Kejutan Upacara Bendera


Sebulan setelah ditunjuk jadi manajer SDM, Rowisky mendapat tugas menangani upacara bendera yang rutin diselenggarakan kantor pada saat tanggal 17 Agustus. Berdasar pengalaman tahun-tahun sebelumnya, Rowisky merasa bahwa karyawan tidak begitu tertarik mengikuti upacara bendera, banyak diantara mereka yang datang sekedar untuk menggugurkan tugas.

Tahun ini Rowisky ingin membuat upacara bendera lebih menarik, dan bukan sekedar seremonial yang datar-datar saja tanpa greget di mata karyawan. Makanya Rowisky sengaja menyewa group marching band untuk menyanyikan lagu-lagu perjuangan maupun lagu-lagu pop untuk memeriahkan upacara. Namun Rowisky merasa belum cukup. Dia merasa ada hal yang lebih nendang lagi yang perlu dilakukan.

Setelah berhari-hari berpikir keras dan mencari masukan sana-sini akhirnya Rowisky menemukan cara jitu untuk menarik perhatian para karyawan terhadap upacara. Ide “gila” Rowisky adalah menjadikan para kepala divisi sebagai petugas upacara. Kepala Divisi adalah jabatan karir tertinggi bagi karyawan di perusahaan, hanya setingkat di bawah direksi.

Tiga orang Kepala Divisi Produksi akan bertindak sebagai petugas pengibar bendera. Kepala Divisi QC sebagai pembaca teks Pancasila. Kepala Divisi QA sebagai pembaca pembukaan UUD 45. Kepala Divisi Bengkel sebagai komandan upacara. Kepala Divisi Keuangan sebagai pembaca doa. Kepala Divisi Perencanaan sebagai  pembawa acara.  Para Kepala Divisi sisanya akan bertugas sebagai komandan regu-regu peserta upacara.

Tentu saja usulan Rowisky bikin geleng-geleng kepala Direksi -- sebelum akhirnya disetujui -- karena Rowisky berhasil meyakinkan mereka bahwa cara ini akan membuat para kepala divisi lebih dekat dengan karyawan. Sebelumnya yang menjadi petugas upacara  adalah para satpam dan pelaksana di perusahaan. Dengan terjunnya para kepala divisi ini diharapkan dapat meyakinkan karyawan bahwa para atasan mereka adalah sejenis pekerja  keras yang tidak ragu-ragu terjun langsung mengerjakan tugas-tugas lapangan yang biasanya dikerjakan para pelaksana.

Seperti yang sudah diduga Rowisky, perlu waktu berhari-hari guna meyakinkan para kepala divisi untuk mau menjadi petugas upacara. Di tengah jadwal ketemu klien yang padat, dikejar target produksi, acara kunjungan ke luar negeri dan audit eksternal yang datang silih berganti – meluangkan waktu untuk latihan upacara adalah “barang mewah” bagi mereka.

Waktu para kepala divisi ini begitu berharga sehingga membuat mereka mau menjadwalkan latihan upacara ke dalam agenda adalah sebuah perjuangan tersendiri.  Namun berkat dukungan dari direksi, Rowisky dapat meyakinkan mereka.

^_^

Seperti yang diduga Rowisky jalannya upacara menjadi sangat menarik. Para karyawan tentu saja sangat antusias melihat bagaimana para atasan mereka menjalankan tugasnya. Upacara bendera jadi sangat menarik  untuk disimak karena baru pertama kali ini dalam sejarah perusahaan para pejabat tinggi menjalankan peran sebagai petugas upacara.

Tentu saja aura upacara jadi beda. Misalnya saja cara pembacaan pembukaan UUD 45 -- menjadi  sangat enak didengar di tangan Kepala Divisi QA. Sebagai ekspert yang sering menjadi pembicara di pertemuan ilmiah internasional tentunya beliau memiliki kelas tersendiri dalam membacakan teks pembukaan UUD 45. Apalagi beliau benar-benar memahami maknanya.  Demikian juga dengan kapala divisi lain, mereka telah memberi sentuhan lain pada upacara bendera ini dengan expertise masing-masing.

Rowisky mendapat ucapan selamat dari Direksi atas keberhasilannya menjalankan upacara bendera dengan cara yang lebih menarik ini. Namun tahun berikutnya Rowisky tidak lagi menjabat manajer SDM karena ditugaskan menjadi perwakilan perusahaan di sebuah lembaga internasional. Akibatnya ide menunjuk petugas upacara dari kalangan kepala divisi ini tidak berlanjut lagi di tahun-tahun berikutnya (Undil-2012).  

Sumur di Belakang Rumah Nenek


Hampir semua cucu-cucu yang datang ke rumah nenek menanyakan nasib sumur itu. Apa gerangan yang terjadi dengan sumur itu sekarang? Apakah dia masih bisa dipakai?. Pertanyaan standar yang diajukan mereka saat datang ke rumah ini.

Sebenarnya bagiku sumur itu adalah sumur biasa saja, seperti sumur di rumahku dan sumur-sumur lain yang ada di kampung ini. Sebuah sumur berdiameter satu setengah meter, dengan dinding setinggi satu meter dari permukaan tanah, tidak dilengkapi atap dan kedalaman sumur kurang dari delapan meter.  Air sumur diambil dengan tali timba biasa berwarna hitam dan timba berupa ember yang terbuat dari seng. Persis sama dengan sumur-sumur tetangga.

Barangkali yang istimewa dari sumur itu dibanding sumur tetangga adalah dia dikelilingi oleh tembok bercat putih setinggi dua meter sehingga cukup terlindung dari pandangan mata orang yang ada di halaman belakang rumah nenek. Maklumlah seperti rumah-rumah lain di kampung kami, tidak lazim seseorang memasang pagar yang tinggi di halaman belakang rumah, sehingga para tetangga leluasa berjalan hilir mudik melewati halaman rumah nenek.

Jika cucu-cucu pada berkunjung ke rumah nenek, maka sumur itu salah satu tujuan favorit mereka.  Di dalam sumur itu terdapat tujuh ekor gurami, masing-masing milik salah seorang cucu. Entah bagaimana mereka bisa mengenali gurami miliknya, dan berteriak-teriak kegirangan saat melihatnya berada di dalam sumur. Lalu mereka memberi makan gurami itu dengan daun pepaya yang segera saja dilahap oleh para ikan yang rakus itu.

Acara yang paling ditunggu oleh sepupu-sepupuku itu adalah acara mandi, baik pagi ataupun sore hari. Pada jam-jam mandi tersebut telah berada di sana Paman Bong, seorang laki-laki berusia tigapuluh tahun yang biasa membawakan kain batik dagangan nenek ke pasar atau mengganti genting rumah yang bocor. Paman Bong sudah hapal dengan kesukaan anak-anak kota tersebut. Mereka senang sekali diguyur air sedingin es langsung dari ember sumur. Biasanya mereka berteriak-teriak kegirangan saat air mengguyur tubuh-tubuh mereka.

Ada-ada saja aksi mereka saat diguyur air.  Ada yang posisi berdiri tegak sambil kedua tangan diacungkan ke atas seperti menyambut hujan, ada yang merangkak menirukan sapi, ada juga yang duduk meringkuk seperti kucing lagi dimandiin. Apapun posisinya, mereka selalu berteriak kencang sekali merayakan air yang mengguyur tubuh-tubuh mereka.

Aku sendiri tidak berminat mengikuti acara mandi itu karena telah kualami ratusan kali saat aku belum sekolah. Bapakku selalu memandikan aku dengan cara persis seperti itu, karena hanya dengan cara itulah aku mau dimandikan tanpa rewel.  Beda benar dengan sepupu-sepupuku yang tak pernah mengalaminya.  Bagi mereka mandi di sumur ini adalah acara wajib saat berkunjung ke rumah nenek. Mengalahkan acara lainnya seperti pergi ke pantai, melihat-lihat hewan yang didagangkan di pasar desa atau melihat-lihat pemandangan indah di bukit kecil di sebelah kampung sambil makan jagung bakar.

Namun kemudian nenek pindah dari rumahnya untuk tinggal bersama bibi paling bungsu yang baru beberapa bulan melahirkan bayi. Sejak saat itu rumah hanya dihuni oleh Mbok Mah dan suaminya, pembantu yang lebih dari 25 tahun tinggal bersama nenek. Lambat laun karena sudah ada sumur pompa, sumur timba itu jarang sekali dipakai, sampai akhirnya diputuskan untuk ditimbun kembali karena akan dibangun gazebo di halaman belakang rumah nenek (Undil 2012)

Cerita Pendek Bahasa Jawa: Kucing Sing Pinter Ngalembana

Suwijining ndina ana Kucing sing alus, kinclong, lan putih mulus wulune mlaku-mlaku ning pawon. Dheweke weruh ana anak thekek lagi nggondol daging empal mbuh seka ngendi. Kucing dadi kepengin melu mangan, terus golek cara supaya bisa ngrebut daging empal kuwi. Kanthi modal wulune sing mranani, lan kaprigelan olah-kata kang mendhemi, Kucing rumangsa isa ngrebut empal saka anak thekek sing miturut pengamatane isih mentah, kurang pengalaman.

"Hai Thekek, awakmu iku kethok pengkuh, rosa banget, lan kulitmu kandel ora tipis kaya kulit cecak. Apa tho rahasiane?

Thekek bungah banget dialembana dening Kucing kang elok rupane. Nanging dheweke meneng wae amarga sumelang menawa mangsuli pitakone Kucing, empale bakalan tiba ning njobin.

Kucing ora kurang akal, banjur takon meneh

"Hai Thekek, kowe iso ora ngajari aku mlaku ning tembok. Kok ya ampuh tenan kowe ki iso mlaku ning tembok, sing ngajari sapa tho?

Thekek meneng wae, sakjane dheweke pingin ngejawab menawa isa mlaku ning tembok kuwi ora ana sing ngajari. Dheweke kuwi pinter banget, dadi isa mlaku dhewe rasah diajari sapa-sapa.

Kucing nyoba ngalembana meneh marang si anak Thekek.

"Hai Thekek, suaramu kuwi tak akoni  pancen merdu tenan. Mbok kowe nyanyi sak lagu wae ben tambah kasengsem athiku marang sliramu"

Anak Thekek ora iso ngampet meneh, kepingin eksis. Dheweke mbukak cangkeme arep nyanyi. Mesthi wae empale tiba ning njobin. Untunge ana Mbokne Thekek sing nyaut empal sing tiba mau, banjur ngajak anak Thekek lunga ngedohi Kucing kang rupane mranani kuwi. 

Mbokne rumangsa dheweke kurang anggone ngajari anake supaya ora gampang klenthir nalika dialembana dening sosok kang pasuryane mranani ati (Undil - 2012).

 Cerita Lain:
Cerita Lucu Basa Jawa: Lomba Nyanyi Bayi Altap vs Pitik Kementhus


Cerita Cekak Bahasa Jawa: Tukang Golek Kayu sing Ragu-ragu


Ana sawijining pemburu sing kasil manah menjangan gedhi ning alas, banjur menjangan digendong arep digawa mulih. Ndilalahe neng tengah ndalan dheweke weruh Gajah lemu sing lagi leyeh-leyeh ning ngisor wit gori. Pemburu ngetokke tombak banjur nginceng Gajah lemu kuwi.  Ananging  sakdurunge tombak dioncalake, Gajahe tangi,  marani Pemburu terus nggubet awake pemburu nanggo tlalene. (Majda Yulianingrum)

Si Pemburu  diangkat banjur dioncalake sak kayange ngantek keceblung jurang. Nanging sakdurunge kontal, tombake pemburu sempat ditancepke ning jantunge Gajah.  Si Pemburu mati kejegur njurang,  nanging Si Gajah uga mati amarga jantunge kena tombake Pemburu.
 
Ora sakwetara suwe ana tukang golek kayu, jenenge Prendis sing mara ndana arep negor wit gori. Weruh ana bangke Menjangan lan Gajah dheweke dadi gumun. Wasan mikir-mikir dheweke ngira menawa Gajah lan Menjangan mesthi wae bar kerengan terus loro-lorone mati. Prendis pengen nggawa bali sungune Menjangan lan gadinge Gajah. Nanging dheweke ora kuwat  nggawa loro-lorone. Kudu milih salah siji.  

Saiki Prendis bingung arep milih sing endi.  Sungu Menjangan apik banget yen dadi pajangan ning ngomah, nanging gading Gajah payu larang yen di dol ning kutho. Mengko nek nduwe duwit dheweke iso kelakon ngajak kanca-kancane sakdesa ngiras ning Bakso Bangjo, kidul Pasar Bantul. Wis suwe dheweke nduwe kepinginan jajan bakso malang sing komplet jenis baksone lan mantep rasane. Mbiyen wis tau ditraktir Pakdhene nang kono, saiki Prendis wis kangen banget pengen mangan meneh. Mengko mulihe dheweke iso tuku sarung lan klambi anyar ning Toko Ijo Pasar Bantul.
 duniashinichi.blogspot.com
Dasar Prendis, dheweke ketungkul wira-wiri ndelok menjangan, bar kuwi marani Gajah. Bingung nimbang-nimbang endi sing luwih nguntungake menawa digawa bali. Saking bingunge dheweke wira-wiri kawit awan nganti sore ora iso mutuske. Penyebape amarga Prendis rumangsa abot kelangan salah sijine. Owel lega lila ngeculke salah siji. Majda Yulianingrum

Wayah lingsir wengi dumadakan ana suara Macan sero banget. Ayake Macan wis tangi turu terus ngambu ana daging sing siap dipangan. Prendis wedi banget krungu suara macan, banjur mlayu njrantal ninggalake gading gajah lan sungu menjangan.  Cita-citane arep njajakke kanca-kancane ning Bakso Bangjo kidul Pasar Bantul lan tuku klambi ning Toko Ijo ora sido kelakon amarga ketungkul ragu-ragu (Undil-2012).

Tulisan lain:

Arya Penangsang - Kisah Tohpati Sang Panglima Jipang Panolan melawan Perampok Kademangan Pudak Muncul
Cerita Lucu Pithik Nggutil Ngindik Gedang Goreng
Cerita Lucu Jaran Putih Pak Kadus

Cerita Cekak Lucu Bahasa Jawa: Jaran Putih Pak Kadus


Pak Kadus nduwe jaran putih sing awake gedhe banget lan wulune putih memplak kinclong-kinclong. Jaran kuwi arane Turangga Seta. Kalebu jaran pilihan amarga awake rosa, lakune lincah lan mlayune banter banget. Ing tlatah Nusantara mungkin saukur Gagak Rimang, jarane Arya Penangsang sing iso ngalahke Turangga Seta. Saben ndina kebiasaane Turangga Seta dolan ning lapangan, utawa mlaku-mlaku turut pinggir ndesa, amarga ora ana gawean sing kudu ditandangi. 

Pak Kadus nduwe profesi dadi tukang gawe meriam-- langganane armada  kapal-kapal perang Ksatria Jepara-- amarga meriame wis terbukti kasil nyilemke pirang-pirang perahu Portugis wektu tempur ning tlatah sabrang lor, yaiku Selat Malaka. Jalaran sanes petani, kewan-kewan sing diingu Pak Kadus ora ana sing kudu kerja keras ning sawah,tugase sakderma dadi kelangenane Pak Kadus. Penduduk Kadipaten Jepara pancen arang-arang sing dadi petani, akeh-akehe dadi pedagang lan pengrajin, amarga ekonomi Jepara ngandelke perdagangan internasional.   
  
Sakjane tugase Turangga Seta iku dadi jaran tumpakane Pak Kadus. Nanging jalaran Pak Kadus ngrumangsani wis tuwo, dheweke wis arang-arang numpak jaran meneh. Malah dheweke wis tau nolak naliko arep disekolahke bab modifikasi meriam ning Stambul -- amarga rumangsa ora kuat meneh numpak kapal nganti pirang-pirang sasi.

















Suwijining ndina jaran sing biasa narik andhong sikile kesleo, terus dirawat ning omahe Pak Mantri tangga desa. Ndilalahe dina kuwi pakane Turangga Seta pas enthek, dadi Pak Kadus kudu tuku pakan ning pasaring Kutho Jepara. Jarak omahe Pak Kadus karo pasar kurang luwih sepuluh kilo. Pak Kadus butuh kendaraan kanggo mara ndana. Sarene jaran sijine lagi lara, Pak Kadus arep nganggo Turangga Seta dinggo narik andhong.

Turangga Seta kaget nalika Pak Kadus marani kandhange, masang tali ning awake, banjur di geret nyedaki  andhong. Turangga Seta tambah kaget nalika dheweke diakon narik andhong dening Pak Kadus.

“Weleh-weleh Pak Kadus ini apa tho karepe? Aku lagi enak-enak turu malah kon narik andhong?” pikirane Turangga Seta

Sarene Turangga Seta ora gelem mlaku arepa taline andhong wis disendal-sendal, Pak Kadus banjur ngetokke pecut. Bokonge Turangga Seta dipecut ben gelem mlaku. Turangga Seta kaget banget dipecut bokonge. Saklawase dheweke lagi sepisan iki dipecut karo Pak Kadus.  Jaran kuwi banjur mlaku amarga wedi bakal dipecut meneh.  Awale mlakune timik-timik, wasan dipecut ping pindho karo Pak Kadus dadi mlayu radha banter.

Karo mlayu manut arahane Pak Kadus, Si Turangga Seta grenengan ning ati.

“Iki Pak Kadus arep ngapa tho ndadak ngajak aku mlaku-mlaku adoh kaya ngene. Mbok nek arep mlaku-mlaku ki ning cerak omah wae ben ora kesel.  Ora ngerti popiye nek mlayu ngeneki  agawe sikilku pegel-pegel!”

Turangga Seta terus mlayu narik andhong  lewat dalan kampung sing wis alus. Ananging sakwise tekan ning pinggir pantai dheweke kudu liwat dalan sing akeh wedine. Mlayune dadi rada angel. Turangga Seta banjur mlayune san saya rindhik, malah suwe-suwe dadi mlaku timik-timik meneh.  Pak Kadus weruh Turangga Seta mlaku rindik banget,  banjur mecut bokonge Turangga Seta.  

Jebretttt!

Dipecut sepisan Turangga Seta tetap mlaku timik-timik. Rumangsane Pak Kadus kur arep mecut sepisan wae, dadi ora apa-apa ora sah dirasakke.

Jebretttt!  Jebretttt! Jebretttt!

Pak Kadus mecut bokonge Turangga Seta ping telu. Banjur mecut meneh gegere Turangga Seta ping loro ngantek jaran kuwi kaget banget. Dheweke kaget amarga ora ngira Pak Kadus bakal mecut bola-bali. Kepeksa dheweke mlayu meneh narik kereta lewat dalan sing akeh wedine kuwi.  Karo grundelan Turangga Seta mlayu kanthi ngati-ati ben ora kepleset

“Prendis tenan iki!. Aku kok dikon peplayon terus kawit mau.  Ngapa tho Pak Kadus iki kok aneh-aneh wae?. Ngajak lelungan menyang pasar ki ngapa tho?. Lha mbok tenguk-tenguk ning ngomah wae rasah kakean polah kaya ngene!  Dasar prendis!

Turangga Seta ora ngerti menawa pasar kuwi papane wong adol pakan kanggo dheweke. Pasar ing kutho Jepara kalebu pasar sing paling rame ing tlatah Nusantara. Papane ning pinggir pelabuhan Jepara. Pedagang sing dodolan ning kono rata-rata nduwe kapal dagang. Asale saka rupa-rupa bangsa, kalebu bangsa Arab, India, Cina, Afrika, Portugis, Perancis, Inggris, lan uga pedagang Jawa. Saudagar-saudagar Pulau Jawa terkenal nduwe kapal-kapal dagang raksasa sing diarani kapal Jung, kanggo ngangkut rempah-rempah saka tlatah pulau-pulau wetan kaya Ternate lan Tidore.

Biasane Pak Kadus menyang pasar seminggu sepisan. Mulihe dheweke nyangking barang-barang kanggo gawe meriam kayata: wesi, kuningan, lan perunggu. Kadang-kadang Pak Kadus mampir pabrik mesiu ning Bergota saperlu tuku bahan peledak dinggo njajal meriam. Pak Kadus ora lali mesthi tuku pakan dinggo ingon-ingone, kalebu kanggo Si Turangga Seta. Dina iki malahan Pak Kadus kur tuku pakane Turangga Seta thok, jalaran mesakke menawa Turangga Seta sing ora kulina narik andhong, kudu narik andhong sing momotane akeh.

Romo Wage dan Pembaruan Cara Penanganan Hewan Kurban


Sepulang dari Jogja, Romo Wage mendapat ide baru untuk memperbaharui tatacara penanganan hewan kurban dan pembagian daging kurban di masjid dekat rumahnya.  Hasil perbincangannya dengan seorang ustadz di Jogja telah membukakan matanya tentang penatalaksanaan hewan kurban yang dianggapnya lebih baik daripada yang sekarang dia lakukan.



Maka selaku ketua takmir masjid, Romo Wage (Romo = panggilan untuk bapak dalam Bahasa Jawa) mengumpulkan pengurus masjid yang lain. Kemudian Romo Wage menguraikan hal-hal yang baru dipelajarinya selama di Jogja.  Seperti yang diduga oleh Romo Wage, para pengurus yang lain sangat antusias dengan ide pembaruan itu. Mereka sangat suka sekali Masjid ini akan menjadi masjid perintis yang menerapkan ide-ide baru di kota ini. Terutama para pemuda.  Pada dasarnya mereka selalu tertarik dengan ide-ide pembaharuan yang membuat segala sesuatu menjadi semakin baik.

Maka setelah beberapakali rapat koordinasi, pada hari yang telah ditentukan bergeraklah para panitia. Mereka bertekad menyukseskan ide-ide perbaikan ini. Hal-hal penting yang berubah dari tahun lalu adalah lokasi penyembelihan yang terpisah dari lokasi pemeliharaan hewan kurban. 

Hewan kurban ditambatkan di kebun mangga di samping kanan Masjid, sementara lokasi penyembelihan ada di halaman rumah warga di samping kiri masjid sehingga hewan yang belum disembelih tidak bisa melihat temannya yang sedang disembelih.  Hal ini untuk menyenang-nyenangkan hewan kurban dan menjaganya supaya tidak menjadi ketakutan dan stres melihat darah temannya yang mengalir.

Lokasi tempat memelihara hewan kurban sebelum disembelih-pun dibuat cukup layak. Dipasangkan terpal untuk melindungi hewan kurban dari panas matahari dan hujan sehingga tidak ada lagi kasus hewan yang sakit atau mati karena kehujanan.  Juga disediakan makanan dan minuman yang cukup,  disamping tempat senantiasa dijaga kebersihannya dengan dibersihkan dua kali sehari pagi dan sore.  Pada intinya hewan kurban diperlakukan dengan sangat baik, dan diberi fasilitas yang layak sebagai perwujudan rasa kasih sayang pada sesama makhluk.

Perubahan yang lain adalah pembagian daging kurban. Jika tahun lalu para calon penerima daging kurban datang ke masjid untuk mendapatkan daging kurban, kali ini daging diantar ke rumah masing-masing.  Dampaknya panitia harus menambah satu seksi lagi yaitu seksi distribusi hewan kurban. Namun hal itu dengan mudah teratasi karena ada ratusan pemuda yang berminat jadi panitia.

Keuntungan dari pembagian dengan diantar ini adalah panitia jadi tahu kondisi sebenarnya dari calon penerima hewan kurban.  Apakah mereka ke depannya perlu bantuan-bantuan lain ataukah tidak. Juga bermanfaat untuk menjaga harga diri para penerima daging kurban.   

Dengan diantar ini orang yang dulunya gak dapat pembagian daging kurban karena malu harus antri di masjid, menjadi dapat ikut berlebaran menikmati hidangan daging kurban seperti yang lain. Tidak ada lagi cerita orang berjubel, saling dorong  dan berdesak-desakan untuk berebut daging kurban. Distribusi daging kurban tertib diantar ke alamat masing-masing  sesuai data calon penerima daging kurban yang telah disusun panitia jauh hari sebelum pelaksanaan kurban.

Cerita Lucu Humor: Tragedi Kunci Mobil Sama

Habis pembagian bonus akhir tahun dari perusahaan, Ima beli mobil jenis MPV seri terbaru yang menurut dia moncongnya mirip-mirip Camry kerennya. Alkisah suatu hari saat istirahat, Ima keluar kantor untuk beli beberapa barang di salah satu swalayan. Kebetulan saat dia parkir di dekatnya telah terparkir pula mobil lain yang sama persis seri dan warnanya. Maka berjejerlah dua mobil warna abu-abu itu di tempat parkir. 

Lima menit kemudian Ima telah selesai belanja dan kembali ke mobilnya. Dikeluarkannya kunci mobil dan masuklah dia ke dalam mobil. Sesaat setelah berada dalam mobil, sadarlah dia bahwa dirinya telah salah masuk mobil. Aksesoriesnya beda banget! Wangi parfumnya juga beda. Pastilah ini mobil  orang  lain, sedang mobil milik  Ima sendiri ada di sebelah. Buru-buru Ima mengeluarkan handphone dan  meluncurlah serangkaian protes pada marketing dari dealer yang menjual mobil itu.

Ima:
Mang, gimana siy Quality Control perusahaan Mamang? Naha kunci urang bisa untuk buka pintu mobil batur?

Dealer:
Ah, masa Teh. Seharusnya kunci mobil Teteh tidak bisa dipergunakan untuk buka mobil lainnya loh!

Ima:
Ini buktina!. Ayeuna urang aya di lebeut mobil batur! Gimana bisa terjadi secara saya bukan tukang sulap?

Dealer:
Teh Ima, tunggu sebentar yah. Kami akan mengirimkan teknisi ke lokasi untuk mengecek kunci mobil Teteh!

Ima:
Cepetan yah Mang!. Cyto nih!  Kalo satu kunci bisa untuk buka banyak mobil kan berabe! Mobil saya jadi tidak aman lagi dung! Bisa tertukar atau dicuri orang! Mang jangan pake lama yah!  Keburu yang punya mobil pergi dari swalayan ini!

Dealer:
Baik Teh, barusan teknisi kami sudah meluncur ke lokasi.

Sejenak kemudian muncullah pemilik mobil asli di depan Ima. Dia nampak terkejut melihat ada orang lain di dalam mobilnya. Buru-buru Ima menjelaskan apa yang telah terjadi. Dia bermaksud mengajak orang itu untuk bersama-sama komplain pada orang dari dealer yang akan datang ke tempat itu.

Ima:
Ceritanya gitu Pak!. Kunci kita sama, jadi saya salah masuk mobil situ. Nanti kita sama-sama komplain keras pada dealer mobil ini yah Pak!

Orang itu malahan tertawa ngakak lalu berkata:
Heuheuheu......Teh Teeeeh!.  Teteh bisa masuk mobil ini karena emang tidak saya kunci. Anak saya ada di jok belakang lagi baca komik!  Tuh tuh anaknya sekarang berdiri...

Dari jok belakang tiba-tiba nongol anak kecil yang ketawa nyengir dan menyapa:
"Halo Tante cantiiik, Sorry yah tadi aku lagi asyik baca komik jadi gak liat Tante masuk mobil"

Ima:
*Gubrak*

tags: cerita lucu, humor, cerita pendek lucu, bandung citizen journalism, joke of the week,