Showing posts with label puisi perpisahan. Show all posts
Showing posts with label puisi perpisahan. Show all posts

Parade Puisi Juli: Ketika Dia Pergi (reloaded)

Jatuh terkapar tak berdaya
seiring perginya sang rembulan
tuk pastikan langkah.
Sinarnya meredup lalu hilang,
tinggalkan kegelapan.
Toh sesayup masih terdengar
bisikannya :
Jangan kasihani diri sendiri,
karena Engkau adalah
Matahari terang benderang
yang tidak sepantasnya
menangisi perginya sinar rembulan.

Puisi Perpisahan - Setelah Kunang-kunang Lepas



Setelah sang kunang-kunang lepas...

dan aku sendiri
tanpa pelita
di padang nan luas

gelap pekat sunyi sepi
berpayung langit berhias sedikit bintang

Ya Tuhan
ku mengemis
untuk kedua tanganku agar mampu menuntunku
di gelapnya malam


Kumohon ketabahan
untuk kedua kakiku saat tersaruk-saruk
merayapi jalanan berbatu

tanpa ditemani pelita


Kumohon kekuatan
untuk gunakan
pantulan cahaya bintang

di tetes-tetes air mata dukaku
sebagai pelita penerang
untuk temani perjalanan

yang masih panjang terbentang
(undil-bandung)