Parade Puisi Juni: Cinta Biarkan Burung Pipitmu Terbang

Dan makan malam itu
tanpa diduga
telah membangkitkan kenangan lama
ditambah lagi pernak-pernik baru
yang sebelumnya kau tak pernah tahu
menggigit jiwamu bak sayatan sembilu
Oh Sudahlah
biarkan burung pipitmu terbang
dari sangkar kenangan
toh yang pernah mengisinya
bukan hanya dia seorang


Parade Puisi Juni: Gunting

Dua lempengan besi beradu
memotong kenangan masa lalu
tentang dia
yang tak mungkin dirubah lagi
agar terlupakan
puing-puingnya musti disingkirkan
agar bisa terukir masa depan

Ketika Pak Wagu mengkritik Romo Sunu yang Pergi Umroh

Dia hapal betul kebiasaan orang model Pak Wagu yang suka sekali nyinyir pada orang-orang yang berangkat Umroh, padahal merekalah yang selama ini menjadi tulang punggung kegiatan-kegiatan sosial di kampung, bukan gerombolan Pak Wagu

^_^

Suatu hari Romo Wage (Romo = panggilan untuk bapak dalam Bahasa Jawa) diajak berjalan-jalan oleh sahabatnya -- Romo Sunu -- untuk melihat-lihat kebun anggrek yang baru saja dibangun Romo Sunu di tanah kosong di sebelah timur kampung.  Tanah itu dibeli Romo Sunu setahun yang lalu, dari sononya memang direncanakan untuk dijadikan kebun bunga buat memberi lapangan kerja pada para pemuda kampung yang masih menganggur.

Namun tanpa disangka-sangka saat mereka sedang menikmati keindahan warna-warni bunga dari deretan tanaman anggrek yang berjuntai di dalam rumah kaca, tiba-tiba muncullah  Pak Wagu dengan segala komentarnya.  

Mulanya Pak Wagu basa-basi mengajak ngobrol tentang bunga-bungaan, lalu beralih topik tentang sulitnya mencari pekerjaan saat ini. Juga tentang kemiskinan yang masih ada di wilayah kampung mereka.  Belakangan tiba-tiba Pak Wagu menyindir Romo Sunu yang baru saja pulang dari Umroh ke Mekah.

Mulanya dia memuji-muji tentang ibadah haji dan umroh yang menyatukan umat Islam dari seluruh penjuru dunia. Tapi kemudian dia mengatakan banyak hal yang lebih penting daripada sekedar kepuasan spiritual seperti umroh. Menurut Pak Wagu,  mengalokasikan uang umroh untuk membantu orang-orang miskin akan jauh lebih baik daripada berangkat umroh ke Mekah. Kata Pak Wagu, kebahagiaan orang-orang miskin lebih penting daripada pergi ke Mekah.

‘Jadi begitulah Romo Sunu.  Sebenarnya Anda lebih utama tidak berangkat umroh, tapi sumbangkan saja uangnya untuk memberi sembako pada orang-orang yang kurang beruntung. Itu akan jauh lebih bermanfaat buat sesama” kata Pak Wagu menceramahi dua orang sahabat itu.

Romo Sunu hanya senyum-senyum kecil mendengar “ceramah” Pak Wagu tersebut. Dia tidak bermaksud menjawab kata-kata tetangganya itu. Dibiarkannya Pak Wagu sibuk dengan pendapatnya sendiri. Namun kediaman Romo Sunu itu membuat Pak Wagu dongkol. Bagaimana mungkin saran sebaik itu tidak didengarkan oleh Romo Sunu?.  Pak Wagu sungguh merasa berhadapan dengan orang yang berpikiran picik.  

“Gimana Romo Sunu?  Benarkan kalo memberi sembako itu lebih bermanfaat daripada Umroh?” desak Pak Wagu pada Romo Sunu.

Romo Sunu diam saja sambil tangannya bergerak meneliti pot-pot anggrek yang tergantung berjajar rapi. Dia merasa tak perlu melayani orang seperti Pak Wagu yang dari sononya pengen berdebat. Namun tidak demikian dengan Romo Wage. Dia merasa Pak Wagu agak sedikit keterlaluan dengan desakannya itu. Maka dia tak tahan untuk nimbrung bicara.

“Pak Wagu, itu uang punya Romo Sunu sendiri. Tentu dia tahu bagaimana cara terbaik membelanjakan uangnya” ujar Romo Wage.

“Tahu cara belanjakan uang gimana? Orang dia malah sibuk umroh bukannya membantu orang yang membutuhkan!” tangkis Pak Wagu.

“Dengar Pak Wagu! Siapa yang membangun rumah untuk orang-orang jompo di dekat Kantor Lurah?. Siapa yang menggagas bea siswa untuk siswa-siswi miskin di kampung kita? Siapa yang  menyumbang Ambulans untuk kelengkapan fasilitas masjid di kampung  kita?. Itu semua adalah hal-hal bermanfaat bagi sesama yang telah dilakukan Romo Sunu!” kata Romo Wage dengan nada tinggi.

Pak Wagu terdiam. Dia mengakui bahwa semua itu adalah sumbangan dari Romo Sunu. Tak ada lagi anak putus sekolah di kampung ini karena kurang biaya setelah Romo Sunu membuat yayasan untuk memberi bea siswa. Juga mobil Ambulans gratis bagi seluruh warga kampung, lampu-lampu masjid yang diganti lampu LED, tempat pengolahan sampah dan bahkan papan penunjuk jalan di kampung adalah sumbangan dari Romo Sunu yang terkenal rajin mengetuk pintu-pintu tetangganya untuk diajak Sholat Subuh berjamaah di Masjid itu.

“Nah sekarang bagaimana dengan dirimu Pak Wagu dan juga teman-temanmu yang suka mengkritik kegiatan takmir masjid yang dianggapnya membuang-buang uang itu. Pernahkan kalian melakukan hal-hal bermanfaat bagi sesama seperti yang dilakukan Romo Sunu?”

Pak Wagu tambah diam lagi. Dirinya jadi malu sekali. Selama ini dia tak pernah menyumbang sebesar yang dilakukan Romo Sunu.  Dirinya jarang sekali mengeluarkan uang untuk membantu panti jompo, apalagi ikut urunan membeli  Ambulans. Demikian juga dengan teman-teman yang sehaluan dengannya. Mereka jarang memberi sumbangan uang maupun tenaga untuk kepentingan masyarakat banyak. Dia dan teman-temannya lebih suka membuat diskusi  untuk mengkritik cara-cara  pembelanjaan uang oleh orang-orang seperti Romo Sunu.  

Romo Wage tersenyum melihat Pak Wagu kebingungan mencari jawaban. Dia hapal betul dengan kebiasaan Pak Wagu dan teman-temannya yang lebih suka berteriak-teriak mengkritik orang-orang yang menyisihkan uangnya untuk berangkat Umroh. Padahal orang-orang yang Umroh itu jugalah yang selama ini menjadi tulang punggung kegiatan-kegiatan sosial di kampung. Sedangkan orang-orang yang suka mencerca itu tak pernah melakukan apa-apa selain membuka pedebatan kusir yang tak ada habis-habisnya (Undil-2012)

Sebuah Cerita Tidak Masuk Akal

Suatu ketika Dina kehilangan  HP-nya. Sudah seminggu dicari-cari tak ketemu juga. Dari mulai kolong tempat tidur, atas lemari, bawah meja hingga atap kamar mandi semuanya nihil tidak ketemu. Akhirnya Dina give up, menyerah dan beli HP baru lagi. Untungnya Ibu-nya mau memberi uang untuk keperluan itu. Walaupun tipenya harus downgrade alias turun dari yang sebelumnya dia miliki. Tanpa kamera dan bukan touchscreen.

Pada suatu malam yang cerah Dina berbaik hati, berbagi menu makan malamnya berupa segumpal rendang super duper pedas pada Molly, kucing kesayangannya. Sesaat kemudian Molly muntah-muntah. Upss!!! Dina baru ingat klo Molly alergi - gak doyan segala yang pedas-pedas. Maka tanpa basa basi Si Molly terus beraksi mengeluarkan isi perutnya sampai akhirnya muncullah benda yang selama ini dicari-cari. 'Gedebuk" HP Dina tiba-tiba nongol diantara benda-benda yang dikeluarkan Molly. 

Dina nyaris tak percaya dengan kenyataan itu. HP ketemu kembali di tempat yang sama sekali tidak dia perkirakan. Dalam perut seekor kucing!. Berarti Si Molly punya diam-diam punya mulut yang bisa melar seperti ular hingga bisa menelan HP. "Wah inilah keberuntunganku" pikirnya. Dina jadi ingat saat dia coba meng-call HP-nya, Molly selalu beguling-guling di lantai sambil mengeong-ngeong. Barangkali perutnya terasa geli sekali seperti ada yang gelitikin karena HP dalam posisi mode getar. Makanya dia guling-guling gak jelas kaya gitu.

Pernah Dina mencoba SMS ke HP itu ternyata ada yang membalas. Tapi bahasanya tidak dimengerti oleh Dina. Bisa jadi SMS dibaca oleh cacing-cacing dalam perut Molly. Tentu saja balasannya dalam bahasa cacing yang tidak dimengerti oleh Dina. Tapi menurut Dina bisa juga jawaban SMS itu karena HP tertekan oleh usus Molly yang mencoba mencerna HP karena dikira makanan. Entahlah mana yang benar.

Kemudian setelah dipikir-pikir olehnya kenapa HP bisa ditelan Molly teringatlah dia bahwa HP-nya hilang saat dirinya sedang makan malam. Waktu itu dia pegang HP sambil menyantap ikan duri lunak. Bau amis ikan pastilah nempel di HP. Ditambah lagi screen savernya bergambar ikan gerak-gerak - dengan gambar luar biasa jernih itu telah memukau Molly. Mungkin HP-nya tanpa disadari terjatuh di bawah meja makan, Si Molly langsung menelannya karena  disangka ikan model baru. 

Kini dengan peristiwa itu Dina jadi hati-hati dengan HP-nya. Takut dimakan sama Molly lagi. Dina juga tahu Molly tidak sendirian punya hobby menghilangkan barang-barang. Dito, adik Dina yang udah umur tiga tahun itu punya hobby serupa. Bedanya dia lebih suka membanting barang apa saja yang didekatnya. Makin berteriak kaget si pemilik barang, makin senanglah dia. Terakhir iPad Ayah dijepitin ke pintu setelah dibanting gak pecah-pecah. Makanya sejak saat itu Dina cepat-cepat mengantongi HP-nya klo lihat adiknya datang.

Dongeng Burung Merak yang Berbulu Indah dan Gagak Si Pengejek

Kala gerimis turun dari langit,
burung-burung memilih pergi,
berteduh di gua-gua atau batang kayu mati
Aku tetap di sini berteman gerimis,
kusuka pada lengkung indah pelanginya,
kucinta warna-warninya yang menawan hati


 ^_^

Alkisah di Hutan Wanabolong tinggal Burung Merak dan keluarganya. Burung Merak sangat terkenal di saentero hutan karena keindahan bulunya. Warnanya dan bentuk bulu-bulunya yang indah membuat penampakan Burung Merak sedap dipandang mata dan mengundang decak kagum para penghuni hutan. Apalagi Burung Merak pandai menari, setiap sore menjelang matahari terbenam dia mengembankan bulu-bulu ekornya yang indah sambil menari berputar-putar dengan gerakan-gerakan cantik mengiringi terbenamnya matahari.













Namun disamping mengundang decak kagum, keindahan bulu-bulu itu juga suka dijadikan bahan ejekan burung-burung tertentu. Pasalnya tidak seperti burung yang lain, Burung Merak tidak pandai terbang jauh. Dia hanya mampu terbang setinggi atap rumah dan dalam jarak yang dekat. Lebih seringnya jalan-jalan di darat saja. Makanya Gagak dan teman-temannya sering mengejeknya sebagai si penyandang bulu-bulu hiasan yang tak berguna. 

Tentu saja Merak tertawa saja mendengar ejekan itu. Secara makanan dan minuman tersedia melimpah di hutan Wanabolong, sehingga dirinya tak perlu pergi jauh-jauh untuk mendapatkannya. Si Merak gemar makan biji-bijian, pucuk rerumputan, dedaunan dan serangga. Dirinya tak perlu capek-capek terbang glidik seperti Gagak yang suka makan yang aneh-aneh. Tak bisa terbang jauh-pun tak apa-apa, toh dirinya tidak hidup dalam kekurangan. Biasanya Gagak terdiam sambil bersungut-sungut bila mendengar jawaban seperti itu.

Suatu ketika terbetik kabar bahwa bangsa manusia telah membuka hutan di balik bukit, sebentar lagi mereka akan membuka hutan Wanabolong juga untuk dijadikan tanah pertanian. Para penghuni hutan heboh. Masing-masing telah punya rencana untuk menyelamatkan diri. Gajah sudah jauh-jauh hari mengungsi dengan membawa keluarganya. Dia sadar betul ukuran tubuhnya yang besar akan memudahkan dirinya ditangkap. Kijang, kerbau, monyet dan babi hutan juga telah bersiap-siap untuk menyusul hengkang ke hutan terdekat. 

Bangsa burung juga telah pada mengungsi ke hutan belantara di lereng gunung. Kini tinggal beberapa hewan saja yang masih belum mengungsi. Diantaranya terdapat Burung Merak. Si Merak tidak bisa ikut mengungsi karena terhalang sungai yang sangat lebar. Dirinya tidak dapat menyeberangi sungai yang membentang membatasi Hutan Wanabolong dengan hutan terdekat karena jaraknya terlalu jauh untuk diterbangi. Sementara untuk menyeberang lewat air, dirinya tidak sekuat kijang atau kambing yang tidak akan hanyut terbawa arus. 

Makanya dia memutuskan tetap tinggal di Hutan Wanabolong saja sambil memikirkan cara lain untuk menyelamatkan diri selain mengungsi. Berita itu membuat Gagak yang telah mengungsi tertarik balik ke Wanabolong sekedar untuk mengejek merak yang malang.

"Duh duh kasihan teman kita yang tampan ini. Benar khan kata aku juga!. Bulu-bulumu itu hanyalah hiasan tak berguna. Kini kau harus menerima nasibmu tak bisa mengungsi seperti binatang yang lain...wkwkwk " kata Si Gagak setelh berhasil menemukan Merak.

"Terimakasih Gagak atas masukanmu. Aku punya rencana lain selain mengungsi" sahut Si Merak dengan santai

"Rencana lain??? Rencana dari hongkong.... wkwkwkwk" kata Gagak tambah nafsu mengejek Si Merak

Merak tertawa kecil, lalu membacakan sebuah puisi


Kala gerimis turun dari langit,
burung-burung memilih pergi,
berteduh di gua-gua atau batang kayu mati
Aku tetap di sini berteman gerimis,
kusuka pada lengkung indah pelanginya,
kucinta warna-warninya yang menawan hati

Gagak geleng-geleng kepala tidak mengerti maksud puisi itu, walaupun dalam hati mengagumi keindahannya.  Dirinya sangat kecewa, Merak sama sekali tidak terpengaruh oleh ejekannya.

Dongeng Pak Wangsa dan Angsa Bertelur Emas

Alkisah dua tahun lalu Pak Wangsa mendapat hadiah anak angsa dari seseorang yang tidak dikenal. Belakangan setelah si angsa dewasa ternyata setiap hari mengeluarkan sebutir telur emas. Mulanya Pak Wangsa tidak yakin akan keberadaan telur emas itu. Namun setelah ditanyakan pada Tukang Kemasan di pasar, tahulah dia bahwa angsanya benar-benar mengeluarkan butiran telur emas.











Bukan main gembiranya hati Pak Wangsa. Sejak lama dia memendam cita-cita memajukan kampungnya yang rata-rata penduduknya miskin dan buta huruf. Sebagian besar tanah di kampungnya berupa padang gersang nan tandus. Kebanyakan penduduk berprofesi sebagai petani dan peternak. Umumnya miskin karena hanya lahan-lahan yang berada di kanan-kiri aliran sungai yang bisa ditanami. Pak Wangsa terhitung sebagai peternak dengan tanah yang luas, tetapi tidak semua tanahnya bisa dimanfaatkan karena tak ada pasokan air.

Selama ini penghasilan dari peternakan sapi perahnya hanya cukup untuk kebutuhan keluarganya. Dari 100 hektar tanahnya hanya sepertiga yang bisa ditanami, itupun hanya rumput-rumputan untuk makanan sapi. Biaya untuk membayar orang untuk menyiram rumput-rumputnya tak berselisih jauh dengan hasil penjualan susu. Makanya impian untuk memajukan kampung belum berhasil diwujudkannya.

Dengan adanya angsa bertelur emas, kini Pak Wangsa bisa mengumpulkan biaya untuk membangun saluran irigasi yang dipergunakan mengairi daerah-derah yang kering. Dia tak segan menyingsingkan lengan untuk merancang dan sekaligus membiayai berbagai pekerjaan terkait usaha menghidupkan tanah-tanah gersang. Dibangunnya parit-parit baru untuk menghidupkan ladang-ladang di timur desa yang sudah puluhan tahun ditinggalkan pemiliknya karena kekurangan air.

Dipekerjakannya para pemuda yang selama ini suka nongkrong di warung-warung penjual wine -- sambil mabuk-mabukan -- dengan bayaran yang bagus. Perlahan-lahan jumlah pedagang anggur merah maupun anggur putih menyusut drastis, karena setelah sibuk bekerja para pemuda tak lagi tertarik untuk mabuk-mabukan seperti pada saat mereka masih menganggur.

Seiring perbaikan irigasi, lambat laun tanah-tanah gersang mulai bisa ditanami. Ladang-ladang baru muncul dan hasil pertanian yang bisa dijual ke kota meningkat. Penduduk sangat senang dengan usaha-usaha Pak Wangsa. Tak ada lagi pemuda-pemuda mabuk begajulan yang nongkrong di warung wine. Kesejahteraan orang-orang kampung juga meningkat. Sejauh ini tak ada yang tahu kalau uang Pak Wangsa dari telur angsa. Setahu mereka Pak Wangsa rajin berderma setelah majunya perdagangan istrinya yang setiap hari berjualan kain di kota.

^_^

Masih ada satu cita-cita Pak Wangsa yang belum kesampaian, yaitu membuat waduk besar di selatan desa yang dikelilingi bukit-bukit. Waduk itu akan mengubah padang gersang dan tandus di wilayah ini menjadi tanah pertanian yang subur dan makmur. Jika hanya membuat parit-parit irigasi maka masih ribuan hektar tanah yang tidak akan tersentuh air sampai puluhan tahun yang akan datang.

Namun untuk mewujudkan itu Pak Wangsa membutuhkan uang tak kurang dari 10.000 keping dinar emas. Jumlah yang tidak sedikit dan membutuhkan 1000 butir telur emas untuk mendapatkannya. Artinya Pak Wangsa harus menunggu 1000 hari lagi karena angsanya hanya bertelur satu butir sehari.

Bermacam-macam cara telah dipikirkan Pak Wangsa dan keluarganya. Termasuk istrinya yang mengusulkan agar si angsa disembelih saja agar telur-telur dapat diperoleh lebih cepat. Tentu saja Pak Wangsa tidak setuju. Dia tahu persis jika si angsa disembelih tentu di dalam perutnya tidak akan ada satu butir telurpun, bahkan hal itu akan menyebabkan dirinya kehilangan sumber emas.

Usulan dari anaknya lain lagi. Si anak mengusulkan Pak Wangsa mengajak warga untuk bersama-sama membikin waduk. Mereka diminta merelakan tanahnya untuk dibangun waduk agar tanah-tanah tandus di sekeliling desa bisa dirubah menjadi lahan subur bagi semua orang. Telur emas akan dipergunakan untuk membiayai makan dan minum selama mereka bekerja. Dengan cara ini diharapkan waduk dapat diselesaikan walaupun perlahan-lahan.

Pak Wangsa mengesampingkan usulan anaknya itu. Dari pengalamannya sangat sulit mengajak penduduk kampungnya untuk merelakan tanah demi pembuatan fasilitas umum. Untuk pembuatan jalan desa saja perlu waktu bertahun-tahun untuk meyakinkan mereka agar melepaskan tanah untuk membangun jalan. Itu-pun dengan imbalan uang yang cukup menguras keuangan kampung. 

Lagipula mereka belum tentu percaya kalo Pak Wangsa mampu menggaji selama mereka bergotong royong. Uang dari mana?. Artinya Pak Wangsa harus menceritakan tentang telur angsa emasnya pada masyarakat umum, dan itu dapat mengundang para penjahat untuk mencurinya.

^_^

Setelah sebulan berpikir dan merenung setiap hari, akhirnya Pak Wangsa mendapat ilham untuk menyelesaikan masalahnya. Dia teringat pada seorang saudaranya yang bekerja pada pembesar di Kota Bergota. Si Bangsawan adalah seorang saudagar yang aktifitas bisnisnya membeli rempah-rempah dan timah dari para raja di pulau-pulau di kawasan timur lalu menjualnya kepada para pedagang Arab dan Gujarat kota-kota pelabuhan yang kaya di wilayah barat.

Kapal dagangnya tak kurang dari 50 Jung besar khas pedagang dari Pulau Jawa. Saking besarnya jung-jung miliknya, kapal-kapal itu sering jadi tontonan menarik penduduk di pulau-pulau kecil yang disinggahi. Jung terbesar bisa mengangkut 5000 ton lada sekali jalan.

Setelah jung-jung telah penuh muatan dari pemilik kebun rempah-rempah, maka akan bertolak menuju pelabuhan-pelabuhan di kawasan barat seperti Tuban, Bergota, Jepara, Pekalongan, Cirebon, Palembang dan Malaka yang dipenuhi para pembeli dari mancanegara. Sang Saudagar juga memiliki bisnis pos yang melayani pengantaran surat dan barang antar kota-kota pelabuhan besar di sepanjang pesisir utara Pulau Jawa melalui jalur laut. Kekayaannya sangat melimpah, sehingga uang 10.000 keping dinar emas tidak berarti baginya.

Dari penuturan saudaranya Pak Wangsa tahu bahwa saudagar itu seorang penggemar hewan piaraan. Ada bermacam-macam burung aneh dan langka yang dipelihara di rumahnya. Termasuk beberapa ekor burung unta dan burung cendrawasih yang diperoleh dari rekan bisnisnya di kawasan timur.

Dia juga memiliki belasan hewan berkantung yang disebut kangguru. Konon hewan aneh itu diperolehnya dari para pelaut yang sengaja dikirimnya ke sebuah pulau besar di sebelah selatan Laut Bali. Para pelaut diutus ke pulau itu dengan membawa belasan ahli kimia dari Madrasah di Tuban yang hendak  menyelidiki kemungkinan dibukanya pertambangan emas dan timah di sana.

Dia juga dikenal dermawan. Tahun ini dia menyumbangkan tak kurang dari 30.000 buku-buku koleksinya yang berbahasa Arab dan Melayu untuk perpustakaan madrasah tinggi di Tuban. Tahun lalu Si Saudagar menyumbangkan 10 kapal perang Jung Jawa lengkap dengan meriam-meriamnya untuk Syahbandar Bergota. Dia merasa armada laut Kesultanan Demak Bintoro yang menguasai lautan nusantara perlu terus menerus  diperbaharui. Kekuatan Armada Perang inilah yang membuat kehadiran para penjelajah samudra dari Portugis, Spanyol, Belanda dan Inggris tidak menyurutkan dominasi para Pelaut Jawa di Nusantara yang terus terjaga selama masih tegaknya negara maritim di Pulau Jawa.


Maka pada suatu pagi yang cerah Pak Wangsa berangkat ke Kota Bergota untuk menemui Sang Saudagar setelah sebelumnya mengirimkan surat lewat saudaranya. Perlu waktu satu minggu dengan berkuda untuk sampai di rumah saudagar di Bergota yang ternyata menyambut kedatangannya dengan sangat ramah. Setelah bercerita menggebu-gebu tentang keinginannya untuk membangun waduk di kampungnya, Pak Wangsa menawarkan angsanya kepada si Saudagar dengan harga 10.000 keping dinar emas. Sama dengan biaya pembuatan waduk. 

Si Saudagar diam-diam merasa kagum dengan semangat Pak Wangsa membangun kampungnya. Orang ini mirip sekali dengan dirinya yang juga rela mengorbankan hartanya untuk kemajuan negara maritim di Jawa. Maka dia bersedia membantu Pak Wangsa.

Namun sebelum memutuskan membeli angsa, dia merasa perlu meminjamnya selama seminggu  untuk membuktikan kebenaran cerita bahwa si angsa itu mampu bertelur emas. Seminggu kemudian Si Saudagar percaya kebenaran cerita Pak Wangsa dan setuju membayar 10.000 keping dinar emas tunai untuk angsa Pak Wangsa. Bahkan dia mengirimkan pembantu-pembantunya yang ahli ilmu ukur dan ahli rancang bangunan yang pernah berguru langsung pada Koca Mimar Sinan untuk merancang waduk dengan cermat sesuai kondisi topografi wilayah itu.

Akhirnya Pak Wangsa berhasil mewujudkan keinginannya untuk membangun waduk di selatan kampungnya. Setelah waduk selesai dibangun maka daerah-dearah tandus di wilayah itu berangsur-angsur berubah menjadi lahan-lahan subur dengan hasil pertanian yang melimpah ruah dan menjadikan daerah itu salah satu wilayah termakmur di negeri itu. Pak Wangsa sendiri cukup puas dengan tanah pertaniannya yang sekarang bisa ditanami berbagai macam tanaman pangan disamping rumput untuk makanan sapi-sapinya (Undil-2012)

Lirik Lagu Keren Kla Project - Yogyakarta

Jogja dan Bandung adalah dua kota yang terkenal akan wisata kulinernya. Orang Bandung tersohor kreatifitasnya dalam memperkenalkan makanan-makanan jenis baru yang dengan cepat diterima oleh konsumen di kota-kota lain.  Jogja terkenal dengan jajanan tradisionalnya yang murah, bersahaja, tapi lezat,  dan pengunjung diundang untuk menikmati hidangan dalam suasana penuh persahabatan. Jadi bukan hanya rasa makanan yang istimewa, tapi juga menawarkan suasana yang istimewa.

Salah satu hits legendaris Kla Project berjudul Yogyakarta melukiskan suasana Jogja dengan untaian kata-kata yang manis dan informatif. Lirik itu sukses menggambarkan ke-khasan suasana Kota Jogja yang memiliki tradisi seni dan kuliner yang mengakar di kehidupan sehari-hari penduduknya. Semuanya telah ada secara alami dan mengundang kerinduan orang yang pernah tinggal di Jogja untuk datang kembali. 



KLA PROJECT - YOGYAKARTA

Pulang ke kotamu,
ada setangkup haru dalam rindu,
masih seperti dulu,
tiap sudut menyapaku bersahabat,
penuh selaksa makna,
terhanyut aku dalam nostalgi,
saat kita sering luangkan waktu,
nikmati bersama,
suasana Yogya.

Di persimpangan langkahku terhenti,
ramai kaki lima,
menjajakan sajian khas berselera,
orang duduk bersila,
musisi jalanan mulai beraksi,
seiring laraku kehilanganmu,
merintih sendiri,
ditelan deru kotamu...

Walau kini kau tlah tiada tak kembali,
namun kotamu hadirkan senyummu abadi,
izinkan aku untuk slalu pulang lagi,
bila hati mulai sepi tanpa terobati.
(Undil-2012)
  

Lirik Lagu Puitis: Symphony yang Indah Once Merkel

Simponi yang Indah adalah sebuah lagu berlirik puitis tanpa makna yang dalam, tapi enak untuk didengarkan

^_^

Lagu lama Bob Tutupoly yang dirilis ulang oleh Once Mekel ini bercerita tentang syair dan melodi yang indah. Serangkaian suara harmonis berupa instrumen maupun vokal menghasilkan suara indah yang menghibur hati manusia. That's it!. Sebenarnya sederhana sekali isinya, tanpa  kandungan hikmah yang kaya. Walaupun demikian si penggubah lagu mampu meracik lirik lagu dengan pilihan kata-kata yang puitis dan kuat sehingga menghasilkan sebuah lirik yang cantik. Kemudian dipadukan dengan nada-nada yang indah sehingga lahirlah lagu yang menawan. Suara Once yang melengking tinggi mirip Sting juga membuat aroma puitis lagu ini bertambah kuat.













Menurut oktavita.com, lagu ciptaan Robby Lea ini berhasil memenangkan Festival Lagu Populer Indonesia ke-8 yang digelar tahun 1980, dengan penyanyi Bob Tutupoly.  Setelah  lebih  dari tiga puluh tahun, kini suara emas Elfonda Once Mekel melantunkannya kembali dengan aransemen garapan  Sang Maestro Erwin Gutawa dan diiringi orkestra The City of Prague Philharmonic Orchestra yang memberi kesan megah pada lagu lawas ini. Dengan semua kelebihan itu, sepertinya Simponi yang Indah tidak sukar untuk kembali mengalami masa kejayaan seperti era delapanluluhan.

Singkatnya Symphony yang Indah adalah sebuah lagu tanpa makna yang dalam,  tetapi puitis dan enak didengarkan. 

^_^

SYMPHONY YANG INDAH

Alun sebuah symphony
Kata hati disadari
Merasuk sukma kalbuku
Dalam hati ada satu
Manis lembut bisikanmu
Merdu lirih suaramu
Bagai pelita hidupku

Berkilauan bintang malam
Semilir angin pun sejuk
Seakan hidup mendatang
Dapat ku tempuh denganmu

Berpadunya dua insan
Symphony dan keindahan
Melahirkan kedamaian
Melahirkan kedamaian

Syair dan melodi
Kau bagai aroma penghapus pilu
Gelora di hati
Bak mentari kau sejukkan hatiku

Burung-burung pun bernyanyi
Bunga-bunga pun tersenyum
Melihat kau hibur hatiku
Hatiku mekar kembali
Terhibur symphony
Pasti hidupku 'kan bahagia

sumber lirik: kapanlagi.com 
lukisan musisi turki usmani di venice karya carpaccio diambil dari les-haulz-et-les-bas.com

Manja

Kalau lihat dia,
rasanya jadi ingin manja
Soalnya sorot matanya
sepertinya berkata:

“Hai kamu,
bermanja-manjalah padaku
Aku paling suka
kau jadikan tempat bermanja-manja”

Cerita Lucu Bahasa Jawa: Pitik Mogok Mangan


Bar nganakke pengajian Mbak Dewi ngresiki ruang tamu karo njukuki turah-turahan suguhan sing ora dipangan karo tamune. Salah suwijining panganan yaiku lumpia sajake wis rada lawas. Lumpia iku akeh sing kur dicokot sithik karo tamune, ora dienthekake. Mbak Dewi ngambu lumpia kuwi, banjur celathu menawa lumpiane wis rada banger. Apike dipakakke pithik wae. Ndilalahe pithike Mbak Dewi krungu omongan iku banjur grenengan marang kancane


















Pithik Blorok:  
Wah lumpia sing wis mambu kae mesthi dipakakke aku

Pithik Putih:
Loh njuk ngapa tho?

Pithik Blorok:
Awake dhewe wiwit mbiyen dipakani sing mambu-mambu terus, ora tau sing enak-enak. Mbok pisan-pisan ora sah dienteni mambu!.  Makani barang apik ora iso popiye?

Pithik Putih:
Hooh bener Blo!. Awake dhewe kur diwenehi turah-turahan. Nek ngono mengko ethok-ethok ora doyan mangan wae po?

Pithik Blorok:
Bener Put!. Engko nek diwenehi lumpia dieker-eker wae rasah dipangan.

^_^

Wasan rampung ngresiki ruang tamu, Mbak Dewi njukuk lumpia  sak gegem,  diuncalke ning lemah ben dipangan pithike.  Ananging pithik loro kuwi malah kur ngeker-eker lumpia nganthek sumebar tekan ngendi-endi.  Babar pisan ora gelem mangan.

Weruh pithike ora doyan lumpia, Mbak Dewi  banjur njukuk sega mambu ning pawon. Segane dilebokake ning trempolong ben dipangan pithike. Nanging pithike malah kur nendang-nendang trempolong nganthek segane tumplak. Mbak Dewi bingung, apa sebape pithike ora gelem mangan?.  

Untunge dheweke kelingan nduwe roti tawar lawas sing wis njamur.  Mbok menawa pithike doyan roti. Rotine dijukuk ning nduwur meja, banjur dioncalke ning ngarepe pithike. Ternyata padha wae nasibe karo lumpia banger lan sega mambu. Roti jamuran iku blas ora dipangan karo pithike. Malah ditendang-tendang ngantek kontal ning ndalan. Mbak Dewi kaget marang pokale pithike.

Dumadakan Adhine Mbak Dewi metu saka omah karo nuntun Ponakane sing melet-melet kepedesen merga mangan arem-arem.  “Kowe ki durung doyan pedes Le, wis dilepeh wae arem-areme” celathune marang Ponakane.  Weruh mbokne ponakane yaiku Majda Yulianingrum metu saka omah, Mbak Dewi banjur cerita menawa pithike dho ora doyan mangan.

Majda Yulianingrum:
Wooo, sajake pithikmu padha gering ki, saiki lagi musim Penyakit Tetelo loh!

Mbak Dewi:
Wooo ngono tho, nek ngono digolekke obat apa ya?

Majda Yulianingrum:
Rasah diobati. Dibeleh wae. Soale mengko malah nulari kanca-kancane.

Pithik Blorok kaget banget  krungu usulan dheweke dibeleh wae.  Blorok tambah kaget wasan weruh Pithik Putih ujuk-ujuk notholi lepehan arem-arem.

Pithik Blorok:
Kowe ki piye tho ? Awake dhewe wis nolak mangan sega, kok malah trima mangan lepehan arem-arem ki piye. Rak yo luwih njijiki tho?.

Pithik Putih:
Timbangane dibeleh, aku milih mangan lepehan arem-arem wae.  Ben kowe wae sing ora doyan mangan luwih pantes dibeleh...

Pithik Blorok:
Enak wae.  Aku ya ora gelem dibeleh ki.....  (Pithik Blorok banjur cepet-cepet melu notholi lepehan arem-arem karo mripate merem amarga jijik)

Cerita Anak: Kancil dan Biri-biri Pemberani

"Seorang pemberani bukanlah orang tanpa rasa takut, tapi orang yang tetap maju walaupun hatinya diliputi ketakutan"

^_^

Dalam kisah Sang Kancil terdampar di kota yang terkepung, diceritakan penduduk kota kelaparan karena telah dikepung musuh selama enam bulan. Kancil mengusulkan sebuah strategi untuk menyelamatkan penduduk kota. Pak Walikota setuju dengan taktik Sang Kancil. Taktiknya adalah melepaskan biri-biri gemuk beserta anak-anaknya ke perkemahan musuh. Tujuannya agar musuh mengira kota memiliki persediaan makanan yang melimpah sehingga hewan peliharaan-pun masih gemuk-gemuk karena diberi makan yang cukup.










Sesaat setelah menemukan biri-biri gemuk yang akan dilepaskan ke perkemahan musuh, Sang Kancil bercakap-cakap dengan induk biri-biri. Si Induk tampak ketakutan saat tahu dirinya bakalan dilepaskan ke perkemahan musuh. Sementara ketiga anaknya tampak riang-riang karena membayangkan bakalan mendapatkan rerumputan segar di luar benteng.

"Aduhai sungguh malang nian nasibku dikirim ke perkemahan musuh, entah jadi sate atau gule nampaknya akhir hidupku ada di dapur mereka"  kata Induk Biri-biri

"Dengar Biri-biri. Jikalaupun kamu bertahan di sini, kamu mungkin hanya menunda beberapa minggu atau mungkin hanya beberapa hari sebelum disembelih tuanmu karena mereka saat ini telah kekurangan makanan"

"Yah, aku tahu. Tapi setidaknya aku masih punya pengharapan"

"Dengan tugas ini pun kamu juga punya pengharapan. Lagipula andainya kamu disembelih kamu mati terhormat sebagai biri-biri yang mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan kota"

"Yah, aku tahu itu. Tapi aku takut sekali. Jauh dalam lubuk hatiku aku ingin sekali berarti sudah itu biarlah aku mati. Tapi keinginanku itu kalah oleh rasa takutku"

"Dengarlah sob. Ketakutan itu ada pada diriku juga. Ada juga di dada panglima perang yang gagah perkasa!. Ada di hati Pak Walikota yang bijaksana, juga ada di diri orang-orang yang sedang terkepung di kota ini!. Musuh bisa melakukan apa saja terhadap diri kita bila mereka menaklukkan kota. Seorang pemberani bukanlah orang tanpa rasa takut, tapi orang yang tetap maju walaupun hatinya diliputi ketakutan!" ujar Kancil

Biri-biri mendongakkan kepalanya. Kemudian dia berdesis mengucapkan kata-kata dengan lirih

"Aku tidak punya pilihan lain kecuali menjadi seekor biri-biri pemberani. Biarlah aku mengikuti semua rencanamu. Que sera sera. Apa yang akan terjadi, terjadilah!"

Sang Kancil menepuk-nepuk pundak biri-biri pertanda salut atas keberaniannya yang mulai muncul. Biri-biri mencoba tetap tabah dan memaksakan diri untuk tersenyum. Sesaat kemudian dia ingat pengharapan yang dijanjikan Sang Kancil

"Ngomong-omong  pengharapan apa yang kau tawarkan padaku?"

"Aku akan memberimu ramuan yang membuatmu memuntahkan isi perutmu dalam tiga jam. Biar mereka menyangka kita masih mampu memberi makan jagung dan gabah pada biri-biri sebagai pertanda kita punya persediaan makanan yang melimpah"

"Jadi mereka tidak perlu menyembelih diriku untuk memeriksa isi perutku?"

"Yah benar. Mereka tak perlu menyembelih dirimu untuk melihat apa yang engkau makan. Mudah-mudahan mereka cukup puas dengan melihat jagung dan gabah yang kau muntahkan"

^_^

Maka biri-biri mengajak anak-anaknya untuk memakan jagung dan gabah yang dihidangkan pada mereka. Dia meminta anak-anaknya untuk makan tanpa ragu-ragu untuk membuat perutnya kenyang. Dia mencoba percaya keberhasilan taktik ramuan yang akan membuat dirinya muntah dalam tiga jam. 

Mudah-mudahan sebelum masa tiga jam itu dirinya tidak keburu disembelih oleh pasukan musuh. Namun jikalau dirinya disembelih-pun misinya akan tercapai. Karena musuh akan mendapati jagung dan gabah saat membelah isi perutnya yang merupakan isyarat bahwa di kota ini ada banyak makanan. Musuh diharapkan mendapatkan kesan bahwa kota yang tengah kelaparan ini memiliki gudang-gudang makanan yang melimpah ruah sehingga membatalkan pengepungan karena menganggapnya sia-sia.

Dongeng Si Kancil dan Biri-biri di Kota yang Terkepung

Gara-gara jembatan bambu yang ambrol saat diseberangi Si Kancil – hanyutlah dia terbawa arus sungai yang deras sampai berpuluh-puluh kilometer  ke arah pemukiman penduduk. Sambil terus berpegangan erat pada potongan bambu sisa jembatan yang terseret arus air, Si Kancil mengkipat-kipatkan tangannya agar tubuhnya bergerak menepi. Setelah seharian digoyang-gaying aliran air akhirnya dia terhempas ke sebuah lubang di tepi sungai.



Si Kancil yang terdampar di sebuah lorong kecil yang  pas dengan ukuran  tubuh mungilnya itu mau tak mau terpaksa  masuk lebih jauh ke dalam lorong.  Dia tak bisa keluar melalui sungai karena arusnya  terlalu deras. Maka dengan susah payah dia berjalan perlahan-lahan menelusuri lorong. Setelah setengah hari berjalan dalam kegelapan akhirnya  didapatinya  lorong berujung pada sebuah parit kecil persis di tengah sebuah kota. Saat dirinya keluar dari parit tersebut dilihatnya pemandangan penduduk kota yang sangat mengenaskan.

Bocah-bocah, orang  muda, orang tua, laki-laki maupun perempuan nampak bertubuh kurus kering dan lemah lunglai.  Daun-daun pepohonan sudah gundul, bahkan rerumputan-pun jarang Agaknya mereka habis dimakan oleh penduduk kota. Dari cerita orang-orang yang ditemuinya tahulah Si Kancil bahwa Kota  Urban telah dikepung musuh selama enam bulan sehingga tidak ada pasokan makanan dari luar kota.

Seorang lelaki muda yang bertubuh tegap walaupun mulai terlihat kurus menceritakan semuanya kepada Sang Kancil saat mereka bertemu di Balai Kota. Rupanya orang itu adalah Pak Walikota yang saat ini  rambutnya sering berdiri karena  otaknya berpikir keras mencari jalan keluar dari kekurangan pangan. Dia tidak tahu berapa lama lagi  rambutnya akan berdiri  kecuali Si Kancil mampu memberi solusi. Lumbung jagung dan beras di kota sudah sangat menipis. Kini bahan pangan hanya dibagikan  setiap dua hari sekali. Artinya rakyatnya makan sepiring nasi tiap dua hari sekali.

^_^

Tragedi kekurangan pangan ini berawal dari serangan yang dilakukan musuh terhadap Kota  Urban yang kaya raya ini. Rupanya majunya perdagangan Kota  Urban beberapa tahun belakangan ini dianggap membahayakan perdagangan di kota-kota tetangga.  Kemajuan pesat  itu  terjadi setelah walikota lama yang selama ini mengutamakan para pedagang asing tersingkir. Pak Walikota baru memberi perlakuan lebih adil pada pedagang pribumi.  

Kota Urban adalah kota terbesar di wilayah ini tetapi selama ini miskin. Hal itu karena pemerintah kota memberi fasilitas berlebihan pada para pedagang asing sehingga mereka berhasil memonopoli perdagangan. Akibatnya rakyat Kota Urban tetap miskin sementara para pedagang asing menjadi kaya raya. 

Walikota juga mengijinkan komplotan pedagang asing menjual ganja kepada penduduk kota. Dia juga membiarkan mereka memberi jatah ganja gratis kepada para pegawai negeri. Akibatnya pekerjaan para pegawai kota menjadi amburadul karena hari-harinya diisi dengan mabuk-mabukan ganja. Demikian juga dengan penduduk kota, banyak diantaranya menjadi tukang bengong karena mengisi hari-harinya dengan fly akibat menghisap ganja. 

Namun  setelah walikota lama tersingkir maka perlakuan istimewa pada  komplotan pedagang asing dicabut. Akibatnya  monopoli perdagangan  oleh para pedagang asing juga tamat riwayatnya.  Peredaran ganja juga dilarang. Hal itu berakibat perekonomian Kota Urban maju pesat karena penduduknya pada dasarnya memiliki hobby bekerja keras. Kini tidak ada lagi  diantara mereka yang menghabiskan waktu dengan bengong sambil menghisap ganja.  Hari-hari mereka menjadi produktif menghasilkan barang-barang yang laku dijual. Hanya dalam beberapa tahun perdagangan Kota Urban omzetnya jauh melampaui  kota-kota tetangga.  

Sejumlah besar anggota komplotan pedagang asing yang tersingkir merasa sakit hati.  Terutama sindikat penjual ganja. Mereka kehilangan pasar terbesar barang dagangan mereka. Karena itu mereka berusaha keras menyingkirkan walikota baru. Mereka menggunakan taktik pencitraan buruk terhadap Kota Urban. Dengan modal citra buruk itulah mereka akan  membujuk pemerintah-pemerintah kota asal  mereka agar menyerang Kota Urban. Setelah itu mereka bermaksud mengangkat kembali walikota lama agar kepentingan mereka dapat terlayani.  

Mula-mula mereka bersekutu dengan penegak hukum  yang bisa disuap di negeri mereka.  Lalu mereka menyewa para bandit, begal, kecu, maling dan perampok untuk melakukan aksinya di kota-kota mereka sendiri. Para penjahat  akan mendapat imbalan uang dalam jumlah besar jika mau mengaku sebagai teroris  suruhan  Walikota Urban yang ditugaskan untuk membuat kota-kota pesaing tidak aman. 

Para penjahat bayaran itu juga membuat kerusuhan dengan membakar gedung-gedung dan pasar-pasar.  Setiapkali tertangkap mereka mengaku sebagai teroris  yang dilatih Kota Urban.  Kadang-kadang para perampok biasa yang tertangkap -- sengaja dibunuh oleh penegak hukum dan diumumkan ke masyarakat sebagai para teroris. Para grayak kelas teri yang tertangkap dijanjikan keringanan hukuman jika bersedia mengaku  sebagai teroris. 

Aksi-aksi perampok yang mengaku sebagai teroris itu  juga sengaja dibesar-besarkan oleh koran-koran yang dimiliki komplotan pedagang asing sehingga timbullah kebencian umum terhadap penduduk Kota Urban. Mereka menyangka bahwa para  penjahat bayaran itu benar-benar  teroris binaan  Kota Urban. Setelah fitnah itu sukses maka mudah sajalah bagi para pedagang asing untuk membujuk pemerintah-pemerintah kota  menyerang Kota Urban.


^_^

Balatentara musuh yang jumlahnya berkali-kali lipat tak mampu ditahan oleh pasukan pengawal Kota Urban walaupun persenjataan mereka jauh lebih modern. Ratusan pasukan senapan tidak sanggup menahan puluhan ribu pasukan musuh walaupun musuh hanya bersenjatakan busur panah, tombak dan pedang. Pasukan pengawal kota memutuskan untuk mundur ke dalam Kota Urban yang dibentengi tembok yang tinggi.

Musuh tidak mampu mendekati benteng kota karena pasukan senapan yang berjaga diatas benteng dengan cepat menghujani mereka dengan tembakan peluru-peluru tajam. Sementara musuh hanya bersenjatakan alat perang tradisional tidak mampu menjangkau pasukan senapan yang ada di atas benteng.  Satu-satunya yang dapat dilakukan oleh musuh adalah mengepung Kota Urban sembari berharap Pak Walikota akan menyerah saat seluruh persediaan makanan habis. 

Sudah enam bulan musuh melakukan pengepungan. Namun belum ada tanda-tanda kota akan menyerah. Balatentara musuh yang mengepung sudah mulai gelisah. Mereka heran mengapa Kota Urban mampu bertahan selama itu tanpa pasokan makanan.

Sementara tanpa diketahui oleh para pengepungnya, kondisi Kota Urban sangat menyedihkan. Kekurangan bahan makanan maupun obat-obatan terjadi di seluruh kota. Kini mereka hanya bertahan dengan mengandalkan lumbung padi dan jagung yang sudah mulai menipis. Daun-daunan, tumbuhan, batang tanaman dan umbi-umbian telah mulai dikonsumsi penduduk kota karena jatah makanan yang dibagikan sangat sedikit. Akibatnya jumlah tanaman di kota ini juga telah menyusut dan tidak lama lagi akan ludes.

Sang Kancil yang sepakat akan membantu mengatasi kepungan musuh akhirnya menyarankan suatu strategi pada Pak Walikota. Setelah seharian berdiskusi panjang lebar  dengan Pak Walikota akhirnya beliau menyetujui mencoba taktik Sang Kancil, 

Untuk menjalankan strategi Sang Kancil -- Pak Walikota  harus menyediakan biri-biri yang gemuk beserta anak-anaknya. Setelah seharian dicari-cari di seluruh penjuru kota akhirnya didapatkanlah seekor biri-biri yang gemuk dengan tiga ekor anaknya yang tak kalah gemuk karena mereka dikandangkan di dekat mata air yang penuh lumut. Berkat memakan lumut-lumut yang menempel di bebatuan sekitar matair itulah para biri-biri itu tetap gemuk.