Cara Unik Salihara Dandot Membangkitkan Sensasi Kenikmatan Bekerja Kawula Muda saat Memperingati Ulang Tahun Kotanya

Salihara Dandot sebagai ketua RW-09 dengan suara berat mengemukakan pendapatnya. Sebelumnya para tetangga telah mengusulkan macam-macam perayaan menghadapi ulang tahun kota. Ada yang mengusulkan pentas dangdut, lomba nyanyi, pentas tari-tarian, aneka kesenian tradisional sampai festival kuliner. Bahkan ada yang mengusulkan fashion show pakaian tradisional. Kini Salihara mengemukakan sesuatu yang berbeda.

Semua usulan yang masuk adalah hiburan. Sedangkan warga jarang melakukan sesuatu yang serius secara bersama. Mereka sibuk, dan saat-saat perayaan ulang tahun kota ini adalah saatnya warga berkumpul dan melakukan kegiatan bersama. 

Salihara ingin warga mengerjakan sesuatu yang lebih bermanfaat daripada sekedar hiburan. Bukankah sayang sekali waktu berkumpul yang sangat jarang ini kok hanya untuk bersenang-senang, bukan mengerjakan sesuatu yang lebih besar.

"Saya pikir saat ini bukanlah saatnya untuk bersenang-senang. Banyak tetangga kita yang sedang kesusahan karena bisnisnya merosot atau sedang menghadapi PHK. Kita lebih baik melakukan sesuatu yang lebih bermanfaat dalam kebersamaan kita. Kita jarang-jarang bisa melakukan kegiatan bersama -- jangan sampai hanya diisi dengan hiburan, kuliner dan fashion. Kita sanggup melakukan sesuatu yang lebih besar, lebih bermakna, lebih berarti dan manfaatnya kita rasakan selama-lamanya!" kata Salihara memulai kata-katanya dengan roman muka penuh semangat.

Hadirin diam mendengar kalimat yang muncul dari Pak Ketua RW. Mereka kaget dengan preambule Salihara yang langsung menepis aneka acara hiburan yang mereka usulkan. Diam-diam warga merasakan kebenaran di balik kata-kata Salihara tentang tetangga-tetangga mereka yang kesusahan secara ekonomi. Namun mereka tidak tahu arah kata-kata Salihara.

"Saya mengusulkan kita membenahi fisik kampung kita. Kita bareng-bareng menyisingkan lengan mengerjakan usulan yang pernah kita setujui dalam rapat RW setahun yang lalu. Kita pernah sepakat untuk merobohkan pagar-pagar rumah kita supaya tersedia lebih banyak ruang kosong untuk kita bersama. Manfaatnya akan kita rasakan jangka panjang. Anak-anak punya ruang untuk bermain lebih luas. Lebih banyak tanaman-tanaman yang bisa kita tanam serta kampung kita akan terlihat lebih lega, udaranya segar dan suasananya lebih asri" lanjut Salihara, 

Hadirin jadi ribut saling berbisik dengan rekan di sampingnya. Mereka tiba-tiba ingat keputusan setahun lalu yang tak kunjung dilaksanakan karena sulit mendapatkan waktu bersama. Ada saja keberatan warga karena dia sedang sibuk atau tidak ada di rumah. Namun perayaan berdirinya kota  ini jatuh pada hari libur, dan semua warga telah sepakat akan berpartisipasi. Jika perobohan pagar dijadwalkan saat itu pastilah terlaksana.   

"Saya berharap anak-anak muda menjadi motornya. Tenaga kalian masih kuat, pikiran kalian masih fresh, potensi kalian bisa kalian lejitkan!. Sayang sekali jika dihabiskan untuk bersenang-senang dengan hiburan. Lakukan sesuatu yang berarti buat kampung ini!. Kalian pasti bisa menikmati bekerja merobohkan pagar-pagar rumah ini!. Kalian pasti cukup cerdas untuk meresapi dan merasakan betapa nikmatnya berkarya itu jauh melebihi kenikmatan hiburan!" kata Salihara berapi-api membakar semangat anak-anak muda. 

Walau sebagian masih ragu, malam itu warga sepakat dengan usulan Salihara Dandot selaku ketua RW untuk melaksanakan keputusan warga setahun yang lalu, yaitu  merobohkan semua pagar dan benteng yang membatasi halaman depan rumah. Halaman belakang masih diperbolehkan karena menyangkut privacy. 

Keputusan yang diambil setahun silam tersebut bermula dari keluhan warga tentang sempitnya jalan-jalan gang di kampung. Anak-anak susah cari tempat bermain. Warga juga susah cari tempat bergaul di luar rumah. Tanaman-tanaman hijau terhalang pagar sehingga kampung terkesan tandus. 

Kampung terasa sempit karena setiap halaman dibatasi pagar, dan berantakan karena formasi pagar yang berbeda-beda. Dengan merobohkan pagar maka kampung terasa lapang dan lebih nyaman. Makanya warga sepakat mendukung perobohan pagar rumah. Tentu antisipasi dari sisi kemanan juga telah ada dengan menutup semua jalan keluar masuk kampung kecuali jalan dari sisi utara dan timur yang dijaga hansip.

^_^

Maka seperti rencana yang telah disepakati, pada hari perayaan ulang tahun kota, di saat warga kampung lain sibuk dengan aneka permainan rutin tahunan, festival kuliner, pertunjukan musik, kesenian tradisional dan aneka hiburan lainnya, warga kampung yang diketuai Salihara sibuk merobohkan pagar-pagar rumah penduduk dengan bantuan advis beberapa tukang bangunan. Warga kampung tua dan muda berbondong-bondong dalam kelompok-kelompok melakukan perobohan pagar. 

Sebagian yang lain memecahkan lantai halaman rumah yang terlanjur diperkeras dengan semen agar air hujan bisa meresap ke tanah. Mengembalikan halaman rumah bersemen menjadi berlantai tanah adalah bagian dari kesepakatan setahun lalu.

Warga yang masih anak-anak beserta Ibu-ibu melakukan kegiatan membuat lubang-lubang biopori di halaman rumah, termasuk di bekas halaman berlantai semen. Tujuannya supaya lebih banyak air meresap ke dalam tanah. 

Sementara para gadis sibuk menanam beraneka ragam tanaman buah di halaman rumah warga -- tentu seijin yang punya rumah. Mangga, jambu air, sirsak, hingga Matoa ditanam di sana untuk menyegarkan suasana sekaligus mengundang kehadiran burung-burung agar suasana alam yang asri kembali hadir di kampung seperti lima puluh tahun silam kala belum sepadat saat ini. Tak lupa aneka sayuran di tanam di titik tertentu yang telah disepakati, kebetulan ada bantuan dari pemerintah kota untuk penyediaan bibitnya.

Tatkala beberapa pemuda kampung tetangga menertawakan anak-anak RW-09 yang sibuk bekerja bukannya hura-hura dengan aneka hiburan, anak-anak muda yang sedang sibuk merobohkan pagar itu cuman tersenyum dan berkata bahwa aktifitas mereka jauh lebih menyenangkan daripada sekedar hiburan. Setelah merobohkan beberapa pagar atas petunjuk tukang batu yang berpengalaman -- anak-anak muda itu mulai bisa menikmati keindahan kerja.

Mereka bisa menikmati bagaimana sudut ayunan palu harus diatur, bagaimana kekuatan ayunan, bagian mana dari pagar yang harus dipukul terlebih dahulu, bagaimana posisi tubuh yang paling nyaman saat memalu, hingga menghitung ritme kerja akan pagar lebih cepat dirobohkan. Semua itu menjadi nikmat yang luar biasa setelah mereka tahu bagaimana cara bermain di permainan perobohan pagar ini. Kepuasan mereka menjadi luar biasa karena hasilnya langsung tampak, yaitu pagar roboh dan ruang menjadi lebih lega. Sebuah kenikmatan yang tidak bisa diperoleh dari menikmati hiburan,

Bahkan menjelang siang hari, kelompok-kelompok anak muda RW-09 telah membuat semacam perlombaan. Siapa yang bisa lebih cepat, lebih rapi, dan lebih cepat membereskan puing-puing. Mereka merekam aktifitas perobohan pagar dari awal sampai akhir dengan video smartphone untuk nanti malam dipertunjukkan saat makan malam bersama. 

Anak-anak muda itu benar-benar merasa gembira telah melakukan sesuatu yang luar biasa, menikmati pengalaman luar biasa, jauh lebih mengesankan dari tahun-tahun sebelumnya yang sekedar menikmati aneka hiburan. Pengalaman tahun ini benar-benar luar biasa, begitulah mereka mengatakan pada teman-teman dari kampung sebelah yang heran melihat mereka bekerja saat yang lain hura-hura.

"Kalian tidak akan bisa merasakan kenikmatan berkarya dari menonton hiburan. Kalian tidak bisa merasakan dahsyatnya kepuasan dari mengeksplorasi kemampuan kita dalam bekerja. Setiap ayunan palu adalah seni tentang mengukur sudut benturan dan kekuatan ayunan. Kami bagaikan ksatria-ksatria Cirebon saat menaklukkan Sunda Kelapa!. Sensasi kehebatan kebersamaan, kekuatan, dan ketrampilan tidak akan bisa kalian nikmati dari menikmati pertunjukan hiburan" jawab mereka dengan gagah.

Dan jawaban mereka itu benar-benar makjleb mengena di sebagian hati anak-anak muda kampung sebelah yang tadinya mengejek. Mereka melihat diri mereka dan hiburan yang disuguhkan kampung, semua kesenangan itu akan hilang bersama usainya hiburan, Sedangkan anak-anak RW-09 masih akan menikmati ruang-ruang di tengah kampung yang lebih lapang dan lebih asri oleh tanaman. Jika isunya adalah kebersamaan, mereka tahu persis bahwa pengalaman bersama-sama susah payah menuntaskan sebuah pekerjaan besar akan lebih merekatkan persaudaraan antar warga daripada sekedar menikmati hiburan bersama (Undil-2015).

1 comment: