Horor di Warung Kucingan

Inilah pengalaman mendebarkan Shinichi Kudo sehabis sholat jumat. Waktu itu Shinichi mampir ke sebuah warung kakilima di belakang masjid yang menyuguhkan aneka masakan rumah. Ditelitinya isi lemari kaca tempat memajang aneka lauk pauk. Seperti biasa Shinichi dengan cepat menyebutkan pesanan makanannya yang kali ini berupa nasi, tempe goreng 2 buah, opor paha ayam, sate telur puyuh, sayur kacang dan empal goreng satu buah, ditambah minum teh botol.

Ketika Shinichi sedang menikmati makanannya berturut-turut muncul  beberapa orang masuk ke dalam warung untuk makan. Seorang tukang parkir di masjid. Disusul seorang tua yang sering memijat para pengunjung masjid, dan kemudian tiga orang yang tampaknya rombongan pedagang keliling yang sedang beristirahat untuk makan. Semua orang itu memesan makanan yang sama dengan Shinichi, namun tanpa opor ayam, sate telur puyuh dan empal goreng. Mereka masing-masing memesan nasi, sayur, ditambah satu buah lauk, antara tempe atau tahu.

Deggg! Shinichi merasa tidak enak menyantap makanan dengan lauk pauk "mewah" itu diantara orang-orang yang makan dengan lauk sederhana. Mungkin mereka gak peduli dengan makanan yang dimakan Shinichi, tapi perasaan Shinichi tidak bisa tenang. Dirinya merasa berbeda dengan orang-orang sekelilingnya, seolah-olah sedang pamer kekayaan di depan mereka. Ups! Sungguh tidak nyaman Shinichi untuk terus berada di situ. Harusnya tadi dia memesan lauk pauk sederhana seperti mereka, bolehlah tambah daging atau telur tapi cukup satu saja. Bukan lauk pauk melimpah model gini. Sungguh gak enak berada dalam posisi seperti ini.

Klo pernah mendengar peribahasa dimana tanah dipijak, disitu langit dijunjung, hari itu Shinichi benar-benar meresapi sedalam-dalamnya peribahasa tua itu. Tanpa kemampuan membuka mata dan telinga lebar-lebar sebelum makan saja, telah membuat dirinya terlempar dalam posisi sulit (Undil-2013)

0 komentar:

Post a Comment