Selasa Sore Di Gerbang RSHS

Seorang yang sedang sakit
Bisa jadi kehilangan kendali,
tidak sabaran dan penuh emosi


KEMARAHAN YANG MEMBAKAR APA SAJA
Hancur berkeping-keping hati Maruko menghadapi kenyataan yang tak bisa dipercayainya. Seseorang yang dikagumi, selalu setia mendengarkan dirinya sepenuh hati, dan tempat untuk berbagi tiba-tiba menunjukkan perilaku yang tak pernah terbayangkan. Masih terngiang jelas bagaimana Sakura berteriak-teriak histeris menyuruh Maruko diam dan mengusirnya keluar dari bangsal pasien. Bermacam caci maki diiringi teriakan kemarahan diledakkan pada Maruko yang datang untuk menghibur Sakura.

RABO MALAM DI KAMAR MARUKO
Maruko duduk termenung di kamarnya. Bagaimana mungkin Sakura bisa berubah secepat itu. Kecelakaan dahsyat telah merubah Sakura yang bijak menjadi Sakura yang rapuh dan lepas kendali. Tubuh yang tergolek lemah di atas tempat tidur dengan kaki dan tangan di gips karena patah itu sanggup meluncurkan kata-kata tajam yang mengkoyak-koyak hati Maruko tanpa ampun.

Kemana gerangan Sakura yang ceria dan penuh perhatian? Kemana Sakura yang selalu bersikap tenang ditengah himpitan sejuta masalah?. Sakura yang senang melayani dan tak pernah mementingkan diri sendiri seolah hilang ditelan bumi. Sakura yang kata-kata bijaknya seperti air dingin menyiram rumput-rumput kering di hati Maruko-- berubah jadi api yang membakar orang-orang di sekitarnya.

KAMIS SORE DI WARUNG AYAM TALIWANG JALAN KALIMANTAN
Kesal hati Maruko melihat Shinichi Kudo tersenyum-senyum mendengar ceritanya tentang perubahan Sakura. Malahan Shinichi menganggap Sakura sedang berada di titik nol. Perilakunya sedang anjlok ke titik terendah. Karena dalam kecelakaan itu dari semua penumpang mobil hanya dia yang selamat, itu-pun dengan luka parah.

Sakura yang menawan sedang terguncang mengetahui nasib keempat temannya, ditambah lagi melihat kondisi tubuhnya yang nyaris tak bisa digerakkan. Gamang menatap hari-hari yang akan dilaluinya. Apakah dia bisa sembuh total ataukah kecelakaan itu akan menyisakan hambatan di tubuh indahnya. Semua itu menciptakan jarak antara gambaran ideal dirinya dengan kenyataan yang harus dihadapi. Jarak--yang terlihat begitu jauh--membuat jiwa Sakura terguncang hebat.

SABTU PAGI DI HALAMAN BELAKANG GEDUNG SATE
Akhirnya Maruko berhenti membiarkan dirinya melayang-layang di langit impian. Dibiarkan pikirannya membentur tanah, dan mencium bumi kenyataan. Maruko memaksakan diri belajar memilah-milah antara buah pikiran seseorang dengan perbuatannya. Dia paksa dirinya untuk berani menerima fakta bahwa Sakura yang bijak adalah kebijaksanaan yang keluar dari pikiran Sakura. Dalam perbuatannya, mungkin tak akan sesempurna kata-katanya. Untuk sementara kondisi sakit dan terguncang bisa saja merubah Sakura. Namun bukan berarti segala kata-kata bijak Sakura selama ini adalah omong kosong. Kebijaksanaan itu tetap ada, dan biarlah dia be-rumah di alam pikiran, tak harus selalu melekat pada Sakura.


SENIN SORE DI JALAN RUMAH SAKIT
Maruko berjanji di dalam hati akan terus menyemangati Sakura sampai pulih kembali. Keep Fighting Sakura, aku percaya engkau mampu memenangkan peperangan melawan bujukan perasaan (House of Spirit Jl. Kalimantan No. 5 Bandung).

0 komentar:

Post a Comment