Bukan Karena Merasa Lebih Baik

Suatu ketika di dalam Laboratorium Mikrobiologi, Sonoko melihat seorang seniornya memakai sarung tangan karet dengan posisi pangkal sarung tangan berada di dalam ujung lengan baju lab yang berlengan panjang. Padahal seharusnya pangkal sarung tangan menutupi ujung lengan baju lab. Buru-buru Sonoko menegur orang itu dan mengatakan untuk merubah posisi sarung tangannya.

Sejenak orang itu kaget dan terpana memandang wajah Sonoko, tetapi kemudian dia buru-buru memperbaiki posisi sarung tangannya dan berlalu masuk ke dalam laboratorium.

Tiba-tiba Sonoko merasa tidak enak dengan apa yang telah dilakukannya. Dirinya merasa telah melakukan kesalahan dengan menegur teman kerjanya itu -- padahal dirinya belum tentu lebih baik daripada dia. Mungkin Sonoko bekerja lebih lambat dari dia, mungkin Sonoko lambat dalam mendisinfeksi peralatan setelah pakai, bahkan mungkin Sonoko dalam memakai perlengkapan laboratorium tidak secermat seniornya itu.

Sonoko merasa malu telah menegur teman kerjanya. Saya tidak lebih baik dari dia. Saya khilaf. Begitu Sonoko menceritakan hal itu pada supervisornya pada saat makan siang bareng. Jawaban Supervisornya sungguh seperti petir yang menggelegar di siang bolong -- bikin Sonoko kaget setengah mati.

"Menasehati bukan berarti kita merasa lebih baik. Memberi nasehat bukan parameter bahwa kita lebih baik dari yang dinasehati. Apa yang kamu lakukan sudah benar. Seseorang yang salah dalam prosedur kerja memang harus dikoraksi. Justru dengan saling menasehati dalam kebaikan maka perusahaan kita akan terus memperbaiki diri. Sebaliknya kita bisa mengalami pembusukan dari dalam seandainya semua orang tidak peduli dengan penyimpangan orang lain sepanjang tidak merugikan dirinya"

Sonoko bernafas lega. Dirinya merasa sedikit terhibur dengan kata-kata supervisornya. Walaupun dirinya masih merasa khawatir telah membuat rekan kerjanya tersinggung.

Pada saat mereka berjalan untuk kembali ke laboratorium seusai makan siang, supervisornya menambahkan sebuah pesan yang menurut Sonoko sangat penting bagi dirinya.

"Nasehailah dengan cara yang baik, dengan cara yang ramah dan tidak membuat orang tersinggung. Gunakan keluwesanmu dan keceriaanmu untuk mengemas nasehatmu  menjadi sesuatu yang indah, karena memang tujuanmu indah"

Sonoko tersenyum mendengar kata-kata itu. Dia tahu persis maksud dari Supervisor kesayangannya itu. Cara penyampaian nasehat harus diperhatikan. Sungguh jika sebuah koreksi ditolak karena cara penyampaiannya yang buruk maka dia dan temannya dalam kerugian yang nyata. Sonoko juga senang dengan hakekat menasehati yang adalah menjalankan kewajiban dan bukan cerminan bahwa seseorang merasa lebih baik daripada yang lain (Undil - 2016)   
       

0 komentar:

Post a Comment