Selalu ada Kali Pertama Melakukan Sesuatu

Malam itu sehabis sholat Isya di Masjid Cipaganti, saat Shinichi Kudo menyusuri pinggir jalan tak bertrotoar untuk pulang, mendadak dia melihat sepeda motor terjatuh tepat di percabangan jalan. Di belakangnya sebuah mobil sedan berhenti. Seorang pria duapuluhan tahun yang mengemudi sepeda motor buru-buru bangkit dari motornya dan membantu seorang perempuan paruh baya untuk berdiri. Perempuan tersebut yang mungkin adalah ibunya -- dengan susah payah berdiri sambil meringis memegang pergelangan kaki kirinya.

Setelah perempuan paruh baya duduk pada trotoar yang mengelilingi taman kecil yang tepat berada di persilangan jalan -- si pria mendirikan sepeda motornya yang tergeletak di aspal. Seorang bapak-bapak usia limapuluhan keluar dari sedan dan menghampiri si pria yang baru saja selesai memeriksa motornya. Shinichi telah sampai di dekat mereka dan mengambil helm yang tergeletak di tengah jalan, sambil meminta si bapak pengemudi mobil untuk menepikan mobilnya yang masih berada di tengah percabangan jalan.

"Bagaimana Ibu, ada bagian tubuh yang sakit tidak?" tanya si Bapak pengemudi mobil saat selesai memarkir mobilnya.

Si Ibu hanya meringis kesakitan sambil mengurut pergelangan kakinya. Shinichi menebak kaki Si Ibu hanya sedikit terkilir, tidak ada luka berdarah atau tanda-tanda kaki patah.
"Tadi anda terlihat ragu, tidak jelas mau belok kanan atau lurus sehingga saya tidak bisa antisipasi gerakan Anda" kata si Bapak pengemudi mobil sambil melihat kepada laki-laki pengendara motor.

"Saya kan sudah menyalakan lampu reting" jawab di laki-laki sambil mengamati kaki si Ibu dengan pandangan khawatir. 

Shinichi menyimpulkan bahwa si pengemudi mobil mengira si pengendara motor hendak lurus karena posisi motornya, ternyata orang itu hendak belok kanan. Jadilah motornya tersenggol oleh mobil yang hendak jalan lurus. Dua orang tersebut tidak berkata-kata, hanya mengamati Si Ibu yang masih sibuk mengurut-urut pergelangan kakinya.

Sementara dua orang itu saling berdiam diri -- Shinichi tidak tahu apa yang harus dilakukan. Apakah dia harus menyarankan si pria membawa Ibunya ke rumah sakit yang berjarak hanya beberapa ratus meter atau menyarankan untuk beristirahat di rumah. Ataukah dia perlu menyarankan si Bapak untuk membayar sejumlah uang untuk pengobatan dan perbaikan motor atau berdamai saja tanpa memberi ganti rugi.

Shinichi tidak tahu apa yang harus dilakukan. Apalagi kedua orang yang terlibat kecelakaan tersebut saling membisu. Mungkin mereka enggan terlibat pertengkaran atau entah mungkin juga dari sononya tidak banyak cakap. Yang jelas Shinichi merasa canggung berada di tengah orang yang terlibat kecelakaan yang diam seribu bahasa. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukan.

^_^
Selalu ada saat pertama seseorang melakukan segala sesuatu. Saat pertama yang canggung, saat pertama yang takut salah. Saat pertama yang tidak percaya diri.  Tingkat kesulitan saat pertama tersebut ditentukan ioleh pengalaman-pengalaman yang sudah dimiliki sebelumnya. Seseorang yang terbiasa mendamaikan permasalahan orang lain tentu tidak akan merasa canggung menyelesaikan masalah dua orang yang terlibat kecelakaan. Seseorang yang sudah pernah mengamati bagaimana seseorang mendamaikan dua orang yang terlibat kecelakaan tentu sudah tahu apa yang harus dilakukan. 

Selalu ada saat pertama melakukan segala sesuatu. Persiapan dan pengalaman tentu membuat kita akan lebih mudah melaluinya. Dan Shinichi sadar masih ada begitu banyak soft skiil praktis sehari-hari yang masih perlu dipelajarinya (Undil 2016). 

0 komentar:

Post a Comment