Warung soto daging di pertigaan nan ramai itu adalah
langganan Shinichi Kudo. Kuahnya gurih tanpa santan, dagingnya banyak dan empuk, serta pelayanannya cepat. Paling
tidak seminggu sekali Shinichi jajan di situ. Namun itu dulu. Dua tahun yang
lalu Shinichi berhenti makan di sana.
Cerita pendek ringan bernuansa psikologi dan manajemen untuk teman minum teh
Horor di Warung Kucingan
Inilah
pengalaman mendebarkan Shinichi Kudo sehabis sholat jumat. Waktu itu Shinichi
mampir ke sebuah warung kakilima di belakang masjid yang menyuguhkan aneka
masakan rumah. Ditelitinya isi lemari kaca tempat memajang aneka lauk pauk.
Seperti biasa Shinichi dengan cepat menyebutkan pesanan makanannya yang kali
ini berupa nasi, tempe goreng 2 buah, opor paha ayam, sate telur puyuh, sayur
kacang dan empal goreng satu buah, ditambah minum teh botol.
Ketika
Shinichi sedang menikmati makanannya berturut-turut muncul beberapa orang masuk ke dalam warung untuk makan.
Seorang tukang parkir di masjid. Disusul seorang tua yang sering memijat para
pengunjung masjid, dan kemudian tiga orang yang tampaknya rombongan pedagang
keliling yang sedang beristirahat untuk makan. Semua orang itu memesan makanan
yang sama dengan Shinichi, namun tanpa opor ayam, sate telur puyuh dan empal
goreng. Mereka masing-masing memesan nasi, sayur, ditambah satu buah lauk, antara
tempe atau tahu.
Label:
bandung citizen journalism
Paino dan para perampas kebahagiaan yang tidak disadari
Keresahan
mulai muncul di RW Paino, tatkala tetangga baru di ujung jalan masuk ke RW, membuka arena permainan games merangkap
warnet. Banyak anak-anak yang tadinya masih bisa disuruh mengaji, dan belajar
sehabis maghrib, menjadi membandel. Mereka memilih berkumpul di arena permainan
itu, dari mulai pulang sekolah hingga larut malam. Pokoknya hari-hari mereka dihabiskan
nongkrong di sana.
Awalnya
Ketua RW Paino mengabaikan protes dari warga. Dia menganggap bahwa si tetangga baru
bebas-bebas saja membuka usaha sepanjang tidak merugikan warga lain. Urusan
anak warga jadi demen nongkrong di sana, itu urusan orang tuanya. Seharusnya
mereka bisa mendidik anak mereka dengan baik, sehingga tidak tergoda untuk main
games sepanjang hari. Bukan saatnya lagi
main larang melarang. Sekarang jamannya demokrasi, jaman bebas. Setiap orang
bertanggung jawab menjaga diri sendiri
dan keluarganya. Bukan lagi mengandalkan aturan larangan ini dan itu.
Namun
pandangan Paino berubah 180 derajad setelah dia mendapat laporan prestasi sekolah
anak-anak kampung merosot. Ditambah lagi
tidak ada lagi kegiatan olah raga yang aktif. Jika dulu kampung ini dikenal
sebagai jagonya basket dan volley, kini klubnya pun telah bubar. Belakangan ini
malahan anak-anak muda mulai susah diminta menjadi panitia kegiatan RW.
Label:
bandung citizen journalism
Shinichi, Masjid Jami di dekat Mal dan Kotak Amal Masjid
Ketika pertamakali gabung dengan pengurus Masjid Jami itu
yang terpikir oleh Shinichi adalah pengaruh dakwah masjid itu belum optimal. Masjid
Jami terletak di sebuah ruas jalan di pusat kota, berdekatan dengan beberapa
mal dan pusat perbelanjaan yang secara rutin menyedot publik untuk berkunjung.
Fasilitas mal yang nyaman untuk berekreasi, refreshing, belanja, dan rajin mengadakan
acara-acara pengasah kreativitas anak, telah membuat Mal itu selalu penuh.
Maka hal pertama yang dilakukan Shinichi adalah mengajak pengurus
lama berkunjung ke Manajer Mal, dan memperkenalkan diri mereka sebagai pengurus
Masjid Jami. Sambutan Manajer Mal sangat ramah, sementara Shinichi berusaha
menyampaikan maksudnya. Awalnya Manajer Mal menyangka Shinichi hendak minta
partisipasi pendanaan kegiatan masjid atau minta ijin menaruh kotak amal di
dalam Mal. Namun Shinichi menegaskan kunjungannya bukan untuk itu.
Masjid Jami punya buletin yang ditujukan untuk para remaja dan
terbit setiap hari Jumat. Selama buletin yang dikelola Remaja Masjid ini hanya dikonsumsi oleh para jamaah Sholat Jumat. Nah, Shinichi ingin pihak Mal memberi
kesempatan Shinichi menaruh buletin Jumat itu pada beberapa titik strategis di
Mal, yaitu di dekat pintu masuk, desk informasi, kasir swalayan, dan di kasir
pusat makanan jajanan. Namun Shinichi
tidak puas dengan hal itu saja.
Shinichi juga tertarik dengan ruang terbuka di tengah Mal
yang selama ini sering digunakan untuk pameran atau pertunjukan musik. Shinichi
ingin menggunakan tempat itu untuk menggelar sebuah acara yang tadinya akan diselenggarakan di Gedung
Pertemuan.
^_^
Manajer Mal sedikit kaget dengan permintaan Shinichi. Permintaan
ini lain dari biasanya. Diam-diam dia mengakui bahwa dampak permintaan ini jauh
lebih besar bagi Masjid Jami dibanding jika dirinya hanya memberi sumbangan
berupa uang. Ini dampaknya adalah dakwah Masjid Jami akan mengalir ke
pengunjung Mal yang setiap hari jumlahnya ribuan, jauh lebih banyak daripada
pengunjung Masjid Jami. Kini mereka akan dijangkau oleh pengurus Masjid dengan materi-materi
dakwahnya. Apalagi menurut pengamatan Manajer Mal yang rajin bertandang kepada
pengelola fasilitas umum di sekitar Mal, buletin itu selalu tampil colorful dan isinya menarik.
Permintaan pertama Shinichi dapat langsung diluluskan. Namun per
mintaan kedua masih memerlukan pengkajian. Ada hal-hal yang perlu dia bicarakan dengan
owner mal sebelum menerima usulan kedua. Itu pun dengan catatan acara tidak digelar
pada hari prime time seperti hari Sabtu dan Minggu, dimana lokasi ruang terbuka
telah banyak dibooking orang.
Ketika Shinichi mengatakan dirinya bakalan menggelar malam konsultasi
keluarga dengan menyediakan aneka ragam konsultan dari para aktifis masjid baik tua maupun muda yang
memiliki pengetahuan dan pengalaman tentang keluarga dari sisi psikologi dan agama, Si Manajer Mal buru-buru menelpon owner.
Beberapa saat kemudian dia menyatakan setuju untuk menyediakan tempat buat
acara yang akan digelar Shinichi. Acara seperti itu akan menjadi nilai tambah yang
luar biasa bagi Mal yang dikelolanya (Undil-2013)
Label:
bandung citizen journalism
Balada Belanja dengan Reza
Ini adalah pertamakalinya Shinichi Kudo belanja ke Swalayan
dengan Reza, keponakannya yang berusia 4 tahun. Seperti biasa, Shinichi
langsung menuju rak makanan ringan untuk mencari snack-snack ringan
kegemarannya. Ketika Shinichi mulai mengambil snack-snack yang berada di atas
rak dan memasukkan ke kereta dorong, tiba-tiba Reza memprotesnya.
"Wah, jangan beli itu. Aku gak boleh makan itu oleh Mama"
kata Reza sambil mengembalikan sebagian makanan yang diambil Shinichi ke
raknya.
Label:
bandung citizen journalism
Dongeng Kancil dan Tikus Clurut
Adalah Tikus Clurut datang mengadu pada Sang Kancil karena merasa dimusuhi Mbok Prisca Larasati Satriavi, juragan muda belia pemilik warung makan di pinggir hutan. Si tikus wadul pada Kancil bahwa beberapa kali dirinya dikejar-kejar Mbok Prisca karena dianggap mengotori warung makan dan mengganggu pelanggan.
Berhubung harga makanannya yang mahal, dagangan Mbok Prisca memang hanya dibeli para wisatawan dari kota yang hendak berkemah di padang rumput terbuka di sisi hutan. Pemandangan alam yang indah, dan keluarnya aneka ragam binatang hutan untuk mencari makan di padang rumput adalah pemandangan yang dicari-cari wisatawan.
Berhubung harga makanannya yang mahal, dagangan Mbok Prisca memang hanya dibeli para wisatawan dari kota yang hendak berkemah di padang rumput terbuka di sisi hutan. Pemandangan alam yang indah, dan keluarnya aneka ragam binatang hutan untuk mencari makan di padang rumput adalah pemandangan yang dicari-cari wisatawan.
Warung Mbok Prisca hanya ramai di saat liburan saja. Pada hari-hari biasa hanya ada beberapa pengunjung saja. Karenanya pada saat hari-hari biasa lulusan Sekolah Kuliner di Bandung itu tidak begitu hirau dengan kehadiran Tikus Clurut mencari makan di sekitar warungnya. Namun begitu musim liburan, Si Mbok Prisca tiba-tiba menjadi galak setengah mati pada Tikus Clurut. Itulah yang dikeluhkan pada si Kancil
Label:
cerita anak,
dongeng sang kancil
Horor kala Tabrak Pintu Kaca
Suatu
siang yang sibuk kala Shinichi Kudo buru-buru keluar dari Gedung Office
tiba-tiba langkahnya terhenti karena kepalanya, disusul dada dan kakinya
menabrak pintu kaca. "Bruuuk" suara berdentum kala tubuh Shinichi
yang bergerak cepat menghantam pintu kaca yang merupakan jalan keluar dari
gedung. Beberapa orang yang melihatnya menjerit melihat hal itu, dan membuat Shinichi gugup.
Nasib barang Rifka
Rifka akhirnya angkat tangan dan menyerahkan kepada adiknya untuk membereskan barang-barang yang ada di kosnya. Bukan untuk merapikan, tetapi menyingkirkan barang-barang tak terpakai yang telah memenuhi kamar kos ukuran 4 x 5 meter itu. Awalnya Rifka berniat pindah kost ke kamar yang lebih besar, tapi kata adiknya percuma. Kamar kost yang lebih besar pun akan segera penuh jika kebiasaan Rifka menumpuk barang-barang yang tidak terpakai masih diteruskan.
Label:
bandung citizen journalism
Kisah Kehancuran RW 14
Sepeninggal Pak Mujahidin, kondisi RW 14 berubah. Semuanya kacau balau. Sebelumnya hampir semua urusan dibereskan oleh pensiunan direktur sebuah pabrik sandal jepit itu. Dari mulai mengkoordinir satpam & petugas kebersihan, menagih iuran bulanan warga, hingga memperingatkan warga dan tamu yang dianggap mengganggu ketertiban. Banyak warga yang menyimpan kedongkolan pada Pak Mujahidin yang dianggap lebay karena terlalu tertib, teratur dan juga rajin menagih iuran. Namun mereka rata-rata tidak berani mengungkapkan karena sebagai sesepuh dia sangat dihormati.
Label:
bandung citizen journalism
Peran Penting Orang Tua dalam Ujian Nasional
Apa sih peran penting orang tua dalam Ujian Nasional?
Salah satu yang paling penting adalah tidak menonton TV pada saat anak sedang mempersiapkan ujian nasional. Biarlah anak berkonsentrasi dalam belajar tanpa terganggu magnet acara-acara TV.
Wagenugraha dan Professionals Day di Sekolah Terpencil
Untuk kesekian kalinya Randy Abdurrahman mendatangi Wagenugraha untuk mendapatkan ide pengembangan sekolah di desanya yang berada di pelosok Subang. Madrasah Ibtidaiyah & Madrasah Tsanawiyah atau setingkat SD & SMP yang merupakan almamater Randy itu butuh terobosan-terobosan baru agar mampu bertahan hidup dan menarik siswa baru dari orang-orang kampung yang kebanyakan dari kalangan tidak mampu agar bersedia mengirimkan anaknya bersekolah. Tujuan lainnya adalah Randy ingin madrasahnya tidak jauh ketinggalan dari sekolah-sekolah yang ada di kota.
Ekstrakrikuler yang ada di madrasah relatif sudah lengkap, mulai dari komputer, menjahit, cooking class, elektronika, hingga pelajaran kumon yang diberikan secara gratis oleh beberapa sukarelawan dari Kota Subang. Namun semua itu belum memuaskan bagi Randy, karena dia merasa belum ada suatu pelajaran atau acara yang akan mengarahkan anak-anak kampung itu menuju masa depan yang sesuai dengan jiwa mereka. Randy ingin anak-anak itu mendapatkan gambaran tentang pilihan-pilihan masa depan sekaligus mendapat suntikan semangat yang akan membuat mereka tabah menghadapi semua masalah dalam usaha mewujudkan cita-cita mereka.
Sudah seminggu Wagenugraha siang malam memikirkan cara untuk membantu Randy mewujudkan cita-citanya. Dan "Tinggggggg......" tiba-tiba pada hari kedelapan Wagenugraha mendapatkan suatu ide yang diyakininya akan mampu membantu anak-anak kampung untuk menentukan pilihan masa depannya. Sebuah acara yang akan memperkenalkan murid-murid madrasah dengan beranekaragam profesi yang dapat mereka geluti kala mereka dewasa nanti.
Label:
cerita manajemen,
cerita pendek,
cerpen,
pengembangan diri
Wagenugraha, Jalan Mulus dan Bisnis Tanaman Hias
Long
weekend kali ini dimanfaatkan Wagenugraha untuk berkunjung ke rumah sepupunya di sebuah kampung di kaki gunung
pedalaman Cianjur. Selama di perjalanan, Wagenugraha mendapati jalan
raya dari kota kabupaten ke kampung telah teraspal mulus. Jembatan yang
kokoh membentang di atas sungai-sungai yang mengalir di sepanjang jalan.
Jalan
raya dan jembatan ini juga akan memudahkan transportasi dari Bogor,
Sukabumi, Purwakarta dan kota-kota lainnya menuju kampung sepupunya.
Angkutan umum pun telah mulai tumbuh dan menjangkau ke kampung-kampung,
termasuk kampung tempat saudaranya tinggal. http://duniashinichi.blogspot.com
htt
p://duniashinichi.blogspot.com
htt
p://duniashinichi.blogspot.com
Namun ada satu hal yang mengherankan bagi Wagenugraha. Meskipun jalanan telah mulus dan angkutan umum mulai tersedia, tenyata tidak berdampak besar terhadap perekonomian warga. Sepupunya dan tetangga-tetangganya masih berbisnis tanaman hias kecil-kecilan di kebun belakang rumah mereka yang luas. Setiap bulan ada pedagang dari kota yang datang untuk mengambil tanaman untuk dipasarkan ke kota Cianjur dan sekitarnya. Omzetnya tidak seberapa besar, hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari.
Label:
cerita manajemen
Subscribe to:
Posts (Atom)


