Menunggu Godot

Tahun ini Juned membeli 2 ekor kambing korban. Satu untuk masjid di dekat rumahnya, satu lagi untuk disembelih di kampung halaman temannya, di pelosok pedesaan di Subang. Untuk kambing yang di Subang, Juned memilih kambing yang terbesar yang ada di sana, harganya relatif lebih murah karena langsung beli pada peternak. Untuk yang Masjid di dekat rumahnya, Juned memilih kambing ukuran sedang karena rada susah cari yang besar.

Juned menitipkan pengurusan kambing pada temannya di Subang. Untuk yang di dekat rumah, Juned menitip pada Bibi yang biasa membersihkan rumahnya. Kebetulan dia tinggal tak jauh dari rumah Juned. Sebenarnya hal serupa telah dilakukan Juned tahun lalu. Waktu itu dia menitipkan pengurusan hewan kurban pada Si Bibi dan temannya. Tahun lalu sehabis dhuhur Juned sudah bisa menikmati gule dan sate kambing masakan si Bibi.

Tante Warung depan Rumah Adelia

Warung depan kontrakan Adelia sebenarnya masakannya enak, tempatnya bersih, walaupun harganya agak mahal. Namun Adelia jarang makan di sana. Gara-garanya gadis yang baru dua tahun yang lalu lulus kuliah itu setiapkali datang ke sana dipanggil Ibu sama pemilik warung. Padahal taksiran Adelia, umur pemilik warung lima tahun lebih tua darinya. Menurut Adelia tidak ada alasan si pemilik warung memanggilnya Ibu. Makanya dia males datang ke situ.



















Pernah suatu ketika Adelia yang biasa memanggil teteh, merubah panggilannya menjadi tante pada pemilik warung. Akibatnya si pemilik warung protes, dan mengatakan jangan panggil dirinya tante, karena dia belum tua. Tentu saja Adelia tertawa dalam hati. Dirinya saja dipanggil Ibu. Si pemilik warung yang memang lebih tua dari dirinya bolehlah dipangggil tante, walaupun dia belum setua tante Adelia yang di Jakarta.

Anugrah yang tidak disadari

"Wah enak yah, kamu kerjanya di Bandung. Makanan enak ada di mana-mana. Kelak kalo mau nyekolahin anak juga gampang nyari sekolah yang bagus" kata Latri pada Shizuka ketika mereka bertemu di sebuah pesta pernikahan temannya.

Latri mengatakan berbeda dengan dirinya yang bekerja di pabrik petrokimia di sebuah pulau kecil di Sumatera, kesempatan menikmati makanan enak sangat sedikit. Paling jika sedang berkunjung ke Pakanbaru atau ke Medan. Lebih leluasa jika sedang ke Bandung seperti saat ini. Pada hari-hari biasa, bisa wisata kuliner paa saat makan siang adalah impian di siang bolong. Tidak bakal terwujud karena tidak ada restoran yang eksis di sekitar pabrik.  Jadi makannya yah ke kantin lagi, apa-apa kalo soal perut yah ke kantin lagi.

Mengapa Shinichi berhenti langganan Soto


Warung soto daging di pertigaan nan ramai itu adalah langganan Shinichi Kudo. Kuahnya gurih tanpa santan, dagingnya banyak  dan empuk, serta pelayanannya cepat. Paling tidak seminggu sekali Shinichi jajan di situ. Namun itu dulu. Dua tahun yang lalu Shinichi berhenti makan di sana.
 

Horor di Warung Kucingan

Inilah pengalaman mendebarkan Shinichi Kudo sehabis sholat jumat. Waktu itu Shinichi mampir ke sebuah warung kakilima di belakang masjid yang menyuguhkan aneka masakan rumah. Ditelitinya isi lemari kaca tempat memajang aneka lauk pauk. Seperti biasa Shinichi dengan cepat menyebutkan pesanan makanannya yang kali ini berupa nasi, tempe goreng 2 buah, opor paha ayam, sate telur puyuh, sayur kacang dan empal goreng satu buah, ditambah minum teh botol.

Ketika Shinichi sedang menikmati makanannya berturut-turut muncul  beberapa orang masuk ke dalam warung untuk makan. Seorang tukang parkir di masjid. Disusul seorang tua yang sering memijat para pengunjung masjid, dan kemudian tiga orang yang tampaknya rombongan pedagang keliling yang sedang beristirahat untuk makan. Semua orang itu memesan makanan yang sama dengan Shinichi, namun tanpa opor ayam, sate telur puyuh dan empal goreng. Mereka masing-masing memesan nasi, sayur, ditambah satu buah lauk, antara tempe atau tahu.

Paino dan para perampas kebahagiaan yang tidak disadari


Keresahan mulai muncul di RW Paino, tatkala tetangga baru di ujung jalan masuk ke RW, membuka arena permainan games merangkap warnet. Banyak anak-anak yang tadinya masih bisa disuruh mengaji, dan belajar sehabis maghrib, menjadi membandel. Mereka memilih berkumpul di arena permainan itu, dari mulai pulang sekolah hingga larut malam. Pokoknya hari-hari mereka dihabiskan nongkrong di sana.

Awalnya Ketua RW Paino mengabaikan protes dari warga. Dia menganggap bahwa si tetangga baru bebas-bebas saja membuka usaha sepanjang tidak merugikan warga lain. Urusan anak warga jadi demen nongkrong di sana, itu urusan orang tuanya. Seharusnya mereka bisa mendidik anak mereka dengan baik, sehingga tidak tergoda untuk main games sepanjang hari.  Bukan saatnya lagi main larang melarang. Sekarang jamannya demokrasi, jaman bebas. Setiap orang bertanggung jawab menjaga  diri sendiri dan keluarganya. Bukan lagi mengandalkan aturan larangan ini dan itu.

Namun pandangan Paino berubah 180 derajad setelah dia mendapat laporan prestasi sekolah anak-anak kampung merosot.  Ditambah lagi tidak ada lagi kegiatan olah raga yang aktif. Jika dulu kampung ini dikenal sebagai jagonya basket dan volley, kini klubnya pun telah bubar. Belakangan ini malahan anak-anak muda mulai susah diminta menjadi panitia kegiatan RW. 

Shinichi, Masjid Jami di dekat Mal dan Kotak Amal Masjid

Ketika pertamakali gabung dengan pengurus Masjid Jami itu yang terpikir oleh Shinichi adalah pengaruh dakwah masjid itu belum optimal. Masjid Jami terletak di sebuah ruas jalan di pusat kota, berdekatan dengan beberapa mal dan pusat perbelanjaan yang secara rutin menyedot publik untuk berkunjung. Fasilitas mal yang nyaman untuk berekreasi, refreshing, belanja, dan rajin mengadakan acara-acara pengasah kreativitas anak, telah membuat Mal itu selalu penuh. 


Maka hal pertama yang dilakukan Shinichi adalah mengajak pengurus lama berkunjung ke Manajer Mal, dan memperkenalkan diri mereka sebagai pengurus Masjid Jami. Sambutan Manajer Mal sangat ramah, sementara Shinichi berusaha menyampaikan maksudnya. Awalnya Manajer Mal menyangka Shinichi hendak minta partisipasi pendanaan kegiatan masjid atau minta ijin menaruh kotak amal di dalam Mal. Namun Shinichi menegaskan kunjungannya bukan untuk itu. 


Masjid Jami punya buletin yang ditujukan untuk para remaja dan terbit setiap hari Jumat. Selama buletin yang dikelola Remaja Masjid ini hanya dikonsumsi  oleh para jamaah Sholat Jumat.  Nah, Shinichi ingin pihak Mal memberi kesempatan Shinichi menaruh buletin Jumat itu pada beberapa titik strategis di Mal, yaitu di dekat pintu masuk, desk informasi, kasir swalayan, dan di kasir pusat makanan jajanan.  Namun Shinichi tidak puas dengan hal itu saja.


Shinichi juga tertarik dengan ruang terbuka di tengah Mal yang selama ini sering digunakan untuk pameran atau pertunjukan musik. Shinichi ingin menggunakan tempat itu untuk menggelar sebuah acara yang  tadinya akan diselenggarakan di Gedung Pertemuan.


^_^


Manajer Mal sedikit kaget dengan permintaan Shinichi. Permintaan ini lain dari biasanya. Diam-diam dia mengakui bahwa dampak permintaan ini jauh lebih besar bagi Masjid Jami dibanding jika dirinya hanya memberi sumbangan berupa uang. Ini dampaknya adalah dakwah Masjid Jami akan mengalir ke pengunjung Mal yang setiap hari jumlahnya ribuan, jauh lebih banyak daripada pengunjung Masjid Jami. Kini mereka akan dijangkau oleh pengurus Masjid dengan materi-materi dakwahnya. Apalagi menurut pengamatan Manajer Mal yang rajin bertandang kepada pengelola fasilitas umum di sekitar Mal, buletin itu selalu tampil colorful dan isinya menarik.


Permintaan pertama Shinichi dapat langsung diluluskan. Namun per mintaan kedua masih memerlukan pengkajian.  Ada hal-hal yang perlu dia bicarakan dengan owner mal sebelum menerima usulan kedua. Itu pun dengan catatan acara tidak digelar pada hari prime time seperti hari Sabtu dan Minggu, dimana lokasi ruang terbuka telah banyak dibooking orang.


Ketika Shinichi mengatakan dirinya bakalan menggelar malam konsultasi keluarga dengan menyediakan aneka ragam konsultan dari  para aktifis masjid baik tua maupun muda yang memiliki pengetahuan dan pengalaman tentang keluarga dari sisi psikologi dan agama,  Si Manajer Mal buru-buru menelpon owner. Beberapa saat kemudian dia menyatakan setuju untuk menyediakan tempat buat acara yang akan digelar Shinichi. Acara seperti itu akan menjadi nilai tambah yang luar biasa bagi Mal yang dikelolanya (Undil-2013)

Balada Belanja dengan Reza

Ini adalah pertamakalinya Shinichi Kudo belanja ke Swalayan dengan Reza, keponakannya yang berusia 4 tahun. Seperti biasa, Shinichi langsung menuju rak makanan ringan untuk mencari snack-snack ringan kegemarannya. Ketika Shinichi mulai mengambil snack-snack yang berada di atas rak dan memasukkan ke kereta dorong, tiba-tiba Reza memprotesnya.

"Wah, jangan beli itu. Aku gak boleh makan itu oleh Mama" kata Reza sambil mengembalikan sebagian makanan yang diambil Shinichi ke raknya. 

Dongeng Kancil dan Tikus Clurut

Adalah Tikus Clurut datang mengadu pada Sang Kancil karena merasa dimusuhi Mbok Prisca Larasati Satriavi, juragan muda belia pemilik warung makan di pinggir hutan. Si tikus wadul pada Kancil bahwa beberapa kali dirinya dikejar-kejar Mbok Prisca karena dianggap mengotori warung makan dan mengganggu pelanggan. 

Berhubung harga makanannya yang mahal, dagangan Mbok Prisca memang hanya dibeli para wisatawan dari kota yang hendak berkemah di padang rumput terbuka di sisi hutan. Pemandangan alam yang indah, dan keluarnya aneka ragam binatang hutan untuk mencari makan di padang rumput adalah pemandangan yang dicari-cari wisatawan.

Warung Mbok Prisca hanya ramai di saat liburan saja. Pada hari-hari biasa hanya ada beberapa pengunjung saja. Karenanya pada saat hari-hari biasa lulusan Sekolah Kuliner di Bandung itu tidak begitu hirau dengan kehadiran Tikus Clurut mencari makan di sekitar warungnya. Namun begitu musim liburan, Si Mbok Prisca tiba-tiba menjadi galak setengah mati pada Tikus Clurut. Itulah yang dikeluhkan pada si Kancil

Horor kala Tabrak Pintu Kaca

Suatu siang yang sibuk kala Shinichi Kudo buru-buru keluar dari Gedung Office tiba-tiba langkahnya terhenti karena kepalanya, disusul dada dan kakinya menabrak pintu kaca. "Bruuuk" suara berdentum kala tubuh Shinichi yang bergerak cepat menghantam pintu kaca yang merupakan jalan keluar dari gedung. Beberapa orang yang melihatnya menjerit melihat hal itu, dan membuat Shinichi gugup.

Nasib barang Rifka


Rifka akhirnya angkat tangan dan menyerahkan kepada adiknya untuk membereskan barang-barang yang ada di kosnya. Bukan untuk merapikan, tetapi menyingkirkan barang-barang tak terpakai yang telah memenuhi kamar kos ukuran 4 x 5 meter itu. Awalnya Rifka berniat pindah kost ke kamar yang lebih besar, tapi kata adiknya percuma. Kamar kost yang lebih besar pun akan segera penuh jika kebiasaan Rifka menumpuk barang-barang yang tidak terpakai masih diteruskan.



















 

Kisah Kehancuran RW 14

Sepeninggal Pak Mujahidin, kondisi RW 14 berubah. Semuanya kacau balau. Sebelumnya hampir semua urusan dibereskan oleh pensiunan direktur sebuah pabrik sandal jepit itu. Dari mulai mengkoordinir satpam & petugas kebersihan, menagih iuran bulanan warga, hingga memperingatkan warga dan tamu yang dianggap mengganggu ketertiban. Banyak warga yang menyimpan kedongkolan pada Pak Mujahidin yang dianggap lebay karena terlalu tertib, teratur dan juga rajin menagih iuran. Namun mereka rata-rata tidak berani mengungkapkan karena sebagai sesepuh dia sangat dihormati.