Showing posts with label kancil dan siput. Show all posts
Showing posts with label kancil dan siput. Show all posts

Dongeng Sang Kancil dan Siput Berlomba Lari (3)

Dikisahkan bangsa siput menantang kembali Sang Kancil berlomba lari. Dua puluh tahun yang silam siput berhasil memenangkan lomba lari karena kancil yang ditugaskan berlomba lari malahan tidur-tiduran sementara siput merayap dengan pasti menuju garis finish. Penyebab kekalahan kancil adalah dia terlalu meremehkan kemampuan siput dan si kancil lomba adalah seorang pemalas yang suka berleha-leha tidur-tiduran dulu sebelum bekerja. Pada perlombaan kedua yang dilakukan 10 tahun silam kembali siput memenangkan pertandingan berkat strategi siput yang berbaris sepanjang garis start hingga finish. Setiapkali kancil memanggil nama siput, siput yang berada di depan kancil menyahut, begitu seterusnya hingga si kancil kalah dalam pertandingan karena menyangka siput selalu berlari didepannya. Kancil bodoh itu tertipu karena tidak tahu bahwa siput memiliki cangkang yang berbeda-beda pola warnanya sehingga bisa dibedakan satu dengan yang lainnya. Walaupun si kancil lomba itu rajin, dia gagal menang karena ketidakmampuannya membedakan siput. Nah, baru pada perlombaan ketiga ini bangsa kancil berhasil memenangkan pertandingan setelah wakil kancil sukses mengalahkan wakil siput. Disiplin dan etika yang dipaksakan Kancil Senior dengan tangan besi kepada seluruh bangsa kancil telah merubah bangsa kancil menjadi bangsa yang cerdik, cepat dan rajin. Tak heran mereka dengan mudah mengalahkan siput dalam lomba lari.

^_^

Setiap binatang punya kelebihan. Mengapa siput mesti bertanding pada hal-hal yang menjadi titik kelemahannya. Mengapa dia sibuk menambal kelemahan-kelemahannya, bukannya memaksimalkan hal-hal yang menjadi kelebihannya?. Sebuah pertanyaan yang diam-diam kancil simpan dalam hati.

“Pernah kepikir gak, para siput itu jagoan merayap di atas dinding tegak lurus? tanya Sang Kancil

“Trus kenaapa? Buat apa aku mikir yang begituan?

“Sadar gak siy dirimu kalau itu adalah kelebihan? Insyaf gak siy dirimu kalo Aku, Sang Kancil gak bisa melakukan itu?

“Apa hebatnya jago merayap? Itu adalah keahlian biasa yang dengan mudah dimiliki seekor siput. Tak ada yang dapat dibanggakan dari merayap!”

“Kalian para siput dapat mencapai daun-daun enak yang berada di dinding tebing yang tinggi. Kalian bisa merayap untuk menikmati gurihnya pucuk-pucuk daun muda pepohonan yang tak pernah bisa kunikmati karena terlalu tinggi buatku!”

“Tapi itu tak ada apa-apanya dibanding kehebatan dalam berlari seperti yang kau punya!”

“Gak juga. Kalian bisa merayap untuk mendapatkan air yang tersembunyi di lorong-lorong kecil di hutan ini. Saat musim kemarau kalian tidak akan sesulit aku mendapatkan air!”

“Tetap saja merayap itu untuk si lambat dan sama sekali tidak pernah membuat kami bangga!”

“Kalian tidak butuh kemampuan berlari seperti kami. Macan yang gemar memburu kami -- tak berminat mengejar-ngejar kalian. Lari adalah jalan hidup kami. Merayap adalah jalan hidup kalian!”

“Bila kami bisa berlari, kami akan lebih senang dan lebih terlindung!

“Ah gak juga. Kalian punya cangkang yang kuat untuk melindungi diri. Kalian para siput punya warna cangkang untuk menyamarkan diri dari para musuh. Secara kalian lebih aman sembunyi daripada lari, kalian sama sekali tidak butuh kemampuan berlari”

“Dengar Kancil, lari adalah kebanggaan kami, jalan hidup pilihan kami!”

“Malangnya nasibmu. Sungguh malang seekor perayap sejati memilih berlomba lari. Kalian hanya akan jadi pecundang di dunia lari! Kalian adalah raksasa di dunia merayap, sungguh amat bodoh sekali memilih berlomba lari!”

“Lari adalah mitos paling bersejarah warisan nenek moyang siput”

“Kalian sungguh menyedihkan! Hidup dengan kebanggaan semu. Berjuang habis-habisan untuk mencapai sesuatu yang tidak kalian butuhkan. Kalian percuma saja berlatih keras berlari. Kaki-kaki kalian adalah kaki perayap sejati. Kalian jauh lebih dahsyat daripada kami dalam merayap. Tapi kalian mengingkari takdir kalian. Kalian lari dari kenyataan bahwa kalian bukan pelari tapi perayap”

“Jangan ajari aku menerima kenyataan pahit’

“Sama sekali bukan kenyataan pahit! Ikan adalah para jagoan renang, dan itu tidak lebih rendah dari berlari. Gajah adalah jagoan mengangkat pohon-pohon besar, dan mereka sama sekali tidak merasa lebih rendah dari binatang jagoan lari. Burung-burung bangga dengan kemampuannya terbang melanglang jagad raya. Meraka membawa cerita-cerita dahsyat tentang negeri-negeri jauh yang belum pernah kita kenal. Mereka bangga dengan kemampuan terbang yang mereka miliki”

^_^

Siput diam. Hatinya masih membara oleh mitos kemanangan siput atas kancil yang telah tumbang. Baginya tak ada yang lebih menyedihkan daripada runtuhnya mitos yang menjadi kebanggaan seluruh bangsa siput. Kini apalagi yang bisa dibanggakan setelah ditaklukkan Sang Kancil. Lari serasa segalanya baginya. Tanpa kemenangan dalam lomba lari tak ada artinya lagi dirinya.

Walaupun menangkap kebenaran di balik kata-kata Sang Kancil tentang bermacam-macamnya kelebihan yang dimiliki binatang, sulit baginya menerima kenyataan bahwa berlari adalah bukan untuk siput. Sungguh pahit untuk ditelan. Karena masyarakat binatang di hutan melihat kehebatan berlari adalah sebuah kebanggaan, sementara merayap tak pernah disebut-sebut.

Apa yang dibanggakan dari suatu kemampuan yang tak pernah disebut-sebut binatang lain dengan takzim?. Apa yang membesarkan hati dari sesuatu yang tidak mendatangkan pujian, walaupun kemampuan itu sangat dibutuhkannya?. Buat apa meraih prestasi yang tidak mendatangkan pujian, sungguhpun prestasi itu membawa manfaat besar bagi bangsa siput?. Apa siy yang lebih penting dari pujian?. Satu cara berpikir yang menyedihkan dari seekor siput malang (undil-08). Tamat. 
Kembali ke Dongeng Sang Kancil dan Siput Berlomba lari (1)

Koleksi Dongeng Sang Kancil

Dongeng Sang Kancil dan Siput Berlomba lari (1)
Dongeng Sang Kancil dan Siput Berlomba lari (2)
Dongeng Sang Kancil dan Siput Lomba lari (3)

Dongeng Sang Kancil, Kerbau dan Buaya (1)
Dongeng Sang Kancil, Kerbau dan Buaya (2)
Dongeng Sang Kancil dan Buaya (1)
Dongeng Sang Kancil dan Buaya (2)
Dongeng Sang Kancil dan Buaya (3)
Dongeng Sang Kancil dan Buaya (4)

Dongeng Sang Kancil dan Gong Ajaib
Dongeng Sang Kancil Mencuri Timun

tags: cerita anak, cerita pendek, cerpen, dongeng sang kancil, kancil dan siput

Dongeng Sang Kancil dan Siput Berlomba Lari (2)

Dikisahkan bangsa siput menantang kembali Sang Kancil berlomba lari. Dua puluh tahun yang silam siput berhasil memenangkan lomba lari karena kancil yang ditugaskan berlomba lari malahan tidur-tiduran sementara siput merayap dengan pasti menuju garis finish. Penyebab kekalahan kancil adalah dia terlalu meremehkan kemampuan siput dan si kancil lomba adalah seorang pemalas yang suka berleha-leha tidur-tiduran dulu sebelum bekerja. Pada perlombaan kedua yang dilakukan 10 tahun silam kembali siput memenangkan pertandingan berkat strategi siput yang berbaris sepanjang garis start hingga finish. Setiapkali kancil memanggil nama siput, siput yang berada di depan kancil menyahut, begitu seterusnya hingga si kancil kalah dalam pertandingan karena menyangka siput selalu berlari didepannya. Kancil bodoh itu tertipu karena tidak tahu bahwa siput memiliki cangkang yang berbeda-beda pola warnanya sehingga bisa dibedakan satu dengan yang lainnya. Walaupun si kancil lomba itu rajin, dia gagal menang karena ketidakmampuannya membedakan siput. Nah, baru pada perlombaan ketiga ini bangsa kancil berhasil memenangkan pertandingan setelah wakil kancil sukses mengalahkan wakil siput. Disiplin dan etika yang dipaksakan Kancil Senior dengan tangan besi kepada seluruh bangsa kancil telah merubah bangsa kancil menjadi bangsa yang cerdik, cepat dan rajin. Tak heran mereka dengan mudah mengalahkan siput dalam lomba lari.

^_^










Siput menunduk di depan Sang Kancil yang menatapnya dengan iba. Bagaimana mungkin mitos kebesaran siput kini berakhir sedih. Reputasi Siput sebagai si lambat yang tekun melangkah hingga mampu menaklukkan kancil kini sirna sudah. Tak ada lagi sorak sorai penghuni hutan menyambut takluknya kancil yang cerdik cendekia di tangan siput.


“Ijinkan aku berduka. Ijinkan juga aku mengobati rasa dukaku dengan mendengarkan nasehat-nasehatmu” kata Siput merendahkan diri.

“Tak ada alasan yang membuatmu sedih. Kanyataan yang ada di dunia ini senantiasa berubah. Hari kemarin bangsa siput mempecundangi kancil. hari ini giliran kancil yang menang”.

“Kemenangan kami adalah mitos. Sudah jadi kebanggaan bangsa siput menaklukkan kancil yang tersohor kecerdikannya. Sudah menjadi tradisi kami merayakan kebesaran nama kami di seantero hutan raya”

“Dengarlah aku. Selama ini kalian merayakan kebesaran yang semu. Kalian bergembira ria atas kehebatan yang palsu. Prestasi ala kadarnya telah kalian bangga-banggakan”

“Kami benar-benar mengalahkan kancil. Bukan kemenangan semu. Tapi sebenar-benarnya kemenangan. Kami mencapai garis finis lebih dulu daripada kalian”.

“Kalian menang karena kami bodoh dan malas. Kalian menang bukan karena kekuatan kalian tetapi oleh kelemahan para kancil”.

“Apa maksudmu”

“Pertandingan 20 tahun yang lalu kalian menangkan karena kancil yang ditugaskan untuk berlomba lari adalah seorang pemalas. Dia tidur-tiduran sementara wakil siput dengan tekun marayap. Saat Sang Kancil tertidur pulas, siput telah menginjak garis finis. Saat kancil pemalas terbangun, piala kemenangan telah diraih bangsa siput”.

“Tapi kami juga menang pada perlombaan 10 tahun yang lalu”

“Yah, kami belajar dari sejarah. Wakil kancil waktu perlombaan kedua adalah seekor kancil yang rajin. Tapi dia tidak pernah belajar. Dia tidak pernah mengamati tanda-tanda alam. Bangsa siput dengan mudah memperdaya kancil bodoh itu. Kalian berbaris sepanjang rute pertandingan lari, dari garis start hingga garis finish. Setiap kali dia memanggil siput, siput yang berada di depan kancil selalu menyahut. Kancil bodoh itu menyangka siput selalu berlari di depannya, padahal mereka adalah siput-siput berbeda yang berbaris di depannya. Kancil lalai itu tidak bisa membedakan siput satu dengan siput lainnya. Padahal warna rumah-cangkang kalian jelas berbeda-beda, tapi dia tidak menyadari. Dia tidak pernah bersahabat dengan alam. Dia gagal mempelajari ilmu kehidupan”.

“Kini kalian mengalahkan kami. Padahal kami telah mempersiapkan diri dengan baik”

“Kami belajar dari sejarah. Kini kami membangun disiplin dan etika yang membuat seekor binatang layak disebut Sang Kancil. Anak kancil yang tidak memenuhi disiplin dan etika kancil tidak akan diakui sebagai kancil. Dia hanya sebagai kancal saja. Dia tak lebih dari anak biologis dari kancil, tapi tidak layak menyandang gelar Sang Kancil yang senantiasa bijaksana”.

“Kalian membuang anak-anak kalian sendiri?”

“Kami tidak menyia-nyiakan keturunan kami. Bangsa kancil tidak akan membuang anak cucunya. Hanya saja kami telah mendeklarasikan nama Sang Kancil sebagai sebuah gelar kehormatan. Anak-anak kami adalah seekor kancal. Mereka berhak disebut kancil hanya bila belajar keras hingga menjadi cerdik; mampu mengendalikan diri untuk tetap rajin dan menjauhi sifat pemalas, dan berdisiplin latihan lari, sehingga mampu berlari kencang. Hanya seekor kancal yang cerdik, rajin dan cepat yang layak digelari kancil”.

“Dan kemudian kalian mampu mengalahkan kami. Padahal kami juga bekerja keras mempersiapkan siput pilihan untuk bertanding”

“Kalian tidak mau berpikir. Kalian bertanding dengan kami atas sesuatu yang sangat kami kuasai. Kalian seperti mengajak ikan bertanding menyelam”

“Apa maksudmu? Apakah salah bila kami ingin memenangkan pertandingan lari”

Kancil tersenyum mendengar siput mulai terpancing kemarahannya oleh kata-katanya. Apa siy yang salah dengan ambisi yang salah sasaran?. Siput sang perayap akan dengan mudah mengalahkan kancil bila harus bertanding memanjat pohon, lomba meniti sebatang bambu untuk menyeberang sungai, atau menggapai pucuk-pucuk daun pepohonan yang hijau.


Setiap binatang punya kelebihan. Mengapa siput mesti bertanding pada hal-hal yang menjadi titik kelemahannya. Mengapa dia sibuk menambal kelemahan-kelemahannya, bukannya memaksimalkan hal-hal yang menjadi kelebihannya?. Sebuah pertanyaan yang diam-diam kancil simpan dalam hati (undil feb08). Bersambung ke Dongeng Sang Kancil dan Siput Lomba lari (3)

 

Koleksi Dongeng Sang Kancil
Dongeng Sang Kancil dan Siput Berlomba lari (1)
Dongeng Sang Kancil dan Siput Berlomba lari (2)
Dongeng Sang Kancil dan Siput Lomba lari (3)

Dongeng Sang Kancil, Kerbau dan Buaya (1)
Dongeng Sang Kancil, Kerbau dan Buaya (2)
Dongeng Sang Kancil dan Buaya (1)
Dongeng Sang Kancil dan Buaya (2)
Dongeng Sang Kancil dan Buaya (3)
Dongeng Sang Kancil dan Buaya (4)

Dongeng Sang Kancil dan Gong Ajaib
Dongeng Sang Kancil Mencuri Timun

tags: cerita anak, cerita pendek, cerpen, dongeng sang kancil, kancil dan siput

Dongeng Sang Kancil dan Siput Berlomba Lari (1)

Perlombaan lari antara Kancil dan Siput baru saja usai. Tidak seperti yang diduga para penghuni hutan yang menonton pertandingan, Kancil dengan mudah mengalahkan Siput.

Kancil yang cerdik lari sekencang-kencangnya dan dalam sekejap memenangkan pertandingan. Berbeda dengan mitos bahwa kancil dapat dengan mudah dikalahkan siput karena tidur dan bermalas-malasan selama pertandingan. Kancil kiwari bukannya tidur selama bertanding, tetapi tidur-tiduran setelah memenangkan pertandingan.

Kemudian sambil tidur-tiduran di garis finish, Sang Kancil menonton Siput yang berjalan lambat-lambat menuju garis finish. Air matanya bercucuran karena Siput merasa gagal mempertahankan mitos Keluarga Siput yang turun temurun tidak terkalahkan oleh kancil.

Siput merasa dirinya tak berguna lagi setelah kegagalan itu. Tak ada artinya lagi kehadirannya di tengah-tengah dinasti siput yang tersohor sebagai penakluk para kancil dalam lomba lari. Apa arti dirinya setelah kalah dalam lomba lari.

Siput merasa harus meratapi nasibnya yang malang. Kini segalanya telah berubah. Bangsa kancil sudah tidak seperti dulu lagi. Baru disadarinya telah bertahun-tahun Kancil Tua menggunakan tangan besi untuk mendidik kancil-kancil yunior agar tidak bermalas-malasan.

“Kancil lambat akan diterkam macan, Kancil bodoh akan dimakan buaya dan Kancil malas akan dipermalukan siput” kata-kata itulah yang selalu di dengungkan Kancil Tua pada kancil-kancil muda yang membuat mereka tak punya pilihan lagi kecuali bekerja keras untuk menjadi cepat, pintar dan rajin. Siput sering mendengar desas-desus tentang kebijakan yang diambil oleh si Kancil Tua, namun baru kali ini dia melihat efeknya.

Sistem aristokrasi yang dibangun oleh Kancil Tua telah membuat kancil-kancil muda harus memenuhi tiga kualitas itu agar diterima di keluarganya. Seekor kancil hanya boleh diterima sebagai Keluarga Kancil bila memenuhi persyaratan disiplin dan etika sebagai kancil. Yaitu cepat, pintar dan rajin.

Kancil yang tidak memiliki salah satu dari tiga karakter kancil itu masih disebut sebagai “kancal”. Sebutan itu diambil dari urutan huruf vokal a-i-u-e-o. Vokal sebelum i adalah vokal a. Artinya seekor Kancal belum layak digelari kancil sejati.

Seperangkat etika yang dibangun sesepuh kancil itu membuat kancil-kancil menjadi binatang pilihan. Tidak sembarangan binatang layak disebut kancil sekalipun secara biologis dia adalah kancil. Hanya kancil yang terlatih baik, berdisiplin dan tunduk pada etika kancil yang boleh disebut kancil.


Tentu saja para kancil muda memetik hasilnya. Mereka perlahan-lahan mematahkan mitos-mitos tentang kancil. Citra kancil sebagai tukang tipu sekarang berubah menjadi kancil yang cerdas dan bijaksana. Citra kancil yang pemalas sekarang berubah menjadi kancil yang rajin dan ringan tangan. Reputasi Kancil yang suka mencuri timun sekarang dikenal sebagai bintang yang tak mau mencuri, bahkan suka membagi-bagi ketimun dan juga ilmu pengetahuan.

Kebijaksanaan Sang Kancil yang tersohor diseluruh hutan membuat Siput yang kalah dalam pertandingan lari itu tak malu untuk meminta nasehat. Siput datang sambil tersedu-sedan meminta pencerahan pada Sang Kancil tentang rahasia kekalahannya.

Apa yang sebaiknya dia lakukan untuk menebus kekalahannya. Apa yang membuatnya kalah, dan bagaimana caranya agar bisa menang dalam pertandingan berikutnya. Pertanyaan-pertanyaan yang dengan senang hati dijawab oleh Sang Kancil (undil feb08).  




Koleksi Dongeng Sang Kancil

Dongeng Sang Kancil dan Siput Berlomba lari (1)
Dongeng Sang Kancil dan Siput Berlomba lari (2)
Dongeng Sang Kancil dan Siput Lomba lari (3)

Dongeng Sang Kancil, Kerbau dan Buaya (1)
Dongeng Sang Kancil, Kerbau dan Buaya (2) Dongeng Sang Kancil dan Buaya (1)
Dongeng Sang Kancil dan Buaya (2)
Dongeng Sang Kancil dan Buaya (3)
Dongeng Sang Kancil dan Buaya (4)
Dongeng Sang Kancil dan Gong Ajaib
Dongeng Sang Kancil Mencuri Timun

tags: cerita anak, cerita pendek, cerpen, cerita kancil