Kiat Memilih Gubernur Jakarta Bila Ingin Jakarta Jadi Kota Keren! (2)


Gw
Hey, kemana Rudy, Momon dan teman-temannya yang tiap sore suka nongkrong-nongkrong di gardu dekat pengkolan?

Frend
Ouch! Mereka gak ada waktu lagi buat gitar-gitaran sambil godain cw lewat. Mereka semua pada kerja di pabrik mebel di ujung jalan.

Gw
Ha? Sejak kapan ada pembuat mebel di sini. Emangnya mereka mau gambling beli tanah untuk bikin pabrik?

Frend
Gak, mereka gak beli atau nyewa. Gubernur kita yang baru menyediakan tempat secara gratis di bekas SD yang udah tutup karena tak kebagian murid baru. Bangunan dan tanah dipersilahkan dipakai untuk membuat mebel. Free, gratis, tanpa dipungut biaya apapun dan untuk tempo 3 tahun tidak akan dipungut pajak. Syaratnya mereka harus mempekerjakan tetangga kiri kanan. Habislah riwayat pengangguran!. Gak ada lagi orang nganggur di kampung ini!

Gw
Wow mirip-mirip Bupati di Jogja! Gubernur yang baru ini jagoan yah?

Frend
Top abisss! Gak nyesel Gw milih dia.
Ingat gak, tadi waktu jalan ke sinih gak macet kan?

Gw
Bener juga. Baru nyadar tadi jalanan lancar sekali. Gak ada macet-macetnya!

Frend
Nah itu juga hasil besutan tangan dia. Pak Gubernur ngeborong bis-bis baru untuk angkutan kota. Sopirnya juga dipilih dengan seleksi ketat. Bahkan mereka diasramakan di pesantren-pesantren satu tahun. Abis itu baru boleh bawa bis. Makanya mereka nyopirnya okey banget!.

Gw
Tapi kemana mobil-mobil yang dahulu banyak bersliweran ituh

Frend
Yah nongkrong di rumah dan di kantor. Ada jam-jam tertentu yang hanya angkutan umum yang boleh lewat. Pagi saat berangkat kerja, siang saat anak sekolah pulang dan petang saat pulang kerja hanya angkutan umum yang boleh lewat. Kalau mau pake mobil pribadi yah pagi-pagi buta ama larut malam baru bisa turun ke jalan.

Gw
Wow! Bener nih? Orang-orang yang biasa pake mobil keren mau naik bis butut tambah bonus berdesak-desakan?

Frend
Dasar mikirnya masih jadul banget! Gak lah yew. Dah kubilang Gubernur kita ini bener-bener keren abis. Daripada beli mobil-mobil mewah dia memilih beli ribuan bis keren untuk orang-orang keren kaya gw gini! Jadi ya naik bis gak jauh beda dari naik Ferari huahaha!

Gw
Wow! Kalo gt Gubernur-mu itu pikirannya dah sepuluh tahun lebih maju yah?

Frend
Sepuluh tahun? Yang bener aja. Seratus tahun tau!

^_^

Gw
Gw juga gak lihat toko-toko besar di sekitar sini. Itu pasti kerjaan Gubernur-mu juga yah!

Frend
Xi xi xi xi! Elo pasti suka crita ini. Supermarket besar, swalayan waralaba asing dan toko-toko diskon hanya boleh berdiri di pinggir kota. Jadi toko-toko kecil milik masyarakat biasa pada hidup dengan suburnya di dalam kota dan mereka mendapat sumber penghasilan yang layak.


Gw
Whoaaaaaa! Gmana dg nasib pasar tradisional!!!!. Gmana treatment Gubernur pada pasar tradisional ?

Frend
Gubernur mengangkat manajer profesional untuk mengepalai setiap pasar tradisional. Kompetensi mereka sekelas BOD perusahaan multinasional. Tugas manajer adalah membangun profesionalitas para pedagang pasar. Menanamkan semangat pelayanan konsumen, menjual barang dengan harga sesuai kualitasnya, menjaga kebersihan lingkungan, menjaga keamanan pasar dan menguasai tatacara kelola keuangan usaha kecil. Nah para kepala pasar digaji dengan gaji setara BOD perusahaan asing dan targetnya adalah membuat pasar tradisional mampu bersaing dengan Carefour.

Gw
Wew! Two thumbs up! Berhasilkah proyek ambisius itu?

Frend
Yahhh belum sukses penuh sih. Tetapi secara umum belanja di pasar tradisonal sudah jauh lebih nyaman dan orang gak harus menawar untuk mendapat harga yang pantas untuk suatu barang.

Gw
Wooooooooow! Terus para pesaingnya? Toko-toko multinasional diapain?

Frend
Pelan-pelan mereka disuruh pindah ke pinggir kota – tapi setelah pasar tradisional bisa berubah menjadi lebih nyaman. Pak Gubernur kan juga memikirkan orang yang ingin belanja dengan nyaman, tidak serta merta menyuruh semua toko besar yang berpelayanan baik untuk minggir.

^_^

Gw
Banjir gimana? Gimana kabar proyek banjir kanal?

Frend
Wah banjir kanal itu crita jaman duluuuuu!. Setelah Pak Gubernur menanam jutaan pohon dan membuat ratusan ribu sumur resapan di Jakarta & sekitarnya, air hujan pada berlomba-lomba masuk ke tanah lagi. Jakarta dah talak tiga dengan banjirnya. Banjir kanal gak dibutuhkan lagi.

Gw
Weleh-weleh Gubernurmu itu loh! Mengurangi kosa kata saja. Ntar anak-anak kecil gak bakalan mengenal kata “kekeringan” lagi karena persediaan air melimpah ruah di dalam tanah.

^_^

Gw
Sekolah, sekolah, sekolah? Gubernur top pasti mikir soal pendidikan! Gmana sekolah disini?


Frend
Human capital adalah kata-kata yang paling banyak diulang-ulang oleh Pak Gubernur. Semua sekolah negeri dibatasi SPP dan uang pangkal maksimumnya. Inovasi lain biasalah, gaji guru dinaikkan dan mereka dilatih secara reguler dengan mendatangkan ratusan pelatih dari Jepang. Subsidi pemerintah diutamakan pada sekolah kejuruan. Jumlah SMK dah naik 5 kali lipat sejak dia jadi gubernur. Kualitasnya jangan tanya!. Pak Gub langsung sewa konsultan dari Jerman untuk mengembangkan sekolah kejuruan yang kurikulumnya disesuaikan dengan keahlian yang dibutuhkan industri-industri di Jakarta.

Gw
Buku-buku pelajaran?

Frend
Pak Gub setiap tahun memborong ratusan ribu buku untuk sekolah-sekolah. Buku pelajaran tersedia dan bisa dipinjam di perpustakaan. Tapi banyak orang tua yang memilih beli buku sendiri agar buku bisa dicoret-coret oleh anaknya. Perpustakaan berdiri di setiap sudut kota. Pokoknya Jakarta mirip Baghdad jaman Harun Al Rasyid, dengan ratusan perpustakaan dan jutaan koleksi buku tersebar di seluruh kota.

Gw
Speechless! Gw speechless! Gmana dengan sekolah swasta?

Frend
Dibuat katagori. Komersial dan non komersial. Bila sekolah memungut SPP dan uang pangkal melebihi batas tertentu akan dianggap sebagai sekolah komersial dan dikenakan pajak seperti perusahaan biasa. Mereka juga tidak mendapat fasilitas bantuan keuangan dari pemerintah dan harus diaudit oleh akuntan publik untuk mengetahui bagaimana uang dari orang tua murid dibelanjakan. Sekolah swasta yang memungut biaya di bawah batas limit akan mendapat dukungan penuh dari pemerintah, hampir serupa dengan bantuan untuk sekolah negeri.

^_^

Gw
Kesehatan gmana? Apakah dibangun rumah sakit-rumah sakit baru?

Frend
Gak lah! Gubernur justru berusaha menekan biaya mengobati orang sakit dengan mengaktifkan Puskesmas. Kepala Puskesmas digaji setara top manajer perusahaan besar dan mereka bertugas jadi manajer kesehatan untuk wilayahnya. Tolok ukur keberhasilan mereka adalah jumlah orang sakit di wilayahnya. Makin banyak orang sakit makin parah juga peringkat mereka yang dipajang di website pemda. Jadi semua orang bisa menilai kinerja Kepala Puskesmas secara online. Makanya Kepala Puskesmas berlomba-lomba mempromosikan olahraga secara teratur, makanan higienis, kebersihan lingkungan, rumah sehat dan gaya hidup sehat untuk wilayahnya.

Gw
Hah! (melongo)

^_^

Gw
Pemukiman gimana?. Apakah Gubernur membuat flat-flat keren tapi murah di tengah kota untuk mengurangi mobilitas penduduk? Taman kota gmana?, apakah Gubernur membangun kawasan-kawasan yang nyaman untuk publik ?

Frend
bla bla bla .... bla bla bla .... gw gak nyangka gubernur keren bisa merubah Jakarta jadi kota keren kaya sekarang!

^_^

Percakapan di atas adalah fiktif (karena terjadi tahun 2010 dan saya gak punya pintu ajaib Doraemon) -- tapi bisa jadi kenyataan kalo orang Jakarta sukses mendudukkan orang yang pikirannya keren dan tindakannya lebih keren lagi -- menjadi Gubernur Jakarta tahun 2007. Kekuasaan bila dipegang oleh orang-orang yang “tidak tepat”, dampaknya bukan hanya dirasakan oleh kaum politisi tapi juga ditanggung oleh semua orang, tidak terkecuali oleh kita. Sebaliknya bila dipegang oleh “orang yang tepat”, hidup akan lebih indah, setidaknya mereka tidak membuat urusan kita dengan birokrasi jadi berbelit-belit dan merepotkan. Makanya sebenarnya saya sangat berharap orang-orang sekaliber Habibie-lah yang diajukan menjadi calon Gubernur.(undil.2007)


Masih adakah aku di hatinya ?

Biip Biip Biip...
Suara telpon...

Kau baik-baik saja?
Kok nggak bisa dihubungi sih?
Bikin panik saja!
Semalaman aku nggak bisa tidur tahu!

^_^

Ketika kau masih
mengkhawatirkan aku
kuharap bukan berarti
masih ada aku di hatimu




Turut Berduka Cita

Kala lidah kelu
tak bisa berucap
walau hanya untuk berkata
‘Turut berduka cita”
serasa harus sebrangi lautan bara
lengkap dengan naga-naga yang semburkan api

Duh diriku jangan terlalu peka
Hembusan angin malam tidak
sedingin yang kau kira
Panasnya terik matahari tidak
sepanas magma di perut bumi

Duhai mengapa kau berdiam diri
di pinggir gelanggang
hanya menonton permainan.
Buka mulutmu dan ucapkanlah
kata-kata yang hendak
kau ucapkan untuknya.

Undil 2007


Memilih Gubernur Jakarta 2007

Gw berharap program yang diangkat oleh para calon gubernur jakarta selama kampanye adalah program yang terukur. Program yang kelak keberhasilannya dapat dengan mudah dinilai oleh masyarakat.

Jadi bukan bicara secara umum soal membangun pemukiman baru, memperbaiki angkutan umum dan peningkatan pelayanan publik. Namun bicara dengan target angka yang pasti. Misalnya janji KTP 2 hari selesai, uang pangkal SD negeri kurang dari 100 ribu dan menyediakan 500 angkutan umum khusus wanita. Gw ingin banget program yang mereka tawarkan adalah program yang langsung dirasakan rakyat banyak.

^_^

Menurut gw Gubernur Jakarta adalah posisi yang sangat strategis. Amat sangat strategis bagi seorang pemimpin untuk membuktikan kemampuannya memimpin negara dan tempat uji kelayakan yang tepat bagi seorang calon presiden. Makanya sebenarnya gw sangat ingin partai-partai politik mencalonkan orang-orang yang akan mereka jagokan jadi presiden 10-15 tahun yang akan datang. Gw anggap pemimpin yang berhasil memimpin Jakarta, layak untuk dipilih menjadi presiden.


Sukses di Jakarta adalah ibarat “kampanye setiap hari” bagi sang gubernur dan dengan sendirinya menjadi tiket bebas untuk menuju kursi presiden. Kelak partai tidak perlu lagi bekerja keras mengkampanyekan calon presidennya karena nama sang calon telah dikenal luas oleh rakyat berkat keberhasilannya di Jakarta.

^_^

Berikut ini bukan poster janji gw yang lagi kampanye gubernur lho :p. Tapi contoh kampanye yang mengajukan program nyata dan terukur
















Langit Biru Membuatku Ragu

Langit biru membuatku ragu
Karena tak pernah ada mendung & tak pernah berawan
Hanya terkadang angin berhembus

Sementara uap air yang membubung

dari ketel-ketel yang kunyalakan

tak pernah berbuah hujan.


Langit biru membuatku ragu

Karena hanya angin berhembus

pertanda arti diriku bagi dirinya

Tapi hujan yang kuharapkan

walau hanya gerimis kecil

tak kunjung datang.
(undil 2007)





Jauhkan dari Orang-orang Sesat




Ya Tuhan

Lindungilah aku dari
pengaruh jahat
orang-orang
yang katanya
ingin lakukan pembaruan agama

tapi mengajakku menjauhi jalan-Mu


Ya Tuhan
Dekaplah aku
agar
bisikan-bisikan jahat
untuk merelatifkan kebenaran

ayat-ayat sucimu
akan berlalu
tanpa sedikitpun
membuatku ragu


Ya Tuhan

Tuntunlah aku
ke jalan cahaya-Mu

agar orang-orang yang membujukku

untuk rela hidup berdampingan

dengan para penempuh jalan kegelapan

tak sanggup belokkan langkahku.


Ya Tuhan

Nyalakan api cahaya-Mu

di hati orang-orang yang mengaburkan

batas jalan kebenaran dan jalan kesesatan,

agar mereka berhenti mempromosikan

dunia kegelapan sebagai
dunia kebebasan

(undil 2007)

Tak Sudi Mengemis Damai



Jangan ajari aku bersahabat
dengan penjajah yang merampas negeri kami

Jangan ajari aku menerima begitu saja
kami diusir dan tak boleh kembali

Jangan ajari aku hidup berdampingan
kalau tanah dan rumah kami belum kembali

Jangan ajari aku menyimpan senapan dan bom
Jika mereka belum pergi dari negeri kami

Jangan pernah ajari seorang Ksatria
mengemis damai pada penjajah


Covey dan Ketulusan Hati

Siapa sebenarnya diri-ku terdengar begitu keras
Sehingga kata-kataku tidak terdengar lagi

^_^

Setidaknya ada dua pendapat Covey tentang ilmu jiwa manusia yang sangat berkesan bagi saya. Pertama adalah tentang kebiasaan ketulusan hati (win-win solution) dan yang kedua adalah tentang kebiasaan proaktif.

Tentang ketulusan, Covey mampu dengan jernih menjelaskan peran filosofi dibalik perilaku manusia. Buat Covey — dalam hal hubungan antar manusia — masalah teknik adalah soal nomor dua. Faktor terpenting adalah sifat-sifat asli seseorang dibalik teknik yang dia gunakan. Bahkan teknik-teknik seperti teknik bergaul dianggap akan mengalir dengan sendirinya secara alamiah sebagai perwujudan dari karakter dasar seseorang yang menjadi mata airnya.

Misalnya saat bicara tentang pertemanan — Stephen R Covey si pencetus The 7 Habits of Highly Effective People — tidak akan berbicara tentang teknik mendapatkan teman ataupun teknik mempengaruhi orang lain. Namun dia akan bicara tentang ketulusan. Tentang motivasi pertemanan. Mengapa kita ingin menjalin pertemanan. Semata-mata untuk kepentingan diri sendiri atau untuk kepentingan mereka juga. Bila tujuannya adalah mengambil keuntungan dari orang lain secara sepihak — maka apapun teknik yang digunakan — tak akan mampu membantu kita.

Covey juga tidak akan menganjurkan seorang manajer untuk memuji-muji kliennya atau mengobrol tentang anak si klien bila semua itu hanya pura-pura saja dan bertujuan untuk memanipulasi hati si klien agar merasa diperhatikan dan kemudian mau menandatangani kontrak ataupun membeli produk. Covey cenderung membuang jauh-jauh segala macam trik yang tidak jujur, dia lebih suka seorang manajer benar-benar memikirkan kepentingan klien dan bukannya berpura-pura.

Menurut Covey, teknik, ketrampilan, taktik atau apa-pun namanya--sebenarnya akan muncul dengan sendirinya saat kita bersungguh-sungguh memikirkan kepentingan orang lain. Siapa sebenarnya diri kita-lah yang akan terlihat sangat jelas dimata orang lain dan bukannya teknik yang kita gunakan.

^_^

Pendapat kedua yang menarik adalah spirit proaktif Covey. Memilih bertanggung jawab atas segala sesuatu yang menimpa diri kita dan melakukan tindakan-tindakan perbaikan atas hal-hal yang berada dalam jangkauan kita. Misalnya seorang supervisor marketing produsen kursi kerja yang menghadapi kenyataan bahwa penjualan produk menurun. Sebagai seorang proaktif dia tidak memilih memarahi anak buahnya atau sibuk menuduh perusahaan pesaing bermain curang — tetapi memilih melakukan tindakan. Di dalam benaknya dia sibuk menyusun langkah-langkah yang akan dilakukan.

Dia akan lebih intensif melatih anak buahnya agar mampu memahami kebutuhan konsumen dan menjual kursi yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Dia bernegosiasi dengan bagian produksi untuk memperbaiki desain & kualitas kursi sehingga pesaing tak memiliki peluang menjelek-jelekkan produk. Kemudian Si Supervisor juga membuat peta pasar untuk mencari celah mendapat konsumen baru.

Seandainya pasar dalam kota telah jenuh dia akan berusaha untuk menjual ke kota-kota lain, atau bahkan mencari peluang ekspor. Sebaliknya bila penjualan keluar kota tidak memungkinkan -- dia akan berusaha keras memperbesar pasar di dalam kota -- misalnya dengan menjajaki peluang penjualan ke sekolah-sekolah. Pendeknya dia tidak akan sibuk mencari kambing hitam alias faktor eksternal yang berada diluar jangkauannya, tetapi memusatkan diri untuk melakukan tindakan.







Bila kita memusatkan diri pada hal-hal diluar kendali kita (lingkaran kekhawatiran /circle of concern)-- pada kasus si manajer marketing adalah bila dia sibuk memarahi anak buah dan menyalahkan pesaing -- maka lingkaran kendali kita justru semakin mengecil. Waktu kita akan habis untuk mencari kambing hitam, bukannya digunakan untuk menyelesaikan masalah.


Sebaliknya bila kita memusatkan perhatian pada hal-hal yang dapat kita lakukan (lingkaran kendali / circle of influence), seperti yang dilakukan si manajer yaitu melatih para pekerja, menjajaki pasar baru dan membuat desain kursi yang lebih menarik, maka lingkaran kendali kita akan semakin luas. Masalah makin mudah teratasi karena makin banyak hal-hal yang berada dalam kendali kita.


tulisan ini adalah edisi revisi dari tulisan sebelumnya
Shinichi tentang Covey



Terlalu Banyak Pilihan

Mendapatkan puluhan macam pilihan pH-meter (yang akan digunakan untuk mengukur pH cairan) di katalog online telah membuat Shinichi Kudo kesulitan memilih. Bagaimana cara dirinya bisa memilih satu diantara kerumunan pH meter yang perbedaan satu dengan yang lainnya tidak terlalu jauh. Hampir semuanya memenuhi spesifikasi yang dibutuhkan.

Ada yang ukurannya kecil. Ada yang combo -- dilengkapi dengan sensor-sensor lain selain sensor pH, misalnya sensor conductivity dan sensor ORP. Ditambah lagi ada tambahan-tambahan aksesoris yang membuat perbedaan harga satu sama lain. Padahal Shinichi baru melihat katalog dari satu merek pH meter saja. Belum melihat katalog merek yang lain – yang mungkin jumlah pilihan tidak kalah banyak. Wuihh apa tidak tambah pusing! Sementara pH meter yang pernah dipesan beberapa tahun yang lalu sekarang sudah tidak diproduksi lagi.

Apa yang dilakukan Shinichi pada akhirnya adalah kembali ke tradisi masa silam, yaitu mengandalkan informasi dari mulut ke mulut. Yah, Shinichi menelpon temannya di QC yang sophisticated, telah berpengalaman membeli pH meter. Dia akan memesan pH meter yang persis sama dengan pH meter temannya itu, terkecuali printernya. Untuk printer dia lebih suka memakai printer yang sama dengan printer pH meter yang ada di departemennya.

^_”

Seperti artikel di Harvard Business Review yang terlampir dibawah, terlalu banyak pilihan membuat konsumen pusing dan menunda pembelian. Apalagi bila yang dijual adalah barang teknologi, konsumen akan tambah pusing lagi. Bagi konsumen yang mau bersusah payah mencari informasi, Panduan Konsumen di internet atau di majalah mungkin akan sedikit membantu. Namun bagi konsumen dengan waktu sempit, tidak telaten membaca atau tidak mengerti istilah-istilah teknis di Buyer Guide – terlalu banyak pilihan adalah sama saja menyuruh mereka menunda pembelian.

Jadi produk berkualitas saja tidak cukup. Tantangan berikutnya bagi produsen adalah menyediakan Guidance yang komunikatif untuk orang awam -- sebagai konsumen akhir -- tentang produk yang sebaiknya mereka pilih beserta alasan yang masuk akal. Panduan itu akan menjadi bekal mereka saat hendak melakukan transaksi atau berkonsultasi lebih lanjut dengan expert sebelum melakukan pembelian.(May 2007).




Google Ini Gambar Apa? - Kebutuhan Mesin Pencari Gambar

Belakangan terlintas dalam benakku -- andai Google bisa menyediakan layanan pencarian berdasar gambar, tentu akan jauh lebih mudah melacak si dolmen.


^_^

Ketika mendapat kiriman gambar dibawah ini, aku penasaran. Salah satu gambar dari rangkaian gambar keluaran National Geographic ini sangat menarik. Gambar deretan rumah-rumah antik dari batu yang bentuknya langsing, sempit dan lonjong -- membuatku ingin tahu bagaimana cara penghuninya tidur. Deretan rumah yang ukuran lebarnya tidak memungkinkan orang berbaring telah membuatku penasaran tentang kondisi kehidupan di dalamnya.



Untuk menguak misteri dibalik gambar — pertama yang terlintas di benakku adalah Google. Bagaimanakah mencari tahu benda itu di mesin pencari yang powerful dan halaman mukanya bersih dari iklan tersebut.

Karena setahuku -- Si Google tidak menyediakan layanan pencarian berdasar gambar – maka terpaksalah diriku mencari-cari satu dua kata yang terpampang dalam gambar. Untunglah kutemukan kata-kata Celtic Realm beserta Majalah National Geographic dan nama fotografer yang mengambil gambar. Dengan bekal kata-kata itulah aku menelusurinya di Google.

^_^

Pada akhirnya aku tidak berhasil menemukan gambar yang benar-benar mirip dengan gambar tersebut – walau aku juga mencarinya di Ensiklopedi Britannica dan Encarta. Tetapi secara kira-kira aku telah mengambil kesimpulan. Gambar rumah-rumah aneh berjendela kecil – kuanggap sebagai Dolmen (mudah-mudahan tidak salah). Rumah batu yang digunakan oleh orang-orang Celtic -- yang kebudayaannya mendominasi banyak wilayah Eropa Barat dan Tengah pada milenium pertama sebelum masehi -- untuk mengubur orang mati. Jadi rumah itu bukan diperuntukkan untuk manusia yang masih hidup, tapi semacam kuburan.

Belakangan terlintas dalam benakku -- andai Google bisa menyediakan layanan pencarian berdasar gambar, tentu akan jauh lebih mudah melacak si dolmen. Cukup dengan meng-upload gambar ke Google – seperti yang dilakukan pengguna situs flickr & blog saat ingin memajang gambar di web — kemudian Google akan melakukan pencarian gambar-gambar yang menyerupai gambar tersebut di dunia maya.

Kurang lebih proses pencarian akan berjalan seperti ini. Google menerjemahkan gambar ke dalam kode-kode tertentu dan kemudian mencari gambar-gambar yang ada di internet dengan kode-kode yang sama dengan gambar itu. Mungkin proses pencariannya akan lebih lama karena Google harus menerjemahkan gambar ke dalam kode-kode terlebih dahulu.

Sebenarnya gambar-gambar tertentu, seperti gambar berformat jpeg adalah serangkaian kode-kode yang diterjemahkan oleh software menjadi gambar. Jadi Google tidak perlu membuat kode-kode baru untuk gambar seperti itu. Untuk tahap awal Google bisa saja membatasi pencarian pada gambar dengan format yang sama. misalnya gambar jpeg hanya dapat dicari ke rimbaraya gambar berformat jpeg yang tersedia di internet.

Memang ada faktor kesulitan tentang kode itu. Sedikit perubahan pada gambar-- misalnya ukuran dan gelap-terang gambar akan membuat kode-kode berubah sehingga mempersulit pencarian. Namun Google bisa saja mengatasinya dengan mengembangkan software yang mampu mendeteksi perubahan-perubahan kecil pada gambar. Dengan sofware itu Google akan bisa mengenali gambar-gambar serupa -- yang kodenya berbeda karena telah mengalami sedikit perubahan.

Google juga harus mengembangkan software untuk men-select bagian tertentu dari sebuah gambar agar memudahkan pelacakan. Karena gambar-gambar tidak selalu berlatar belakang kosong, Bisa saja gambar sebuah benda yang ingin dicari berada ditengah-tengah benda lain. Misalnya gambar dolmen yang berada ditengah lapangan rumput. Google harus memastikan pencarian dilakukan terhadap dolmen, bukan terhadap rerumputan.

^_^

Manfaat searching dengan keyword berupa gambar adalah kita tidak perlu kebingungan lagi mencari tahu gambar-gambar yang tidak kita mengerti -- seperti gambar dolmen dari National Geographic. Manfaat bagi Google adalah perusahaan itu bisa punya lahan bisnis baru, yaitu sebagai mesin identifikasi. Bila dengan kamera digital kita mengambil gambar bunga, tanaman, burung, ikan, lemari, lukisan & awan, atau kita memiliki hasil foto sel-sel darah, bakteri, virus, bahkan gambar hasil foto ronsen – kita bisa mengandalkan Google untuk memberi informasi tentang gambar itu.


Tentu akan sangat menarik bila gambar hasil foto ronsen bila dilacak penjelasannya di Google. Karena hal itu akan mendorong demokratisasi dalam pelayanan medis sebagai dampak pengetahuan pasien yang bertambah. Pasien dengan mudah mendapat second opinion dari internet sebagai pembanding hasil diagnosa dokter atas foto ronsen. Diskusi dokter-pasien akan lebih hidup karena pasien telah mendapat “advis” dari Google.


Pengembangan lebih lanjut – yang mungkin akan merusak privasi orang — adalah seseorang bisa melacak foto dan sidik jari orang lain di Google. Tentunya untuk itu Google harus punya akses ke database foto dan sidik jari penduduk suatu negara. Seandainya itu terjadi, pencarian pencuri berdasar sidik jari tidak lagi dimonopoli oleh polisi. (Beyond Imagination - May 2007)


comment lewat email :
Technically computer sudah bisa membedakan gambar, misalnya gambar bayi telanjang dan orang dewasa telanjang, di bisa tau yang mana porno dan yang engga
Tapi sementara belum ada search engine yang menyediakan hal ini. Ide Bagus juga nih %&^. Kalau kita bisa buat, bisa kaya juga kayak yang punya google


Jam Berjalan

Hari itu Shinichi Kudo kembali berpapasan dengan “jam berjalan”, yaitu satu penanda waktu yang menunjukkan apakah dia berangkat lebih pagi atau lebih siang dari biasanya. Tempat dimana Shinichi berpapasan adalah parameternya. Biasanya setelah absen di depan fotocopy Shinichi berjalan menyusuri koridor depan sekrerariat, depan keuangan, terus menuju halaman gedung aula. Dari halaman aula dia berjalan di koridor depan gedung produksi hingga sampai ke ruangannya.

Si jam berjalan -- sebut saja namanya Tweety si burung letik cantik temannya Sylvester – biasanya berpapasan dengan Shinichi di koridor antara sekretariat sampai keuangan dengan membawa sejumlah tas bawaaan entah isinya apa. Mungkin kertas-kertas kerjaan, makanan atau botol minuman (jadi ingat waktu TK hihihi! gak ding!). Si Tweety ini berjalan menuju tempat absen di depan fotokopian.


Bila Shinichi berpasasan dengan Tweety di depan sekretariat berarti dia berangkat pada jam normal seperti biasanya. Bila bertemu Tweetie di depan keuangan, apalagi sampai di dekat ATM di depan aula berarti Shinichi berangkat lebih pagi dari biasanya. Namun bila berpapasan di tempat absen, menunjukkan Shinichi berangkat agak kesiangan. Si Tweety ini biasanya langsung dengan bangga menyebut Shinichi kesiangan. Sebaliknya bila bertemu di halaman aula dia menyebut dirinya yang kesiangan.


^_^


Mengapa Shinichi sering ketemu Tweety?
Karena mereka punya kebiasaan yang sama. Ada banyak hal yang secara tidak sadar kita lakukan berulang-ulang sehingga menjadi kebiasaan. Seperti waktu berangkat kerja. Pada awalnya mungkin kita berangkat pada jam tertentu karena sebuah alasan, misalnya karena pagi kita harus menyetrika baju terlebih dahulu.

Lama kelamaan hal itu menjadi pola. Pada saat urusan baju dan setrika telah kita “outsourcing” ke Bi Minah ternyata kita tetap berangkat jam yang sama dengan alasan yang lain, misalnya ingin baca koran atau nonton TV. Bahkan kadang-kadang dengan sengaja kita memperlambat mandi atau berpakaian karena tahu waktu berangkat kerja masih lama (nae)



Resensi Film: The Bridge to Terabithia, Jangan Letakkan Semua Telur Pada Satu Keranjang

Jess seorang anak laki-laki umur 11 tahun hidupnya tiba-tiba berubah setelah kedatangan Leslie, seorang anak perempuan tetangga barunya yang juga teman sekelas. Bersama Leslie, Jess menjelajah sebuah hutan di dekat rumahnya. Di hutan itu keduanya menciptakan sebuah dunia baru dalam khayalan. Mereka bermain sebagai Raja dan Ratu yang tinggal di Negeri Terabithia. Sebuah negeri ajaib dengan tokoh-tokoh ajaib yang tinggal didalamnya.



Rumah pohon, raksasa troll, burung-burung ganas, serangga petarung dan tupai-tupai penyerang. Mereka juga tiba-tiba dapat melompat tinggi, berlari secepat angin dan bertarung dengan moster. Sebuah dunia petualangan yang membuat kedua anak ketagihan untuk terus bermain ke hutan itu sepulang sekolah.

Hutan itu membuat mereka hidup di dua dunia. Dunia kenyataan yaitu sekolah & rumah, serta dunia impian Terabithia. Jess mendapat “buffer” kehidupan nyatanya sebagai anak petani dengan anggota keluarga yang gemar menonton TV -- di Terabithia. Leslie si anak baru yang kesepian mendapat dunia yang riang di Terabithia. Sebuah dunia penyangga yang membuat mereka tidak “hancur” bila salah satu dunianya berantakan.

Masalah-masalah di sekolah tidak akan terbawa sepanjang hari hingga di rumah karena mereka memiliki dunia penyangga. Kesedihan-kesedihan di sekolah karena ulah para bully (anak nakal) terencerkan oleh hadirnya Terabithia. Dunia baru itu membuat “telur-telur” mereka tidak diletakkan pada satu keranjang, melainkan pada banyak keranjang. Sehingga tragedi pada salah satu keranjang tidak merupakan tragedi di seluruh kehidupan.

Seorang manusia dewasa yang bekerja, sebenarnya juga bisa membangun dunia lain sebagai buffer dari dunia kerja. Bila ada masalah pekerjaan, tidak serta merta dia akan merasa hidupnya dalam masalah karena dia punya kehidupan yang lain. Kesedihan-kesedihan yang dialami di kantor akan terencerkan oleh dunia kedua. Kegagalan di bisnis tidak dengan sendirinya membuat dia merasa hancur karena adanya “dunia lain” yang masih baik-baik saja. Buffer itu dapat berujud berbagai macam hal, misalnya kegiatan di sebuah organisasi atau kegiatan lain diluar kerja seperti berkebun, klub menyulam, olahraga ataupun menjadi pelatih basket untuk anak-anak sekolah dasar.


^_^


Film berjudul Bridge of Terabithia semakin menegaskan pepatah “jangan letakkan telur pada satu keranjang” dengan hadirnya tragedi yang membuat Jess kehilangan teman dekatnya. Tragedi itu memaksa Jess berpaling kepada adik kecilnya yang pada awalnya diabaikan, untuk ikut hadir di dunia Terabithia. Si adik menjadi putri kecil yang menemani Jess di dunia lain tersebut. Sebuah pelajaran lain yang menegaskan untuk jangan meletakkan kebahagiaan maupun kesedihan pada satu orang. Jangan bergantung pada satu orang untuk membuat bahagia. Letakkanlah pada banyak hal dan banyak orang sehingga kehilangan seseorang tidak akan membuat hari-hari kita merana.

Dua tokoh menarik di film yang dibuat berdasar novel Katherine Paterson – seorang penulis Amerika yang dilahirkan di Cina tahun 1932 -- adalah adik kecil Jess dan seorang perempuan muda guru seni Jess yang memiliki gaya mengajar yang atraktif dan sangat ekspresif. Seperti saat Bu Guru memulai pelajaran musik, pertamanya dia menyuruh semua murid untuk mengambil berbagai alat musik yang dibawanya dengan roda. Menawarkan lagu, kemudian menyuruh mereka membuat suara.

Pokoknya membuat suara sehingga seluruh kelas menjadi gaduh. Baru kemudian si guru memainkan piano dengan diiringi nyanyian oleh seluruh anak. Sebuah pelajaran sekolah yang sangat mengasyikkan (dan mengingatkan saya pada Robin Williams yang menjadi guru kreatif di Dead Poets Society). Ibu Guru yang menarik itu juga mengajak Jess yang berbakat melukis untuk bertamasya ke musium yang memajang karya-karya pelukis klasik.

Tokoh lain yang menarik adalah si adik kecil. Si adik ini selalu berangkat sekolah bareng Jess dengan bis sekolah. Dia juga berlari-lari disamping lapangan menyemangati Jess yang sedang bertanding lari dengan teman-teman sekolahnya. Dia juga yang mengkhawatirkan Jess tatkala dilanda kesedihan akibat kehilangan teman dekatnya. Seperti ending yang sering ditemui pada film Hollywood, film ini juga ditutup dengan tepuk tangan meriah para penghuni Terabithia saat Jess dan adiknya bagai Raja dan Putri memasuki dunia ajaib itu. Satu lagi yang menarik adalah keluarga Leslie walaupun keluarga kaya ternyata tidak memiliki TV! (nae)