Dongeng Sang Kancil, Dua Bayi, dan Nemo yang Terjebak

Sepulang dari pasar untuk berbelanja kebutuhan bahan makanan buka puasa dan sahur, Bunda Ahza ternyata bukan saja menenteng barang belanjaan kebutuhan dapur, tetapi juga membawa plastik berisi dua ekor ikan Badut -- sama dengan ikan pada film Finding Nemo. Ikan tersebut untuk mengisi akuarium air laut milik kakek Altap yang diletakkan di teras belakang. 

Dua ekor ikan badut itu dengan cepat beradaptasi dan dengan lincah berenang ke sana kemari menjelajahi sudut-sudut akuarium. Malang tidak dapat ditolak -- saat seekor Nemo yang lebih kecil sedang menyusuri permukaan air akuarium -- karena volume air terlalu banyak --  ikan tersebut terjatuh ke dalam kotak saringan filter yang ada di sisi belakang akuarium.

Ahza dan Altap -- dua bayi umur sekitar tujuh bulan yang sedang berkunjung ke rumah kakek mereka itu -- hampir bersamaan berteriak melihat si Nemo yang kecil terjatuh ke sisi belakang akuarium. Akuarium milik Kakek Altap memang terdiri atas dua sisi. Bagian depan yang luas untuk tempat ikan berenang-renang, dan sisi belakang yang sempit untuk tempat meletakkan filter pembersih air. 

Kini Nemo terperangkap di dalam sisi sempit -- tanpa diketahui seorang dewasa-pun. Sedangkan bahasa Altap dan Ahza belum dimengerti oleh orang dewasa, termasuk bundanya. Jadi teriakan-teriakan dan tangan-tangan mereka yang menunjuk-nunjuk ke arah akuarium sama sekali tidak dimengerti oleh bunda mereka.

Bahkan bunda-bunda mereka buru-buru datang dari dapur sambil membawa botol susu -- karena mengira Ahza dan Altap menangis karena kehausan. Padahal dua bayi itu sedang berusaha memberi tahu bahwa salah satu Nemo jatuh ke sisi belakang akuarium. Terpaksalah mereka minum dari botol dot yang disodorkan, sambil berusaha mencari jalan untuk memberitahu bundanya.

"Wa wa wa waaaaaa aaaaa. Aduh aku harus minum susu lagi gara-gara Bunda Majda Yulianingrum gak mengerti maksudku" keluh Altap kepada Ahza. Tentu dengan bahasa yang bagi orangtua mereka dianggap sekedar ocehan-ocehan bayi yang tidak ada maknanya.

Dongeng Kancil, Bayi Altap dan Mara Bahaya yang Mengintai

Sore itu Sang Kancil kembali menyambangi bayi Altap yang sedang duduk di atas stroller birunya menghadap akuarium air laut di teras belakang rumah Kakek -- sementara bundanya sibuk memasak di dapur. Si Kancil mendekati bayi umur 7 bulan itu, lalu berkata sesuatu yang lain dari biasanya.

"Altap, lihatlah di atas itu" kata Kancil sambil menunjuk bentangan kabel yang melintas di atas mereka. 

Altap melihat bentangan kabel itu dengan seksama. Semrawut -- begitu komentar Altap dalam hati. Beberapa helai kabel ditarik dari tempat dipasangnya kincir air diperbatasan kebun belakang rumah Kakek, menuju rumah Kakek dan Langgar di samping rumah Kakek. Kabel-kabel itu ditopang oleh tiang-tiang dari bambu, dan nampak percabangan tidak teratur ada di sekitar rumah Kakek. Semrawut. Tidak rapi. Kesan itulah yang muncul dari kabel-kabel itu.

"Kabelnya gak teratur yah? Semrawut banget yah?. Tapi bukan itu yang ingin kubicarakan. Lihatlah dahan pohon mangga yang patah itu. Jika ada angin sedikit besar, dahan itu akan jatuh menimpa kabel-kabel listrik dan akan membuat aliran listrik ke rumah menjadi padam" urai Sang Kancil.

"Awww awwww.... wa-wa-wa-wa-wa. Kamu benar Kancil, dahan itu akan membahayakan. Bagaimana caranya supaya kita terhindar dari bahaya?" tanya Altap, tentu saja dengan bahasa yang bagi Bunda Majda hanyalah teriakan-teriakan bayi yang tidak ada maknanya, lain halnya dengan Sang Kancil, dia dengan mudah bisa memahami bahasa Altap.

Dongeng Sang Kancil, Bayi Altap, dan Kucing Persia yang tersesat

Suatu sore tatkala bayi Altap sedang berada di depan akuarium di teras belakang rumah Kakeknya, sembari berbaring di atas stroller menikmati pemandangan akuarium air laut sambil mendengarkan cerita Sang Kancil yang sengaja bertandang untuk mendongeng -- tiba-tiba terdengar suara meong-meong yang melengking tinggi. 

Tak berapa lama kemudian muncul seekor anak kucing, bermuka bulat, bermoncong mungil, berbulu lebat warna putih dengan sedikit kelabu di kepalanya, dan bulunya panjang-panjang yang membuat ukuran tubuhnya terlihat lebih besar -- khas kucing persia. 



  

















Anak kucing itu melompat ke stroller Altap lalu mengeong-ngeong di antara kaki Altap. Si bayi umur 7 bulan berteriak-teriak kegirangan melihat anak kucing itu berada di strollernya. Tangannya dimajukan seolah-oleh ingin meraih kepala si kucing mungil.

Sang Kancil segera mengenali bahwa kucing persia kecil ini bukanlah berasal dari wilayah sekitar rumah kakek Altap. Pastilah dia kucing yang tersesat -- entah karena jatuh dari mobil atau kucing yang dibawa tamu dari luar kota yang tidak tahu jalan kembali. Pada mulanya Kancil tidak mengerti kata-kata kucing kecil. Namun perlahan-lahan Sang Kancil mulai dapat mengenali bahasa anak kucing yang masih terbalik-balik urutan katanya  ini. Kayaknya dia belum lama belajar bicara -- sehingga urutan kata dalam kalimat masih terbalik-balik posisinya.

"Tersesat tolonglah aku. Pergi dari tadi pagi rumah lupa pulang ke jalan". kata anak kucing terbata-bata dengan kalimat yang simpang siur tak karuan.

"Namamu siapa?. tanya Kancil yang bingung dengan susunan kata kucing kecil.

Kucing kecil itu nampak menggelengkan kepala tanda tidak mengerti kata-kata Kancil.

"Na-ma ka-mu si-a-pa?" ulang Sang Kancil dengan kata-kata yang dieja dengan perlahan.

Si Kucing kecil mendongakkan kepalanya yang imut sambil bergumam tidak jelas.

Akhirnya Sang Kancil menunjuk dirinya lalu berkata

"Namaku Kancil".

"Nama dia Altap" lanjutnya sambil menunjuk Altap, lalu tangannya menunjuk ke arah kucing kecil.

"Na-ma-ku Fe-lix" jawab kucing kecil itu. Rupanya dia mengerti maksud Sang Kancil.

Altap berteriak kegirangan tatkala mendengar kucing kecil bisa menjawab pertanyaan Kancil -- sampai-sampai si Felix meringkuk ketakutan saking kagetnya oleh teriakan Altap. Sang Kancil geleng-geleng kepala melihat kelakuan Altap yang bikin kaget itu.

Dongeng Kancil dan kata pertama bayi Altap

Adalah Sang Kancil yang telah menunjukkan kepada Altap bahwa di balik gerumbul-gerumbul bambu yang memagari kebun Kakeknya terdapat kincir air yang diputar oleh aliran sungai kecil dan digunakan untuk membangkitkan listrik di rumah Kakek dan Langgar samping rumah Kakek. Altap -- Si bayi umur 7 bulan senang sekali tatkala dirinya berhasil membuat Kakek mau membawa strollernya saat memeriksa kincir air. Selama seminggu bulan puasa ini hampir setiap hari Altap diajak Kakek melihat kincir air di kebun belakang. Namun kemudian Sang Kakek bepergian keluar kota untuk sebuah keperluan bersama jamaah pengajian di Langgar -- membuat kebiasaan melihat kincir air berhenti.

Pagi itu Altap sedang menemani Bundanya menjemur pakaian di kebun belakang rumah Kakek -- tentu di atas singgasana stroller birunya. Bunda Majda sedang asyik menjemur baju-baju Altap yang baru saja dicuci, Baju yang dicuci itu adalah baju-baju yang rusak yang baru saja dijahit dan dipasang kembali kancing-kancing bajunya yang lepas. Katanya sayang jika baju tersebut dibuang, karena baju bayi sekarang mahal harganya.  

Tak jauh dari tempat Bunda menjemur pakaian -- duduk Ahza -- sepupu Altap yang umurnya tidak terpaut jauh darinya. Ahza sedang disuapi oleh bundanya sambil menonton akuarium air laut di teras belakang rumah. Diatas stroller merahnya Ahza tampak kegirangan melihat akuarium air laut yang meriah oleh ikan yang bersliweran dan warna-warni aksesories di dalamnya.
 
Seperti halnya Altap -- Ahza tampak sangat senang dengan kincir di dalam akuarium. Tangannya tak henti-hentinya menunjuk-nunjuk kincir di dalam akuarium sambil berteriak kegirangan. Hal itu membuat Altap ingin mengajaknya untuk melihat Kincir air raksasa di belakang kebun Kakek. Namun saat ini Kakek sedang bepergian -- jadi tak ada seorang pun yang akan paham dengan keinginannya. Pada saat Altap sedang kebingungan, muncullah Sang Kancil dari kebun belakang. Dengan mengendap-endap Sang Kancil mendekati Altap sambil bersembunyi di balik gerumbul tanaman pandan wangi yang berada di dekat tempat menjemur pakaian.

"Hai Altap bagaimana kabarmu?" tanya Kancil pada Altap

"Hai Kancil, aku sehat dan senang dikasih makan tepat waktu terus oleh Bunda. Namun kini aku gak pernah lihat kincir air raksasa lagi karena Kakek sedang bepergian ke kota lain" jawab Altap, tentu saja dengan bahasa yang mirip gumaman-gumaman tidak jelas menurut Bunda Majda, namun dapat dimengerti oleh Sang Kancil yang cerdas.

"Wah sayang sekali. Tapi kamu sabar saja menunggu Kakek pulang dari bepergian -- nanti pasti diajak lagi melihat kincir air" kata Kancil

"Wah, padahal aku ingin mengajak Ahza melihat kincir air. Aku khawatir saat Kakek pulang nanti Ahza keburu diajak pulang ke rumahnya oleh orang tuanya. Kemarin aku dengar Bunda Ahza sering menerima SMS dari pelanggan warung baksonya yang ingin segera dibuka lagi karena sudah kengen ingin makan bakso malang khas buatan Bunda Ahza". kata Altap kepada Kancil.

"Ooo gitu yah. Begini saja, kamu saya ajarkan untuk bicara satu suku kata dalam bahasa manusia dewasa, yaitu KINCIR. Nanti setelah bisa, kamu harus bilang "KINCIR" sambil tanganmu menunjuk-nunjuk ke arah kincir air di belakang gerumbul-gerumbul bambu" kata Sang Kancil.

Dongeng Sang Kancil dan Bayi Imut

Pada suatu sore -- Altap -- si bayi imut umur 7 bulan sedang duduk-duduk di singgasananya, sebuah stroller bayi warna biru yang dilengkapi dengan tempat duduk yang bisa diangkat dan dipindahkan keluar stroller. Altap duduk di singgasananya di teras belakang rumah Kakek -- menghadap akuarium air laut yang terpasang rapi di teras yang diperlebar hingga beberapa meter itu. 

Mata Altap mengawasi pergerakan benda-benda yang berada di dalam akuarium, terutama pergerakan kincir yang berputar kencang karena terpaan gelembung-gelembung udara dari pompa udara. Saat itulah tiba-tiba Sang Kancil muncul dari kebun -- dan langsung menghampiri Altap.

"Woooii bayi siapa namamu" tanya Sang Kancil

"Namaku Altap, anak Bunda Majda. Aku sendirian di sini, karena Bundaku sedang memasak sayur untuk buka puasa" jawab Altap, tentu saja dengan bahasa yang bagi manusia hanya seperti gumaman-gumaman tidak jelas dari bayi yang belum bisa bicara -- yang untungnya dimengerti oleh Sang Kancil yang cerdik.

"Namaku Kancil. Aku tinggal di sebuah gua di pinggir sungai, dan suka sekali main ke kebun Kakekmu yang luas ini karena Kakekmu tak pernah mengusik aku. Kamu suka ikan yak? Kok dari tadi ngliatin ikan terus" lanjut Sang Kancil

"Ah gak juga Kancil. Aku lebih suka makhluk yang berputar-putar kencang itu" jawab Altap

"Wooo itu namanya kincir, dia digerakkan oleh gelembung-gelembung udara" jawab Kancil

"Bagus banget yak!. Kincir itu berputar kencang sekali sampai-sampai warna aslinya menjadi kabur. Andai ukurannya sedikit lebih besar tentu lebih bagus" kata Altap

"Aha! Kamu suka kincir yang lebih besar yah! Klo kamu mau aku bisa tunjukkan kincir yang ukurannya jauh lebih besar. Kincir yang dipakai untuk membangkitkan listrik di rumahmu dan Langgar samping rumahmu itu" kata Sang Kancil

"Aaaaaaa..... aku pengen banget! Tunjukkan, tunjukkan padaku di mana tempatnya kincir besar itu" kata Altap dengan antusias walaupun dia tidak tahu apa itu listrik, dan apa hubungannya dengan kincir air -- bagi dia itu tidak penting.

"Gak jauh kok. Itu dibalik rumpun bambu di kebun belakang itu" kata Kancil sambil menunjuk deretan rumpun bambu yang membatasi kebun belakang rumah Kakek Altap dengan sungai kecil yang mengalir di belakang kebun.

"Tunggu sebentar kamu sembunyi dulu. Sebentar lagi Bunda akan mengecek aku, setelah itu dia akan kembali sibuk dengan masakan-masakannya karena hari ini ada acara buka bersama di Langgar. Setelah itu kamu bisa berbuat baik dengan mendorong strollerku ke sana" kata Altap menyodorkan satu rencana.

"Aku rasa tidak perlu aku yang membawa. Bisa bahaya nanti kalo strollermu tergelincir. Setiap sore Kakekmu menengok kincir air untuk mengecek apakah bekerja dengan baik atau tidak. Kadang-kadang Kakek membersihkan daun-daun yang mengotori kincir air supaya tidak macet. Labih baik kamu bersama Kakek. Nanti kalo Kakek keluar rumah, angkat tanganmu sambil teriak-teriak biar diajak" nasehat Kancil pada Altap.

Mempersiapkan Penerapan Sistem SDM Berbasis Kompetensi


Abah Zayn Malik  mendadak menderita Gegana, alias Gelisah, Galau dan Merana. Pasalnya dia mendengar selentingan bahwa di perusahaan akan diterapkan sistem remunerasi yang baru. Sebagai seorang Supervisor yang membawahi ratusan karyawan, dan mengemban target produksi yang tinggi, dia merasa khawatir jika pencapaian target meleset sedikit saja, maka dia dan tim-nya bisa kehilangan sejumlah bonus. Padahal kontribusi dari unit kerja yang dipimpinnya terhadap pendapatan perusahaan sangat besar, dan dia ragu besarnya kontribusi itu diperhitungkan dalam sistem yang baru.



















Lain lagi dengan penyebab Gegana Mang Harry Styles. Dia mengalami masa-masa Gelisah, Galau dan Merana gara-gara mendengar bahwa sistem SDM yang baru membuat Key Perfomance Indicator (KPI) akan berperan besar mempengaruhi gaji. Sementara unit kerjanya berada di bagian hilir proses produksi. Jika ada kegagalan dari bagian hulu, dengan sendirinya KPI unit kerjanya juga bakalan ikut jeblok. Sialnya dia tidak tahu pasti apakah faktor ketergantungan itu akan diperhitungkan.

Hal lain yang menggalaukan Harry adalah jika dilakukan publikasi terbuka terhadap pengelompokan karyawan berdasar hasil penilaian kompetensi dan kinerja. Dia khawatir seandainya di antara  anak buahnya ada yang menempati zone papan bawah, si personil akan menjadi rendah diri, kehilangan semangat kerja, dan yang paling fatal tidak sanggup lagi bertemu muka dengan gebetannya.

Lagu Michael Heart: We Will Not Go Down (Song for Gaza)

We will not go down! We will not go down! Apa-pun yang telah terjadi!. Apa pun yang akan terjadi Rakyat Palestina tidak akan menyerah pada Israel!. Tentunya si musisi asal Los Angeles ini berharap orang-orang akan tergerak nuraninya setelah mendengar lagu We Will Not Go Down. Kemudian tergerak hatinya untuk mendukung perjuangan rakyat Palestina dan bersedia mengulurkan bantuan demi meringankan beban penderitaan rakyat Palestina. Lirik lagu dan terjemahan bahasa Indonesia karya Michael Heart ini mengesankan semangat yang menyala-nyala Rakyat Palestina.


Israeli Soldier and Baby (worldbulletin.net)


WE WILL NOT GO DOWN (Song for Gaza)

Composed by Michael Heart


Copyright 2009

A blinding flash of white light
Lit up the sky over Gaza tonight
People running for cover
Not knowing whether they're dead or alive

They came with their tanks and their planes
With ravaging fiery flames
And nothing remains
Just a voice rising up in the smoky haze

Lukisan Hujan

Hujan rintik-rintik tatkala aku duduk di lantai dua sebuah warung sop ayam. Di mejaku telah tersaji sop ayam yang masih mengepulkan uap yang menyeruakkan aroma kegurihan yang menggoda. Di sisinya segelas kopi panas menghembuskan kesegaran khas kopi arabica yang menggairahkan. Sebagian isi mangkok sop ayam telah beralih ke dalam perutku. Sementara dari  jendela yang menganga di depanku terlihat kehebohan di jalanan akibat turunnya gerimis.



















Seekor kucing kecil nampak meloncat-loncat gembira diantara tiga orang gadis kecil yang bermain kejar-kejaran di trotoar. Gadis kecil berambut panjang mengejar-ngejar dua orang temannya, seorang anak perempuan berambut pendek dan berhidung mancung, serta seorang lagi anak bertubuh tinggi, ramping dan berambut kriwil. Dua anak itu ketawa-ketiwi menggoda si rambut panjang yang tak kunjung bisa menangkap mereka berdua. Kala hujan semakin menderas, tiga gadis kecil yang awalnya  berkeras diri terus bermain tanpa menghiraukan tetesan air akhirnya menyerah -- dan berteduh di warung kelontong di pinggir jalan. 

Si kucing kecil nampak bingung sejenak ditinggalkan oleh kawannya bermain. Lalu setelah sesaat terbasahi hujan, nampaknya dia tersadar dan buru-buru dia berteduh di kios parfum yang terletak di samping warung kelontong. Lambat tapi pasti kios penjual parfum isi ulang itu semakin mirip kamp pengungsian akibat banyaknya pengendara motor yang berhenti dan numpang berteduh di sana. Motor-motor dibiarkan basah kuyup, berserakan di pinggir jalan dan di atas trotoar -- sementara para pengedaranya menyelamatkan diri dari guyuran air hujan.

Kucing kecil terlihat kurang berani masuk ke dalam tokom parfum. Tubuhnya yang mungil lambat laun semakin terdesak, kuwalahan mencari tempat berpijak, dan semakin tersingkir akibat rapatnya barisan kaki manusia yang berdiri berjajar di teras toko. Akhirnya dia lari ke kios jam yang terletak di samping kios parfum. 

Seorang pegawai toko jam terlihat masih sibuk menurunkan tirai kayu untuk mencegah tampias air hujan masuk ke dalam toko. Setelah selesai menurunkan tirai kayu,  dia mendapati tirai kayu itu telah berdebu dan ditumbuhi sarang laba-laba. Mungkin dia pegawai baru yang tidak tahu bahwa para pekerja toko itu sudah lama tidak menggunakan tirai kayu. Saking lamanya tidak digunakan akibatnya dipenuhi debu dan sarang laba-laba. Maka dikeluarkannya sapu untuk membersihkan. Dengan nalurinya si kucing kecil lari terbirit-birit ketakutan melihat pagawai toko jam mengeluarkan sapu. Disangkanya bakalan digebuk dengan sapu. Dia lari ke sebuah gardu kecil di sebelah toko jam. 

Beberapa pengendara motor masih nampak lalu lalang di jalan tanpa menghiraukan rintik hujan yang mulai bertambah deras. Sejumlah pekerja penggali gorong-gorong nampak menghentikan pekerjaannya, dan buru-buru berlari menuju gardu kecil di sisi toko jam. Awalnya si kucing kecil hanya beringsut ke pojokan gardu. Namun seiring semakin banyaknya tukang gorong-gorong yang berteduh, dia terlihat mulai takut. Pelan-pelan kucing kecil itu beringsut ke depan, kemudian keluar gardu, dan berlari kencang menyeberang jalan. 

Seusai menyeberang jalan, si kucing kecil menghilang dibawah rak koran dan majalah milik penjual  koran yang memajang dagangan tepat di bawah warung sop ayam. Rak tersebut telah diselubungi plastik bening untuk mencegah barang dagangannya basah oleh air hujan. Si penuual koran tidak terlihat batang hidungnya. Mungkin dia sedang asyik mengobrol dengan tukang parkir entah di mana.

Hujan turun semakin lebat. Hembusan angin menciptakan ilusi kabut air yang mulai terlihat menghalangi jalan. Beberapa pengendara motor yang tadinya nekad menerobos jalan kini mulai pada menyerah, dan berteduh di teras toko. Toko-toko di seberang jalan  praktis telah tertutup oleh orang-orang yang sedang berteduh. Beruntunglah penjual mie gelas yang ikut berteduh di toko parfum. Nampak wajahnya dengan riang melayani para peteduh yang mendadak antri membeli mie gelas setelah salah satu diantara mereka memulai memesan. Sepertinya aroma gurih mie rebus telah merangsang hidung para peteduh, dan menggerakkan perut mereka untuk menagih jatah makan siang.

Krek-krek-krek....bruuuk!. Tiba-tiba di dak beton di depan jendela warung sop ayam muncul si kucing kecil. Aku kaget setengah mati melihatnya tiba-tiba muncul di hadapanku. Seolah-olah dia tahu dari tadi kuamati tingkah lakunya. Rupanya si kucing kecil memanjat rak koran, lalu melompat ke pohon palem yang dibiarkan tumbuh tinggi di samping warung sop ayam, lalu melompat ke dak beton di lantai dua. Sebuah kejutan kecil yang membuatku terkesima.

Si kucing kecil nampak mengibas-ngibaskan ekornya. Beberapa kali dia menggoyangkan tubuh untuk menghilangkan tetesan-tetesan air yang membasahi bulu-bulunya. Lalu dia menatapku dan mulai mengeong. Terus mengeong seolah tahu dia bakal mendapat sesuatu. Tiba-tiba aku terinspirasi. Diantara sop ayam ini ada gajih-gajih yang sebaiknya tidak kubiarkan masuk ke dalam perutku. Maka aku ambil gumpalan-gumpalan lemak itu dan kulemparkan ke depannya. 

Seorang gadis berambut sebahu dan bermata jeli yang duduk di meja sampingku rupanya mengamati aku saat memberikan gajih-gajih itu, lalu mengomentari betapa lucunya si kucing kecil. Diambilnya potongan-potongan daging dari piringnya dan dilemparkan ke dapan kucing kecil. Lalu dia mengajak mengobrol tentang hujan dan perilaku orang-orang di jalan tatkala hujan turun. Selintas aku berpikir dia mungkin seorang mahasisiwi psikologi atau seorang wartawati majalah lifestyle. Keriangan yang menyeruak disela-sela celotehnya tiba-tiba mengingatkan aku pada keriangan si kucing kecil. 

Di depan jendela si kucing kecil nampak riang menyantap makan siangnya sambil matanya sesekali mengawasi toko kelontong. Barangkali dia masih berharap seusai hujan, tiga orang teman kecilnya akan kembali bermain di trotoar (Undil-2014).

gambar diambil dari fineartamerica

Cerkak Bahasa Jawa: Ngunduh Bejo Amarga Tumindak Sepele

Dino setu bengi akhir Mei, Shinichi bali menyang Bandung sakwise liburan seminggu ning Jogja. Kaya biasane Shinichi nggawa tas loro, siji tas ransel gede isi klambi, buku, laptop lan sakbangsane. Ditambah siji tas cilik isi oleh-oleh -- salah sawijine bakso gorenge Bakso Bangjo kidul Pasar Bantul sing kagurihane gawe kangen kanca-kancane. Shinichi marani loket Customer Service (CS) stasiun sakperlu njaluk dicetakke tiket kereta api sing wis dipesen seminggu kapungkur lewat situs PT Kereta Api. 




Jebulane saiki penumpang kon nyetak dhewe ning komputer sing disediakake. Ora dilayani meneh dening petugas. Mesti wae antri, ning antriane ora dawa. Tekan ngarep komputer, ana tulisan Shinichi dikon nglebokke kode booking sing wis dikirim via email seminggu kapungkur. Wah nek carane kaya ngene, sesuk meneh dheweke ora perlu ngeprint bukti bayar, cukup dicatet kode bookinge wae. Luwih gampang. Wasan Shinichi ngetikke kode booking lan mejet OK, terus komputer otomatis nyetak dhewe tiket kereta api. Wah pancen canggih tenan pelayanan sepur jaman saiki.

Sakwise nggawa tiket, Shinichi melu antri arep mlebu strasiun. Tekan ngarep petugas checker, Shinichi ngulungke tiket lan SIM sakperlu diperiksa kacocokane dening petugas. Bar tikete dicap dening petugas, banjur mlaku meneh tekan lawang sing dijaga satpam. Satpam uga meriksa meneh tiket Shinichi karo ngandani menawa Sepur lodaya mengko siap ning jalur lima.

Jam wolu kurang seprapat, Sepur Lodaya teka saka Solo. Shinichi mlebu gerbong eksekutif 1, trus goleki kursi nomor 10C. Wasan ketemu kursine, Shinichi enggal-enggal ngetokke laptop, buku,  lan teh Nu Greentea saka tas. Bar kuwi ngunggahke tas ning kabin sepur. Rampung tata-tata gawan, Shinichi asyik nyenuk mbukak-mbukak situs online sinambi ngombe greentea.

Ora lali Shinichi ngobrol karo wong sing lingguh ning jejere, jenenge Arista, mahasiswi ITB, ayu, putih, duwur, sing bar dolan-dolan ning Jogja ninggone budhene. Bar kuwi ora kaya adat saben -- Shinichi kepengen ngruruhi wong sing lingguh ning kursi ngarepe. Jebule wasan mengo ketok rupane si Justus -- cah anyar sing lagi setengah tahun kerja ning kantore Shinichi. Justus uga bar dolan ning Jogja, jarene ninggone Oma.

Rampung ngobrol karo Justus, Shinichi mulai mbukak-mbukak buku sing digawa. Buku karangan Salim A Fillah sing judule Jalan Cinta para Pejuang. Isine apik banget, nerangake bab-bab penting ning kehidupan sehari-hari saka sudut pandang psikologi islami. Pokoke isine top markotop, kaya mbukak tabir perilaku menungsa, lan nunjukke perilaku kang utama. 

Tengah wengi Shinichi nylempitke buku lan laptop ning pinggir kursi amarga kantong sing biasa nemplek ning kursi ngarepe ora ana. Mungkin suwek, terus dicopot tinimbang ngelek-eleki. Ora sakwetara suwe Shinichi turu nglinthek ning kursi. Tangi-tangi jam papat esuk amarga ana suarane petugas sing lagi nariki selimut kusebab Sepur Lodaya wis arep tekan stasiun Kiara Condong. Selimut pancen sok ditarik pas sepur arep tekan stasiun tujuan. Wasan sepur tekan Stasiun Bandung, Shinichi cepet-cepet medhun sakwise pamit marang Arista lan Justus.

^_^

Awan-awan bar makan siang, Shinichi lagi kelingan menawa laptope mau ditokke ning kursi sepur, lan durung dilebokke meneh ning tas. Wah gawat iki!. Berarti laptope ketinggalan ning sepur. Wah mau bar dinggo saukur dislempitke ning pinggir kursi ora langsung dilebokke tas meneh, dadine malah lali.

Cerkak Basa Jawa: Mbak Irah lan Rahasia Mas Wagenugraha

Wis suwe Mbak tukang cuci baju langganane Wagenugraha sing ayu kuwi gumun karo Wagenugraha. Amarga Wagenugraha kerep ngumbahi dhewe sebagian klambine. Kadang-kadang wayah bengi anggone ngumbahi, dadi esuk-esuk pas arep njukuk klambi reget, Mbak Irah kaget weruh ana klambi teles pirang-pirang digantung ning pemean. Terkadang Wagenugraha ngumbahi wayah prei setu utawa minggu esuk. Dadine dheweke anggone adus suwe banget jalaran sisan karo ngumbahi klambi.
















Awale Mbak Irah sumelang gek-gek anggone dheweke ngumbahi ora resik, dadi Mas Wagenugraha rumongso perlu ngumbahi dhewe. Nanging alasan kuwi gugur amarga sebagian besar klambi tetep dikumbahke dening Irah. Akhire saking penasarane, Irah takon marang Wagenugraha:

"Mas Wage, kenging menapa panjenengan niku sok ngumbahi dhewe tho. Punapa wonten rahasia ing klambi panjenengan?" pitakone Irah karo munggahke alise kang nanggal sepisan.

"Oooooo ora, ora ana rahasia ning klambiku. Aku saukur kepengin ngumbahi wae Mbak Irah, sisan karo adus"

"Wah mosok niku alasanipun tho?. Menapa kumbahan kula kurang resik Mas Wage?"

"Ora, ora Mbak Irah. Hasil kumbahanmu  resik kok. Malah resik banget, luwih resik tinimbang kumbahanku"

"Lha punapa alasanipun ngumbahi piyambak?"

Puisi Ucapan Ulang Tahun buat Sahabat - Kita ini Gelas dan Tatakan

Kita ini gelas dan tatakan
kamu gelas, aku tatakan
tanpaku kamu pasti bisa bawa minuman
namun bersamaku dirimu lebih meyakinkan











 




Kita ini gelas dan tatakan
aku menampung luberan dan tetesan
agar tak bikin noda dan berlepotan
yang menyeretmu dalam persoalan

Kita ini gelas dan tatakan
panas isi gelas hanya boleh terasa oleh tatakan
janganlah kau umbar sembarangan
kelak membawamu tenggelam dalam penyesalan  

Kita ini gelas dan tatakan
disatukan dalam ikatan persahabatan
tanpa jarak, tanpa rasa yang terpendam
bersatu dalam kebaikan

Selamat ulang tahun kawan
semoga semangat mudamu tak cepat karatan
bersinar dalam bahagia maupun derita
bersahabat dalam meniti kemuliaan jalan Tuhan
(Undil-2014)
   
gambar diambil dari  pablo-ruiz-picasso

Cerita Kancil Mencuri Timun

Pagi-pagi buta Ki Wagenugraha, sastrawan besar sekaligus cendekiawan ilmu hayati ternama itu sedang menyepi keluar kota, duduk termenung di atas pematang sawah yang ditumbuhi rumput-rumput liar di pinggir-pinggirnya, dan aliran parit kecil mengalir di sisi kiri bawahnya. Ditatapnya kebun timun yang dipenuhi batang-batang tanaman ketimun yang berbuah lebat, bonggol-bonggol ketimun yang berwarna hijau bergelantungan. 

Tiang-tiang kecil yang dibuat dari belahan-belahan bambu dipasang bersilang di kanan-kiri setiap tanaman untuk menyangga timun-timun yang ukurannya telah membuat batang tanamannya terkulai karena beratnya beban. Barangkali jika tanaman ketimun bisa berkata-kata, maka dia akan berteriak-teriak dengan suara lantang kepada Pak Tani, atau bahkan meratap-ratap, mengemis agar timunnya segera dipanen untuk mengurangi beratnya beban yang dia tanggung.















Sejenak kemudian Ki Wagenugraha melihat seorang lelaki muda, umur belasan tahun memanggul cangkul, berjalan dengan langkah-langkah panjang yang  gesit, bergegas menuju kebun ketimun. Di bahunya duduk seorang anak sekitar umur tiga tahun memegang erat-erat leher si lelaki. 

Di belakang lelaki itu, sesosok makhluk berjalan dengan lari terseok-seok laksana ekor lelaki yang terkibas ke kiri dan ke kanan, tertatjh-tatih mengimbangi gerakan Si lelaki yang serba tangkas. Mulutnya terus terbuka dengan lidah terjulur, menghembuskan uap hangat yang terlihat begitu nyata di suasana pagi yang dingin ini, ekornya dikibas-kibaskan berkali-kali, bahkan terlihat begitu sering dikibaskan seolah ekor itu membantu mendayung langkah kakinya mengejar gerakan si lelaki yang nyaris tidak terkejar. duniashinichi.blogspot.com
 
Sekalipun tampangnya bodoh, dan penampilannya kurang meyakinkan, tapi tubuh anjing yang membuntuti lelaki itu tergolong besar, sebesar anak domba, dengan kaki-kaki yang kokoh, tulang-tulang yang menonjol terkesan kuat. Otot-ototnya yang gempal berisi, seakan gumpalan-gumpalan tanah liat yang ditempelkan pada tubuh yang terbuat dari rangka baja. Tubuh seekor anjing besar yang menakutkan. Gerakannya memang kaku, bodoh dan lamban, namun dia juga kokoh, kuat, berangasan, dan patuh, yang membuat anjing itu nampak sebagai pengawal yang ideal bagi lelaki yang nampaknya adalah petani pemilik kebun timun.