Menunggu Godot

Tahun ini Juned membeli 2 ekor kambing korban. Satu untuk masjid di dekat rumahnya, satu lagi untuk disembelih di kampung halaman temannya, di pelosok pedesaan di Subang. Untuk kambing yang di Subang, Juned memilih kambing yang terbesar yang ada di sana, harganya relatif lebih murah karena langsung beli pada peternak. Untuk yang Masjid di dekat rumahnya, Juned memilih kambing ukuran sedang karena rada susah cari yang besar.

Juned menitipkan pengurusan kambing pada temannya di Subang. Untuk yang di dekat rumah, Juned menitip pada Bibi yang biasa membersihkan rumahnya. Kebetulan dia tinggal tak jauh dari rumah Juned. Sebenarnya hal serupa telah dilakukan Juned tahun lalu. Waktu itu dia menitipkan pengurusan hewan kurban pada Si Bibi dan temannya. Tahun lalu sehabis dhuhur Juned sudah bisa menikmati gule dan sate kambing masakan si Bibi.


Seperti tahun lalu, Juned sengaja hanya sarapan sedikit untuk mempersiapkan perutnya menyantap gule kambing. Dibayangkannya Si Bibi akan mengantarkan gule tak lama setelah dirinya selesai sholat dhuhur. Maka sepulang sholat dhuhur di masjid, Juned duduk-duduk di teras kamarnya sambil menantikan kedatangan si Bibi membawa gule.

Tunggu punya tunggu hingga jam 2 belum ada tanda-tanda Si Bibi muncul di rumahnya. Si Juned kemudian memutuskan jalan-jalan sejenak keluar sambil menenteng kamera, untuk memotret  daun-daun pohon trembesi yang berguguran di pinggir jalan. Kebetulan saat ini sedang musim gugur daun pohon trembesi. Serasa pemandangan musim gugur di Belanda pikirnya. Dengan angle pengambilan foto yang tepat, tak akan terasa bedanya dengan suasana di Amsterdam karena bangunan-bangunan di pinggir jalan kebanyakan bercorak art deco.

Juned pulang ke rumahnya sehabis Ashar. Tidak ada tanda-tanda Si Bibi telah datang ke rumah. Sementara perutnya mulai keroncongan kekurangan pasokan karbohidrat. Maka Juned menghidupkan kompor dan memasak ikan sarden sambil menghibur diri bahwa kambingnya mendapat giliran dipotong paling akhir sehingga Si Bibi belum selesai memasak. Namun harapan itu sia-sia, sampai habis waktu maghrib, Si Bibi tak kunjung datang.

Akhirnya malam itu Juned jajan Sate Tegal langganannya untuk mengibur diri. Dirinya masih berharap besok pagi temannya membawa kepala kambing dari kampung dan mengantarkan dalam bentuk gule ke ruangannya di kantor. Namun seperti halnya Si Bibi, teman kantornya tak kunjung datang ke ruangan, alias Juned tak bakalan dapat bagian masakan kurban dari dua kambing yang disembelihnya.

Selidik punya selidik ternyata Si Bibi mengira Juned tidak minta bagian daging kurban sehingga tidak dimasakin. Tahun lalu Juned memang minta pada Bibi untuk memasak gule untuknya. Tahun ini Juned tidak bilang, dengan asumsi Si Bibi sudah tahu jika dirinya menginginkan masakan daging kurban.Ternyata Si Bibi malah berpikir Si Juned pulang kampung. Sementara teman kantornya mengira Juned sedang diet, tidak ingin menikmati gule kepala kambing seperti tahun lalu. Jadilah Juned tidak mendapatkan bagian masakan daging kurban. Tapi ya sudahlah. Toh Juned sudah menikmati gule kambing dan sate kambing muda di warung Sate Tegal langganannya (Undil - 2013)

0 komentar:

Post a Comment