Showing posts with label Indonesia tanpa JIL. Show all posts
Showing posts with label Indonesia tanpa JIL. Show all posts

Dongeng Si Kancil Mencuri Timun - Kolaborasi Sang Kancil dan Mas Wagenugraha

Sang Kancil dalam perjalanan dari Hutan Utopia menuju Gunung Sepikul mengikuti petunjuk buku Mas Wagenugraha, seorang ahli ilmu hayati paling mumpuni di saentero Pulau Jawa. Dalam Kitab Bab Suket-suketan karya Mas Wagenugraha tertera bahwa di Gunung Sepikul terdapat beberapa jenis rerumputan yang tahan kekeringan karena memiliki umbi akar yang berfungsi menyimpan cadangan air. 

Sang Kancil akan menanam rerumputan tahan kekeringan di seputar telaga di tengah Hutan Utopia agar kelak jadi makanan cadangan buat para penghuni hutan selama musim kemarau. 

Sudah dua minggu dia menempuh perjalanan jauh tatkala tiba di sebuah kebun tanaman ketimun yang nampak memiliki batang-batang yang kurus, daun-daun yang sebagian menguning  dan buah-buah kecil yang bergelantungan.

Baru saja Sang Kancil duduk, tiba-tiba bertiup angin kencang yang menerbangkan topi orang-orangan – boneka kayu yang dipasang ditengah kebun ketimun.  Sang Kancil segera berlari mengejar topi itu dan bermaksud memasangnya kembali ke tubuh orang-orangan. Sialnya saat tangannya menyentuh dada orang-orangan, tangannya menempel  pada tubuh si boneka kayu dan tidak bisa dilepaskan.  Semakin keras dia berusaha melepaskan, semakin banyak bagian tubuh Sang Kancil yang melekat pada orang-orangan. 


Pak Tani yang menemukan Sang Kancil terjebak pada tubuh orang-orangan langsung menyangka dirinya berhasil  menangkap pencuri yang selama ini mengganggu kebunnya. Maka ditetapkanlah hukuman pada Sang Kancil untuk bekerja membersihkan ladang Pak Tani selama 6 bulan terus menerus sebelum dia boleh pergi melanjutkan perjalanan ke Gunung Sepikul. Selama menjalani masa hukuman Sang Kancil akan dirantai kakinya dan dijaga oleh Anjing Gembala.

Tentu saja Sang Kancil sangat keberatan dengan hukuman itu. Ketimun yang ada di kebun Pak Tani masih terlalu kecil untuk dimakan, dan dirinya tidak bakalan doyan memakan timun mentah itu. Lagipula tidak ada bukti bekas gigitan atau sisa-sisa timun yang dimakan di kebun itu. Jadi tuduhan Pak Tani tanpa bukti.   

Namun kata-katanya tidak didengar sama sekali oleh Pak Tani yang yakin Sang Kancil telah sering beroperasi menjarah ketimun. Terpaksalah Sang Kancil rela menjalani hukuman sambil memikirkan cara secepatnya pergi ke Gunung Sepikul  agar penduduk Hutan Utopia tidak kekurangan rumput di musim kering yang akan datang.

Untunglah di sela-sela waktu menjalani hukuman di ladang Pak Tani, Sang Kancil sempat ngobrol-ngobrol dengan Anjing Gembala yang bertugas menjaganya supaya tidak kabur. Dari Si Anjing Gembala, Sang Kancil tahu bahwa para petani di desa akhir-akhir ini kekurangan air karena sumber air yang mengalir dari Gunung Putih telah dikuasai sekelompok orang bersenjata yang dipimpin seseorang yang dijuluki Orang Berkumis dari Gunung. 

^_^

Orangnya tinggi jangkung, berkulit putih bersih, bermata belo warna kecoklatan, berambut kemerahan yang dicukur cepak, dan berkumis warna merah yang jarang-jarang tumbuhnya. Walaupun demikian orang-orang menjulukinya Orang Berkumis dari Gunung. Orang ini sangat giat mencari pengikut baru. Sepekan sekali dia membayar tukang teriak di pasar-pasar untuk meneriakkan ajaran-ajarannya tentang kebebasan tanpa batas. Dia juga mengundang anak-anak muda untuk berkunjung ke perpustakaan miliknya dan berdiskusi tentang kebebasan.

Setealh merasa cukup kuat, kelompok orang yang menguasai Gunung Putih itu membendung sumber air yang memancar dari puncak gunung dan hanya membuka penuh aliran air ke dataran yang berada di sisi selatan Gunung yang tanahnya lebih rendah daripada sisi utara gunung.  

Aliran air ke arah utara masih ada tetapi tinggal setengahnya. Akibatnya tanah pertanian di desa-desa di sisi utara gunung tidak mendapatkan air yang cukup.  Pertumbuhan tanaman menjadi kurang bagus,hasil panen pun menurun. Secara umum baik padi maupun palawija hanya memberi hasil panen dua pertiga saja dari sebelumnya.  Pendeknya penduduk di sisi utara gunung dirugikan oleh pembendungan itu.
 
Belasan kali para petani mengirim utusan untuk meminta bendungan dibuka, tetapi selalu ditolak. Akhirnya para petani membentuk pasukan bersenjata dan berusaha merebut kembali  gunung itu -- namun selalu gagal. Sebenarnya jumlah kelompok yang dipimpin Orang Berkumis dari Gunung itu tidak banyak. Kekuatan mereka hanya belasan orang pasukan pemanah saja ditambah beberapa puluh pekerja tambang yang tak pandai memainkan pedang. Namun di sekeliling gunung itu terdapat dinding batu yang tidak bisa ditembus oleh para petani.  

Walaupun jumlahnya ratusan orang, pasukan petani selalu dipukul mundur karena hujan anak panah yang menimpa mereka saat berusaha mendekati benteng batu. Lagipula ketinggian benteng batu tersebut menyulitkan para petani untuk memanjatnya. Setelah mencoba berkali-kali dan gagal mengusir gerombolan dari gunung itu maka para petani menjadi jera dan mendiamkan mereka.