Dongeng Sang Kancil dan Seribu Kunang-kunang

Seekor kunang-kunang hanya punya setitik cahaya, namun 
seribu kunang-kunang adalah matahari mungil  terang 
benderang yang bisa terbang kesana kemari dengan lincahnya.

 









Alkisah seekor kunang-kunang datang pada Kancil, sambil menangis tersedu-sedu. Si kunang-kunang merasa bahwa dirinya adalah binatang tidak berguna di hutan raya. Tak ada yang bisa dia berikan pada penduduk hutan. Dirinya ada atau tiada tidak ada pengaruhnya bagi mereka.

Kunang-kunang sungguh malu sekali pada Sang Gajah yang telah berjasa menyingkirkan pohon-pohon tumbang yang menghalangi jalan dengan belalainya. Malu pada Pak Kuda yang sering membantu penduduk mengangkut bahan makanan dari tempat jauh dengan cepat. 

Minder pada burung-burung yang rajin mengabarkan berita-berita penting dari tempat jauh. Bahkan sungkan pada seekor ikan cethul kecil, yang pernah berjasa menunjukkan lokasi sebuah mata air yang tak pernah kering hingga sekarang.

“Waaaah kebetulan sekali kamu datang hari ini wahai kunang-kunang. Aku sangat butuh bantuanmu” kata Sang Kancil sambil tertawa girang

“Appaaa? Kamu butuh bantuanku???” kata Kunang-kunang dengan heran. “Binatang mana yang butuh bantuan makhluk tak berguna seperti diriku” desahnya pelan.

Lalu Sang Kancil bercerita bahwa hasil penelitiannya menunjukkan bahwa dalam musim kemarau tahun yang akan datang diperkirakan berlangsung sangat panjang dengan hanya sesekali akan turun hujan. Kesimpulan itu diambil dari hasil observasi musim selama bertahun-tahun yang dilakukan Sang Kancil dibantu para cendekiawan hutan lainnya.

Jenis gandum dan padi-padian yang biasa tumbuh di hutan raya tidak akan dapat tumbuh dalam kondisi seperti itu, karena jenis tersebut termasuk jenis yang butuh banyak air agar dapat tumbuh dengan baik. Tanaman ini tidak akan bertahan pada musim kemarau yang panjang. Akibatnya penduduk hutan terancam gagal panen dan ujung-ujungnya bahaya kekurangan makanan mengintai.

Harus diusahakan mencari benih-benih baru untuk disebarkan di hutan raya. Sang Kancil tahu persis, bahwa benih yang cocok untuk tanah yang kekurangan air adalah benih gandum dari Bukit Menangis. Di sana hanya tersedia sedikit air dan jarang hujan, sehingga tumbuh-tumbuhan yang hidup di Bukit Menangis adalah jenis tumbuhan yang tahan kekeringan.

“Bukit Menangis????. Bukankah itu jauh sekali di balik perbukitan kapur di cakrawala sebelah utara. Konon kita harus berhari-hari menyusuri gua bawah tanah yang gelap pekat untuk mencapai sana. Katanya di sana juga ada suara-suara orang menangis yang  menyeramkan. Jangan! Jangan pernah mencoba ke sana!! Tidak ada penduduk hutan raya yang pernah ke Bukit Menangis!! “ teriak kunang-kunang kaget

“Ah nggak juga. Entah gimana caranya nenek moyangku dulu pernah ke sana. Buktinya ada manuskrip-manuskrip lama di perpustakaan yang bercerita tentang kondisi alam dan tumbuh-tumbuhan di Bukit Menangis. Menurut penyelidikan nenek moyangku, pohon-pohon di Bukit Menangis jenisnya sama dan kala tertiup angin daun-daun pohon-pohon itu saling bergesekan sehingga menimbulkan suara seperti orang menangis. Tanah di sana kering sehingga padi-padian yang tumbuh di sana tahan kekeringan. Kali ini giliran kita yang ke sana. Kamu yang akan membantu aku ke sana!!”

“Apa!!! Membantu Sang Kancil ke sana???” Mana bisa! Aku tak akan bisa berbuat apa-apa untuk membantu Sang Kancil “ teriak Kunang-kunang dengan kesal merasa dipermainkan

“Dengarkan dulu Nang!. Bukankah kamu punya cahaya yang bisa menerangi lorong-lorong gua bawah tanah!! Cahayamu akan menuntun kami sampai ke Bukit Menangis!”

“Ahhhh watatitaaaa! Mana mungkin kaliii! Cahayaku kecil mungil, hanya cukup untuk menerangi sejumput dunia kecil mungil yang tak berguna!” cetus Si Kunang

“Seekor kunang-kunang hanya punya setitik cahaya. Namun seribu kunang-kunang adalah matahari mungil yang terang benderang dan bisa terbang kesana kemari dengan lincahnya” seru Sang Kancil.

Sebuah kalimat luar biasa dahsyatnya yang mampu membesarkan hati kunang-kunang. Betul juga Sang Kancil! Seribu kunang-kunang adalah sebuah lampu yang bisa terbang meliuk-liuk dengan lincahnya. Dengan bekal cahaya di tubuhnya, ada sebuah pekerjaan penting yang hanya bisa dilakukan dia dan teman-temannya. Kini saatnya bangsa kunang-kunang memberikan jasanya bagi penduduk hutan raya.


^_^

Jadilah kunang-kunang dengan hati berbunga-bunga mengumpulkan teman-temannya. Saking semangatnya para kunang-kunang, jumlah yang terkumpul bukan hanya seribu, tapi puluhan ribu, ratusan ribu bahkan mungkin sejuta kunang-kunang yang ada di hutan raya -- tumpek bleg jadi satu di depan rumah Sang Kancil. Maka pada hari yang ditentukan, Sang Kancil memimpin serombongan binatang hutan raya untuk menelusuri lorong-lorong gua bawah tanah menuju Bukit Menangis.

Jutaan kunang-kunang membentuk puluhan gerombolan kunang-kunang yang menjadi pelita bagi para binatang selama berjalan di lorong bawah tanah yang sempit dan gelap gulita. Cahaya gerombolan-gerombolan kunang-kunang tersebut laksana puluhan matahari kecil yang lincah bergerak kesana kemari untuk menerangi jalan selama 3 hari perjalanan.

Pada hari ke-4 rombongan binatang telah mencapai tempat tujuan. Saat mendengar suara-suara tanpa wujud berupa bisikan, teriakan, tangisan, dan tawaan mereka sudah tidak takut lagi karena telah diberitahu oleh Sang Kancil bahwa suara-suara aneh itu berasal dari gesekan daun antar pepohonan berjenis sama saat tertiup angin.  Mereka juga berhasil mengumpulkan benih gandum dan padi yang tumbuh subur di Bukit Menangis. Kelak benih-benih itu akan ditanam di hutan raya sebagai persiapan menghadapi musim kemarau yang panjang (undil – Okt 2010). 


Gambar diambil dari frfly.com



6 comments:

  1. salam kenal......mengingatkan masa kecil dulu cerita2 seperti ini..he...http://ehm-kommunika.blogspot.com/

    ReplyDelete
  2. cerita na bagus,,,fitri suka apalagi pas kata si kancil buat si kunang2.,,
    “Seekor kunang-kunang hanya punya setitik cahaya. Namun seribu kunang-kunang adalah matahari mungil yang terang benderang dan bisa terbang kesana kemari dengan lincahnya” seru Sang Kancil.

    fitri suka cerita ini,,,

    ReplyDelete
  3. mas tulisannya bagus,, ijin copas cerita yg ini yaa... :)
    nuhun.
    eva nursheilla.

    ReplyDelete
  4. Intinya Tuhan menciptakan mahluk berdasarkan kemampuan masing-masing, jangan iri terhadap apa yang dimiliki oleh orang lain. Tentunya mereka berhasil karena mereka telah menemukab kemampuan yang mereka miliki. Let's find ours

    ReplyDelete