Bagaimana Raijo membuat orang-orang merasa kehilangan

Namanya Raijo. Pekerjaannya mengurus kebersihan masjid besar. Mulai dari mengepel lantai, menyapu halaman masjid, bersihkan kamar mandi hingga melakukan perbaikan jika ada kerusakan perlengkapan elektronik masjid seperti AC dan sound system.

Namastra Raijo Shalahuddin tidak mau dibayar dalam mengerjakan semua keperluan masjid itu.  Dia mendapat nafkah dari ngebengkel angkot-angkot yang ngetem di jalan raya yang membentang di depan masjid.

Para sopir mengenalnya sebagai Jo-Tokcer. Imbuhan tokcer itu menunjukkan tingginya ketrampilan dalam mereparasi kerusakan mesin mobil. Lima tahun sekolah di Kyoto ditambah 10 tahun pengalaman kerja di seluruh penjuru Jepang telah membuatnya menjadi seorang ahli mesin yang matang.

Uniknya Raijo baru mulai bekerja selepas sholat dhuhur. Padahal dari sebelum Shubuh dia sudah di masjid. Sehabis sholat Shubuh Raijo biasanya mengajar anaknya dan anak-anak tetangga membaca Al Quran. Kemudian dilanjutkan tilawah Al Quran hingga matahari terbit. Lalu Raijo pulang ke rumah untuk sarapan, serta membantu istrinya beberes rumah. 


Kira-kira jam 8.00 Raijo dengan vespa warna putih telah meluncur ke pesantren kecil yang letaknya di pinggiran kota untuk ikut belajar tafsir bersama santri-santri Pak Kyai. Khusus hari Jumat, giliran Raijo mengajar ketrampilan montir kepada santri-santri di sana. Raijo juga mengajarkan cara pembibitan dan bertanam kurma, zaitun, dan anggur -- ketrampilan yang dikuasainya gara-gara sewaktu di Kyoto pernah satu pondokan dengan petani asal Tunis yang sedang belajar kultur jaringan di Universitas Kyoto.

Jam setengah sebelas biasanya Raijo telah kembali ke masjid untuk mengepel lantai, menyapu halaman serta mengecek hal-hal yang membutuhkan perbaikan. 

Kran bocor, cat tembok mengelupas, lampu mati, atau AC kurang dingin biasanya langsung diberesin hari itu juga oleh Raijo. Pokoknya jamaah masjid tahu beres dan gratis. Termasuk biaya-biaya untuk membeli lampu, freon AC dan cat tembok. Paijo merogoh koceknya sendiri untuk semua itu.

Selepas sholat Dhuhur barulah Raijo mulai ngebengkel. Biasanya sudah ada belasan angkot yang antri untuk diperbaiki. Dengan kedalaman ilmunya Raijo biasanya cepat dan tuntas dalam mengobati mobil-mobil yang sakit.

Dari rata-rata belasan mobil yang menjadi pasien Raijo, biasanya tinggal dua tiga mobil yang dikerjakan setelah sholat Ashar. Paling lambat jam 4 sore Raijo telah kembali ke rumah untuk menemui istri dan anak-anaknya. Kadangkala dia bertandang ke para tetangga atau menyibukkan diri dengan merawat tanaman zaitun, kurma dan anggur di halaman belakang rumahnya yang lumayan luas. Uniknya di tengah kebun kurma tersebut terdapat mata air kecil yang tak pernah kering sepanjang tahun. Setiap musim panen kurma, anggur, dan zaitun hampir semua tetangga satu RT kebagian jatah kiriman dari Raijo. 

Raijo jarang mau menerima order perbaikan mobil pribadi. Dia mengkhususkan diri pada angkot yang rutenya melewati depan masjid. Itupun hanya dikerjakan setelah Dhuhur sampai satu jam setelah Ashar. Lewat dari jam itu berarti harus datang lagi esok harinya.

Dengan cara itulah dia membatasi jumlah pasiennya, sehingga waktu luangnya cukup banyak untuk melakukan hal-hal yang lebih penting daripada sekedar bekerja.

Menjelang Maghrib lazimnya Raijo telah kembali ke masjid bersama anak-anaknya, dan baru pulang ke rumah setelah Isya. Antara Maghrib dan Isya, Raijo membantu anaknya mengerjakan PR dan tugas-tugas sekolah di sebuah bangunan tanpa dinding di samping masjid yang memang dikhususkan untuk menampung aktifitas anak-anak. 

Banyak anak-anak tetangga yang ikut gabung di bangunan itu karena Raijo sangat jago dalam soal matematika dan IPA.

Selepas Isya, Raijo mematikan lampu dan menutup pintu serta jendela masjid sebelum pulang ke rumahnya. Biasanya Raijo langsung tidur begitu sampai di rumah.

Diluar kebiasaan rutinnya, sebulan sekali Raijo menerima order pengelasan di bawah air. Itu adalah ketrampilan utamanya kala bekerja di Jepang. Dari aktivitas inilah nafkah utama keluarga Raijo tercukupi. Sekali mengelas pendapatannya bisa sepuluh kali lipat pendapatan ngebengkel sebulan.

Namun Raijo menganggap pekerjaan utamanya tetaplah mengurus masjid. Tak heran dia sangat serius dalam melakukannya. Masjid yang kinclong dan nyaman adalah obsesinya. Aktifitas pengelasan bawah air dianggapnya sekedar kerja sampingan untuk mendapatkan tambahan nafkah.

Pekerjaan ngebengkel juga dianggapnya kerja sampingan yang fungsi utamanya adalah untuk membantu dan sekaligus berdakwah kepada para sopir. Tak sedikit sopir yang menjadi rajin sholat berjamaah dan mengaji setelah diajak ngobrol Raijo kala mobilnya diperbaiki.

^_^

Enam bulan yang lalu Raijo pulang ke rumahnya di kaki gunung Galunggung. Ibunya meminta dirinya mengurus Surau dan madrasah peninggalan kakeknya yang selama ini kurang terurus. 

Raijo dengan senang hati memenuhi permintaan ibunya. Sudah lama dirinya merindukan suasana pegunungan yang sejuk. Mengajar anak-anak adalah kesenangannya yang lain. 

Kehadiran Raijo disambut hangat di kampungnya. Angkot dan truk jurusan Tasik akan dengan senang hati jalan rada jauh ke rumahnya untuk diservis.

Pasalnya Raijo sering praktek montir kala sebulan mudik lebaran, sehingga namanya sudah sangat terkenal di kampungnya sebagai montir jaminan mutu. Tarif murah, pekerjaan cepat dan bagus. Tak ada alasan bagi para sopir untuk tidak berlangganan.

Kontras dengan di kampungnya, banyak orang di kota yang merasa kehilangan. Orang-orang yang paling terkena dampak kepulangan Raijo adalah para sopir dan pemilik angkot. 

Mereka kehilangan seorang montir yang handal tapi murah. Kini jika mobil bermasalah mereka terpaksa merogoh kocek dalam-dalam untuk memperbaiki mobil yang mengalami gangguan

Mereka baru menyadari bahwa Raijo "mensubsidi" biaya pemeliharaan angkot cukup besar. Apalagi Raijo mampu mereparasi komponen mobil yang rusak sehingga tak perlu membeli spare parts baru

Kini sekali perbaikan kecil bisa menelan biaya tiga-empat kali lipat pendapatan sopir. Jauh di atas harga Raijo yang hanya setara dengan uang makan sopir. 

Geleng-geleng kepala para sopir setelah menyadari nilai subsidi Raijo selama ini. Jika diakumulasi nilainya tak kalah dari pendapatan sebuah bengkel besar. 

Pengurus masjid juga kehilangan. Tak ada lagi yang sabar mengurusi masjid. Pintu dan jendela masjid sering terlambat dibuka atau ditutup. Kran bocor, AC dan lampu mati sering berminggu-minggu tanpa penanganan. Lantai masjid tidak lagi sekinclong era Raijo.

Biaya perawatan masjid pun meroket. Semua perbaikan kecil yang dilakukan Raijo ternyata nilai rupiahnya lumayan juga. Biaya perbulan tak kurang dari gaji seorang guru SMA senior yang telah bersertifikat.

Anak-anak yang suka sholat berjamaah ke masjid juga berkurang setengahnya. Dulu mereka ada yang mengajari matematika dan IPA juga mengaji. Raijo juga suka bercerita kisah para nabi. Kini hanya ada guru mengaji saja. 

Saat Idul Adha pun jumlah sapi kurban berkurang satu, karena Raijo biasa membeli seekor sapi benggala ukuran besar untuk kurban. Tadinya orang menyangka sapi kurban terbesar yang ada setiap tahun itu titipan orang Jakarta -- karena selalu diantar dengan truk plat B. Kini mereka baru sadar sapi tersebut dibeli dari kocek pribadi Raijo (undil-2015).

0 komentar:

Post a Comment