BIOPORI

Pengalaman itu sesuatu yang unik. Jika diulangi lagi oleh orang lain atau bahkan oleh pelakunya sendiri, mungkin hasilnya akan berbeda.

^_^


















Orang jaman dulu, termasuk Nenek Buyut Shinichi Kudo, mengenal pantun "Kerikil anak watu, dipikir karo mlaku", alias yang penting mulai kerjakan dulu, nanti kelanjutannya dipikirkan sambil jalan. Entah apa pepatah padanannya dalam bahasa Indonesia, atau in english. Sewaktu kecil, Shinichi sering mendengar pepatah tua itu. Namun baru benar-benar memahami maknanya saat mengerjakan project biopori. Ceritanya pada tahun 2010 Shinichi bersama Haibara mengerjakan project biopori sebagai acara inti kegiatan HUT serikat karyawan. Sebuah acara yang dimulai dengan bekal pengetahuan serba sedikit tentang biopori.

Waktu itu Haibara ditunjuk menjadi ketua panitia HUT serikat karyawan. Seperti biasa dia mengajak Shinichi untuk nimbrung, dan mencari sesuatu yang baru untuk dikerjakan. Sesuatu yang belum pernah dikerjakan sebelumnya. Novelty, itulah semboyan yang pertama. Harus novel, harus baru, jangan mengulang apa yang pernah dikerjakan para pendahulu. Akhirnya disepakatilah menggelar acara pembuatan biopori massal di perusahaan. Haibara mengurus keseluruhan acara, Shinichi khusus mengurusi biopori.

Ada orang yang meragukan acara biopori akan berhasil menarik minat para karyawan. Disebutnya membuat biopori memerlukan kerja fisik, harus ngebor-ngebor tanah. Sedangkan acara HUT biasanya hanya jalan santai, terus karyawan diminta duduk menikmati hiburan. Tidak perlu pake otot. Masukan yang bagus untuk disiapkan antisipasinya oleh panitia. Caranya dengan berkoar-koar tentang biopori jauh-jauh hari sebelum acara dimulai. duniashinichi.blogspot.com

Panitia akan menggunakan semua media perusahaan secara maksimal. Dari mulai mail moderator, papan pengumuman, sampai pemasangan spanduk. Bahkan nggak tanggung-tanggung, Panitia bakalan langsung menghadirkan Pak Kamir Raziudin Brata dari IPB selaku penemu biopori, untuk melakukan sosialisasi. Dengan publikasi yang gegap gempita itu, Shinichi yakin para karyawan bakalan berminat mengikuti acara biopori.
Biopori adalah lubang di permukaan tanah dengan diameter 10 cm, dan kedalaman satu meter, yang harus rutin "diberi makan" berupa sampah organik seperti daun-daunan dan sisa makanan. Sampah itu akan jadi makanan organisme tanah, yang akan membuat lubang-lubang kecil di dinding lubang tersebut. Lubang-lubang kecil tersebut dinamakan biopori, dan berperan membantu mempercepat proses penyerapan air hujan ke tanah, karena penyerapan bukan hanya vertikal, tapi juga horizontal melalui biopori. Biopori bermanfaat mencegah banjir dan membantu memperbanyak cadangan air tanah, karena air hujan tidak langsung terbuang ke sungai. 
 
Penerapan biopori di rumah tangga sangat mungkin dilakukan karena sampah organik dapat dengan mudah ditemukan di dalam rumah. Caranya dengan memasukkan sampah rumah tangga organik ke dalam biopori, jenis sampah yang sering menimbulkan bau tak sedap tersebut akan habis dimakan “penghuni” lubang biopori. Pada saat hujan, biopori juga bermanfaat untuk mengurangi aliran air dari halaman rumah satu ke halaman rumah lainnya, atau ke daerah lain yang lebih bawah, yang bisa menyebabkan banjir.

Kelebihan lain dari biopori adalah memperkaya kandungan air hujan. Bila sumber air hanya berupa air hujan tanpa tambahan apa-apa berarti kandungannya hanya H2O. Namun setelah diresapkan kedalam tanah lewat biopori yang mengandung lumpur dan bakteri, air akan melarutkan dan kemudian mengandung mineral-mineral yang diperlukan oleh kehidupan. 
Untuk mempermudah proses pembuatan biopori dapat digunakan bor yang bisa dipesan ke IPB Bogor. Caranya bor cukup ditancapkan ke tanah, diputar searah jarum jam dengan memberi tekanan seperlunya, bor akan masuk ke dalam tanah. Setiap masuk 20 cm, angkat bor dari dalam tanah maka tanah akan ikut terbawa bersama mata bor dan bisa di buang. Begitu seterusnya sehingga didapatkan sebuah lubang berdiameter kecil (10-30 cm) dan berkedalaman sekitar 1 meter. Untuk tanah yang banyak batu-batunya usahakan untuk terlebih dahulu menyingkirkan batu-batu yang akan menghalangi bor menembus tanah.



Tantangan yang paling dikhawatirkan Shinichi justru adalah soal teknis banget, yaitu pengadaan bor biopori. Bor itu harganya 175 ribu perbuah waktu itu. Dengan jumlah karyawan yang delapan ratusan tentu butuh ratusan bor biopori, dus butuh dana minimal belasan juta rupiah. Dana tambahan yang tidak biasa dalam acara HUT serikat karyawan. Penjajakan untuk sewa bor ke Program Studi Ilmu Tanah IPB, tempat Pak Kamir mengajar juga telah dilakukan. Namun mereka hanya punya bor sebanyak 20 buah saja. Maka hari-hari Haibara dan Shinichi diisi dengan berpikir keras untuk mencari jalan keluarnya. duniashinichi.blogspot.com

Titik terang justru muncul dari Sonoko, sekretaris Panitia HUT serikat karyawan yang agaknya memiliki naluri bisnis yang kuat. Dia mengusulkan setelah acara selesai, bor dilego ke karyawan yang berminat dengan harga 100 ribu saja. Alhasil usulan ini adalah jalan keluar yang cantik. Panitia berhemat uang lebih dari setengah harga bor, dan sosialisasi biopori ke karyawan akan berjalan lebih mantap, karena mereka jadi punya bor biopori sendiri untuk dipakai di rumah. Sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui.

^_^

Ada hal-hal menarik pada acara biopori ini. Shinichi yang lagi sibuk-sibuknya kuliah di Jakarta tidak datang pada dua acara penting biopori. Yaitu pada acara sosialisasi biopori yang nebeng pada pengajian rutin perusahaan, dan pada saat hari-H HUT serikat pekerja. Parah banget yah!!!. Namun hal itu sulit dihindari, karena setiapkali satu topik kuliah selesai, langsung diikutin ujian. Bukan model UTS yang ujian beberapa kuliah disatukan pada satu waktu. Setidaknya itulah alasan yang dikemukakan Shinichi.

Alhasil Shizuka dan Kobo selaku tim inti biopori pada hari-H harus bekerja keras tanpa bantuan Shinichi. Untunglah ada Haibara yang siap membantu. Jika mendengar mereka ngomel-ngomel tentang hal itu, Shinichi ketawa-ketawa saja, mirip Shaun the Sheep cs sehabis melakukan kenakalan pada Pak Tani. Shizuka dibantu oleh Ran bertanggungjawab mengorganisir sosialisasi biopori pada pengajian bulanan, dan melakukan pembagian karyawan dalam kelompok-kelompok kecil untuk membuat biopori pada hari-H. Ran juga mengurusi administrasi penjualan biopori. Kobo sebagai seksi sibuk, bertugas mondar-mandir Bandung-Bogor untuk mengurusi kehadiran Tim IPB, maupun mengurusi pembelian bor biopori.

Kobo adalah karyawan baru, yang direkrut Shinichi untuk membereskan hal-hal yang pada acara-acara terdahulu biasanya dilakukan sendiri oleh Shinichi yang kini waktunya tersita oleh kuliah. Kobo bolak balik ke Bogor dari mulai saat penjajakan untuk melibatkan IPB pada acara biopori, membeli bor, menjemput Pak Kamir, sampai memastikan kesiapan tim juri untuk lomba membuat biopori. Pokoknya dia harus jungkir balik di sela-sela waktu kerjanya yang padat. Sementara Shizuka dengan telaten mengurusi administrasi terkait acara biopori, dan juga melakukan briefing kepada karyawan menjelang hari H pelaksanaan acara biopori.

Uniknya sekalipun Shinichi tidak hadir pada acara HUT serikat karyawan, namanya tercantum di berbagai pemberitaan pers, baik di media online maupun cetak yang muncul seusai acara. "Menurut Shinichi acara biopori ini bertujuan untuk mensosialisasikan.. bla bla bla..." begitulah tercantum pada berita-berita itu. Disamping ada juga kata-kata dari Haibara selaku ketua panitia. Selidik punya selidik, munculnya nama Shinichi berasal dari pers release yang dikeluarkan panitia. Ternyata banyak media yang menggunakan pers release sebagai sumber berita. Jadilah orang yang nggak berada di lokasi bisa membuat pernyataan pada pers.

Satu lagi item acara yang sangat disukai Shinichi adalah pada saat pemasangan bendera kecil-kecil di lapangan depan, di setiap titik tempat biopori akan dibuat. Panitia sengaja menancapkan ratusan bendera warna-warni pada tiang dari bambu setinggi satu meter, beberapa hari sebelum acara. Tujuannya untuk menerbitkan rasa penasaran karyawan ataupun tamu perusahaan. Mereka akan bertanya-tanya: "Apa itu bendera kecil-kecil yang memenuhi lapangan rumput di depan perusahaan?" "Ow, itu lokasi pembuatan lubang biopori pada hari sabtu yang akan datang" begitulah kira-kira jawabannya. Pemandangan yang meriah oleh bendera-bendera kecil berbentuk segitiga, dengan warna-warna genjreng di halaman depan perusahaan, adalah sesuatu banget bagi Shinichi. Yah, sesuatu banget bagi Shinichi.

Gimana jalannya acara pada hari-H?. Shinichi yang sedang memerah otak mengerjakan soal ujian, hanya tahu dari cerita orang-orang. Konon karyawan pada antusias mengikuti jalannya acara pembuatan biopori. Tamu-tamu dari serikat karyawan perusahaan lain juga tertarik untuk bikin acara serupa, pun tamu dari wakil pemerintahan kota tertarik menjadikannya kebijakan. Namun berita yang paling bagus bagi telinga Shinichi adalah bor biopori ludes terjual! Itu artinya panitia tidak tekor! Semua biaya telah tertutup hasil penjualan bor biopori. Yang lebih penting lagi keludesan menunjukkan sosialisasi biopori berhasil. Banyak karyawan yang berminat melanjutkan pembuatan biopori di lingkungan rumahnya. Legalah hati Shinichi. 

Novelty lain yang berhasil digoalkan pada HUT ini adalah acara ngaliwet bareng di lapangan belakang. Ngaliwet adalah tradisi lama di pedesaan tatar parahyangan yang kini dihadirkan lagi di tengah-tengah karyawan usai membuat biopori. Kelancaran acara biopori tentu tidak lepas dari susunan acara buatan Haibara yang sangat sophisticated itu, dibuat sangat detail sampai hitungan menit, lengkap dengan PIC tiap itemnya, dan pastilah dia cek sendiri kesiapan semua PIC sehari sebelum pelaksanaan.

^_^

Perjalanan acara biopori membuat Shinichi merasakan bahwa peribahasa: "Kerikil anak watu, dipikir karo mlaku" itu ada padanannya dalam bahasa Indonesia maupun Inggris. Pepatah itu jika dilihat dampaknya akan terasa sama dan sebangun dengan peribahasa: "There's a will, there's a way". Dimana ada komitmen, disitu akan terbuka jalan untuk mencapai tujuan. Intinya pada kemauan kuat. Persiapan yang berlebihan itu tidak diperlukan, justru keberanian memulai yang dibutuhkan (Undil - Nopember 2013)



Gambar diambil dari wikipedia, dan merupakan lukisan Claude Monet (1840-1926), pelukis yang merintis gerakan impresionis di Perancis. Istilah impresionis lahir dari lukisan berjudul Impression, Sunrise (impression, soleil levant) yang dilukis Monet pada tahun  1872,  dengan subyek pelabuhan Le Havre di Perancis (gambar pada tulisan ini). "Landscape is nothing but an impression, and an instantaneous one" itulah kata-kata Monet yang menjelaskan tentang impresionis.

0 komentar:

Post a Comment