Dia yang tak maju-maju
Bukan berarti tidak mampu
Bisa jadi tak diberi kesempatan
Hingga terpendamlah kecemerlangan
Dia yang biasa-biasa saja
bukan berarti tak sehebat sang bintang
karena bukan hanya kemampuan
tapi juga kesempatan yang menentukan
(undil)
Cerita pendek ringan bernuansa psikologi dan manajemen untuk teman minum teh
Puisi Pernikahan untuk Sahabat: Keabadian Cinta
Seandainya kamu diberi kesempatan
rubah batu-batu hitam jadi permata,
jadikan nilai-nilai ujianmu A semua,
selesaikan tugas akhirmu sekejap mata,
atau meraih cinta dari sejuta manusia
ITU SEMUA TIDAK ADA ARTINYA!
untuk letakkan hatimu dalam hatinya,
lalu merasakan apa yang dirasakannya.
Padukan keinginanmu dan keinginannya,
di bingkai keteguhan tempuh jalan suci-Nya.
Muliakan dan bergandengan tangan,
berdua meraih ridha-Nya,
demi kebahagiaan sejati di dunia,
dan KEABADIAN cinta di SURGA.
(Undil-2012- edisi revisi)
Label:
puisi,
puisi pernikahan buat sahabat
Cerita Lucu tapi bukan Si Kancil Mencuri Ketimun
Alkisah Sang Kancil sedang berlatih main teater untuk sebuah
pertunjukan besar di Hutan Utopia. Kali ini Sang Kancil harus memerankan Raja
Kucing, yang menjadi tokoh utama dalam
pentas itu. Selama sebulan penuh Sang Kancil berguru kepada keluarga kucing
anggora agar dapat memerankan Raja Kucing dengan sempurna.
Setelah dirasa cukup berlatih di keluarga kucing anggora,
Sang Kancil memutuskan untuk mencoba memerankan kucing di kehidupan nyata. Maka
dia berdandan sebagai kucing anggora dan turun ke kampung untuk berperan
sebagai kucing di lingkungan manusia.
Rumah yang dimasuki oleh Sang Kancil berpenghuni keluarga
muda yang baru memiliki bayi kecil bernama Reza. Dia adalah bayi umur 4
bulan yang baru bisa nangis owek owek. Mama Majda Yulianingrum baru kali ini punya bayi,
sehingga belum tahu banyak tentang seluk beluk anak bayi. Kancil masuk rumah sebagai seekor kucing
kelabu yang kelaparan dan hendak mencari makan.
Kucing Kancil terus menerus bersuara eow-eow tanpa satu
pun penghuni rumah yang tahu maksudnya, kecuali Reza. Bahasa yang dipergunakan Reza yang owek-owek
itu ternyata mirip dengan bahasa kucing yang baru saja dipelajari Sang Kancil. Jadilah dua makhluk itu dapat nyambung
ngobrolnya.
“Owek-owek”
“Eow-eow”
“Owek-owek-oweek”
“Eow-Eow-Eoooow”
Dua makhluk itu ngobrol dengan seru sampai Mama Majda bingung karena dikira anaknya nangis terus gak
berhenti-berhenti. Padahal sebenarnya Reza sedang mengobrol dengan Kucing Kancil.
Mama heran karena sudah dicek Reza tidak ngompol dan tidak pup. Saat diberi
nenen juga tidak mau. Jadilah Mama pusing tujuh keliling, akhirnya Reza
kembali ditaruh ke dalam box bayi.
Setelah Reza ditaruh ke dalam box bayi, Si Kucing Kancil
mendekati Reza untuk melanjutkan obrolan mereka.
“Yi Bayi, aku lapar banget nih. Kamu punya timun gak
untuk kumakan?”
“Timun itu kaya apa bentuknya?”
“Itu loh, buah yang bentuknya lonjong panjang, dan kulitnya
warnanya hijaur”
“Wooo yang kalo dibelah warnanya merah itu yah?”
“Bukaaaan! Itu mah
semangka namanya. Timun itu yang suka dimakan bareng ayam goreng”
“Ayam goreng itu bentuknya kayak apa?”
“Itu loh yang kalo ditaruh di atas piring ada kaki, sayap
dan kepalanya?”
“Woooo ayam goreng itu yang warnanya coklat yah?
“Betul yi”
“Aku tahu sekarang. Timun itu yang suka diiris-iris Mama
untuk dimakan setelah makan ayam goreng yah?”
“Betul sekali. Punya gak dirimu?”
“Ada banyak di meja makan. Tapi aku belum bisa ngambilin
nih. Aku juga belum bisa bicara pada mamaku. Mama gak mengerti dengan bahasaku.
Gimana dung caranya ambil timun buatmu?”
“Udah gini aja. Kamu menangislah sekeras mungkin sampai
digendong lagi sama mama kamu. Ntar klo kamu digendong sampai dekat meja makan,
tanganmu tunjuk-tunjuk saja ke timun biar diambilin”
“Klo udah diambilin lalu diapain timunnya?”
“Dijatuhin ke lantai di depanku. Nanti aku akan bersuara eow-eow sambil menyundul-nyundul kaki mamamu”
“Betul juga yah. Kamu pintar sekali Cing”
Kucing Kancil senyum-senyum sendiri karena senang sekali
dikira kucing beneran oleh Reza, artinya aktingnya sebagai Raja Kucing saat
pementasan nanti bakalan berhasil.
^_^
Seperti skenario Kucing yang sebenarnya adalah Sang Kancil -- Mama Majda cepat-cepat menggendong anaknya saat mendengar suara tangis Reza
melengking tinggi. Karena tangisan Reza gak juga berhenti, Mama membawa Reza
jalan-jalan keluar kamar. Saat mama berdiri di dekat meja makan tangan Reza
menunjuk-nunjuk tumpukan timun di atas piring. Mama dengan cepat mengambilkan
seekor timun, biar Reza berhenti menangis.
Namun setelah timun dipegang Reza, tiba-tiba timun
dijatuhkan ke depan kucing yang sedang berada di bawah sambil menyundul-nyundul
kaki mama. Mama kaget dengan perbuatan Reza, tapi kemudian tertawa senang
melihat ada seekor kucing yang menyantap timun yang dijatuhkan. “Wah anakku
pintar sekali, masih bayi udah bisa ngasih makan kucing” ujarnya dengan bangga.
Namun kemudian setelah berpikir sejenak, Mama Majda jadi terheran-heran
meilhat Kucing Kancil makan timun. “Mungkin kucing ini udah dibiasakan makan
timun sama pemiliknya jadi dia enak aja menyantap ketimun. Wah aku gak boleh
kalah sama kucing niy, aku harus lebih rajin makan sayur-sayuran” pikir Mama.
Hari itu Sang Kancil cukup puas dengan aktingnya sebagai seekor
kucing. Sampai saat dia kembali ke Hutan Utopia bayi Reza dan Mama Majda Yulianingrum tidak
mengenali dirinya sebagai seekor kancil (Undil-2012)
tags: cerita lucu, cerita pendek,cerpen, dongeng sang kancil,
Label:
cerita anak,
cerita lucu,
cerita pendek,
cerpen,
dongeng sang kancil
Cerita Lucu Bahasa Jawa: Kopi Kucing by Undil
Suwijining ndino Setro Mino mertamu ning ngomahe Setro Njingik.
Dheweke disuguhi kopi karo Setro Njingik. Sajake kopine enak tenan,
soale Setro Njingik muja-muji ngalembana marang kopi sing disuguhake.
Setro Mino banjur nyruput kopi amarga penasaran marang rasane.
Setro Mino:
Iki kopi apa tho kok rasane rada kecut?
Setro Njingik:
Kuwi kopi istimewa, meh padha karo kopi luwak sing larang kae
Setro Mino:
Woo ngono tho, kopi apa jenenge?
Setro Njingik :
Kopi kucing, aku gawe dhewe
Setro Mino:
Gaweanmu dhewe tho, apa sebape diarani kopi kucing?
Setro Njingik:
Sebape diolah lewat kucing. Yen kopi luwak kopine dipangan luwak ndisik sakdurungne diolah, kopi kucing dipangan kucing sakdurunge diolah dadi kopi bubuk. Aku pancen terinspirasi kopi luwak, ning ben gampang aku nanggo kucing wae.
Setro Mino:
Kucing doyan kopi pa?
Setro Njingik:
Ya ora no. Kopine tak gerus rada kasar, trus tak campur ikan asin, bar kuwi lagi tak pakakke kucing.
Setro Mino (wetenge mulai mules) :
Terus...
Setro Njingik:
Mengko yen wis metu bareng kotoran kucing banjur gerusan kopi disaring, dikumbah, dipepe nganti garing banjur digiling meneh nganti alus. Lha iki sampeyan sing pisanan nyoba kopi kucing loh, wong rong tau ana sing tak suguhi kopi kucing. Aku dhewe arep ngrasakke ora tegel je. Piye Kang, enak ora rasane?
Setro Mino:
Hoeeeeeekkkk! Hoeeeekkkkk! (Undil - 2012)
gambar diolah dari : www.lonvig.dk
Cerita lucu lain:
Pitik Mogok Mangan
Bakso Bangjo lan Kucing Klawu
tags: blog bahasa jawa, cerita bahasa jawa, cerita lucu basa jawa
Puisi Ulang Tahun buat Sahabat: Tak Pernah Kesepian
Di sini sendiri
sunyi senyap
hanya berteman
bayang-bayang
berkawan semangat
dalam kerja keras
curahkan peluh dan pikiran
wujudkan impian
Inilah hidupmu teman
yang tak pernah kesepian
persahabatan tak kau artikan
harus selalu berdekatan
berteman
bukan berarti
tak pernah sendiri
Mimpimu dan mimpinya
pastilah tak sama
bolehlah jiwa bertaut
tapi raga biarlah berkelana
wujudkan mimpi-mimpi
dengan kerja keras
dan penuh kegembiraan
Selamat Ulang Tahun Teman
teriring doa dan harapan
semoga impianmu terkabulkan
(Undil - 2012)
tags: puisi ucapan ulang tahun buat sahabat
Parade Puisi Juli: Risalah Kesepian
Ketika Dia Pergi
tags: puisi ucapan ulang tahun buat sahabat
Koleksi Puisi Indah
Parade Puisi Juni: Cinta Parade Puisi Juli: Risalah Kesepian
Ketika Dia Pergi
Label:
puisi,
puisi ulang tahun
Dongeng Si Kancil Mencuri Timun - Kolaborasi Sang Kancil dan Mas Wagenugraha
Sang Kancil dalam perjalanan dari Hutan Utopia menuju
Gunung Sepikul mengikuti petunjuk buku Mas Wagenugraha, seorang ahli ilmu hayati paling mumpuni di saentero Pulau Jawa. Dalam Kitab Bab Suket-suketan karya Mas Wagenugraha tertera bahwa di Gunung Sepikul terdapat beberapa jenis rerumputan yang tahan kekeringan karena memiliki umbi akar yang berfungsi menyimpan cadangan air.
Sang Kancil akan menanam rerumputan tahan kekeringan di seputar telaga di tengah Hutan Utopia agar kelak jadi makanan cadangan buat para penghuni hutan selama musim kemarau.
Sudah dua minggu dia menempuh perjalanan jauh tatkala tiba di sebuah kebun tanaman ketimun yang nampak memiliki batang-batang yang kurus, daun-daun yang sebagian menguning dan buah-buah kecil yang bergelantungan.
Sang Kancil akan menanam rerumputan tahan kekeringan di seputar telaga di tengah Hutan Utopia agar kelak jadi makanan cadangan buat para penghuni hutan selama musim kemarau.
Sudah dua minggu dia menempuh perjalanan jauh tatkala tiba di sebuah kebun tanaman ketimun yang nampak memiliki batang-batang yang kurus, daun-daun yang sebagian menguning dan buah-buah kecil yang bergelantungan.
Baru saja Sang Kancil duduk, tiba-tiba bertiup angin
kencang yang menerbangkan topi orang-orangan – boneka kayu yang dipasang
ditengah kebun ketimun. Sang Kancil
segera berlari mengejar topi itu dan bermaksud memasangnya kembali ke tubuh
orang-orangan. Sialnya saat tangannya menyentuh dada orang-orangan, tangannya menempel pada tubuh si boneka
kayu dan tidak bisa dilepaskan. Semakin
keras dia berusaha melepaskan, semakin banyak bagian tubuh Sang Kancil yang
melekat pada orang-orangan.
Pak Tani yang menemukan Sang Kancil terjebak pada tubuh
orang-orangan langsung menyangka dirinya berhasil menangkap pencuri yang selama ini mengganggu
kebunnya. Maka ditetapkanlah hukuman pada Sang Kancil untuk bekerja membersihkan
ladang Pak Tani selama 6 bulan terus menerus sebelum dia boleh pergi
melanjutkan perjalanan ke Gunung Sepikul. Selama menjalani masa hukuman Sang
Kancil akan dirantai kakinya dan dijaga oleh Anjing Gembala.
Tentu saja Sang Kancil sangat keberatan dengan hukuman
itu. Ketimun yang ada di kebun Pak Tani masih terlalu kecil untuk dimakan, dan
dirinya tidak bakalan doyan memakan timun mentah itu. Lagipula tidak ada bukti
bekas gigitan atau sisa-sisa timun yang dimakan di kebun itu. Jadi tuduhan Pak
Tani tanpa bukti.
Namun kata-katanya
tidak didengar sama sekali oleh Pak Tani yang yakin Sang Kancil telah sering beroperasi
menjarah ketimun. Terpaksalah Sang Kancil rela menjalani hukuman sambil
memikirkan cara secepatnya pergi ke Gunung Sepikul agar penduduk Hutan Utopia tidak kekurangan
rumput di musim kering yang akan datang.
Untunglah di sela-sela waktu menjalani hukuman di ladang
Pak Tani, Sang Kancil sempat ngobrol-ngobrol dengan Anjing Gembala yang bertugas
menjaganya supaya tidak kabur. Dari Si Anjing Gembala, Sang Kancil tahu bahwa
para petani di desa akhir-akhir ini kekurangan air karena sumber air yang
mengalir dari Gunung Putih telah dikuasai sekelompok orang bersenjata yang dipimpin
seseorang yang dijuluki Orang Berkumis dari Gunung.
^_^
Orangnya tinggi jangkung, berkulit putih bersih, bermata belo warna kecoklatan, berambut kemerahan yang dicukur cepak, dan berkumis warna merah yang jarang-jarang tumbuhnya. Walaupun demikian orang-orang menjulukinya Orang Berkumis dari Gunung. Orang ini sangat giat mencari pengikut baru. Sepekan sekali dia membayar tukang teriak di pasar-pasar untuk meneriakkan ajaran-ajarannya tentang kebebasan tanpa batas. Dia juga mengundang anak-anak muda untuk berkunjung ke perpustakaan miliknya dan berdiskusi tentang kebebasan.
^_^
Orangnya tinggi jangkung, berkulit putih bersih, bermata belo warna kecoklatan, berambut kemerahan yang dicukur cepak, dan berkumis warna merah yang jarang-jarang tumbuhnya. Walaupun demikian orang-orang menjulukinya Orang Berkumis dari Gunung. Orang ini sangat giat mencari pengikut baru. Sepekan sekali dia membayar tukang teriak di pasar-pasar untuk meneriakkan ajaran-ajarannya tentang kebebasan tanpa batas. Dia juga mengundang anak-anak muda untuk berkunjung ke perpustakaan miliknya dan berdiskusi tentang kebebasan.
Setealh merasa cukup kuat, kelompok orang yang menguasai Gunung Putih itu membendung
sumber air yang memancar dari puncak gunung dan hanya membuka penuh aliran air
ke dataran yang berada di sisi selatan Gunung yang tanahnya lebih rendah daripada
sisi utara gunung.
Aliran air ke arah utara masih ada tetapi tinggal
setengahnya. Akibatnya tanah pertanian di desa-desa di sisi utara gunung tidak
mendapatkan air yang cukup. Pertumbuhan
tanaman menjadi kurang bagus,hasil panen pun menurun. Secara
umum baik padi maupun palawija hanya memberi hasil panen dua pertiga saja dari
sebelumnya. Pendeknya penduduk di sisi
utara gunung dirugikan oleh pembendungan itu.
Belasan kali para petani mengirim utusan untuk meminta bendungan dibuka, tetapi selalu ditolak. Akhirnya para petani membentuk pasukan bersenjata
dan berusaha merebut kembali gunung itu -- namun
selalu gagal. Sebenarnya jumlah kelompok yang dipimpin Orang Berkumis dari Gunung itu tidak banyak. Kekuatan mereka hanya belasan orang pasukan pemanah saja
ditambah beberapa puluh pekerja tambang yang tak pandai memainkan pedang. Namun di sekeliling gunung itu
terdapat dinding batu yang tidak bisa ditembus oleh para petani.
Walaupun jumlahnya ratusan orang, pasukan petani selalu
dipukul mundur karena hujan anak panah yang menimpa mereka saat berusaha mendekati
benteng batu. Lagipula ketinggian benteng batu tersebut menyulitkan para petani
untuk memanjatnya. Setelah mencoba berkali-kali dan gagal mengusir gerombolan
dari gunung itu maka para petani menjadi jera dan mendiamkan mereka.
Seni Penolakan Haibara kala Mempersiapkan Family Gathering
Haibara kesal dengan sesuatu menyebalkan yang harus
dilakukan untuk kesekian kalinya. Ini gara-gara dirinya diseret Shinichi Kudo untuk ikut serta menjadi panitia
family gathering di kantornya. Jabatannya gak tanggung-tanggung lagi. Koordinator acara family gahthering!
Haibara yakin seyakin-yakinnya bahwa sembilan puluh persen pekerjaan panitia family gathering ini ada di seksi acara. Jadi Shinichi memberi “gunung gajah” untuk dipikul Haibara. Kerjanya pasti berat banget, berjibun-jibun serta akan memakan habis waktunya. Gimana nggak berat kalo harus membuat acara yang menarik buat 4000 orang!.
Udah gitu Shinichi dan teman-teman lainnya pengen acara
beda sama sekali dari tahun lalu. Gak boleh sama! Harus ada novelty-nya kata mereka. Sebagai salah satu dampaknya pengisi acara dari
mulai pembukaan hingga penutup adalah
kaum profesional dari luar perusahaan.
Definisi profesional menurut Shinichi
adalah layak masuk TV. Artinya jika si pengisi acara belum pernah ditayangkan di
TV berarti dia belum bisa dipentaskan di family gathering. Sebuah persyaratan yang ditentukan oleh
Shinichi, tapi dampaknya langsung terasa oleh Haibara, yaitu dirinya harus jungkir-balik & pontang-panting mencari pengisi acara.
Sebenarnya semua itu menyenangkan Haibara yang emang demen bikin acara seperti ini. Yang menyebalkan hanya satu, yaitu wanti-wanti Shinichi kepada Haibara untuk pandai-pandai menolak semua permintaan dari kalangan internal untuk tampil — termasuk bila ada request dari para petinggi di kantor.
Bahkan bos-nya sendiri pun harus ditolak jika minta anaknya bisa tampil di family gathering. Itu semua karena cita-cita Shinichi untuk membuat integrated family gathering. Entah dari mana dia mendapat istilah itu. Yang pasti Haibara yakin itu bukan ide asli Shinichi, secara anak itu bukanlah ahli tentang acara-acara seperti ini.
Bahkan bos-nya sendiri pun harus ditolak jika minta anaknya bisa tampil di family gathering. Itu semua karena cita-cita Shinichi untuk membuat integrated family gathering. Entah dari mana dia mendapat istilah itu. Yang pasti Haibara yakin itu bukan ide asli Shinichi, secara anak itu bukanlah ahli tentang acara-acara seperti ini.
Integrated Family
Gathering menurut Shinchi berarti acara
dari awal sampai akhir adalah satu kesatuan yang sudah dipersiapkan dari sejak
membuat konsep acara. Jadi pengisi acara
ditentukan berdasarkan konsep acara dan bukan sebaliknya. Nyatanya emang demikian. Setelah ditentukan
konsep acara, maka panitia kecil yaitu Shinichi, Haibara, Kogoro dan dua teman
lainnya membutuhkan waktu tiga minggu hanya untuk memperdebatkan susunan detail
acara dan siapa saja yang akan mengisi acara.
Debat selepas jam kerja yang berlangsung hingga larut
malam bahkan terkadang sampai dini hari itu untungnya berhasil melahirkan blueprint
family gathering yang menjadi panduan bersama semua panitia. Disitu sudah
tercantum semua pengisi acara, tidak boleh ada tambahan lagi.
Blueprint itu
juga menjadi panduan dalam hal tolak menolak para peminat jadi pengisi acara. Jadi
masalahnya bukanlah kualitas para peminat tersebut, tapi karena konsep acara menghendaki pengisi
acara yang sesuai dengan konsep itu dan mereka telah selesai dipilih oleh panitia.
Alhasil sampai tujuh hari menjelang acara, Haibara udah
menolak belasan calon pengisi acara. Dari mulai band lokal karyawan, anak
karyawan, keluarga rekanan kantor, hingga pihak-pihak luar yang ingin
berpartisipasi. Semuanya ditolak dengan sukses oleh Haibara.
Namun kali ini yang minta beda. Dia adalah seorang
petinggi, bekas koordinator Haibara saat dirinya mengikuti satu project yang
dipimpin orang itu beberapa tahun yang lalu. Si Bapak ingin anaknya tampil di
panggung family gathering.
Paduan suara anak-anak SMP. Sebenarnya seru juga siy karena Haibara tahu
persis suara mereka bagus-bagus. Dia pernah melihat mereka pentas di Sabuga. Namun blueprint udah terbit. Slot acara sudah tersusun rapi. Bisa dibom Shinichi bila dirinya merubahnya hanya
karena dirinya gagal menolak satu permintaan
saja.
Wuhhh kali ini Haibara harus berusaha keras untuk menolaknya
dengan halus. Secara dirinya banyak
berhutang budi pada si Bapak yang telah mengajarinya banyak hal tentang perprojekan.
Sungguh sial dirinya harus melakukan
penolakan ini. Satu hal yang tidak
pernah diduganya menjadi bagian dari tugas sebagai koodinator acara family
gathering -– menjadi Sang Penolak. Dus Haibara
tiba-tiba merasa menggenggam bola panas yang harus secepatnya dia padamkan.
Haibara ingat seminggu yang lalu dirinya dengan susah
payah berhasil menolak permintaan teman dekatnya untuk menampilkan adiknya yang
telah lima tahun ikut sanggar tari dengan cita-cita ingin bisa pentas di kantor
kakaknya. Dirinya harus tegar saat
melihat si adik kecewa dari sebelumnya hatinya berbunga-bunga karena mengira
dapat tampil di panggung dengan ditonton ribuan orang itu. Secara Haibara sering banget berenang bareng
si adik itu di hari-hari libur – dapatlah dibayangkan kekeluan lidahnya. Pahitnya mengecewakan teman dekat benar-benar
dia rasakan saat itu
Penolakan yang lebih ringan -- dilakukan Haibara
terhadap salah satu instansi keamanan yang ingin menampilkan band yang baru
saja mereka bentuk. Juga dari klub lawak yang salah satu anggotanya adalah karyawan
kantor. Juga dari beberapa orang luar yang berminat mengisi acara. Untunglah mereka semua bisa mengerti alasan yang dikemukakan Haibara.
Haibara berusaha
keras menjelaskan adanya blueprint family gathering yang harus dipatuhi. Juga tentang
DP semua pengisi acara yang sudah dibayar dan acara sudah tersusun rapi
hingga hitungan menit. Semua itu membuat
pengisi acara tak memungkinkan untuk dirubah lagi. Dan memang demikianlah
adanya. Kadangkala dia menghibur para peminat
tersebut dengan menyarankan mereka untuk mengajukan diri pada acara yang lain
seperti ulang tahun himpunan kayawan atau acara DKM. Sebuah penolakan yang dikritik Shinichi
sebagai melemparkan bola panas pada orang lain.
^_^
Setelah hampir satu jam dalam keraguan, akhirnya Haibara
memberanikan diri menjawab SMS itu. Dia sudah terlalu lelah mencari-cari kalimat yang enak untuk diungkapkan.
“Mohon maaf
Pak, slot waktu pengisi acara sudah
penuh, gak bisa diselip-selipin lagi. Jadi panitia tidak bisa menampilkan paduan
suara si adik”
“Saya hanya butuh waktu paling lama 20 menit untuk
menampilkan 4 lagu. Please tolonglah mereka sudah sangat antusias untuk tampil
di family gathering”. Demikianlah bunyi jawaban atas SMS Haibara
Duh! Haibara pusing gimana cara dia bisa menolak
permintaan kedua ini. Secara dia sudah
divonis mati oleh Shinichi gak boleh merubah-rubah acara lagi karena semuanya
sudah dihitung hingga satuan menit oleh Show Director. Tak satu menit-pun yang
dibiarkan lowong tanpa detail kegiatan yang harus dilakukan pada menit tersebut.
Memasukkan pengisi acara baru berarti
mulai kerja besar lagi menyusun acara.
Akhirnya Haibara memutuskan untuk melenggang ke ruangan
Shinichi untuk minta “pertanggung jawaban” dengan cara memilihkan jawaban yang
paling pas buat Si Bapak. Saat dirinya duduk di depan meja Shinichi dan ngomong tentang hal itu,
anak itu hanya nyengir kuda seraya menyuruh Haibara mengatakan hal-hal yang lain
bersamaan dengan SMS penolakan yang akan dikriimkannya.
“Kalo gak salah si Bapak baru saja pindah ke rumah baru
yang ada kolam di halaman depannya. Omongin saja tentang itu, mudah-mudahan membantu
mencairkan suasana” kata Shinichi
“Busyet lu!. Dasar tukang kasiy beban moral berat ke orang,
udah tahu aku dekat dengan dia malahan aku yang disuruh menolak dia!” kata
Haibara sambil tiba-tiba saja kepalanya serasa muncul tanduk saking kesalnya melihat kecuekan Shinichi.
Rasa-rasanya dirinya ingin menyeruduk Shinichi dengan tanduk itu. Tapi sudahlah. Percuma saja berantem dengan si
tukang nyengir. Malahan dia seneng kalo
diseruduk Haibara. Akhirnya dengan hati masygul Haibara
memakai juga saran Shinichi pada SMS-nya.
“Punten pisan Pak,
kita sudah susun acara hingga hitungan menit. Jadi benar-benar kami tidak bisa
lagi menyelipkan pengisi acara lain. Semua jadwal sudah confirm ke pengisi
acara, dan kami kesulitan bila harus buat konfirmasi baru lagi dengan mereka. Btw saya sudah lihat rumah bapak yang baru,
asyik banget ada kolam besar di halaman depan, saya pernah lihat Bapak baca koran sambil duduk di gazebo di
tengah kolam. Kayaknya seru banget!”
Satu jam belum ada
jawaban dari Si Bapak. Hingga Haibara mulai gelisah sambil sesekali melirik
Shinichi yang masih sibuk dengan kertas-kertas pekerjaannya. Akhirnya Haibara membuka laptopnya dan mulai sibuk dengan SOP-SOP baru yang harus
dibuatnya. Dia memutuskan untuk
menenggelamkan diri dalam pekerjaanya. Namun untunglah, dua jam kemudian ada jawaban
dari si Bapak, dan isinya pendek namun sangat melegakan.
“OK, saya pernah
mengalami jadi panitia, jadi saya dapat memahami kesulitan Haibara”.
Demang Nuru dan Para Ksatria Jepara
Demang Nara, Demang Neri dan
Demang Nuru duduk bertiga di depan sebuah meja kotak dari kayu cendana di
tengah pendopo kadipaten. Para demang yang lain juga duduk di beberapa meja
lain yang ditata apik di pendopo. Wangi-wangian berupa dupa yang dibakar
pojok-pojok ruangan menghiasi udara pendopo. Hari ini di ruangan itu akan
dilakukan pertemuan para pejabat kadipaten dengan perwakilan Ksatria Jepara
untuk merundingkan berbagai hal. Sang Adipati akan memimpin sendiri delegasi kadipaten
pada pertemuan kali ini.
Hal-hal yang penting untuk
dibicarakan adalah soal perdagangan, disamping soal-soal keamanan. Kadipaten
memiliki hasil bumi seperti beras, jagung dan kelapa untuk dipasok ke Jepara.
Sementara Jepara selaku salah satu kota pelabuhan terbesar di pantai utara Jawa
memiliki kain sutera, minyak ikan, ter, kertas, kapur barus, minyak wangi,
barang-barang pecah belah dari porselin & kristal, peralatan rumah tangga
dari logam dan obat-obatan yang dibutuhkan rakyat kadipaten.
Demang Nara yang tiba duluan
di tempat itu memesan minuman buat dirinya dan dua temannya. Awalnya dia
memesan teh tawar untuk dirinya, tapi kemudian dia tertarik dengan tawaran
pelayan untuk mencoba minuman air kelapa muda ditambah sirup strawberry yang
didatangkan khusus dari Venesia. Sirup yang dibawa oleh pedagang-pedagang dari
Gujarat itu telah tersohor kenikmatannya. Namun karena dia sudah memesan satu gelas
teh tawar, maka Demang Nara hanya memesan dua gelas kelapa muda strawberry.
Yang menyusul datang adalah
Demang Neri, si juragan beras muda belia dari wilayah timur kadipaten. Demang
Neri mengendalikan lumbung-lumbung padi yang berada di wilayah kekuasaannya.
Makanya dia adalah aktor penting dalam perundingan ini mengingat Jepara
bukanlah daerah yang memiliki petani. Hampir seluruh penduduk Jepara adalah
kaum pedagang, para tukang, tabib, ahli kimia, pembuat senapan & meriam, pemintal kain dan profesi lain yang tak
terkait dengan produksi beras.
Melihat di depannya telah
tersuguh minuman kelapa muda strawberry, Demang Neri tertarik untuk
mencicipinya seperti yang dilakukan Demang Nara. Dan dia tidak kecewa dengan
kelezatan paduan rasa kelapa muda strawberry.
Demang Nuru baru muncul satu
jam kemudian. Agaknya dia masih sibuk membuat sapu lidi di halaman belakang
rumahnya sehingga terlambat tiba di kadipaten. Demang Nuru memimpin wilayah
selatan kadipaten yang merupakan pusat perkebunan kelapa. Setiap tahun ratusan
ribu kelapa dihasilkan oleh wilayah itu, namun tidak semuanya dapat terjual.
Belakangan muncul permintaan baru yaitu kelapa yang telah dikeringkan untuk
dipasok ke Jepara. Kelapa kering itu selanjutnya akan diangkut ke Makasar yang
merupakan pusat perdagangan kopra dunia di masa itu. Sebuah peluang perdagangan
yang sangat menguntungkan bagi Demang Nuru.
Hasil sampingan dari perkebunan
kelapa adalah sapu lidi yang dibuat dari daun-daun kelapa. Adalah hobby Demang
Nuru untuk membuat sendiri sapu lidi menemani para pegawainya, yang tak lain
adalah anak istrinya. Sayang sapu lidi bukanlah barang yang gampang dijual
karena relatif awet. Orang bisa beli satu untuk dipakai satu dua-tahun,
sehingga penjualannya juga kurang bagus.
Melihat dua temannya minum
kelapa muda berwarna merah muda -- warna sirup strawberry Venesia, terbitlah
air liur Demang Nuru karena kepengin merasakan juga. Namun alangkah kecewanya
dia saat pelayan datang malahan membawakan teh tawar bagi dirinya. Dilihatnya
Demang Nara senyum-senyum sambil pasang muka tidak bersalah, sementara Demang
Neri pura-pura sibuk menulis-nulis dengan pensil arang di atas kertas yang
dibawanya. Setelah diamat-amati ternyata Demang Neri cuman menggambar dua
gunung dan matahari terbit diantaranya. “Sungguh Demang yang kekanak-kanakan”
pikir Demang Nuru.
Karena untuk pesan minuman
lagi dia malu pada Sang Adipati, maka terpaksalah Demang Nuru meminum teh tawar
yang disuguhkan. Rasanya beda banget sih dibanding teh yang dirumahnya. Teh ini
teh kelas satu yang telah dibumbui dengan bunga melati dan diracik oleh empu
teh nomor satu di kadipaten. Sementara teh di rumahnya adalah daun teh kering
tanpa bumbu yang rasanya biasa-biasa saja. Jadi agak sedikit terhiburlah hatinya.
Dicoba dinikmatinya setiap tetesnya. “Hmmm benar-benar nikmat tidak seperti teh
yang di rumah. Lagipula kalau aku minum
manis-manis malahan bisa serak” pikir Demang Nuru.
^_^
Sayup-sayup Demang Nara
mendengar suara derap puluhan ekor kuda mendekati halaman pendopo kadipaten. Sejurus
kemudian dilihatnya ada kurang lebih dua puluh ksatria berkuda dengan pakaian
warna putih, sorban warna putih dan bersepatu hitam memasuki halaman kadipaten.
Merekalah para Ksatria Jepara yang ditunggu-tunggu.
Ksatria di barisan terdepan
membawa panji-panji gula kelapa – merah putih lambang Kesultanan Demak Bintoro.
Jepara adalah salah satu wilayah Kesultanan Demak Bintoro – salah satu kerajaan
maritim terbesar di nusantara sepanjang masa. Demak Bintoro mengandalkan
pendapatannya bukan dari pertanian, tetapi dari perdagangan internasional di
kota-kota pelabuhan di sepanjang pantai utara Pulau Jawa, termasuk pelabuhan
Jepara.
Berkat perdagangan itulah
Demak Bintoro muncul sebagai kerajaan maritim yang kaya raya dan mampu
membangun armada kapal-kapal perang yang disegani di nusantara. Disamping pasukan
dan senjata, faktor ketersediaan uang memegang peranan penting dalam perang di
masa itu. Bila tidak memiliki uang yang cukup maka pasukan yang sedang
bertempur akan kesulitan perbekalan dan persediaan senjata, apalagi bila mereka
terlibat perang dalam jangka waktu lama.
Demang Nara berdecak kagum
melihat kuda-kuda arab yang ditunggangi Ksatria Jepara. Kuda-kuda itu berukuran
dua kali lebih besar dari kuda-kuda lokal yang dibawa para Demang. Kekaguman
Demang Nara semakin bertambah tatkala melihat di setiap bahu para ksatria itu
tersandang senapan, sama seperti senapan yang dipamerkan oleh orang-orang
Portugis di Pasuruan. Sementara para Demang seperti dirinya masih mengandalkan
pedang dan tombak sebagai senjata.
Label:
cerita pendek,
cerpen,
demak,
demak bintoro,
jepara,
jung,
negara maritim
Dongeng Sang Kancil vs Suku Penjarah
Berita tentang sepak terjang Suku Pongpongbolong sudah meluas sampai ke hutan-hutan di sekitar Laguna Biru. Suku Pongpongbolong adalah sekelompok orang kurang terpelajar yang kerjanya merambah hutan, menebangi kayu-kayunya dan membakar sisanya. Mereka juga memburu binatang-binatang hutan untuk diambil kulitnya atau diawetkan untuk dijual.
Begitu mereka berhasil memasuki sebuah hutan mereka akan merusaknya, mengaduk-aduk tanahnya untuk mencari logam mulia dan meninggalkannya setelah tidak ada pohon, hewan dan barang berharga yang tersisa untuk dijarah. Tak heran mereka sukses merubah hutan-hutan lebat menjadi padang tandus, kering dan berantakan.
Begitu mereka berhasil memasuki sebuah hutan mereka akan merusaknya, mengaduk-aduk tanahnya untuk mencari logam mulia dan meninggalkannya setelah tidak ada pohon, hewan dan barang berharga yang tersisa untuk dijarah. Tak heran mereka sukses merubah hutan-hutan lebat menjadi padang tandus, kering dan berantakan.
Kengerian akan sepak terjang mereka semakin bertambah saat kelompok penjarah itu mulai mampu membeli senapan dan mesiu untuk memperlancar aksi penjarahan hutan. Perlawanan dari kawanan Macan dan Gajah yang mengamuk menjadi tidak ada artinya di hadapan terjangan timah panas. Senapan-senapan itu membuat mereka tak mampu dilawan para binatang. Karenanya Suku Pongpongbolong sangat ditakuti oleh para penghuni hutan.
Binatang penghuni Hutan Utopia di seberang selatan Laguna Biru sudah mulai resah mendengar kabar kedatangan suku Pongpongbolong di hutan cemara sebelah utara Laguna. Mereka telah mendirikan tenda-tenda di tepi Laguna. Sebentar lagi makhluk-makhluk penjarah itu akan menebangi pohon cemara untuk membuat rakit-rakit guna menyeberangi Laguna menuju Hutan Utopia yang sangat subur dan kaya aneka ragam kekayaan hutan. Sebuah hutan impian bagi Suku Pongpongbolong untuk dijarah sampai tandas.
^_^
Ratusan penghuni Hutan Utopia telah berkumpul di depan rumah Sang Kancil untuk meminta nasehat-nasehat menghadapi kedatangan Suku Pongpongbolong. Sang Kancil yang dikenal oleh para penghuni hutan sebagai binatang paling kutu buku sehutan raya adalah satu-satunya harapan mereka. Si gudang ilmu pengetahuan nampak keluar dari rumahnya, memakai syal sambil berjalan terhuyung-huyung dipapah dua ekor gajah yang menjadi asistennya . Rupanya dia sedang sakit flu berat.
“Maafkan aku sedang sakit, tidak bisa lama-lama berada di luar rumah” ujar Sang Kancil
“Temui kami sebentar saja. Kami hanya minta nasehat cara menghadapi para penjarah Suku Pongpongbolong dengan ilmu pengetahuan & kebijaksanaan yang kau pelajari selama ini”
“Dengarlah ini kunci kemenangan kalian. Mereka orang-orang bodoh yang malas belajar dan pendek akalnya. Mereka yang hanya bisa menjarah hutan dan merusaknya tanpa kesadaran untuk memeliharanya atau memanfaatkan untuk hal-hal lain seperti bercocok tanam atau memelihara ternak. Kalian harus menggunakan hasil pemikiran bersama untuk mengalahkan mereka” kata Sang Kancil
“Ajarkan pada kami satu taktik melawan mereka. Kami akan berunding untuk mencari cara-cara tambahan untuk mengalahkan mereka” kata Beruang Madu selaku wakil para binatang.
Para binatang tahu bahwa Sang Kancil paling tidak suka mendiktekan cara menyelesaikan suatu masalah. Dia hanya mau memberi beberapa petunjuk, selanjutnya para binatang harus mendiskusikan di antara mereka untuk mendapatkan cara terbaik mengatasi suatu masalah. Sang Kancil berpandangan bahwa hasil pikiran ratusan binatang akan lebih baik dibanding hasil pikirannya seorang diri. Karena itulah dia enggan mengajarkan pemecahan masalah secara utuh dari A sampai Z.
“Baiklah aku ajarkan satu cara. Namun kalian harus berunding guna melengkapinya agar menjadi satu taktik yang hebat untuk mengalahkan mereka”
Label:
cerita anak,
cerita pendek,
cerpen,
dongeng sang kancil
Puisi tentang Makan Sahur
Disini, saat ini
adalah satu-satunya
milik kita
tanpa bayangan masalalu
tanpa kekhawatiran masadepan
Nikmati dan resapi
tetes-tetes kekinian
dalam pelukan kesabaran
Biarkan sahur dini hari
ciptakan dunianya sendiri
yang indah dalam sunyi
yang nikmat dalam gelap
yang bahagia dalam kesucian
merindu ridha Ilahi
(undil-2012)
Sisi Positif Aristokrasi Menurut Romo Wage
Romo Wage berpandangan bahwa aristokrasi tidak selalu buruk. Menurut Romo, aristokrat , kaum ningrat, atau bangsawan tidak melulu soal keturunan. Aristorasi adalah seperangkat karakter dan tingkah laku yang harus diikuti seseorang agar layak tergolong kelompok aristokrat. Standar etika yang tinggi dan disiplin yang keras menjadikan kelompok aristokrat layak menjadi panutan bagi masyarakat umum.
Disiplin tingkat tinggi ini mengingatkan Romo Wage pada ibunya yang selalu menerapkan standar yang tinggi. Misalnya beliau selalu meminta Romo Wage untuk sholat di masjid dan mengaji sehabis maghrib. Bukan sekedar menyuruh sholat, tapi harus sholat di masjid.
Bukan sekedar melarang nonton TV sehabis maghrib, tapi menyuruhnya mengaji. Tak cukup dengan mengaji, dirinya juga diminta Ibunya untuk setor hapalan surat-surat pendek beserta artinya seminggu dua kali. Standar tinggi yang diterapkan Ibunya itu membuat Romo Wage dapat dengan mudah memenuhi standar umum yang berlaku di masyarakat.
^_^
Bagi Romo Wage, pada jaman kiwari ini Aristokrat dapat disamakan dengan elite. Seseorang yang sudah memasuki kelompok elite dalam masyarakat di bidang bisnis, politik, budaya, pendidikan dan bidang lainnya, idealnya menyadari posisinya sebagai elite. Dia adalah segelintir orang yang menjadi contoh bagi masyarakat banyak.
Makanya Romo Wage tak akan banyak komentar saat melihat seorang temannya membuang bungkus permen sembarangan bila dia seorang pegawai biasa di kecamatan, tapi lain halnya bila dilakukan oleh temannya yang jadi camat. Romo Wage pasti akan berusaha untuk menegurnya walaupun secara halus.
Memaki orang lain dengan kata-kata kasar tidak terlalu dipikirkan oleh Romo Wage bila dlakukan seorang pegawai biasa di kampus, tetapi akan membuat Romo Wage geleng-geleng kepala bila dilakukan oleh temannya yang sudah profesor. Romo Wage juga punya pengalaman dahulu saat dia masih kerja di travel, bila punya bos yang suka terlambat maka dirinya juga jadi tak begitu hirau dengan ketentuan jam masuk.
Romo Wage berkesimpulan bahwa semua orang yang berada dalam posisi elite adalah contoh yang akan ditiru, atau bisa dijadikan alasan pembenar oleh orang awam yang melakukan kesalahan serupa.
Persis yang pernah dialaminya. Saat Romo Wage sering main games di warung bakso, dia mendapati para pegawainya juga lebih suka main games dengan HP daripada mencuci mangkok-mangkok bakso bekas pelanggan. Alasannya “si bos saja main mafia war” kok saya gak boleh main games. Saat Romo Wage tidak ramah pada pembeli, dia mendapati anak buahnya ikut-ikutan mengomeli pelanggan yang banyak keinginan saat memesan bakso.
Dengan demikian kesadaran bahwa seseorang merasa dirinya termasuk kelompok elite dalam pandangan Romo Wage tidak berhubungan dengan kesombongan ataupun memandang rendah orang lain. Namun terkait dengan disiplin yang harus dijalaninya sebagai seorang elite. Kesadaran itu terkait dengan spesifikasi dasar untuk menjadi seorang elite.
Label:
bandung citizen journalism
Cara Mitsunari Mengatasi Rasa Kantuknya
Seperti malam-malam sebelumnya Mitsunari kembali keluar kamar karena kantuk tak tertahankan. Jarum jam menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Tugas presentasi kuliah buat besok pagi, serta tumpukan dokumen kantor yang harus dibereskan malam ini telah memaksanya untuk menunda tidurnya. Semua harus beres malam ini. Sialnya matanya tak tahan lagi untuk tidak terpejam.
Maka seperti yang biasa dilakukannya, Mitsunari keluar dari rumahnya sambil menenteng ransel dan berjalan menuju warung tenda yang berada hanya 300 meter dari rumahnya. Warung itu melekat pada pinggiran sebuah taman kecil di tengah pertigaan Jalan Eijkman. Taman berbentuk segitiga dengan panjang sisinya 20 meter itu pada dua sisinya dijejali deretan warung. Satu sisi yang lain berisi mobil-mobil yang diparkir. Mitsunari menuju salah satu warung yang menjadi langganannya.
Warung langganan Mitsunari menjual makanan standar kakilima. Pecel lele, sop kikil, soto ayam, bebek goreng dan ayam goreng. Mitsunari biasa memilih salah satu menu secara bergantian. Namun untuk malam ini yang hanya bertujuan mengusir kantuk, Mitsunari memesan kopi susu plus beberapa potong pisang goreng saja. Dia ngobrol barang 5-10 menit dengan Bapak yang melayani makan, baru kemudian menyingkir ke tempat duduk dari semen yang sekaligus berfungsi sebagai benteng pembatas taman.
Di bawah penerangan sinar lampu taman yang lumayan terang, Mitsunari meneruskan segala tetek bengek tugas kuliah dan kerjaan kantor di situ. Dikeluarkannya laptop dan buku-buku dari dalam tas, kemudian Mitsunari mulai beraksi membereskan tugasnya.
Anehnya saat mengerjakan tugas di warung ini Mitsunari berkurang jauh kantuknya. Mungkin karena pengaruh angin malam, mungkin juga karena obrolan orang-orang di warung yang membuatnya bersemangat mengerjakan tugas karena melihat orang lain juga terjaga. Sesekali diseruputnya kopi dan dicomotnya pisang goreng sebagai selingan. Satu dua kali dia ikutan nyeletuk menimpali obrolan yang tengah berlangsung seru di warung.
Biasanya pengunjung warung secara konstan datang dan pergi silih berganti. Jarang warung sampai kosong. Obrolan di sana pun bervariasi topiknya, tergantung selera pengunjungnya. Mitsunari tak ambil pusing dengan isi obrolan karena pikirannya tertuju paa tugas-tugasnya. Dia menyelesaikan semua tugas kuliah dan dokumen kantornya bersamaan dengan jam tutup warung. Pukul 3 pagi kala penjaga warung beres-beres warungnya, saat itulah biasanya pekerjaan Mitsunari juga sudah selesai.
Label:
cerita manajemen,
cerita pendek,
cerpen
Subscribe to:
Posts (Atom)






