Dongeng Burung Merak yang Berbulu Indah dan Gagak Si Pengejek

Kala gerimis turun dari langit,
burung-burung memilih pergi,
berteduh di gua-gua atau batang kayu mati
Aku tetap di sini berteman gerimis,
kusuka pada lengkung indah pelanginya,
kucinta warna-warninya yang menawan hati


 ^_^

Alkisah di Hutan Wanabolong tinggal Burung Merak dan keluarganya. Burung Merak sangat terkenal di saentero hutan karena keindahan bulunya. Warnanya dan bentuk bulu-bulunya yang indah membuat penampakan Burung Merak sedap dipandang mata dan mengundang decak kagum para penghuni hutan. Apalagi Burung Merak pandai menari, setiap sore menjelang matahari terbenam dia mengembankan bulu-bulu ekornya yang indah sambil menari berputar-putar dengan gerakan-gerakan cantik mengiringi terbenamnya matahari.













Namun disamping mengundang decak kagum, keindahan bulu-bulu itu juga suka dijadikan bahan ejekan burung-burung tertentu. Pasalnya tidak seperti burung yang lain, Burung Merak tidak pandai terbang jauh. Dia hanya mampu terbang setinggi atap rumah dan dalam jarak yang dekat. Lebih seringnya jalan-jalan di darat saja. Makanya Gagak dan teman-temannya sering mengejeknya sebagai si penyandang bulu-bulu hiasan yang tak berguna. 

Tentu saja Merak tertawa saja mendengar ejekan itu. Secara makanan dan minuman tersedia melimpah di hutan Wanabolong, sehingga dirinya tak perlu pergi jauh-jauh untuk mendapatkannya. Si Merak gemar makan biji-bijian, pucuk rerumputan, dedaunan dan serangga. Dirinya tak perlu capek-capek terbang glidik seperti Gagak yang suka makan yang aneh-aneh. Tak bisa terbang jauh-pun tak apa-apa, toh dirinya tidak hidup dalam kekurangan. Biasanya Gagak terdiam sambil bersungut-sungut bila mendengar jawaban seperti itu.

Suatu ketika terbetik kabar bahwa bangsa manusia telah membuka hutan di balik bukit, sebentar lagi mereka akan membuka hutan Wanabolong juga untuk dijadikan tanah pertanian. Para penghuni hutan heboh. Masing-masing telah punya rencana untuk menyelamatkan diri. Gajah sudah jauh-jauh hari mengungsi dengan membawa keluarganya. Dia sadar betul ukuran tubuhnya yang besar akan memudahkan dirinya ditangkap. Kijang, kerbau, monyet dan babi hutan juga telah bersiap-siap untuk menyusul hengkang ke hutan terdekat. 

Bangsa burung juga telah pada mengungsi ke hutan belantara di lereng gunung. Kini tinggal beberapa hewan saja yang masih belum mengungsi. Diantaranya terdapat Burung Merak. Si Merak tidak bisa ikut mengungsi karena terhalang sungai yang sangat lebar. Dirinya tidak dapat menyeberangi sungai yang membentang membatasi Hutan Wanabolong dengan hutan terdekat karena jaraknya terlalu jauh untuk diterbangi. Sementara untuk menyeberang lewat air, dirinya tidak sekuat kijang atau kambing yang tidak akan hanyut terbawa arus. 

Makanya dia memutuskan tetap tinggal di Hutan Wanabolong saja sambil memikirkan cara lain untuk menyelamatkan diri selain mengungsi. Berita itu membuat Gagak yang telah mengungsi tertarik balik ke Wanabolong sekedar untuk mengejek merak yang malang.

"Duh duh kasihan teman kita yang tampan ini. Benar khan kata aku juga!. Bulu-bulumu itu hanyalah hiasan tak berguna. Kini kau harus menerima nasibmu tak bisa mengungsi seperti binatang yang lain...wkwkwk " kata Si Gagak setelh berhasil menemukan Merak.

"Terimakasih Gagak atas masukanmu. Aku punya rencana lain selain mengungsi" sahut Si Merak dengan santai

"Rencana lain??? Rencana dari hongkong.... wkwkwkwk" kata Gagak tambah nafsu mengejek Si Merak

Merak tertawa kecil, lalu membacakan sebuah puisi


Kala gerimis turun dari langit,
burung-burung memilih pergi,
berteduh di gua-gua atau batang kayu mati
Aku tetap di sini berteman gerimis,
kusuka pada lengkung indah pelanginya,
kucinta warna-warninya yang menawan hati

Gagak geleng-geleng kepala tidak mengerti maksud puisi itu, walaupun dalam hati mengagumi keindahannya.  Dirinya sangat kecewa, Merak sama sekali tidak terpengaruh oleh ejekannya.

^_^

Hari yang dinantikan tiba. Ratusan manusia tampak memasuki Hutan Wanabolong sambil membawa gergaji dan kereta-kereta kuda untuk mengangkut kayu. Pelan-pelan mereka mulai merambah hutan dan menebangi kayu-kayu. Dibersihkannya pohon-pohon besar yang ada di hutan ini untuk dirubah jadi tanah pertanian. Si Merak bersama keluarganya tidak lari meninggalkan hutan. Justru dia mendekati kelompok manusia itu sambil berjalan perlahan-lahan berputar-putar memamerkan bulu-bulunya yang indah. Tak ketinggalan istri dan anak-anaknya membuntuti di belakangnya.

Saat melihat Merak yang berbulu indah para pembuka hutan itu berdecak kagum. Mereka sangat terpesona oleh keindahan bulu-bulu Merak yang menawan. Maka ditangkaplah Merak dan keluarganya, kemudian dimasukkannya ke dalam kandang besar untuk jadi tontonan.

Beberapa tahun kemudian hutan telah selesai dibuka dan di bekas Hutan Wanabolong telah berdiri kampung baru yang memiliki tanah pertanian yang luas. Merak dan keluarganya beruntung tinggal di rumah Pak Kepala Kampung yang memiliki halaman yang luas. Merak tak lagi dikandangkan, tapi dia dibiarkan lepas di halaman dan waktu sore kembali sendiri masuk ke kandang di belakang rumah. 

Makanan untuk Merak telah disediakan oleh Pak Kepala Kampung. Seandainya tidak disediakan-pun di halaman rumah tedapat banyak tumbuhan berbiji yang bisa dimakan olehnya. Merak puas dan bersyukur bahwa bulu-bulu indahnya ternyata bukannya tidak berguna seperti kata Gagak, tapi dapat membuat dirinya menjadi peliharaan bangsa manusia (Undil -2012).     

Gambar diambil dari : wikipedia

0 komentar:

Post a Comment