi apadaya, tidak didukung penguasaan kosa kata yang cukup.

^_^

Hal-hal lain yang membuat aku bete (ingat, maksudnya adalah kurang sreg) diantaranya adalah usaha penyesuaian penulisan ejaan dengan bunyi kata. Menurut diriku Bahasa Indonesia tidak perlu melakukan itu, karena akan membuat sisi estetika penulisan kata menjadi berkurang. Penulisan kata menjadi terlihat kurang indah karena kata semata-mata diabdikan pada bunyi pelafalan. Cara penulisan yang elegan dipaksa mengabdi pada bunyi-bunyian.

Contohnya adalah menulis kotamadya menjadi kotamadia; swasembada menjadi suasembada, swalayan menjadi sualaian, persyaratan menjadi persaratan, layang-layang menjadi laiang-laiang dan wartawan menjadi wartauan (dapat dibayangkan menulis kota Massauchussets dengan masasuset, frase Catch and Release dengan kec en rilis , Ocean’s Thirteen dengan osen-sertin atau mengganti frase blue mountain dengan blu monten).

Ada lagi satu kesalahan fatal yang sulit aku terima. Yaitu penulisan urutan kata-kata yang salah karena tidak mengikuti hukum D-M (diterangkan –menerangkan). Kata yang didepan adalah subjek yang diterangkan oleh kata dibelakangnya, bukan sebaliknya. Pena merah adalah pena yang berwarna merah bukan merah yang berupa pena. Waktu kerja adalah waktu saat orang bekerja dan bukan kerja si waktu.
Aku tidak begitu care terhadap kesalahan penempatan urutan D-M pada frase kata yang berumur tua dan telah umum digunakan. Misalnya kata “banjir kanal” yang seharusnya ditulis “kanal banjir”, karena subyeknya adalah kanal (saluran). Pembuatan banjir kanal berarti membuat kanal untuk mengatasi banjir dan bukan membanjiri kanal dengan air. Namun karena kata-kata itu telah umum digunakan, maka aku menganggapnya kesalahan yang dapat dimaklumi. Demikian juga dengan frase “lain kesempatan” yang seharusnya ditulis “kesempatan lain” (subyek adalah kesempatan), juga bukan permasalahan besar bagiku.

Lain halnya dengan kasus frase kata yang sebelumnya sudah benar kemudian ada usaha memperbarui tetapi malahan jadi salah -- aku sungguh tidak dapat menerima. Jika aku jadi editor, aku pasti ingin mencoretnya dan mengganti dengan frase kata yang benar.

Contoh yang paling masyhur untuk hal ini adalah akronim WIB (Waktu Indonesia Bagian Barat). Akronim itu sudah tepat, karena subyeknya adalah waktu. Waktu untuk Indonesia Bagian Barat dan bukan Bagian Barat Indonesia punya waktu. Penulisan BBWI (Bagian Barat Waktu Indonesia) sungguh tidak dapat diterima karena menyalahi hukum DM, disamping frase kata BBWI sulit dimengerti. BBWI adalah akronim baru yang dimaksudkan mengoreksi WIB, tetapi malahan jadi salah.

Bila seseorang masih ingin mengoreksi akronim WIB, bisa saja menggantinya dengan WIBB (Waktu Indonesia Bagian Barat). Akronim WIBB lebih sesuai dengan kaidah dasar Bahasa Indonesia dibanding BBWI, walaupun secara estetika saya masih lebih suka akronim WIB yang singkat dan elegan (UNDIL. diilhami berbagai sumber)

Kok Aku dipanggil Mbak Sih?

”Kok dipanggil mbak sih?” kata teman-teman Shinichi Kudo dari Bandung pada suatu ketika mereka diajak main ke Jogja. Bukannya dia lebih tua dari aku, mengapa memanggil diriku “mbak”, bukannya “dik”. lanjut mereka. Rupanya mereka tidak diterima dianggap lebih tua dari umur sebenarnya.


Hal serupa terulang kala Shinichi menyebut mbak pada e-mail yang dikirim ke seorang temannya. Temannya memprotes sebutan itu karena dia lebih muda dari Shinichi. Panggilan mbak dalam persepsinya adalah panggilan untuk perempuan yang lebih tua.

^_^

Sebenarnya panggilan mbak penggunaan utamanya memang untuk kakak perempuan. Namun pada prakteknya digunakan juga untuk panggilan penghormatan kepada perempuan, baik yang lebih tua maupun yang lebih muda. Seorang laki-laki yang belum mengenal seorang perempuan akan memanggil mbak (kalau bukan “Bu”). Sapaan “dik” memiliki konotasi panggilan terhadap junior atau terhadap orang yang memiliki hubungan dekat. Sapaan “dik” biasanya digunakan untuk keluarga, orang yang sudah saling kenal dengan baik atau terhadap anak kecil. Juga dilakukan oleh seorang laki-laki terhadap istrinya.


Oleh karenanya bila suatu saat teman-teman dipanggil mbak oleh bapak-bapak yang sudah tua jangan marah dulu. Bapak itu bermaksud menghormati dan bukannya menganggap teman-teman lebih tua darinya. (nae)

Prononciation

Beberapa hari kursus prononciation Shinichi Kudo baru menyadari bahwa salah satu faktor tersulit dalam "mentahsinkan" pelafalan kata-kata (Bahasa) Inggris adalah adanya kosa kata yang sama dalam Bahasa (Indonesia). Nyaris setiap kalimat dalam Bahasa dipenuhi kosa kata serapan dari Inggris.

Misalnya pada kalimat “Operasional komputer grafis dapat dilakukan oleh siapa saja, tidak perlu dilakukan oleh operator yang mendapat training spesifik”. Kata Operational, computer, graphic, operator, training dan specific adalah kata-kata Inggris yang telah diserap ke dalam Bahasa. Pelafalan dalam Bahasa seringkali berbeda dengan pelafalan bahasa aslinya sehingga pada saat bicara dalam Inggris sering “tergelincir” masih menggunakan pelafalan yang sehari-hari digunakan.

Akibatnya kata “local” cenderung dilafalkan “lokal” dibanding “lokel”. demikian juga “departmen” akan dibaca “departemen” bukan dipartmen” karena pelafalan tersebutlah yang biasa digunakan dalam percakapan sehari-hari(nl.)