Revolusi Ibu Kinemaru

Apa yang terlihat pada perlakuan ibu kandung Ryoko Kinemaru terhadap seorang sales adalah sangat mengejutkan. Waktu itu Shinichi Kudo sedang berada di rumah Ryoko --- untuk membantu menanam belasan terumbu karang segar ke dalam akuarium yang terletak di ruang tamu --- ketika seorang perempuan muda yang menenteng koper besar muncul dan mengetuk pintu dengan ragu-ragu. Ibu Kinemaru menyambutnya dengan ramah dan mempersilahkan masuk. Setelah beberapa lama berbasa-basi ternyata dia adalah seorang sales yang hendak menawarkan barang kebutuhan sehari-hari seperti sabun cuci, teh & kopi. Disamping mendengarkan dengan penuh perhatian dan sekali-sekali menanggapi perkataan sang sales, si Ibu juga menghidangkan minuman dan sederet kue-kue lebaran untuk tamunya. Akhirnya dua-tiga barang dibeli oleh Ibu Kinemaru yang biasanya lebih suka membeli barang dari pasar swalayan. Perilaku baru yang tak pernah dilihat Shinichi selama ini.

Pada saat Shinichi dan Ryoko menyelesaikan pendekorasian akuarium dengan terumbu karang warna-warni yang kini nampak melambai-lambai indah diterpa arus air, si perempuan muda telah pergi. Ibu Kinemaru melihat ke arah Shinichi dan tersenyum seraya mengatakan tak usah heran akan kebiasaan barunya.
“Sejak Ryoko jadi sales di Jakarta, Saya nggak berani lagi menolak seorang sales tanpa menemuinya terlebih dahulu. Saya tak sanggup membayangkan Ryoko diusir di depan pintu masuk oleh calon konsumennya” kata Ibu Kinemaru pendek.

^_^

Tiga tahun yang lalu, selepas mendapat predikat apoteker, Ryoko Kinemaru memutuskan untuk meniti karir di bidang marketing. Pilihannya jatuh pada produk susu formula untuk bayi di atas umur 2 tahun. Semua pengalaman sehari-hari sebagai produk sales representatif selalu diceritakan kepada Ibunya. Termasuk pengalaman-pengalaman pahit dicuekin atau diperlakukan dengan kasar oleh para calon konsumen yang merasa waktu mereka yang sangat berharga diganggu oleh kedatangan Ryoko. Penggemar ikan hias itu juga selalu bercerita secara terperinci target-target yang dipikulnya. Keberhasilan atau kegagalannya dalam memenuhi target penjualan. Juga pada saat karirnya terancam karena target tidak terpenuhi selama tiga bulan berturut-turut dan bagaimana dia bekerja keras sampai tidak mengenal hari libur untuk mengejar ketinggalannya. Pada saat itulah Ibu Kinemaru benar-benar berperan menjadi kompor yang selalu mengobarkan semangat putri kesayangannya.

Walaupun dua setengah tahun kemudian Ryoko pindah kerja ke Bagian Evaluasi Produk sebuah perusahaan jamu tradisional yang berencana melebarkan pasarnya ke negeri jiran, namun pengalaman Ryoko telah merubah ibunya. Kini Ibu Kinemaru memandang sales dengan cara yang sama sekali berbeda dengan sebelumnya. Dia dapat merasakan sulitnya meyakinkan orang-orang yang baru pertamakali bertemu agar bersedia menjadi pembeli. Bagaimana sebuah perlakuan buruk mungkin akan mematahkan semangat mereka untuk menemui calon konsumen berikutnya. Bayang-bayang wajah Ryoko yang panik dikejar target juga membuatnya mencoba mengerti bila menghadapi seorang sales yang ngotot menawarkan produknya. Meskipun Ibu Kinemaru tidak selalu membeli produk yang ditawarkan, dia berusaha untuk menjaga harga diri si sales agar tetap merasa sebagai tamu terhormat yang datang untuk sebuah keperluan penting. Menurutnya pengalaman sebagai pengobar semangat putri kandungnya, membuatnya tidak ingin menjadi si pematah semangat bagi anak orang lain.NL

07 nopember 2005

0 komentar:

Post a Comment