Tiga Singa Perkasa, Segerombolan Serigala dan Seekor Babi

Tidak ada musuh yang lebih dahsyat daripada orang-orang yang telah membuang rasa takut mati dari hatinya dan menggantinya dengan rasa cinta yang membara pada Sang Maha Perkasa.

^_^

Rumah berdinding kayu itu telah terkepung. Ada ratusan anggota gerombolan perusuh diluar yang berteriak-teriak menyuruh penghuni rumah keluar. Sementara hanya ada tiga lelaki di dalam rumah. Ronin, Ronun dan Ronon, tiga bersaudara yang selama ini tersohor sebagai tiga singa di medan perang yang membentengi desa-desa nelayan di gugusan pulau-pulau terpencil itu dari gerombolan perusuh.

Kini mereka terjebak saat mengunjungi Bibi mereka di sebuah pulau kecil. Gerombolan perusuh mencium kedatangan tiga singa yang telah lama diincar karena mengorganisir ratusan pemuda untuk melawan gerakan para perusuh yang berniat mengusir keluarga nelayan dan juga petani & pekerja yang menempati pulau-pulau itu.

Tak ada pilihan lain mereka harus keluar rumah dan melawan. Tinggal di dalam rumah sama saja dengan mengorbankan seluruh penghuni rumah. Ada empat perempuan dewasa dan lima anak-anak, yang paling besar baru berumur lima tahun. Tak ada senapan dan tak ada radio komunikasi sehingga mereka tidak bisa meminta bantuan dari teman-temannya. Sementara relawan tempur yang datang dari luar wilayah terkonsentrasi untuk memperkuat front rawan penyerangan di pulau-pulau yang lebih besar.

Rumah beratap genting itu akan dibakar bila mereka bertahan di dalamnya dan menghanguskan semua penghuninya. Andai saja ada senapan, apalagi bila tersedia granat dan pelontarnya -- setidaknya ketiga orang itu akan mampu menghalau para perusuh untuk beberapa lama sampai fajar tiba. Namun senjata yang mereka bawa hanyalah pedang panjang. Tak banyak pilihan dengan senjata sederhana itu.

Untunglah ada lubang bekas saluran air yang menghubungkan rumah itu dengan pantai. Sementara para penghuni rumah yang lain meloloskan diri lewat lubang sempit dan pengap berukuran lebar dua pertiga meter dan tinggi sepertiga meter itu, tiga singa akan keluar rumah dan bertarung dengan perusuh.

Walaupun mereka sadar peluang untuk menang hanya setipis rambut, tidak ada yang perlu ditakuti. Bagi mereka kebenaran adalah segalanya. Kebenaran adalah mereka pemilik sah tanah di kepulauan ini yang tidak layak diperlakukan seperti anjing kurap yang diusar-usir kesana kemari oleh para perusuh. Bagi mereka, mati saat membela kebenaran adalah laksana menggedor pintu-pintu langit dan membuat para penghuninya menangis merindukan mereka.

Pedihnya sayatan pedang, ataupun tusukan lembing yang akan mengoyak kulit bukannya tidak membuat mereka ngeri. Apalagi bila musuh membawa senapan yang akan dengan mudah meledakkan kepala mereka. Tapi mereka berusaha keras mengatasi rasa takut. Kepedihan dan kesakitan yang mampir setelah puluhan tahun kenyamanan yang panjang berusaha keras mereka anggap sebagai kewajaran sebagaimana datangnya malam setelah siang. Sebagaimana datangnya kemarau setelah musim hujan yang panjang. Sebagaimana meranggasnya pohon jati setelah masa berdaun rimbun usai.

^_^

Nampaknya gerombolan perusuh kali ini tidak membawa senapan. Bila mereka memiliki, pastilah rumah telah dihujani peluru untuk membunuh semua penghuninya. Setelah yakin para penghuni rumah telah jauh merangkak menuju pantai, mulut lubang ditutup kembali dan mereka akan segera keluar rumah untuk mengalihkan perhatian.

Sewaktu mereka bertiga telah menghunus pedang dan siap menyerbu keluar, tiba-tiba muncul gadis belia dari dalam lubang dan menutupnya kembali dengan papan. Dia adalah saudara sepupu si tiga singa. Tentu saja ketiga orang itu marah besar pada gadis yang wajahnya menunjukkan usianya tak akan lebih dari tujuhbelas tahun itu. Si gadis ngotot dan berusaha keras menjelaskan alasannya, yaitu karena dia yang tadi siang menjemput ketiga singa di pantai dan pasti telah terlihat oleh musuh – akan membahayakan penghuni lain yang sedang merangkak di lubang saluran air bila dirinya tidak muncul.

Para perusuh pasti mencari dirinya sampai ketemu, dan mereka tidak tahu ada penghuni lainnya di rumah itu karena hampir semua penghuni pulau telah mengungsi. Jadi kalau dirinya ikut lari maka para penghuni rumah lain bakalan ketahuan dan ikut dikejar-kejar. Sia-sia saja si tiga singa menyuruh anak itu pergi, apalagi setelah dia mengeluarkan lembing yang disimpannya di bawah kolong tempat tidur. Tekadnya tidak dapat dicegah lagi.

^_^

Pedang yang dipegang tiga pemuda tampak berkilat-kilat ditimpa sinar rembulan saat mereka melangkah keluar rumah. Sementara lembing yang dipegang si gadis tampak mengayun-ayun anggun bak penari maut yang menunjukkan pemegangnya telah berpengalaman. Hati para perusuh berdesir ngeri melihat keempat orang yang melangkah mantap keluar rumah. Kengerian yang bukan disebabkan kilatan pedang, tapi karena kilatan sorot mata yang sangat tajam dari empat manusia yang dengan gagah menyongsong maut. Sorot mata setajam kilatan petir yang tanpa ampun menyambar hati mereka yang rapuh dan menghanguskan semangat tempur mereka.

Seandainya jumlah mereka tidak limaratus orang seperti saat ini, pastilah banyak yang memilih lari. Tak ada yang lebih menakutkan daripada melawan musuh yang telah siap mati membela keyakinan akan kebenaran. Tak ada yang lebih menggetarkan nyali daripada musuh yang seolah-olah jiwanya telah terbang melayang-layang -- bertasbih bersama ribuan malaikat di langit sementara jasadnya siap bertempur dengan garang di muka bumi. Tidak ada musuh yang lebih dahsyat daripada orang-orang yang telah membuang rasa takut mati dari hatinya dan menggantinya dengan rasa cinta yang membara pada Sang Maha Perkasa.

Aroma maut menebar di halaman rumah. Aroma yang mendirikan buluroma para perusuh karena mereka sadar betul bahwa jiwa mereka telah kalah. Beberapa perusuh telah basah oleh keringat dingin yang membanjiri tubuh mereka, sementara empat anak muda itu melangkah dengan pasti mendekati mereka dengan punggung saling membelakangi. Seperti empat ekor banteng yang beradu punggung – menodongkan tanduk ke empat penjuru mata angin -- siap bertarung dengan kawanan singa yang mengepung mereka. Oh tidak!. Lebih tepatnya mirip empat ekor singa yang siap bertempur melawan ratusan serigala gemetar ketakutan yang berani maju semata-mata karena jumlah mereka ratusan kali lipat.

Tiba-tiba si gadis melompat dua langkah ke depan dan ujung lembingnya menembus leh#$ seorang perusuh yang terpana pada gerakan cepat yang menimbulkan bunyi berdecit di udara. Tubuhnya jatuh dan menggelepar-gelepar di tanah tatkala si gadis mencabut lembingnya dan meloncat kembali ke formasi tempur. Semua berlangsung begitu cepat. Para perusuh diam tertegun, seolah terpaku di bumi tempat mereka berpijak. Bau tumpahan darah membuat hawa maut di udara terasa semakin pekat dan semakin menyurutkan nyali para perusuh. Membuat mereka bertambah ragu akan keberhasilan misi mereka kali ini.

Kondisi itu dengan cepat disadari oleh komandan gerombolan perusuh. Perang urat syaraf yang semakin nyata dimenangkan secara telak oleh empat anak muda itu harus segera dihentikan. Dengan disertai pekikan keras si pemimpin berlari sambil mengayunkan pedangnya untuk menghantam si gadis -- dengan tujuan memancing anak buahnya ikut menyerbu. Namun sebelum pedangnya menyentuh si gadis, lembing si gadis yang berukuran lebih panjang terlebih dahulu menghantam mat*#@@ dan membuatnya menjerit keras sekali dengan suara yang mengerikan. Kerasnya benturan dengan lembing juga membuat tubuhnya terputar beberapa kali sebelum menghantam sebuah pohon besar dan terkapar tidak bangkit lagi.

Adik si pemimpin marah sekali, sambil berteriak-teriak kesetanan dia menyerbu disertai caci-maki pada teman-temannya yang disebutnya sebagai para pengecut yang tidak pantas memakai celana panjang. Saat pedangnya mulai beradu dengan pedang para singa, tanpa dikomando anggota gerombolan perusuh yang lain mulai bergerak ikut menyerbu.

Terjadilah pertarungan sengit empat ekor singa melawan ratusan serigala. Empat orang itu secara berganti-ganti -- meloncat ke depan menyambar musuh, kemudian kembali ke formasi saling membelakangi. Setiap kali mereka melompat menebas musuh akan terdengar lolongan maut dari para perusuh yang kehilangan nyawa atau kehilangan anggota badannya. Dalam waktu singkat tanah telah basah oleh genangan darah, serpihan-serpihan pakaian dan juga tubuh-tubuh perusuh yang berguguran. Sementara keempat singa bertempur dengan garang seperti angin tornado yang berputar-putar dahsyat menebarkan maut di lautan musuh.

Semakin lama berjalan pertempuran -- atau lebih tepatnya pengeroyokan -- semakin meningkatlah semangat keempat singa. Sementara para serigala semakin merosot semangat tempurnya. Apalagi setelah melihat tubuh-tubuh temannya bergelimpangan di tanah sambil menjerit-jerit kesakitan membuat semangat mereka tambah runtuh.

Pada dasarnya mereka bertempur tanpa dasar yang jelas selain janji-janji dari segelintir pemimpin untuk kehidupan yang lebih baik. Mereka dibujuk untuk ikut mengusir orang-orang yang dituduh menjadi biang keladi kesulitan hidup mereka. Sekarang diam-diam mereka mulai merasakan telah dimanfaatkan oleh para pemimpin yang gagal bersaing secara fair dengan orang-orang gagah ini. Tidak ada kejahatan yang mereka lakukan. Mereka tidak merebut tanah dan tidak pernah mengganggu kehidupan para perusuh. Mereka juga telah lama hidup berdampingan dengan damai.

Tiba-tiba terdengar serentetan bunyi tembakan diikuti robohnya empat singa yang tengah bertempur dengan garang. Dari kegelapan terdengar bunyi deram mobil dan teriakan menggelegar sesosok tubuh.

“Hei kalian, cepat lempar mayat-mayat itu ke sumur tua di belakang rumah dan lari. Sebentar lagi fajar, tentara pasti akan datang ke sini!”

^_^

Hujan rintik-rintik tatkala pagi harinya para anggota keluarga keempat orang singa muda itu kembali ke pulau bersama satu regu tentara. Air mata menetes dari tubuh-tubuh yang saling berpelukan dengan keharuan yang dalam -- saat menemukan mayat-mayat yang terkubur dalam sumur tua. Air mata kesedihan memang, tapi sama sekali bukan air mata penyesalan. Air mata itu juga adalah air mata kerelaan bahwa diantara keluarga mereka terdapat para ksatria yang telah mengorbankan jiwa, demi tegaknya jalan kebenaran yang telah ditunjukkan oleh Sang Maha Penyayang. Terbaik diantara yang terbaik dari segelintir manusia istimewa yang rela mengorbankan jiwa demi keyakinan dan cita-citanya (UNDIL).


0 komentar:

Post a Comment