Resensi Film: The Bridge to Terabithia, Jangan Letakkan Semua Telur Pada Satu Keranjang

Jess seorang anak laki-laki umur 11 tahun hidupnya tiba-tiba berubah setelah kedatangan Leslie, seorang anak perempuan tetangga barunya yang juga teman sekelas. Bersama Leslie, Jess menjelajah sebuah hutan di dekat rumahnya. Di hutan itu keduanya menciptakan sebuah dunia baru dalam khayalan. Mereka bermain sebagai Raja dan Ratu yang tinggal di Negeri Terabithia. Sebuah negeri ajaib dengan tokoh-tokoh ajaib yang tinggal didalamnya.



Rumah pohon, raksasa troll, burung-burung ganas, serangga petarung dan tupai-tupai penyerang. Mereka juga tiba-tiba dapat melompat tinggi, berlari secepat angin dan bertarung dengan moster. Sebuah dunia petualangan yang membuat kedua anak ketagihan untuk terus bermain ke hutan itu sepulang sekolah.

Hutan itu membuat mereka hidup di dua dunia. Dunia kenyataan yaitu sekolah & rumah, serta dunia impian Terabithia. Jess mendapat “buffer” kehidupan nyatanya sebagai anak petani dengan anggota keluarga yang gemar menonton TV -- di Terabithia. Leslie si anak baru yang kesepian mendapat dunia yang riang di Terabithia. Sebuah dunia penyangga yang membuat mereka tidak “hancur” bila salah satu dunianya berantakan.

Masalah-masalah di sekolah tidak akan terbawa sepanjang hari hingga di rumah karena mereka memiliki dunia penyangga. Kesedihan-kesedihan di sekolah karena ulah para bully (anak nakal) terencerkan oleh hadirnya Terabithia. Dunia baru itu membuat “telur-telur” mereka tidak diletakkan pada satu keranjang, melainkan pada banyak keranjang. Sehingga tragedi pada salah satu keranjang tidak merupakan tragedi di seluruh kehidupan.

Seorang manusia dewasa yang bekerja, sebenarnya juga bisa membangun dunia lain sebagai buffer dari dunia kerja. Bila ada masalah pekerjaan, tidak serta merta dia akan merasa hidupnya dalam masalah karena dia punya kehidupan yang lain. Kesedihan-kesedihan yang dialami di kantor akan terencerkan oleh dunia kedua. Kegagalan di bisnis tidak dengan sendirinya membuat dia merasa hancur karena adanya “dunia lain” yang masih baik-baik saja. Buffer itu dapat berujud berbagai macam hal, misalnya kegiatan di sebuah organisasi atau kegiatan lain diluar kerja seperti berkebun, klub menyulam, olahraga ataupun menjadi pelatih basket untuk anak-anak sekolah dasar.


^_^


Film berjudul Bridge of Terabithia semakin menegaskan pepatah “jangan letakkan telur pada satu keranjang” dengan hadirnya tragedi yang membuat Jess kehilangan teman dekatnya. Tragedi itu memaksa Jess berpaling kepada adik kecilnya yang pada awalnya diabaikan, untuk ikut hadir di dunia Terabithia. Si adik menjadi putri kecil yang menemani Jess di dunia lain tersebut. Sebuah pelajaran lain yang menegaskan untuk jangan meletakkan kebahagiaan maupun kesedihan pada satu orang. Jangan bergantung pada satu orang untuk membuat bahagia. Letakkanlah pada banyak hal dan banyak orang sehingga kehilangan seseorang tidak akan membuat hari-hari kita merana.

Dua tokoh menarik di film yang dibuat berdasar novel Katherine Paterson – seorang penulis Amerika yang dilahirkan di Cina tahun 1932 -- adalah adik kecil Jess dan seorang perempuan muda guru seni Jess yang memiliki gaya mengajar yang atraktif dan sangat ekspresif. Seperti saat Bu Guru memulai pelajaran musik, pertamanya dia menyuruh semua murid untuk mengambil berbagai alat musik yang dibawanya dengan roda. Menawarkan lagu, kemudian menyuruh mereka membuat suara.

Pokoknya membuat suara sehingga seluruh kelas menjadi gaduh. Baru kemudian si guru memainkan piano dengan diiringi nyanyian oleh seluruh anak. Sebuah pelajaran sekolah yang sangat mengasyikkan (dan mengingatkan saya pada Robin Williams yang menjadi guru kreatif di Dead Poets Society). Ibu Guru yang menarik itu juga mengajak Jess yang berbakat melukis untuk bertamasya ke musium yang memajang karya-karya pelukis klasik.

Tokoh lain yang menarik adalah si adik kecil. Si adik ini selalu berangkat sekolah bareng Jess dengan bis sekolah. Dia juga berlari-lari disamping lapangan menyemangati Jess yang sedang bertanding lari dengan teman-teman sekolahnya. Dia juga yang mengkhawatirkan Jess tatkala dilanda kesedihan akibat kehilangan teman dekatnya. Seperti ending yang sering ditemui pada film Hollywood, film ini juga ditutup dengan tepuk tangan meriah para penghuni Terabithia saat Jess dan adiknya bagai Raja dan Putri memasuki dunia ajaib itu. Satu lagi yang menarik adalah keluarga Leslie walaupun keluarga kaya ternyata tidak memiliki TV! (nae)

12 comments:

  1. tolooong google pagerank-ku turun dari 4 jadi 3. Knapa yah???

    ReplyDelete
  2. penasarn ma ni film jadinya

    ReplyDelete
  3. Waahh... aQ punya nopelnya...
    Bacanya dh jaman dulu, mpe lupa critanya yg mana =P
    Ada filmnya tho? Baru taw jg... =P

    ReplyDelete
  4. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  5. saya pengen ketemu cewek yang kyk leslie burke saya harap cewek itu jodo saya hehehehe

    ReplyDelete
  6. karena film ini saya bisa bersama dengan orang yang saya sayangi sebagai leslie dan dia sebagai jass, jadi sekarang saya dan dia juga merajut dunia sebagai leslie dan jass,,,,
    Thanks...
    :)

    ReplyDelete
  7. Karena film ini juga, saya dapat kembali bersama orang yang saya sayangi sebagai jass. Dia dan saya sekarang dapat kembali bersama. Saya bangga dipanggil Leslie oleh dia, dan saya juga bangga memanggil dia jass,,
    tinggal cari novelnya doank..
    Tapi gak ketemu!

    ReplyDelete
  8. karena film ini gw terlalu kebwa ke dunia fiksi............

    ReplyDelete
  9. Terima kasih sekali atas Resensi Film nya ..

    ReplyDelete
  10. pengen lgi lihat film'y,,bgus banget.. .

    ReplyDelete