Prediksi ikatan antara peptida dengan molekul MHC kelas I dan II menggunakan bioinformatika


Pada saat kita telah mendapatkan sebuah sekuen protein gen tertentu pada virus dan kita ingin menggunakannya untuk desain vaksin, terlebih dahulu perlu kita lihat apakah pada sekuen protein tersebut terdapat epitop yang dapat dikenali oleh MHC kelas I dan II. Prediksi pengenalan MHC terhadap epitop tersebut diperlukan untuk memperkirakan apakah sekuen protein tersebut dapat memicu timbulnya respon imun.

Jika MHC kelas I dan II diprediksi dapat berikatan dengan peptida-peptida pada sekuen tersebut, maka kita dapat berharap MHC kelas I akan mempresentasikan peptida pada sel T CD8 dan MHC kelas II mempresentasikan peptida kepada sel T CD4. Selanjutnya sel CD8 berubah menjadi CTL untuk membunuh sel-sel yang terinfeksi virus, sedangkan sel T CD4 akan memperkuat respon imun sel-sel imun lainnya. Cara prediksi yang paling praktis adalah menggunakan bioinformatika. 


Prediksi ikatan peptida ke molekul MHC kelas I
Website IEDB (Immuno epitope database analysis) menyediakan layanan prediksi peptida yang berikatan dengan molekul MHC kelas I dan II. Metode prediksi bisa dipilih dari beberapa pilihan yang tersedia, yaitu Artificial neural network (ANN), Average relative binding (ARB), Stabilized matrix method (SMM), SMM with a peptide: MHC binding energy covariance matrix (SMMPMBEC), Scoring matrices derived from combinatorial peptide libraries (Comblib_Sydney2008), Consensus dan NetMHCpan. 1

Respon Imun terhadap Infeksi Virus HIV


Sesaat setelah infeksi virus HIV, viral load (kadar virus) individu yang terinfeksi akan mengalami pertumbuhan secara ekponensial. Puncak dari kurva pertumbuhan tersebut berkaitan dengan respon imun terhadap HIV.  Respon imun terhadap HIV melibatkan antibody maupun sel T  mampu mengontrol jumlah virus HIV, tetapi tidak mengeliminasinya.




 










Gambar 1. Anatomi Virus HIV

Sesaat setelah infeksi,  antigen p24 terdeteksi di dalam serum. Antigen yang bersirkulasi tersebut tiba-tiba menghilang setelah si individu seroconvert, mengembangkan respon antibodi terhadap envelope dan core antigen.  Sebagian besar respon antibodi humoral tidak menargetkan envelope virus dan tidak memiliki efek netralisasi. Antibodi netralisasi menargetkan epitop tertentu di dalam region loop gp120 dan  kompleks prefusi gp4120. Sejumlah kecil antibodi baru muncul setelah tiga hingga enam bulan setelah infeksi dan dalam titer yang rendah.

Sel  T CD8+ (Sitotoksik)
Kelanjutan dari pengenalan antigen virus yang dipresentasikan oleh molekul MHC kelas I, sel T CD8+ berubah menjadi sel CTL yang membunuh sel yang mempresentasikan antigen virus. Kerja CTL dilakukan dengan cara induksi apoptosis dengan melepaskan molekul sitotoksik perforin dan granzyme A/B atau dengan mengaktifkan jalur fast-ligand. Respon CTL yang terdeteksi selama terjadiya infeksi kebanyakan hilang saat peyakit mencapai fase akhir. Respon CTL menghambat replikasi virus dan berperan penting dalam kontrol awal infeksi HIV dan mengendalikan setpoint virus.
 
Sifat kualitatif respon sel T CD8+ oleh setiap individu ditentukan oleh tipe MHC yang dimilikinya. Secara umum respon terfokus pada minggu pertama hingga sebulan setelah infeksi, dan kemudian meluas selama fase asymptomatic, dan akhirnya menurun.   Pada sejumlah individu mampu mengenali berbagai macam epitop. Epitop-epitop tersebut terdapat pada sebagian besar protein yang diekspresikan oleh virus. Tidak semua CD8+ CTL memiliki keefektifan yang sama. Pada individu terinfeksi HIV khususnya yang memiliki kadar virus yang tinggi, CD8+ CTL  tidak didominasi oleh sel memori tetapi oleh sel  efektor yang  memiliki kemampuan replikasi terbatas.

Chicken Stays, Eagle Flies: Kisah Persahabatan Ayam dan Burung Elang


Fly, Eagle, Fly!. Ini adalah kisah persahabatan dua ekor binatang pilihan dari jenisnya yang dibesarkan pada kandang yang sama. Seekor Elang Jawa berbulu keemasan yang gagah perkasa, dan seekor Ayam Betina warna kuning langsat yang ramping, cekatan & rajin bertelur.

Kedua sahabat itu telah memutuskan untuk berkelana bersama meninggalkan kenyamanan tempat kelahiran mereka di tanah pertanian yang membentang sepanjang tepian Kali Opak. Tanah pertanian subur yang menyediakan beras, jagung, cantel dan aneka ikan melimpah tanpa perlu bekerja keras. Kadang-kadang dua sahabat itu main ke Pasar Bantul untuk memakan ceceran gandum yang diabaikan pedagang. Memakan serpihan-serpihan geplak di belakang dapur Mbah Wongso. Terkadang bertandang ke Warung Bakso Bangjo punya Mbak Dewi, si pemiliknya suka memberi mereka tiga butir bakso urat yang gurih. Kini mereka rela meninggalkan semua kenikmatan itu demi keinginan menjelajahi tempat-tempat menakjubkan di seluruh penjuru bumi. 




















Puncak-puncak gunung tertinggi berselimut salju, danau-danau terluas membiru, gurun-gurun pasir yang paling panas, padang salju yang paling putih mulus, hingga tanah-tanah pertanian yang paling hijau di muka bumi adalah impian mereka. Hasrat mengatasi tantangan-tantangan tersulit dalam hidup telah membakar gairah jiwa-jiwa muda yang tengah mekar. Dengan berkelana, jiwa mereka terpuaskan oleh beragam pengalaman. Pun ketrampilan hidup mereka terasah dengan sangat baik oleh tantangan alam. Maklumlah, butuh perjuangan berat untuk setiap suap makanan yang masuk ke perut mereka selama dalam pengembaraan 

Mbah Jumadi, petani tua yang memelihara dua ekor unggas itu sengaja telah melatih keduanya sejak masih bayi. Elang dan Ayam mungil rajin dibawa ke Bukit Selarong untuk dilepaskan agar berlatih terbang turun menuju lembah. Pertamakali dilepaskan dua binatang itu masih takut-takut untuk terbang. Namun seiring berjalannya waktu, mereka semakin lihai menggerakkan sayapnya untuk melayang menyusuri Bukit Selarong hingga ke Bukit Menoreh di Barat, kemudian bergerak ke utara sampai ke puncak Merapi dan Merbabu.

Berkat latihan-latihan berat itu, kini baik Elang ataupun Ayam Betina memiliki kemampuan untuk terbang jauh. Walaupun kemampuan Ayam Betina tidaklah sehebat kemampuan Elang. Saat Elang mulai berani mengendarai topan agar bisa terbang tinggi, Ayam Betina tak pernah melakukannya sendirian.

Elang kecil tumbuh dewasa menjadi penerbang tangguh yang berani terjun ke pusaran topan cleret tahun agar bisa terbang makin tinggi ke angkasa. Semakin besar cleret tahun, semakin tinggi juga Elang akan terhempas ke langit menerobos gumpalan-gumpalan awan. Jiwa petualang yang mekar di dalam dirinya telah membuat syaraf rasa takutnya putus sehingga Elang berani mengendarai inti topan hingga mengangkasa setinggi-tingginya langit tanpa rasa takut. Matanya yang tajam melihat mangsa akan membimbingnya terjun bak meteor menjilat bumi tanpa ragu sedikitpun. Jiwanya yang merindu tantangan membuatnya ingin bebas melangit, mewarnai era-era baru dalam penjelajahan bumi.

Sebaliknya Ayam kecil tumbuh menjadi Ayam Betina yang lebih banyak berada  di halaman rumah. Tubuhnya tidak sekuat Elang dan terbangnya tidak setinggi awan membuatnya perlu bekerja keras saat terbang. Namun tekadnya yang keras untuk berdampingan dengan Elang mengangkasa keliling dunia telah membuatnya berbeda dari ayam biasa. Sesekali Elang harus mencengkeram tubuh Ayam agar tidak jatuh ke bumi karena kelelahan. Juga jika ada topan, maka Elang tidak pernah melepaskan pegangan pada tubuh Ayam agar tidak terhempas ke bumi bersama pusaran topan. 

Namun sekalipun lebih lemah, Ayam memiliki kelebihan dibanding Elang. Dia adalah petelur yang handal dan tidak gampang bosan meskipun harus tinggal di halaman rumah dengan sedikit variasi kegiatan. Dalam pengembaraan pun, Ayam meninggalkan telur-telur yang tak terhitung banyaknya sepanjang perjalanan. Tidak peduli punya atau tidak punya majikan, Ayam selalu menyetor telur-telurnya ke bumi. Setidaknya menurut blog http://duniashinichi.blogspot.com
^_^
  
Sebagai para penjelajah, setiap makanan yang masuk ke perut dua sahabat itu bukan didapat dengan cuma-cuma. Butuh perjuangan yang terkadang teramat berat untuk sesuap makanan. Seperti yang dialami kedua sahabat kala sedang terbang di atas bentangan gurun pasir Kalahari. Tidak ada tumbuhan yang hidup  di sana. Tidak ada air dan tidak ada makanan. Satu-satunya makanan yang ada hanyalah tanaman jagung yang terselip di sebuah mulut gua di puncak gunung batu di tengah gurun pasir itu. 
duniashinichi.blogspot.com

Lelaki Ketiga

Lelaki pertama dan lelaki kedua tidak mengherankan. Shinichi Kudo tahu persis mengapa mereka dipilih menjadi pemimpin oleh anak-anak muda itu. Tapi justru Ihsan ini yang Shinichi nggak tahu mengapa beliau bisa-bisanya dipilih menjadi ketua umum pemuda, dengan suara aklamasi lagi!


















Rasyid si wakil ketua itu pastinya dipilih karena kemampuan komandonya. Rasyid dengan cekatan memimpin anak-anak muda untuk mempersiapkan tempat-tempat berlangsungnya acara porseni antar remaja masjid yang akan digelar para anak muda itu. Dari mulai mempersiapkan lapangan hingga tenda-tenda untuk acara pembukaan, semuanya  dengan cepat dan tuntas diselesaikan Rasyid. Pantaslah dia dipilih menjadi pemimpin. 

Binsar dengan kemampuan persuasifnya yang luar biasa juga layak menjadi pemimpin karena dialah yang menghubungkan panitia porseni dengan para calon peserta, sponsor dan sesepuh masjid di kota ini. Berkat kepandaian Binsar dan timnya lah peserta acara porseni remaja masjid membludak hingga ribuan orang. Arus dana dari sponsor yang berasal dari toko-toko kelontong milik para Haji yang mendominasi Pasar Makmur, nama pasar terbesar di kota itu juga tak terhitung lagi jumlahnya. Sesepuh masjid juga sangat mendukung berkat kepandaian persuasi Binsar. Layaklah dia menjadi pemimpin.

Tapi Ihsan jauh dari kesan seorang yang persuasif ataupun pandai memimpin pekerjaan lapangan. Kemampuannya dalam mengutarakan pendapat biasa saja. Dalam kerjaan lapangan pun dia tidak banyak memberi komando. Rasyidlah yang melakukan. Soal urusan sponsor, Ihsan juga hanya mengurusi sebagian kecil saja. Hanya beberapa toko besar saja yang disambangi Ihsan. Sebagian besar toko lainnya dihubungi oleh Binsar. Demikian juga dengan masjid-masjid yang diundang untuk mengirimkan remajanya berkompetisi dalam porseni. Ihsan tak banyak turun  ke lapangan untuk mengajak mereka bergabung.

Saat Shinichi menanyakan hal itu pada Binsar, anak muda itu tertawa. Dia hanya mengatakan dari dulu juga begitu. Tiga tahun lalu saat kepengurusan organisasi diregenerasi, polanya selalu begitu. Jika ada acara, plotnya Ihsan itu  ketua, kemudian Rasyid urusan lapangan dan Binsar urusan hubungan masyarakat. Gak pernah berubah dan acara yang mereka gelar rata-rata berhasil.

Kemudian Shinichi mencoba bertanya pada Rasyid. Barangkali dia tahu penyebabnya. Sama halnya dengan Binsar, anak muda itu menanggapi dengan tertawa. Dikatakannya pertanyaan yang meragukan kontribusi Ihsan itu bukan diajukan Shinichi saja. Tapi banyak oleh para orang-orang tua. Rata-rata mereka heran bagaimana cara Ihsan memimpin anak-anak muda itu. 

Namun kemudian Rasyid mulai buka kartu. Dia menyebutkan salah satu kelebihan Ihsan dibanding dirinya dan Binsar. Ihsan itu orangnya sangat determinatif. Dia determinasinya sangat tinggi. Begitu tujuan dicanangkan maka dia akan ngotot memperjuangkan hingga berhasil. Akibat semangat yang menyala-nyala itu, para pemuda lain jadi ikut bersemangat memperjuangkannya. Mereka melihat halangan-rintangan sebagai hal yang biasa saja, karena terpengaruh oleh Ihsan yang tidak ragu sedikitpun akan keberhasilan program yang telah dipilih.

Ihsan itu sangat percaya diri atas keputusan yang kita ambil bersama. Dia tidak mengenal menyerah walaupun banyak orang yang meragukan keberhasilan tujuan yang hendak diraih. Jadinya semua anggota tim tidak punya peluang untuk ragu, lalu menetapkan tujuan lain yang lebih mudah dicapai. Biasanya selalu ada saja jalan untuk mencapai tujuan. Selalu ada saja jalan ketiga yang tidak disangka-sangka. Begitulah Rasyid menggambarkan diri Ihsan.

Contoh kuatnya determinasi Ihsan terlihat pada proyek membuat rumah kaca di ara-ara Lohduwur. Itu adalah nama sebuah padang yang cukup luas yang terletak di sebelah selatan kampung. Sebelum ada rumah kaca, tempat itu hanyalah padang yang kering dengan tanah tidak rata, penuh rerumputan bercampur dengan batu-batuan dan sampah yang dibuang orang. 

Kini di tempat itu berdiri deret-deret rumah kaca dengan peruntukan masing-masing. Sebagian ditanami anggrek, sebagian yang lain sayur-sayuran dan sebagian lainnya lagi tanaman hias. Ara-ara Lohduwur pun kini lebih mirip tempat wisata dan kuliner, dibanding tempat pembiakan tanaman, karena lebih banyak orang datang ke sana untuk menikmati keindahan anggrek sambil makan aneka hidangan sayur-sayuran dibanding untuk membeli tanaman.

Dulu saat Ihsan mengusulkan membangun rumah kaca untuk menjadi tempat kegiatan para pemuda, tak banyak yang mendukung. Hanya karena kemauan yang kuat dari Ihsan saja usulannya tetap dijalankan oleh para pemuda walaupun banyak gerutuan sana-sini. Namun dengan bantuan kepintaran Binsar menjelaskan pada para warga, maka terdapat sekelompok warga yang berkecukupan yang tergerak untuk mendanai pembangunan rumah kaca pertama untuk menanam anggrek.

Mengenal MHC Kelas I & MHC Kelas II (HLA Class I & II) serta Penangkapan dan Presentasi Antigen


Apakah MHC itu?. Bagi kita yang sedang belajar imunologi tentu akan bertemu dengan istilah MHC. Awal mula pengetahuan tentang Major Histocompatibility Complex (MHC) / Human Leucocyt Antigen (HLA) adalah dari pengamatan reaksi penolakan jaringan hewan percobaan, kemudian diikuti berkembangnya pengetahuan tentang rejeksi transplan, genetika, respon imun dan komunikasi antar limfosit yang saling berkaitan dalam menentukan sistem respon imun tubuh. Pencangkokan organ tubuh akan mengalami kegagalan bila organ tersebut mengalami rejeksi transplan, ditolak oleh tubuh yang menerima organ karena dianggap benda asing yang harus dilawan dengan respon imun.
 
Molekul permukaan sel yang berperan dalam rejeksi transplan ini disebut molekul histokompatibilitas, gen yang mengkodenya disebut gen histokompatibilitas.  Kemudian namanya ditambah kata Major karena selain MHC ada faktor lain yang berpengaruh terhadap rejeksi walaupun pengaruhnya lebih lemah.  MHC adalah titik pusat dimulainya respon imun.

Puisi Tahun Baru buat Sahabat

Lembaran baru
bukan untuk dirayakan
atau saling beri ucapan
tapi untuk diresapi
semua yang telah terjadi.
Persahabatan kita
membuat kita saling tahu
kata-kata yang paling menyakitkan
perlakuan yang paling mengecewakan
yang bisa saling kita pertukarkan
Tapi kita sahabat sejati duniashinichi
menahan diri dari semua itu
senyumanmu luruhkan ganjalan hati
karena kita saling memahami
yah, kita telah saling mengerti
undil-2012

Puisi Ulang Tahun Sahabat: Belajar Saling Membahagiakan

Kini aku mengerti
perselisihan yang berulangkali
bukan karena kita saling benci
atau pentingkan diri sendiri
tapi karena aku tidak mengenali
hal-hal yang membuatmu bahagiya
duniashinichi.blogspot.com
Sahabat, di hari ulang tahunmu ini
bukalah mata, telinga dan hati  
marilah kita mulai
sediakan waktu untuk pelajari
racikan perilaku sehari-hari
yang paling sempurna
untuk menumbuhkan kebahagiyaan
di antara kita
(undil-2012)
Undil-2012)

Arya Penangsang dan Gerombolan Penyamun Alas Roban

Raden Purwa bersama dua pengawalnya sudah setengah hari menempuh perjalanan pulang dari serangkaian pertemuan dengan para diplomat dan saudagar Kesultanan Demak Bintoro di kota-kota pelabuhan Jepara, Bergotta, Tegal, Pekalongan dan berakhir di Kota Cirebon, kala kudanya tiba-tiba berhenti karena ada belasan orang menghadang di tengah jalan. Raden Purwa kaget dan berusaha keras menenangkan kudanya yang tiba-tiba melonjak-lonjak ingin menjauh dari orang-orang itu. Dua pengawalnya telah menghunus pedang mereka dan siap menghadapi segala kemungkinan.













 
Sesosok tubuh tinggi besar bertelanjang dada, bercelana hitam dengan penampilan garang bercambang awut-awutan nampak berdiri paling depan sambil membawa pedang.  Dari penampilan gerombolan yang ada di belakangnya tahulah Raden Purwo, pastilah mereka gerombolan penyamun pimpinan Codot yang sudah terkenal suka membuat keonaran di Alas Roban. 

Dihitungnya ada empat belas orang yang menghadangnya. Karena dirinya hanya bertiga maka masing-masing akan menghadapi empat sampai lima orang. Bukan masalah besar bagi dirinya, namun para pengawalnya nampaknya akan mengalami kesulitan. Namun Raden Purwa berharap bahwa setelah bertempur beberapa lama akan muncul rombongan saudagar yang pulang dari pertemuan di Cirebon akan membantunya.

Tanpa banyak basa-basi para penyamun itu langsung menyerang Raden Purwa. Bangsawan muda itu dengan gesit meloncat turun dari kudanya sambil memegang tombaknya. Dalam tempo singkat telah terjadilah perkelahian seru diantara mereka. Raden Purwa dikeroyok oleh enam orang termasuk pemimpin penyamun. Sementara dua pengawalnya masing-masing bertempur melawan empat orang. Tidak banyak kesulitan yang dihadapi Raden Purwa dengan tombak panjang ditangannya dia mampu membuat para anak buah perampok putus asa karena tak sanggup mendekati tubuhnya. Sekalipun demikian kepala perampok yang sangat mahir memainkan pedang itu telah beberapakali melukai tubuh Raden Purwa. Keadaan dua pengawalnya lebih parah lagi, mereka terdesak hebat oleh para pengeroyoknya.

^_^

Untunglah di saat-saat genting itu muncul dua orang penunggang kuda di belakang mereka. Seorang pemuda tampan berusia sekitar dua belas tahun menunggang kuda warna hitam dan seorang lagi laki-laki berusia tigapuluhan tahun menunggang kuda warna coklat mengiringi di belakangnya. Ketika sudah dekat dengan arena pertempuran, tiba-tiba saja terdengar teriakan si anak muda.

“Berhenti!!. Hentikan perkelahian kalian!!”

Para penyamun tampak kaget dengan teriakan lantang itu dan melompat menjauhi  Raden Purwa beserta para pengawalnya yang sudah nampak keletihan. Si Ketua Penyamun nampak sangat marah pada perbuatan si anak muda:

“Hai kalian siapa? Berani-beraninya mengganggu Ki Codot Geni,  Si Penguasa Alas Roban!”

Si anak muda tampak tersenyum mendengar kata-kata Ki Codot Geni. Justru orang di sampingnya yang memperkenalkan si anak muda.

“Anak muda ini adalah Arya Penangsang!. Hamba Allah, Pemimpin para Ksatria Jipang. Musuh besar orang-orang Portugis dan Spanyol di lautan!. Pengikut setia para ulama dan tidak pernah ragu membela keadilan & kebenaran!”

Tubuh Raden Purwa tergetar hebat karena sangat terkejut. Rupanya anak muda ini adalah Pangeran muda dari Demak Bintoro yang sangat tersohor kepiawaiannya dalam strategi perang di lautan melawan para penjajah dari Eropa. Umurnya yang baru dua belas tahun membuatnya menjadi calon pemimpin masa depan yang dapat diandalkan Kesultanan Demak Bintoro untuk menjaga lautan Nusantara dari para penjelajah Eropa. Meriam-meriam Ksatria Jipang sangat ditakuti oleh para pelaut Portugis.

Nampak senapan tergantung di punggung anak muda itu, dan sebuah pedang berjuntai di pinggangnya. Kuda berwarna hitam itu pastilah Si Gagak Rimang yang tersohor ketrampilannya di medan tempur. Kemudian ingatannya melayang pada pertemuan yang diikutinya.

Raden Purwa baru ingat bahwa Pangeran ini adalah salah seorang barisan intelektual yang memperingatkan bahaya bagi perekonomian kerajaan-kerajaan di  Nusantara bila sampai terjadi monopoli dagang oleh orang-orang Eropa. Murid andalan Sunan Kudus ini menyerukan pada peserta pertemuan untuk lebih banyak membeli kapal-kapal dagang untuk mengimbangi agresivitas para pedagang dari Eropa. Dia juga sedang mengusahakan hubungan militer yang lebih dekat dengan Ottoman Empire untuk mendapatkan bantuan persenjataan berat berupa meriam-meriam dengan teknologi terbaru guna memperkuat benteng-benteng pertahanan dan kapal-kapal perang Demak Bintoro. 

Kebalikan dengan Raden Purwa yang dengan cepat mengenali ksatria muda belia itu, Ki Codot yang biasa hidup terisolir di hutan-hutan itu tidak pernah mendengar kebesaran nama Arya Penangsang sehingga diam tak bereaksi atas kata-kata yang didengarnya.

Namun seorang  anak buahnya yang nampak berpenampilan sedikit lebih rapi membisikkan sesuatu di telinganya. Sesaat kemudian tampak wajah Codot tegang, namun kemudian dia beberapa kali menelan ludah sambil berusaha untuk tampak tenang. Didorongnya anak buah yang baru saja membisikinya agar menjauh. Rupanya dia tak ingin anak buahnya yang lain terpengaruh akan kebesaran nama Arya Penangsang.

“Kanjeng Pangeran Arya Penangsang! Kata temanku ini kapal-kapal Jung Tuan sanggup menenggelamkan kapal-kapal perang Portugis yang dikenal sangat tangguh. Itu artinya Tuan adalah salah seorang panglima perang paling gagah perkasa di Nusantara! Tapi bagiku keperkasaan Kanjeng Pangeran hanya di lautan. Di Alas Roban ini Tuan harus tunduk pada perintah Ki Codot Geni!”

Berbeda dengan Ki Codot yang berusaha keras agar nampak tenang, para anak buahnya ternyata telah menjadi gelisah. Beberapa orang pengikutnya pernah mendengar nama Pangeran Muda yang kapal-kapal perangnya dikenal memiliki kemampuan memuntahkan bola-bola api untuk menenggelamkan kapal musuh. Mereka sangat takut para Ksatria Jipang akan datang membawa bola-bola api untuk memusnahkan gerombolan penyamun Alas Roban. Sementara Ki Codot yang melihat anak buahnya mulai ketakutan, memutuskan untuk secepatnya membereskan anak muda itu dengan pedangnya.

Melihat Codot mendekati dirinya dengan pedang terhunus, Arya Penangsang dengan sigap meraih senapan di punggungnya bersiap menghadapi Ketua Penyamun. Sejenak kemudian dia membidik sambil berteriak menyuruh Ki Codot untuk menghentikan langkahnya.  Namun Ki Codot justru berlari mendekati kuda Arya Penangsang sambil mengayun-ayunkan pedangnya. Gagak Rimang nampak gelisah siap menendang Ki Codot dengan kaki depannya, namun Arya Penangsang menenangkan dengan menekan punggung kuda perang itu.

DOOOOOR!!!

Terdengar letusan senapan Arya Penangsang yang menembak sambil tetap duduk di atas kudanya. Peluru senapan itu dengan jitu menghantam dada si Ketua Penyamun lima langkah sebelum pedangnya mencapai tubuh Arya Penangsang. Tubuhnya terbanting ke kiri, terguling-guling di tanah, kemudian diam tidak bergerak di atas jalanan yang berdebu.

Para pengikut Ki Codot yang tadinya sudah gelisah menjadi semakin ketakutan melihat nasib yang menimpa bosnya. Mereka buru-buru berlutut memohon ampun pada anak muda dan temannya itu. Mereka baru sekali ini melihat senjata api yang jarang dipergunakan para bangsawan di pedalaman. Mereka merasa tidak ada gunanya lagi melakukan perlawanan.

Kancil Mencuri Timun: Sebuah Cerita Sangat Pendek


Sampai ditengah Alas Cilik, Kancil melihat deretan tumbuhan ketimun bergerombol-gerombol di sebuah lapangan rumput yang luas. Buah timun bergelantungan menerbitkan seleranya. Segeralah dia makan dengan lahap sampai habis belasan timun -- ketika tiba-tiba dilihatnya sesosok orang-orangan berdiri tegak di tengah lapangan.

Didekatinya  orang-orangan  itu dan disentuhnya. Breeeet! Tiba-tiba saja tubuhnya melekat ditarik oleh orang-orangan yang belakangan diketahui sebagai robot penjaga sawah yang bisa membuat tubuh binatang menempel di tubuh robot dengan mengaktifkan medan magnet yang sangat kuat.

“Breng! Aku Robot magnet penjaga sawah. Kamu pasti pencuri timun yang selama ini dicari-cari oleh majikanku!” kata Si Robot

Kancil tertegun sejenak mendengar kata-kata robot itu, tapi kemudian dia cepat-cepat membantah.

“Namaku Kancil. Aku baru pertamakali datang ke sini dan aku bukan pencuri!”

“Breng! Dasar Kancil tukang bohong, sudah tertangkap basah kok masih ngeles!”  

“Dasar Robot gak pernah belajar! Ini timun bukan majikanmu yang tanam! Tumbuhnya juga di tengah hutan, bukan di sawah majikanmu!” kata Si Kancil membela diri

“Breng! Apa buktinya?” duniashinichi.blogspot.com

“Lihat tanaman ini tumbuh tidak teratur. Bergerombol-gerombol pada tempat-tempat terpisah! Itu pertanda bukan ditanam oleh manusia, tapi karena tumbuh dari biji-biji timun yang dimakan oleh binatang hutan!”

“Breng! Coba saya cek di Ensiklopedi Wagenugraha!”

Kemudian Robot sibuk mengecek tentang tanaman timun di Ensiklopedi Wagenugraha yang tersimpan pada hardisk yang tertanam di tubuhnya. Wagenugraha adalah nama seorang profesor ilmu biologi yang berhasil menyusun ensiklopedi yang sangat lengkap tentang tanaman dan hewan. Beberapa saat kemudian Robot telah menemukan hasilnya.

“Breng! Kancil benar! Menurut Ensiklopedi Wagenugraha ini tanaman bukan punya majikanku! Kamu bebas pergi dari sini!”

Robot penjaga melepaskan sang Kancil dari sedotannya. Kancil pun dengan gembira pergi meninggalkan tempat itu (Undil-2012).    

tags: kancil mencuri timun, cerita anak,wagenugraha

Puisi Ulang Tahun: Met Ultah Aja

Aku nggak ngerti harus bilang apa
yang kutahu dirimu nggak suka
ulang tahunmu digembar gemborin
Bagimu bertambahnya usia
terlalu sedih untuk dirayakan
sampai keinginanmu itu tercapai
Met ultah aja yah
tenang aja aku gak bilang sapa-sapa
smoga Allah makin sayang sama kamu
undil-2012

Puisi Cinta Basa Jawa tentang Asmara yang Membara: Geguritan Asmaradana

Kabeh dongeng
lelakon awake dhewe
embuh iku apa jenenge
sakjane saukur rasa sing ndadra
amarga saka kulina
Tan perlu diagul-agulke
uga ora sah ngangsa
pasrah lan sumeleh
ben kabeh mlaku kaya sakmesthine
undil-2012

Romo Gatu dan Penduduk Desa yang Mendadak Berkecukupan


Saat Romo Gatu datang di desa Kebon Agung, kebanyakan masyarakat di sana masih merasa dirinya miskin dan terbelakang dibanding orang-orang kota. Mereka juga minder kepada orang-orang desa yang merantau ke kota. Banyak juga pemuda Kebon Agung yang merantau ke kota menjadi  tukang bangunan, buruh pabrik hingga membuka warung kakilima.

Saat pulang ke kampung rata-rata para perantau membawa motor keluaran terbaru dan tak lupa menggenggam smartphone sehingga mengundang decak kagum tetangga-tetangganya. Kaum muda banyak yang kemudian tertarik merantau ke kota sehingga beberapa kebun dan sawah milik warga desa mulai terlantar karena tidak ada yang menggarap.

Namun kini semua sudah berubah drastis. Warga desa tidak lagi merasa dirinya lebih miskin dibanding orang-orang kota. Mereka tidak lagi merasa terbelakang dibanding rekan-rekan mereka yang merantau ke kota.  Mereka merasa hidup mereka berkecukupan dan bahkan layak disebut kaya. Itu semua karena Romo Gatu berhasil merubah cara pandang mereka tentang kekayaan. Tentang hal-hal yang dibutuhkan dan cara membedakan dengan hal-hal yang diinginkan.

Lewat pengajian mingguan tafsir Al Quran yang diasuhnya, Romo Gatu selalu berusaha menumbuhkan kesadaran bahwa penduduk desa ini adalah orang-orang yang berkecukupan, cukup maju dan tidak perlu minder dengan warga kota. Mereka tidak perlu mengikuti gaya hidup teman-teman mereka yang pindah ke kota yang memiliki begitu banyak barang-barang untuk melengkapi hidup mereka. Cukuplah dengan apa yang ada.  Mereka tidak miskin jika tidak mengukur diri dengan kepemilikan barang-barang seperti orang kota.

Semua penduduk desa Kebon Agung memiliki rumah, memiliki kebun, memiliki sawah, memiliki kendaraan walaupun mungkin hanya berupa sepeda onthel. Mereka juga cukup makan karena lumbung-lumbung padi mereka bahkan bisa untuk makan selama dua tahun. Sayur mayur, telur, daging ayam, dan ikan bisa diambil dari kebun mereka.

Pakaian murah bisa mereka dapatkan di pasar desa, demikian juga sepatu, dan alat-alat rumah tangga. Meja kursi juga bisa dibeli dengan harga murah di pasar. Jika uangnya mepet para tukang kayu juga dengan senang hati membuat meja dan kursi dengan bahan kayu dari pepohonan yang ada di kebun penduduk. Jadi tak ada yang perlu  diresahkan tentang pemenuhan kebutuhan sehari-hari.

Romo Gatu sering membanding-bandingkan penduduk desa dengan teman-teman mereka yang merantau ke kota. Walaupun pada saat pulang mereka membawa motor, ternyata di kota mereka belum memiliki rumah alias masih mengontrak. Ada satu dua yang memiliki rumah itu-pun mereka harus mencicil pembayarannya selama sepuluh tahun.   Mungkin mereka memiliki tv flat dan AC, tapi penduduk desa cukup puas dengan tv tabung dan angin semilir yang tak kalah sejuk dari AC.  Jika dilihat dari sisi kecukupan kebutuhan perumahan, maka para perantau itu lebih miskin dibanding para penduduk desa.