Kancil Mencuri Cinta

Ketimun yang bergelantungan menjadi saksi
bahwa sang tambatan hati hinggap di sekitar diri
di sudut-sudut penuh misteri dari keriuhan sehari-hari
namun diri perlu memasang mata, telinga dan hati
agar semua hiruk pikuk itu gak jadi penghalang tuk mengenali

^_^

Ketimun yang bergelantungan adalah pemandangan yang dilihat Sang Kancil yang sedang berjalan-jalan di ladang untuk menikmati pemandangan yang indah sembari mencari ilham bagi puisi-puisinya.

Bulan depan adalah hari puisi, dimana para binatang hutan akan membacakan puisi bagi sahabatnya, atau suami pada istrinya. Sudah tiga tahun ini puisi Sang Kancil selalu menjadi juara, pasalnya dia begitu pandai merangkai kata-kata indah bagi sahabatnya. 

Namun beberapa hari ini pikiran Sang Kancil buntu. Gara-garanya dia merasa gundah. Dari tahun ke tahun, dia hanya membuat puisi untuk sahabat, kapan dia membuat puisi untuk istrinya?. Tentu pertama-tama Sang Kancil harus punya istri terlebih dahulu.























Akhirnya Sang Kancil mengambil kesimpulan bahwa dirinya tidak akan bisa membuat puisi sebelum menemukan seorang istri. Sambil terus merenung, tanpa kenal lelah Sang Kancil meneruskan perjalanan di ladang yang membentang di sepanjang perbatasan hutan. 

Tak terasa sampailah dia di perkampungan penduduk. Sang Kancil mulai berhati-hati dalam melangkah, jangan sampai kehadiran dirinya dipergoki oleh para penduduk. Ketika Sang Kancil usai menyeberangi kebun jagung, dia melihat seekor kancil betina remaja sedang mengendap-endap, mengamati seorang Perawan Desa yang sedang duduk di teras rumah sambil menyisir rambut. duniashinichi.blogspot.com

"Wooy, lagi ngapain kamu?" tanya Sang Kancil kepada Si Remaja

Si Remaja itu tampak kaget oleh sapaan Sang Kancil, lalu dia mendengus sambil mukanya merah merona.

"Ah rupanya Anda Tuan Kancil nan cerdik. Saya sedang melihat cermin yang dimiliki Perawan Desa itu. Jika aku punya cermin seperti itu alangkah senangnya. Aku bisa merawat kulitku dan rambutku dengan lebih cermat" jawab Kancil Remaja

Sang Kancil melihat Si Remaja yang berdiri di depannya nampak rapi. Bulu-bulunya putih bersih terawat, kakinya mengenakan sepatu dari kayu yang mengkilap, nampak bekas gerusan di sudut-sudut sepatu yang menunjukkan kancil nan jelita yang berdiri di depannya adalah seorang pekerja keras yang sering menggunakan sepatunya saat bekerja. Di pundaknya tercangklong tas yang dilengkapi kantong-kantong kecil berisi aneka barang yang tertata rapi, artinya dia adalah seekor kancil yang cermat.

"Apakah kamu ingin aku mencurikan cermin itu untukmu" tanya Sang Kancil dengan hati-hati

^_^

Duhai hati yang membeku
tak perlu ajari aku cara mencairkanmu
senyuman secerah matahari
keceriaan kanak-kanak mengejar bayang-bayang
telah mendegubkan-degubkan semua rasa
membuat kebekuan mencair tanpa sisa 


Si Remaja menatap Sang Kancil dengan pandangan kaget. Dia sama sekali tidak menyangka mendapat pertanyaan seperti itu. Cepat-cepat dia menjelaskan apa yang diinginkannya. duniashinichi.blogspot.com

"Nggaaaak! Sama sekali aku nggak mau tuan mencuri untukku. Aku sedang memikirkan cara untuk mendapatkan cermin itu dengan baik-baik. Misalnya dengan menukar batu-batu indah dari gunung yang aku miliki. Mudah-mudahan batu-batu ini cukup berharga bagi Perawan Desa, sehingga dia tidak rugi menukar dengan cermin miliknya" jawab Kancil Remaja

Bukan main girang hati Sang Kancil mendengar jawaban itu. Remaja di depannya ini adalah seorang anak yang baik, tidak mau merugikan orang lain, dan memikirkan kepentingan Perawan Desa yang diinginkan cerminnya olehnya. Dus Sang Kancil diam-diam merasa nyaman berada di dekatnya.

"Apakah aku bisa melakukan sesuatu untukmu?" tanya Sang Kancil

"Mmmmfff... maafkan aku tuan. Saya tidak bermaksud merepotkan tuan untuk mengerjakan sesuatu yang bisa saya kerjakan sendiri. Namun saya adalah seorang gadis yang bodoh. Tolong ajarkan saya cara menukarkan batu-batu indah ini dengan cermin milik Perawan Desa itu. Ajarkan saya cara berunding untuk mendapatkan cermin miliknya" kata Si Remaja dengan terbata-bata.

Kancil tersenyum. Dia meneliti batu-batu indah di tangan Si Remaja. Dengan segera dia sadar bahwa batu-batu berwarna merah itu adalah batu ruby yang sangat berharga. Harganya beberapakali lipat dari cermin Perawan Desa. Dus pertukaran itu tidak akan merugikan bagi Perawan Desa. 

^_^

Ketika ruangan harum karena bunga melati
tak ada yang peduli bagaimana cara dia mengharumi
semua yakin hadirnya untaian melati akan membuat ruangan berseri
karena percaya bahwa melati nan cantik itu semerbak mewangi


Sang Kancil adalah seorang yang berpengalaman dalam dunia diplomasi. Dia adalah ahli strategi yang sangat terkenal di hutan raya. Kebijaksanaannya membuat para binatang hutan hormat dan tunduk kepadanya. Watak-watak binatang dan manusia telah dia pahami dengan sangat baik. Kini dia akan memberi nasehatnya pada Si Remaja.

"Dengar pesanku ini wahai Kancil Remaja. Nilai batu-batu ruby lebih dari cukup dari harga beli sebuah cermin plus ongkos transportasi ke kota. Kamu tak perlu taktik atau strategi untuk menukarkan batu-batu ruby dengan cermin milik si Perawan Desa. 

Kamu hanya perlu sedikit keberanian untuk berkata-kata kepadanya. Ketulusan hatimu akan terpancar dari kata-katamu, dari gerak-gerikmu, dari bahasa tubuhmu. Kamu tidak perlu belajar teknik apapun, ketulusanmu akan terdengar lebih lantang di hatinya. 

Perawan Desa itu akan dengan mudah membaca bahwa kau berniat tulus menukarkan barang berharga milikmu dengan cermin miliknya. Dia akan tahu bahwa kamu tidak akan merugikan dia. Dia akan dengan sukarela melepaskan cerminnya dengan batu-batu ruby milikmu" kata Si Kancil.

Si Remaja nampak ragu-ragu mendengar kata-kata Sang Kancil. Namun kemudian dia tersenyum dan membulatkan tekad untuk mendekati si Perawan Desa, dan menawarkan pertukaran yang wajar. 

Sebelum Si Remaja beranjak mendekati Si Perawan Desa, Sang Kancil terlebih dahulu memastikan keselamatan Si Remaja dengan cara menampakkan diri di depan Perawan Desa. Ternyata Perawan Desa hanya menengokkan kepalanya sebentar, kemudian melanjutkan menyisir rambutnya di depan cermin. Ini tandanya gadis itu tidak berbahaya, dan tidak berminat untuk menangkap kancil.

Seperti yang dinasehatkan Sang Kancil, Si Remaja datang mendekati Perawan Desa yang sedang menyisir rambut dan menawarkan pertukaran cermin dengan batu-batu mulia miliknya. 

Nampak Si Perawan Desa tersenyum riang setelah mengamati batu-batu ruby yang diperlihatkan Si Remaja. Sejenak kemudian mereka telah bertukar barang. Batu-batu ruby berada di genggaman Si Perawan Desa, sementara cermin telah masuk ke dalam tas yang dibawa Si Remaja. Kedua perempuan itu berpelukan sebelum berpisah dengan hati yang berbunga-bunga.

Si Remaja berlari-lari kecil dengan wajah riang menghampiri Sang Kancil yang menunggunya di bawah pohon beringin. Ditunjukkannya cermin yang berhasil diperolehnya, dikatakannya benar kata Sang Kancil, Si Perawan Desa langsung percaya dengan kualitas batu-batu yang dibawanya dan mau menukarkan dengan cermin miliknya. Kancil Remaja sangat berterimakasih pada Sang Kancil dan menawarkan diri untuk melakukan apa saja yang diperintahkan Sang Kancil sebagai bentuk balas budinya.

^_^

Selalu ada kesempatan yang siap disesali
selalu ada rasa malu yang tersembunyi
bahkan kegarangan macan pun seakan tak berarti
ketika menyangkut teka teki perasaan sang pujaan hati
namun jika telah rela menerima sebenar-benar diri sendiri
penolakan dan pengabaian tak lagi menciutkan nyali

Sang Kancil menghela napas panjang. Tibalah kepastian dalam hatinya untuk terungkap. Tiada ragu lagi dirinya akan hal ini. Apapun yang terjadi biarlah terjadi setelah semuanya terungkap.

"Wahai temanku nan periang. Setelah sekilas aku mengenalmu, aku merasa kamu bisa membantuku untuk satu hal. Jadikan kamu sebagai penerima puisi-puisiku di perlombaan nanti.  Bukan sebagai sahabatku, tetapi.......... emmmmff sebagai istriku. Aku tidak bisa membuktikan apa-apa tentang tekadku saat ini, tapi yakinlah aku bertekad akan membantumu menjalani hidup dengan lebih mulia" kata Sang Kancil dengan sedikit bergetar

Si Remaja nampak kaget dengan kata-kata Sang Kancil. Belum terlintas dalam benaknya untuk kawin dalam waktu dekat. Di benaknya dirinya baru akan kawin empat atau lima tahun lagi. Namun tawaran Sang Kancil ini membuatnya berpikir untuk membina rumah tangga lebih awal. 

Sang Kancil telah menawarkan dirinya untuk jadi pendampingnya. Dibayangkannya ayah ibunya, adik-adiknya, kemudian sahabat-sahabatnya. Bagaimana hubungan dengan mereka setelah dia kawin nanti. 

Lalu disadarinya hidupnya sejak dua tahun ini tidak banyak perubahan. Hari-harinya diisi dengan kegiatan itu-itu saja. Nyaris tanpa perubahan. Maka bulatlah tekadnya untuk menerima lamaran Sang Kancil. Dia ingin hidupnya bermakna, terus gerak menuju arah yang lebih baik. Dia yakin itu semua bisa diraih bersama Sang Kancil yang bijaksana.

"Baiklah tuan, eh Mas Kancil. Mas Kancil tidak perlu membuktikan apa-apa kepadaku. Ketulusanmu terpancar dari dalam diri dan terdengar lebih keras dari sekedar kata-kata. Aku bersedia menjadi pendampingmu. 

Mas Kancil tentu bisa banget memuliakan aku dengan tidak membiarkan diriku dalam kebodohan. Ajarkanlah ilmu pengetahuanmu agar diriku dapat sedikit menikmati kebijaksanaan di dunia ini. Biarlah kehadiranku lebih bermakna bagi sesama" jawabnya dengan mantap.

^_^

Sebuah tujuan mulia
mengangkat semuanya  menjadi bermakna
bukan sekedar kesenangan raga yang fana
namun sebuah kehidupan penuh makna


Maka seminggu sebelum diadakan lomba puisi di hutan raya, Sang Kancil melangsungkan pernikahan dengan Kancil Remaja. Setelah melangsungkan pernikahan, tiba-tiba puisi-puisi indah mengalir terus menerus dari benak Sang Kancil untuk istrinya tersayang. Otaknya yang buntu sudah encer lagi. Bertumpuk-tumpuk daun lontar bertuliskan puisi teronggok di rumah Sang Kancil. 

Namun lomba baca puisi menjadi tidak penting lagi bagi Sang Kancil. Bahkan dia tidak mengirimkan puisi-puisinya untuk mengikuti lomba. Kini dirinya disibukkan dengan kegiatan baru, yaitu mengajarkan ilmu pengobatan kepada istrinya yang haus ilmu pengetahuan. 

Sang Kancil berharap dalam beberapa tahun mendatang dokter yang melayani hewan-hewan sakit di hutan bertambah satu lagi, yaitu istrinya tercinta (Undil-2013).   duniashinichi.blogspot.com     

gambar diambil dari pict. twitter.com

1 comment:

  1. wah, kisah nyata ini pasti, kisah nyata ini! Kisah nyata ini! Kisah nyata kan, kalo ruby itu harganya mahal?

    ReplyDelete