Omahku rata dengan tanah
Sepeda, gelas, piring, perabotan, dan semua
barang milikku ilang dalam sekejap.
Juga nyawa adik, sepupu dan tetanggaku
Namun tidak hatiku
Aku adalah ksatria tua gagah perkasa
yang nrimo terhadap takdirku
Aku nangis sebentar saja
Aku terguncang sejenak saja
Kini aku harus menjadi srengenge
padang njingglang yang menghangatkan
tetangga-tetanggaku
Aku gerakkan tanganku
Kubersihkan puing-puing rumahku
Kubuat rumah kayu dan bambu untuk anak istriku
Kubangkit dan bekerja kembali mencangkul sawah,
dan nukang batu ke kota
Karena aku sadar
Aku adalah sesepuh desa
Perasaanku boleh hancur
namun bukan jiwaku.
Aku harus sekuat batu karang tempat berpegangan
Sabar membimbing jiwa-jiwa yang sedih
golek dalan padang melihat masadepan
Bukan menuntun ke jalan gelap meratapi kemalangan
Desa kami adalah desa para ksatria
yang selalu gagah menatap masa depan
Tangan-tangan kami selalu rajin mencangkul sawah
dan trampil nukang batu, nukang kayu
mbangun gedung-gedung kokoh.
Kami akan bekerja keras sepanjang tahun
untuk membangun kembali rumah, jalan,
jembatan, masjid, sekolahan
dan juga harga diri kami.
Cerita pendek ringan bernuansa psikologi dan manajemen untuk teman minum teh
Kampung Pengundang Ular (3)
KAMPUNG PARA PENGUNDANG ULAR (3)
Sawan Ular Pelangi
Aku tidak percaya gravitasi bumi
Aku terjun dari atap rumah
Aku hancur bersama kebodohanku
Di balik kampung yang kembali tenang dan aman setelah kepergian para ular, terdapat sekelompok kecil penduduk yang gelisah. Tak lama setelah ular-ular diusir keluar kampung, para pengundang ular merasa bosan.Mereka telah dirasuki kesenangan terhadap ular dan hari-hari mereka terasa hampa tanpa lilitan ular. Namun mereka tak bisa berbuat apa-apa. Mengundang ular ke dalam kampung sama saja bunuh diri. Apalagi bila ular-ular tersebut sampai menggigit mati penduduk kampung---bisa-bisa mereka akan digantung di alun-alun kampung.
Tak kuat merindukan bergaul dengan para ular --- para pengundang ular diam-diam bersepakat mencari lokasi untuk mendirikan kampung baru. Setelah hampir dua tahun mencari-cari tanah kosong akhirnya mereka menemukan lokasi di sebuah lembah yang terletak di tepi hutan tanaman obat-obatan yang sering didatangi para tabib dari seluruh negeri. Disitulah mereka perlahan-lahan membangun rumah-rumah kayu. Setelah jumlah rumah mencukupi, serentak 49 keluarga pengundang ular eksodus menuju kampung baru yang kemudian diberi nama kampung ular.
Beberapa bulan setelah kepindahan mereka berita berdirinya kampung khusus bagi para pengundang ular telah menyebar ke seluruh negeri. Akibatnya berduyun-duyunlah para pengundang ular pindah kesana. Dalam waktu beberapa tahun saja kampung itu telah menjelma menjadi sebuah kampung besar yang dipadati para pengundang ular.
Mulailah lahir aktifitas-aktifitas yang berkaitan dengan ular. Mulai dari atraksi ular-ular menari, balap ular, renang ular, kontes kulit indah, kontes lidah terpanjang sampai atraksi ketahanan dibelit ular. Setiap bulan purnama ribuan orang datang memenuhi kampung itu untuk menonton ular fair yang menyuguhkan segala macam hal tentang ular. Dari para pengunjung itulah penduduk kampung ular mendapatkan sesuap nasi. Karenanya mereka selalu berusaha menciptakan kreasi-kreasi baru agar para pengunjung tidak bosan.
Salah satu langkah penting yang berhasil menarik minat pengunjung adalah dibiakkannya ular berkulit warna-warni yang dilapisi sisik-sisik yang bependar di kegelapan. Ular tersebut merupakan hasil persilangan dari berbagai jenis ular aneh ditambah perlakuan-perlakukan khusus terhadap telur-telur ular—seperti direndam ramuan-ramuan racun tumbuhan yang mengandung alkaloid, saponin, oksalat, selenium & nitrat menyebabkan lahir ular jenis baru yang kemudian dikenal sebagai ular pelangi.
Popularitas ular pelangi dengan cepat menanjak mengalahkan ular-ular silangan lain berkat kecerdasan dan warna kulitnya yang sangat indah. Disamping matanya yang tajam dia juga memiliki lidah bercabang yang selalu menjilat partikel-partikel di udara untuk kemudian disentuhkan sebuah organ di langit-langit mulutnya untuk dikenali baunya. Berbekal bau partikel tersebut ular pelangi dapat mengetahui adanya benda-benda di sekitarnya walaupun terhalang benda lain. Kepala ular tersebut juga dilengkapi sejumlah sel yang peka terhadap panas yang berguna untuk melacak panas tubuh mangsa favoritnya yaitu tikus clurut dan burung nuri. Kelebihan lain adalah ular pelangi dapat mengenali perintah-perintah pemiliknya dari jarak jauh berkat sebuah tulang peka suara yang berada di kepalanya.
Ular pelangi sangat mudah dilatih untuk melakukan berbagai atraksi seperti menari di atas tali, melompat, berenang, mencari benda-benda yang tersembunyi. Berkat tulang peka suara semua atraksi itu dapat diperintahkan dari jarak ratusan meter oleh pelatihnya sehingga seolah-olah dia dapat melakukan atraksi mandiri dan mampu melayani permintaan penonton di atas panggung pertunjukan seolah-olah bisa diajak bercakap-cakap. Sifat istimewa yang lain adalah si ular jarang menggigit orang, suka tidur di pangkuan tuannya dan manja seperti kucing yang suka menggosok-gosokkan kepalanya ke kaki pemiliknya. Wajarlah bila populasi ular pelangi meningkat dengan cepat seiring semakin banyak orang yang meminatinya. Perlahan-lahan ular pelangi menyebar ke seluruh negeri karena dibeli oleh para pengunjung kampung ular.
^_^
Sebuah apel tidak akan
berubah menjadi ayam
Walaupun berdasar kesepakatan
dia boleh dianggap apel atau ayam
Beberapa bulan kemudian baru diketahui bahwa sekalipun ular pelangi tidak pernah menggigit manusia ternyata dia menebarkan sebuah penyakit yang membuat penderitanya kejang-kejang setiap malam dan kemudian satu persatu bagian tubuhnya menjadi kering dan rontok. Kelenjar ludah di rahangnya yang biasanya menghasilkan bisa ternyata telah berubah menjadi sel inang tempat berkembangnya virus-virus mutan yang akan keluar bersama cairan bisa. Virus tersebut khusus menyerang sel-sel jaringan kulit dan jaringan tulang rawan manusia.
Kasus pertama tercatat terjadi pada seorang gadis yang memelihara lebih dari selusin ular pelangi di kamarnya yang sempit. Rupanya setiap satu jam sekali ular pelangi menghembuskan cairan bisa lewat mulutnya yang penuh dengan virus --- yang masuk ke tubuh gadis itu lewat hidung, mulut, mata dan bagian kulit yang mengalami luka terbuka. Setelah terinfeksi virus si gadis sering mengalami kejang-kejang pada malam hari. Beberapa bulan kemudian virus-virus ganas itu secara bertahap menghancurkan sel-sel jaringan kulit, tulang dan tulang rawan. Mula-mula terlihat bibir, kelopak mata, pipi, hidung dan daun telinga si gadis menghitam dan perlahan-lahan merapuh untuk selanjutnya berceceran ke tanah. Selanjutnya bagian tubuh yang lain seperti tenggorokan dan tulang belakang menyusul mengalami kerontokan.
Berita yang lebih buruk adalah penyakit itu ternyata dapat menular dari manusia yang telah terjangkit ke orang-orang sekitar lewat kontak cairan tubuh. Gawatnya lagi virus tersebut tidak mati walaupun telah direbus dalam air mendidih. Akibatnya para tabib yang menggunakan jarum-jarum untuk mengobati pasien yang terjangkit penyakit yang kemudian dikenal sengan nama penyakit sawan ular pelangi tersebut --- harus membuang jarumnya dan menggantinya dengan jarum-jarum baru. Jika hal itu tidak dilakukan maka seluruh pasiennya akan tertular penyakit yang mengerikan.
Hanya dalam hitungan bulan setelah lahirnya penyakit aneh — dua pertiga penduduk kampung ular telah dijangkiti penyakit. Enam bulan kemudian penyakit telah menyebar ke kampung-kampung sekitarnya akibat adanya penduduk yang sering berkunjung ke kampung ular. Satu tahun kemudian hampir di seluruh negeri telah ditemukan pengidap sawan ular pelangi--- yang kebanyakan adalah bekas pengunjung kampung ular. Perlahan-lahan penyakit menyebar ke penduduk non pengunjung kampung ular—sebagian diantaranya karena tertular lewat jarum-jarum para tabib.
Untuk mengurangi kecepatan penyebaran wabah sawan ular pelangi --- raja memerintahkan para tabib untuk membuang jarum setelah digunakan. Barang siapa yang melanggar akan dihukum kerja paksa di tambang-tambang bawah tanah. Takut pasien akan tertular penyakit dan juga takut akan hukuman yang menanti mereka— para tabib terpaksa menggunakan jarum baru untuk setiap pasien. Buntutnya adalah biaya pengobatan naik puluhan kali lipat.
Bila sebelumnya sebuah jarum bisa digunakan lebih dari dua ratus kali sehingga beban pasien ringan—kini mereka harus membeli jarum baru setiap kali berobat. Lima tahun setelah wabah berjangkit--- biaya pengobatan di negeri itu hanya dapat dipikul segelintir penduduk yang kaya raya. Sebagian besar penduduk tidak mampu lagi datang ke tabib karena jarum-jarum tabib menjadi langka dan mahal.
Sebenarnya Raja telah menganggarkan ribuan keping uang emas untuk membiayai penelitian obat penangkal sawan ular pelangi. Sayangnya penelitian tersebut sampai bertahun-tahun kemudian belum membawa hasil yang memuaskan. Disediakan juga rumah sakit khusus untuk para penderita wabah itu dengan biaya murah. Namun masalah utama yang dihadapi rakyat bukanlah wabah itu. Melainkan biaya berobat yang tidak terjangkau lagi setelah merebaknya wabah. Setiap hari ribuan penderita penyakit dari mulai penderita malaria sampai korban patah tulang harus puas tergeletak di rumah --- karena biaya membeli jarum-jarum tabib tidak terjangkau kantong mereka.
^_^
Kemarahan dan ketidakpuasan melanda seluruh negeri. Rakyat mulai menuntut kerajaan untuk menanggung biaya pengobatan. Namun tuntutan itu ditolak raja karena jumlah uang kas negara tidak cukup untuk membiayai seluruh rakyatnya. Serangkaian unjukrasa besar yang digerakkan oleh para kepala kampung untuk menuntut biaya pengobatan tidak berhasil meluluhkan hati raja untuk membuka kas kerajaan.
Gagal menuntut biaya pengobatan dari kerajaan, muncullah gerakan baru untuk memusnahkan ular pelangi yang dituding menjadi biang kerok wabah yang mengerikan tersebut. Dimana-mana rakyat bergerak menggerebek sarang-sarang ular pelangi untuk dibasmi hingga jumlahnya dengan cepat menyusut di seluruh negeri. Namun induk-induk ular tersebut masih bercokol dengan nyaman di kampung ular. Dari kampung ular mereka menyebarkan anak-anaknya ke seluruh negeri. Setiapkali rakyat berhasil membasmi ular-ular pelangi di kampungnya, tiba-tiba muncul ular pelangi baru yang berasal dari kampung ular.
^_^
Muncul tuntutan baru untuk menutup kampung ular. Sebuah tuntutan yang ditolak mentah-mentah oleh raja karena akan membahayakan reputasinya sebagai pelindung bagi semua golongan. Bahkan raja mengerahkan ribuan pasukan pengawalnya yang secara khusus diperintahkan menembak siapa saja yang hendak mengganggu kampung ular.
“Kalian tak boleh membakar lumbung hanya untuk menangkap tikus. Jangan tutup kampung ular hanya karena ada wabah sawan ular pelangi. Mereka juga korban seperti kita. Mereka adalah orang-orang tak berdosa. Mereka lebih menderita dibanding kita karena wabah memusnahkan hampir seluruh keluarga mereka” kata raja dengan lantang dihadapan puluhan ribu rakyat yang berkumpul di alun-alun menuntut raja menutup kampung ular.
“Marilah kita bahu membahu mengatasi wabah yang telah menimpa seluruh negeri. Marilah kita berhenti saling menyalahkan dan bergandengan tangan untuk mengatasi masa-masa sulit bersama-sama. Jangan merasa benar sendiri. Kebenaran kita tidak selalu kebenaran buat orang lain. Marilah kita bersatu dalam perbedaaan. Jangan tambah kesengsaraan mereka dengan memusnahkan kampung halaman yang telah bertahun-tahun mereka tinggali” kata raja meneruskan petuahnya.
“Sawan ular pelangi adalah penyakit biasa yang suatu saat akan dapat diatasi oleh tabib-tabib kita. Sama sekali bukan penyakit kutukan. Berhentilah menghakimi orang lain. Karena kita bukan Tuhan yang boleh menentukan mana yang benar dan mana yang salah. Biarlah Tuhan yang menilai mereka. Tugas kita adalah mencegah meluasnya sawan ular pelangi dengan cara-cara yang bermartabat” kata raja dengan lantang.
Tiba-tiba diantara kerumunan ribuan rakyat --- ada seorang tua yang gundul naik ke atas sebuah batu besar sambil mengacung-acungkan tongkatnya untuk menarik perhatian.
“Wahai teman-teman. Dengarlah kata-kataku ini. Kita hidup didunia nyata. Bukan di dunia mimpi. Sawan ular pelangi telah menghancurkan kita. Penyakit itu telah menguras energi kita. Bukan saatnya lagi kita menipu diri. Panca indera yang dianugrahkan Tuhan pada kita menunjukkan bahwa penyakit sawan itu berasal dari ular pelangi. Ular itulah si penebar bencana. Namun biang kerok sesungguhnya adalah para penduduk kampung ular. Mereka menyilangkan berjenis-jenis ular aneh dengan ramuan-ramuan racun tumbuhan untuk menghasilkan ular sesuai kesenangan mereka. Mereka bersenang-senang dan kita semua jadi korban” teriak orang gundul itu dengan sangat kerasnya sehingga ribuan orang terpana memandangnya.
“Mereka menuding virus di mulut ular pelangi sebagai penyebar malapetaka. Alih-alih merasa diri mereka bersalah, mereka bahkan menganggap ular pelangi tidak berbahaya. Yang dikambing hitamkan adalah virus di mulut ular pelangi. Kita dipaksa untuk berpayah-payah mencari obat pembunuh virus ular pelangi--- agar mereka tetap bisa bersenang-senang dengan ular pelangi. Kita dipaksa untuk memadamkan asap. Bukan memadamkan sumber api” teriak orang gundul itu yang disambut sorak sorai ribuan orang yang tiba-tiba merasa telah menemukan seseorang yang sanggup melukiskan perasaan terpendam mereka dengan kata-kata yang lugas dan jelas.
“Mereka bicara teori sedang kita dipaksa menelan kenyataan pahit. Mereka coba-coba menentang hukum-hukum alam dan memaksa kita mengikuti cara berpikir sesat mereka. Mereka memaksa kita terjun ke dalam jurang sambil membual bahwa kita adalah burung-burung yang bisa terbang”lanjutnya.
“Kita adalah manusia biasa. Bukan Tuhan yang Mahatahu. Namun Tuhan menganugerahi kita otak yang cukup cerdas untuk tahu bahwa ular pelangi menebar maut. Kita cukup waras untuk tidak perlu berdebat tentang kebenaran fakta bahwa kampung ular adalah sumber munculnya ular pelangi. Namun para kepala batu itu ngotot ingin mengaburkan kebenaran yang begitu nyata di depan kita!” teriak orang gundul yang belakangan diketahui sebagai si Ksatria Gundul Penyelamat Kampung dari Para Pengundang Ular setelah dia meneriakkan sebuah puisi.
Barangsiapa mengundang ular ke dalam rumah
untuk memangsa tikus-tikus pemakan beras,
dia juga harus rela bila si ular menggigit mati anaknya.
Karena anak suka bermain dan
ular suka menggigit bila dipermainkan.
Dua hal itu adalah sifat alami kedua makhluk ciptaan Tuhan.
^_^
Ksatria gundul telah berhasil merebut hati puluhan ribu rakyat yang berkumpul di alun-alun kerajaan. Laksana cahaya yang menarik jiwa-jiwa gelisah yang sedang mencari-cari jalan terang --- seperti halnya laron-laron yang berduyun-duyun terjun ke dalam nyala api karena merindukan bersatu dengan cahaya.
“Telah bertahun-tahun kita diminta menunggu mereka menemukan obat. Mungkin kita disuruh menunggu bertahun-tahun lagi --- sambil menyaksikan satu persatu keluarga dan tetangga kita bergelimpangan karena tak sanggup pergi ke tabib. Gara-gara perilaku sesat mereka biaya berobat menjadi mahal. Mereka bersenang-senang diatas ribuan mayat saudara kita” teriaknya berapi-api.
“Tidak perlu menunggu bertahun-tahun untuk membasmi wabah sawan ular pelangi. Jika kita hancurkan sumbernya. Hanya dalam sehari --- sawan ular pelangi akan susut di seluruh negeri. Jika kita hancurkan kampung ular. Jutaan manusia di seluruh negeri akan terselamatkan” seru ksatria gundul sambil tangannya menunjuk-nunjuk ke arah kampung ular nun jauh di sana.
^_^
Puluhan ribu rakyat yang seakan-akan baru tersadarkan atas biang keladi malapetaka yang menimpa mereka--- serentak bergerak dengan penuh kemarahan. Tidak ada lagi yang bisa menghalangi mereka. Tidak ada lagi yang sanggup menipu mereka. Tidak raja. Tidak pula para prajurit raja yang ketakutan melihat aura kemarahan puluhan ribu orang yang merasa baru saja menemukan kebenaran. Ribuan pasukan khusus yang diperintahkan menjaga kampung ular lari tunggang langgang melihat puluhan ribu rakyat bergerak sambil membawa obor. Tidak ada yang lebih mereka takuti daripada puluhan ribu orang yang tidak lagi takut mati.
Malam itu kampung ular tinggal kenangan. Asap mengepul dari rumah-rumah para penangkar ular pelangi. Tak satupun ular pelangi yang dibiarkan hidup. Tidak juga telurnya. Mereka benar-benar dibasmi habis sampai ke cicit-cicitnya. Sementara ratusan penduduk kampung ular tidak diperkenankan lagi tinggal di kampung itu. Tak ada lagi kampung pengundang malapetaka yang boleh berdiri di negeri itu.
^_^
Sidang rakyat yang digelar para ketua kampung menuduh raja sebagai pemimpin yang seluruh hidupnya panjang angan-angan. Mereka menyatakan muak dengan perilaku Raja yang dianggap tukang mengingkari kenyataan. Raja dipaksa turun dari singgasana kerajaan setelah divonis menyalahgunakan kekuasaan untuk melindungi segelintir orang--- dengan mengorbankan jutaan orang lainnya.. Sidang rakyat juga mengangkat Ksatria gundul sebagai raja baru bergelar Raja Gundul Sang Penakluk Sawan Ular Pelangi. Pastilah dalam setiap pertemuan sang raja tak pernah lupa meneriakkan puisi favoritnya. Penelitian tentang obat sawan ular pelangi terpaksa dihentikan--- karena setelah musnahnya ular pelangi --- wabah berangsur-angsur menghilang dari seluruh negeri
Shinichi yang Menawan (3)
Do I Faking ?
Ketika Adik Datang
Apa yang sangat Shinichi Kudo senangi kalo adiknya datang ke Bandung adalah kamarnya jadi bersih dan rapi, masih ditambah wangi. Udah gitu barang-barang tua yang menumpuk seperti koran-koran bekas, botol-botol minuman dan kardus-kardus bekas barang elektronik langsung hengkang karena dibuang. Lahirlah sebuah kamar baru yang terlihat luas dan nyaman.
Jangan kira adiknya yang membersihkan kamar. Shinichi-lah yang langsung turun gunung untuk menyulap kamarnya menjadi bersih & rapi. Karena dia nggak mau kamarnya terlihat berantakan. Malu dong! Bisa-bisa beritanya menyebar sampai ke rumah dan jadi bahan olok-olok. Sorry ya!. Shinichi nggak mau hal itu terjadi. Anehnya terbersit sesuatu yang mengganjal di hati Shinichi. Dirinya merasa sedang berpura-pura menjadi seorang perapi!
Dengan Konsultan
Setelah tahu konsultan akan datang hari selasa. Pada hari senin pagi Shinichi membereskan meja besar tempat mengerjakan dokumen. “Akan kubuat meja besar ini bersih dan semua lemari arsip tertata rapi” kata Shinichi dalam hati. Hari itu juga semua dokumen yang berada di meja besar telah kembali ke tempatnya masing-masing. Bantex-bantex di lemari arsip yang letaknya miring dirapikan dan yang salah penempatan dikembalikan ke tempat semula. Bantex-bantex yang belum diberi label diberi label sesuai isinya. Kertas-kertas yang tidak terpakai dikirim ke incinerator untuk dibakar. Jadilah lemari dan meja besar rapi jali dan siap menantang konsultan untuk menilai performance filling dokumen.
Di Sebuah Seminar
Ketika seminar internasional tentang perkembangan terbaru teknologi farmasi--- menginjak jam kelima --- rasa bosan benar-benar telah menguasai Shinichi. Sebenarnya dia lebih suka membaca topik-topik tersebut daripada harus mendengarkan para panelis menerangkan satu-persatu topik seminar yang akan memakan waktu lama. Hanya rasa bosanlah yang membuat matanya berat. Kebosanan perlahan namun pasti membuat hawa kantuk menyerang Shinichi dengan dahsyatnya. Posisi duduknya perlahan-lahan menjadi semakin maju dan punggungnya perlahan-lahan turun untuk menyandar penuh di kursi yang empuk. Berbekal perut penuh setelah break makan siang, dan udara dingin di dalam ruangan. Apalagi yang lebih indah selain tidur siang...!.
Malang tak dapat ditolak dan untung tak dapat diraih. Menjelang ekspedisi Shinichi ke alam mimpi--- dari arah depan tampak dua orang kameramen yang bertugas meliput acara seminar--- datang sambil menyorotkan lampu yang terang benderang. Sorot lampu kamera bergerak perlahan-lahan menyapu kursi-kursi mulai dari deretan depan menuju ke belakang ke arah deretan kursi Shinichi.
Insting Shinichi-lah yang membuatnya langsung menegakkan kembali punggungnya, merapikan rambutnya, meneguk akua yang tersedia di meja untuk membuat tubuhnya segar dan berusaha keras pasang wajah cerah. Dia nggak ingin banget dirinya diabadikan kamera dalam kondisi menyedihkan--- terkantuk-kantuk setengah tidur dalam seminar. Video hasil shooting hari itu kemungkinan besar akan di putar di kantor atau bahkan disiarkan di televisi. Nggak mungkinlah bila dirinya rela dijadikan contoh buruk perilaku karyawan pada sebuah seminar internasional..!.
Bersih-bersih Kulkas
“Kok segala macam dimasukin kulkas sih” kata Shinichi pada adiknya saat mudik ke rumahnya di Jogja. Mulai dari bubur kacang hijau sisa kemarin, sepertiga gelas juice alpukat dua hari yang lalu, sambal bekas makan bakso, kardus susu cair yang sudah dibuka, sayuran hijau yang udah mulai berubah coklat, apel yang udah diiris separuh, kotak es krim yang tinggal dua-tiga sendok lagi sampai ke pepaya yang udah mulai mengkerut --- semua berparade di dalam kulkas. Kulkas telah berubah menjadi tempat menyimpan makanan yang tidak akan dimakan lagi. Bila untuk dapur ada istilah dapur bersih, mungkin kulkas itu layak disebut tempat sampah bersih.
Tangan-tangan Shinichi dengan cekatan memindahkan isi kulkas yang kira-kira sudah tidak akan dimakan lagi --- ke dalam kantong plastik. Setelah itu diambilnya lap bersih dan mulailah digosok bagian dalam kulkas untuk menghilangkan noda-noda makanan yang menempel di dindingnya.
Sim salabim! Dalam waktu satu jam kulkas telah berubah menjadi bersih dan isinya tertata rapi. Shinichi tersenyum puas melihat hasil kerjanya tampak begitu nyata. Tiba-tiba dia teringat lemari tempat menyimpan perbekalan di kamarnya di Bandung. Lemari tersebut masih berisi makanan kering sisa tahun kemarin, mie instant yang hampir kadaluarsa dan sachet-sachet minuman bubuk yang nggak bakalan diminumnya karena “salah beli”. Terbersit dalam benaknya, apakah dirinya sedang berpura-pura menjadi seorang pecandu kebersihan ?
^_^
Hiromi : Antara Kuda Perang dan Kuda Beban
Menurut Hiromi apa yang terjadi pada Shinichi adalah pertentangan antara kecenderungan untuk menuju Shinichi yang maksimal melawan kecenderungan untuk jatuh menjadi Shinichi minimalis. Keberadaan Shinichi pada fase maksimalis masih naik turun belum stabil.
Hiromi mengandaikan bila Shinichi adalah seekor peranakan kuda perang. Tidak dengan sendirinya dia akan menjadi kuda perang yang gagah perkasa di medan tempur. Bisa saja dia hanya akan menjadi kuda penarik beban karena kurangnya motivasi untuk bertindak sebagai kuda perang. Seekor kuda perang harus giat berlatih, tahan terpaan panas maupun hujan, tidak cengeng saat terkena senjata lawan dan harus mau berlari kencang! Sebuah kualitas yang menuntut komitmen dan pengorbanan luar biasa yang tidak sembarang peranakan kuda perang mampu melakukannya.
Hiromi menganggap Shinichi masih memerlukan faktor luar untuk menjadi dirinya yang maksimalis. Idealnya dia berusaha untuk perlahan-lahan memindahkan faktor luar itu menjadi faktor dalam yang berbentuk motivasi untuk menjadi maksimalis. Motivasi untuk menuju kesempurnaan sebagai manusia. Bukan menuruti nafsu kekanak-kanakan yang ingin enaknya saja. Memang jauh lebih mudah menjadi Shinichi dengan meja kerja dipenuhi tumpukan dokumen daripada menjadi Shinichi yang harus mendisiplinkan diri untuk menjaga meja kerjanya selalu rapi dan terorganisasi.
Walaupun begitu perubahan menjadi lebih rapi karena faktor kedatangan konsultan masih lebih baik daripada Shinichi cuek bebek tetap membiarkan mejanya bertimbun dokumen. Alih-alih menganggap dirinya sedang berpura-pura, Hiromi menyarankan Shinichi untuk menganggapnya sebagai secercah harapan untuk menjadi lebih baik.
^_^
Maruko : Fase abu-abu
Maruko mengakui kadang-kadang juga melakukan apa yang disebut Shinichi dengan Faking. Misalnya Maruko selalu membawa mobilnya ke tempat pencucian sebelum memasukkan ke bengkel karena malu pada para montir bila kondisi mobil kotor. Menurut Maruko perilaku itu berada pada fase abu-abu. Sebuah fase peralihan menuju perilaku yang lebih baik. Seandainya Shinichi mampu mempertahankan ber-faking ria selama beberapa bulan niscaya dirinya akan sukses melewati fase abu-abu menuju fase putih. Hanya saja perlu kemauan keras untuk berhasil melewati fase abu-abu; kecuali ada faktor eksternal yang sangat kuat.
Maruko menceritakan salah satu keberhasilannya melewati fase abu-abu karena pengaruh faktor eksternal yang sangat kuat. Yaitu saat dirinya berhasil menghilangkan kebiasaan santai dan berlambat-lambat kerja setelah bel pulang berbunyi. Selepas pukul 4 sore biasanya Maruko akan melambatkan tempo kerjanya. Sebentar-sebentar membuka-buka website yang menarik. Mulai dari situs-situs resep masakan sampai situs-situs tentang penjelajahan dasar samudera.
Namun kepindahan sementara General Manager menjadi satu ruangan dengan Maruko--- karena kantor GM sedang diperbaiki --- membuat Maruko tak enak hati untuk main internet. Akibatnya dia bekerja seperti biasa walaupun selepas jam keja.
Ternyata jam-jam itu sangat efektif untuk menyelesaikan pekerjaan. Karena selepas jam kerja segala macam interupsi seperti telepon, permintaan atasan maupun rekan kerja dan urusan warna-warni dengan departemen-departemen lain telah jauh berkurang. Alhasil setelah General Manager kembali ke kantornya semula, perilaku Maruko untuk bekerja seperti biasa selepas jam kerja masih tetap berlangsung. Karena dia memiliki sebuah motivasi kuat, yaitu pekerjaannya selesai dengan kecepatan mengagumkan ( makmur-14 bandung)
Ketika Adik Datang
Apa yang sangat Shinichi Kudo senangi kalo adiknya datang ke Bandung adalah kamarnya jadi bersih dan rapi, masih ditambah wangi. Udah gitu barang-barang tua yang menumpuk seperti koran-koran bekas, botol-botol minuman dan kardus-kardus bekas barang elektronik langsung hengkang karena dibuang. Lahirlah sebuah kamar baru yang terlihat luas dan nyaman.Jangan kira adiknya yang membersihkan kamar. Shinichi-lah yang langsung turun gunung untuk menyulap kamarnya menjadi bersih & rapi. Karena dia nggak mau kamarnya terlihat berantakan. Malu dong! Bisa-bisa beritanya menyebar sampai ke rumah dan jadi bahan olok-olok. Sorry ya!. Shinichi nggak mau hal itu terjadi. Anehnya terbersit sesuatu yang mengganjal di hati Shinichi. Dirinya merasa sedang berpura-pura menjadi seorang perapi!
Dengan Konsultan
Setelah tahu konsultan akan datang hari selasa. Pada hari senin pagi Shinichi membereskan meja besar tempat mengerjakan dokumen. “Akan kubuat meja besar ini bersih dan semua lemari arsip tertata rapi” kata Shinichi dalam hati. Hari itu juga semua dokumen yang berada di meja besar telah kembali ke tempatnya masing-masing. Bantex-bantex di lemari arsip yang letaknya miring dirapikan dan yang salah penempatan dikembalikan ke tempat semula. Bantex-bantex yang belum diberi label diberi label sesuai isinya. Kertas-kertas yang tidak terpakai dikirim ke incinerator untuk dibakar. Jadilah lemari dan meja besar rapi jali dan siap menantang konsultan untuk menilai performance filling dokumen.
Di Sebuah Seminar
Ketika seminar internasional tentang perkembangan terbaru teknologi farmasi--- menginjak jam kelima --- rasa bosan benar-benar telah menguasai Shinichi. Sebenarnya dia lebih suka membaca topik-topik tersebut daripada harus mendengarkan para panelis menerangkan satu-persatu topik seminar yang akan memakan waktu lama. Hanya rasa bosanlah yang membuat matanya berat. Kebosanan perlahan namun pasti membuat hawa kantuk menyerang Shinichi dengan dahsyatnya. Posisi duduknya perlahan-lahan menjadi semakin maju dan punggungnya perlahan-lahan turun untuk menyandar penuh di kursi yang empuk. Berbekal perut penuh setelah break makan siang, dan udara dingin di dalam ruangan. Apalagi yang lebih indah selain tidur siang...!.
Malang tak dapat ditolak dan untung tak dapat diraih. Menjelang ekspedisi Shinichi ke alam mimpi--- dari arah depan tampak dua orang kameramen yang bertugas meliput acara seminar--- datang sambil menyorotkan lampu yang terang benderang. Sorot lampu kamera bergerak perlahan-lahan menyapu kursi-kursi mulai dari deretan depan menuju ke belakang ke arah deretan kursi Shinichi.
Insting Shinichi-lah yang membuatnya langsung menegakkan kembali punggungnya, merapikan rambutnya, meneguk akua yang tersedia di meja untuk membuat tubuhnya segar dan berusaha keras pasang wajah cerah. Dia nggak ingin banget dirinya diabadikan kamera dalam kondisi menyedihkan--- terkantuk-kantuk setengah tidur dalam seminar. Video hasil shooting hari itu kemungkinan besar akan di putar di kantor atau bahkan disiarkan di televisi. Nggak mungkinlah bila dirinya rela dijadikan contoh buruk perilaku karyawan pada sebuah seminar internasional..!.
Bersih-bersih Kulkas
“Kok segala macam dimasukin kulkas sih” kata Shinichi pada adiknya saat mudik ke rumahnya di Jogja. Mulai dari bubur kacang hijau sisa kemarin, sepertiga gelas juice alpukat dua hari yang lalu, sambal bekas makan bakso, kardus susu cair yang sudah dibuka, sayuran hijau yang udah mulai berubah coklat, apel yang udah diiris separuh, kotak es krim yang tinggal dua-tiga sendok lagi sampai ke pepaya yang udah mulai mengkerut --- semua berparade di dalam kulkas. Kulkas telah berubah menjadi tempat menyimpan makanan yang tidak akan dimakan lagi. Bila untuk dapur ada istilah dapur bersih, mungkin kulkas itu layak disebut tempat sampah bersih.
Tangan-tangan Shinichi dengan cekatan memindahkan isi kulkas yang kira-kira sudah tidak akan dimakan lagi --- ke dalam kantong plastik. Setelah itu diambilnya lap bersih dan mulailah digosok bagian dalam kulkas untuk menghilangkan noda-noda makanan yang menempel di dindingnya.
Sim salabim! Dalam waktu satu jam kulkas telah berubah menjadi bersih dan isinya tertata rapi. Shinichi tersenyum puas melihat hasil kerjanya tampak begitu nyata. Tiba-tiba dia teringat lemari tempat menyimpan perbekalan di kamarnya di Bandung. Lemari tersebut masih berisi makanan kering sisa tahun kemarin, mie instant yang hampir kadaluarsa dan sachet-sachet minuman bubuk yang nggak bakalan diminumnya karena “salah beli”. Terbersit dalam benaknya, apakah dirinya sedang berpura-pura menjadi seorang pecandu kebersihan ?
^_^
Hiromi : Antara Kuda Perang dan Kuda Beban
Menurut Hiromi apa yang terjadi pada Shinichi adalah pertentangan antara kecenderungan untuk menuju Shinichi yang maksimal melawan kecenderungan untuk jatuh menjadi Shinichi minimalis. Keberadaan Shinichi pada fase maksimalis masih naik turun belum stabil.
Hiromi mengandaikan bila Shinichi adalah seekor peranakan kuda perang. Tidak dengan sendirinya dia akan menjadi kuda perang yang gagah perkasa di medan tempur. Bisa saja dia hanya akan menjadi kuda penarik beban karena kurangnya motivasi untuk bertindak sebagai kuda perang. Seekor kuda perang harus giat berlatih, tahan terpaan panas maupun hujan, tidak cengeng saat terkena senjata lawan dan harus mau berlari kencang! Sebuah kualitas yang menuntut komitmen dan pengorbanan luar biasa yang tidak sembarang peranakan kuda perang mampu melakukannya.
Hiromi menganggap Shinichi masih memerlukan faktor luar untuk menjadi dirinya yang maksimalis. Idealnya dia berusaha untuk perlahan-lahan memindahkan faktor luar itu menjadi faktor dalam yang berbentuk motivasi untuk menjadi maksimalis. Motivasi untuk menuju kesempurnaan sebagai manusia. Bukan menuruti nafsu kekanak-kanakan yang ingin enaknya saja. Memang jauh lebih mudah menjadi Shinichi dengan meja kerja dipenuhi tumpukan dokumen daripada menjadi Shinichi yang harus mendisiplinkan diri untuk menjaga meja kerjanya selalu rapi dan terorganisasi.
Walaupun begitu perubahan menjadi lebih rapi karena faktor kedatangan konsultan masih lebih baik daripada Shinichi cuek bebek tetap membiarkan mejanya bertimbun dokumen. Alih-alih menganggap dirinya sedang berpura-pura, Hiromi menyarankan Shinichi untuk menganggapnya sebagai secercah harapan untuk menjadi lebih baik.
^_^
Maruko : Fase abu-abu
Maruko mengakui kadang-kadang juga melakukan apa yang disebut Shinichi dengan Faking. Misalnya Maruko selalu membawa mobilnya ke tempat pencucian sebelum memasukkan ke bengkel karena malu pada para montir bila kondisi mobil kotor. Menurut Maruko perilaku itu berada pada fase abu-abu. Sebuah fase peralihan menuju perilaku yang lebih baik. Seandainya Shinichi mampu mempertahankan ber-faking ria selama beberapa bulan niscaya dirinya akan sukses melewati fase abu-abu menuju fase putih. Hanya saja perlu kemauan keras untuk berhasil melewati fase abu-abu; kecuali ada faktor eksternal yang sangat kuat.
Maruko menceritakan salah satu keberhasilannya melewati fase abu-abu karena pengaruh faktor eksternal yang sangat kuat. Yaitu saat dirinya berhasil menghilangkan kebiasaan santai dan berlambat-lambat kerja setelah bel pulang berbunyi. Selepas pukul 4 sore biasanya Maruko akan melambatkan tempo kerjanya. Sebentar-sebentar membuka-buka website yang menarik. Mulai dari situs-situs resep masakan sampai situs-situs tentang penjelajahan dasar samudera.
Namun kepindahan sementara General Manager menjadi satu ruangan dengan Maruko--- karena kantor GM sedang diperbaiki --- membuat Maruko tak enak hati untuk main internet. Akibatnya dia bekerja seperti biasa walaupun selepas jam keja.
Ternyata jam-jam itu sangat efektif untuk menyelesaikan pekerjaan. Karena selepas jam kerja segala macam interupsi seperti telepon, permintaan atasan maupun rekan kerja dan urusan warna-warni dengan departemen-departemen lain telah jauh berkurang. Alhasil setelah General Manager kembali ke kantornya semula, perilaku Maruko untuk bekerja seperti biasa selepas jam kerja masih tetap berlangsung. Karena dia memiliki sebuah motivasi kuat, yaitu pekerjaannya selesai dengan kecepatan mengagumkan ( makmur-14 bandung)
Label:
cerita pendek,
Mengenal Diri
Shinichi yang Menawan (2)
Being Reasonable
“Lain kali kamu tak boleh menjawab seperti itu. Itu bukan jawaban. Hanya ekspresi perasaan saja. Beri aku alasan yang jelas dan masuk akal” kata Maruko pada Shinichi Kudo.
Beberapa saat sebelumnya Shinichi menjawab pertanyaan Maruko tentang alasan mengapa dia suka lagu-lagu ADA Band dengan jawaban bahwa : ‘Lagu-lagunya asyik banget untuk didengarkan”. Sebuah jawaban yang menurut Maruko tidak informatif dan tidak menggambarkan apa-pun tentang ADA Band. Seharusnya Shinichi dengan segala pengetahuannya mampu melakukan lebih dari itu.
“Kamu harus belajar mengenali perasaan-perasaanmu, dan mencari sebab musabab perasaan tersebut muncul. Kemudian cobalah mendeskripsikan sebab musabab itu dalam bentuk kalimat-kalimat yang informatif. Dengan cara itu kamu akan belajar memberi alasan-alasan yang rasional atas sebuah pilihan. Jadilah seorang profesional yang mampu mengkomunikasikan alasan-alasan yang menjadi pegangan saat memilih” kata Hiromi panjang lebar menimpali kata-kata Maruko.
Shinichi tahu persis pendapat tentang keharusan seseorang memiliki kemampuan mengkomunikasikan alasan atas sebuah pilihan pastilah berasal dari Shinobu Inokuma. Orang paling rasional yang pernah Shinichi kenal. Sepertinya Maruko dengan cepat mengadaptasi pikiran-pikiran Shinobu dan menerapkannya pada Shinichi.
^_^
Kesempatan itu datang minggu depannya ketika Shinichi bertemu kembali dengan Maruko dan Hiromi di warung Chineese Food Tugik di sebelah selatan masjid Cipaganti. Pertemuan kali ini digunakan untuk menguji kemajuan Shinichi dalam mengkomunikasikan alasan atas pilihan-pilihannya. Ditemani sop buah-buahan, cah kangkung dan cah brokoli yang telah terhidang --- karena sebelumnya dipesan lewat SMS--- dimulailah ujian ketangkasan itu.
“Mengapa kau suka ADA Band?” tanya Maruko mengulang pertanyaan minggu lalu.
“Karena aransemennya indah, harmonis, ekspresif, enak didengar, si vokalis sesuai dengan jenis lagu dan lagu-lagunya gampang dinyanyikan. Dari album ke album mereka berhasil menyuguhkan sesuatu yang baru dan tidak mudah ditebak. Udah gitu lagu-lagunya variatif sehingga tidak cepat bosan saat didengarkan. Sebagian syairnya juga bagus. Dari semua faktor itu yang paling bagus adalah aransemen-nya” jawab Shinichi dengan mantap karena semingguan dia telah berusaha keras mencari-cari penyebab mengapa dirinya menyukai lagu-lagu grup musik itu.
“Mengapa kamu memilih Google sebagai search engine untuk mencari data-data di web ?” tanya Hiromi
“Karena Google simple. Tampilan Google waktu kita masuk ke websitenya sangat sederhana. Tanpa iklan tanpa berita macam-macam. Hanya search engine saja. Mudah digunakan dan sangat powerful dalam mencari topik-topik yang kita butuhkan dari internet. Aku juga dapat mencari jenis-jenis file tertentu saja dengan menggunakan fasilitas-fasilitas khusus pencarian. Bisa juga mencari sebuah topik dari website dari Indonesia saja atau dari website dalam bahasa Indonesia saja” jawab Shinichi.
“Mengapa kau suka naik kereta ? tanya Maruko
“Karena kereta cepat dan tidak perlu berhenti untuk beristirahat. Kereta aman, nyaman dan tidak banyak dipengaruhi naik turunnya medan yang dilalui. Tempat duduk kereta juga cukup lapang untuk meluruskan kaki. Kelebihan yang lain adalah lampu gerbong kereta selalu dinyalakan walaupun sudah tengah malam sehingga aku bisa membaca” jawab Shinichi.
“Juga karena kau sangat menikmati acara nungguin kereta berangkat sambil makan nasi rawon di dekat pintu belakang Stasiun Bandung. Terus saat sampai tujuan kau bisa beristirahat sejenak sambil minum Milo panas dan makan donat di Twins Donat ditemani koran pagi. Dua hal itu adalah alasan lain mengapa kau suka naik kereta kan?” kata Maruko sambil tertawa. Rupanya dia sering mendengar Shinichi bercerita tentang kebiasannya pada saat berkereta.
^_^
“Mengapa kamu suka statistik? tanya Hiromi
Shinichi agak terkejut dengan pertanyaan yang tak pernah diduga akan diajukan oleh Hiromi. Setelah terdiam beberapa saat akhirnya dia berhasil menemukan beberapa point yang membuatnya menyukai statistik.
“Karena statistik adalah salah satu cabang matematika yang paling menghargai emosi. Statistik memberi tempat untuk faktor-faktor yang bersifat behavioral, tingkah laku dan sifat-sifat individu. Statistik adalah matematika yang hangat, hidup dan sangat manusiawi karena dia mengadopsi ilmu jiwa manusia. Misalnya pada saat pengambilan sampling untuk sebuah angket.Pemilihan responden dilakukan secara hati-hati. Tidak diambil dari sekelompok orang yang sedang bergerombol- ngobrol atau pada dua orang bertetangga dekat--- karena jawaban mereka akan saling mempengaruhi” jawab Shinichi.
“Statistik juga menarik karena dia memberi prediksi bagaimana satu hal berkaitan dengan hal yang lain dengan tingkat kesalahan yang dapat diukur. Mencari hubungan dari berbagai hal adalah sifat bawaan yang melekat pada otakku. Aku adalah sangat menyukai kegiatan pelacakan hubungan antar berbagai fenomena yang berbeda. Semua itu bisa kudapat pada statistik” lanjutnya.
“Ada satu lagi alasan penting yang kau lupakan. Dahulu kala kamu mulai suka statistik setelah mengenal software SPSS. Software statistik itu membantumu menghitung dan menyimpulkan data-data statistik tanpa perlu berurusan dengan rumus-rumus yang membuatmu alergi. Jadi dirimu cukup belajar memilih metode statistik yang cocok untuk satu jenis rancangan percobaan, lalu menyerahkan perhitungannya pada SPSS” kata Maruko menambahkan seraya tersenyum simpul melihat Shinichi mengangguk-angguk membenarkan kata-katanya.
^_^
Mengapa kau suka minum yoghurt? tanya Maruko
“Karena yoghurt terasa segar, manis, dan gurih saat melumer di mulut. Aku suka yoghurt yang kental, tidak dingin dan masih fresh karena terasa sangat lembut di lidah, tidak “menggigit”, dan rasa gurih dari susu masih ada. Sensasi setelah minum yoghurt setara dengan sensasi setelah minum jamu, yaitu kita merasa segar dan serasa tubuh kita menjadi lebih sehat” jawab Shinichi
Mengapa kamu suka udang dan cumi-cumi? tanya Maruko lagi.
“Karena udang dan cumi-cumi adalah salah satu seafood yang paling lezat, gurih dan tidak amis. Setelah dimasak baik dibakar-digoreng atau dikuahi dengan santan--- daging keduanya tetap kompak tidak pecah-pecah dan succulent, saat digigit terasa “kremus-kremus” seperti ada kuah gurih yang terjebak diantara daging-daging itu sehingga menambah kenikmatan rasanya”. jawab Shinichi dengan tangkas.
^_^
“Mengapa kamu suka sepakbola hanya pada saat Piala Dunia ?” tanya Maruko
“Ha ha ha ha.....gitu ya! Karena pada saat itu tersedia banyak informasi tentang para pemain yang memperkuat setiap tim nasional. Aku dengan mudah dapat tahu karakter, skill & riwayat karir setiap pemain dan gaya bermain setiap tim. Demikian juga dengan track record dan strategi-strategi yang digunakan para pelatih. Dengan berbekal segala informasi itulah aku bisa menikmati permainan sepakbola sebagai sebuah pertarungan strategi yang sangat menarik. Sebenarnya aku lebih tertarik pada perjalanan sebuah tim menuju tangga juara daripada serunya sebuah pertandingan. Siapa saja lawan yang harus dikalahkan dan menggunakan strategi seperti apa untuk memenangkan pertandingan” jawab Shinichi
“Mengapa sampai sekarang engkau tidak membeli sebuah pesawat TV ? tanya Hiromi.
“Karena aku ingin menghemat waktu. Acara TV dengan mudah akan menjadi pelarian saat aku bosan. TV juga akan menjadi tempat lari dari hal-hal yang harus dikerjakan tetapi aku enggan mengerjakan. Aku nggak mau waktuku habis di depan TV dan melupakan hal-hal lain yang dapat kukerjakan. Aku merasa belum cukup tangguh untuk membatasi diri nonton TV sehari satu-dua jam saja. Hiks! hiks! Padahal aku pengen banget nonton film Ata-Shinchi di minggu pagi dan Detective Conan the movie di minggu sore.... ”jawab Shinichi dengan sedihnya.
^_^
“Mengapa sebelum makan terkadang kau mencium bau makanan di sendokmu” tanya Maruko
“Ha ha ha.... aku bukan seekor kucing loh!. Biasanya aku membaui makanan yang berdasar penampilan fisik terlihat aneh. Aku ingin memastikan makanan tersebut tidak berasa aneh atau makanan basi sebelum masuk ke mulutku. Kadang-kadang aku juga membaui makanan atau buah-buahan untuk mengukur apakah kira-kira aroma dan rasanya dapat ditoleransi oleh lidahku. Jadi jangan marah kalau makanan pemberianmu kucium baunya--- karena bukan semata-mata soal kebasian tetapi juga menyangkut seleraku terhadap makanan” jawab Shinichi.
Mengapa kamu suka berkebun? tanya Hiromi
“Karena aku suka hijaunya dedaunan, warna-warni tanaman dan segarnya udara di sekelilingnya. Juga karena aku suka melihat sesuatu yang tumbuh secara alami tanpa campur tangan diriku. Tanaman yang mulanya berdaun jarang menjadi berdaun rimbun tanpa aku harus menempelkan daun-daun baru. Aku suka melihat tanaman yang tumbuh dari kecil menjadi besar dan rimbun, dari tidak berbunga menjadi berbunga, dari tidak berbuah menjadi berbuah. Tanaman menyuguhkan pemandangan indah yang berbeda setiap hari. Dari setinggi mata kaki menjadi setinggi lutut, terus menjadi setinggi paha; begitulah tanaman selalu berubah.” jawab Shinichi.
^_^
Terdengar Adzan maghrib dari Masjid Cipaganti saatnya bagi mereka bertiga untuk meninggalkan warung menuju masjid. Dalam ujian tersebut Shinichi dinyatakan mulai dapat mengenali perasaan-perasaannya, mencari penyebab perasaan itu muncul dan menjabarkan penyebab itu dalam kalimat-kalimat yang informatif. Hanya saja Shinichi masih harus menambah pengetahuannya tentang hal-hal praktis, misalnya untuk dapat mendeskripsikan sebuah grup musik dengan akurat, Shinichi harus menguasai istilah-istilah dasar dalam musik sepert pitch, notasi, irama, harmoni dan vocal (nl)
Beberapa saat sebelumnya Shinichi menjawab pertanyaan Maruko tentang alasan mengapa dia suka lagu-lagu ADA Band dengan jawaban bahwa : ‘Lagu-lagunya asyik banget untuk didengarkan”. Sebuah jawaban yang menurut Maruko tidak informatif dan tidak menggambarkan apa-pun tentang ADA Band. Seharusnya Shinichi dengan segala pengetahuannya mampu melakukan lebih dari itu.
“Kamu harus belajar mengenali perasaan-perasaanmu, dan mencari sebab musabab perasaan tersebut muncul. Kemudian cobalah mendeskripsikan sebab musabab itu dalam bentuk kalimat-kalimat yang informatif. Dengan cara itu kamu akan belajar memberi alasan-alasan yang rasional atas sebuah pilihan. Jadilah seorang profesional yang mampu mengkomunikasikan alasan-alasan yang menjadi pegangan saat memilih” kata Hiromi panjang lebar menimpali kata-kata Maruko.
Shinichi tahu persis pendapat tentang keharusan seseorang memiliki kemampuan mengkomunikasikan alasan atas sebuah pilihan pastilah berasal dari Shinobu Inokuma. Orang paling rasional yang pernah Shinichi kenal. Sepertinya Maruko dengan cepat mengadaptasi pikiran-pikiran Shinobu dan menerapkannya pada Shinichi.
^_^
Kesempatan itu datang minggu depannya ketika Shinichi bertemu kembali dengan Maruko dan Hiromi di warung Chineese Food Tugik di sebelah selatan masjid Cipaganti. Pertemuan kali ini digunakan untuk menguji kemajuan Shinichi dalam mengkomunikasikan alasan atas pilihan-pilihannya. Ditemani sop buah-buahan, cah kangkung dan cah brokoli yang telah terhidang --- karena sebelumnya dipesan lewat SMS--- dimulailah ujian ketangkasan itu.
“Mengapa kau suka ADA Band?” tanya Maruko mengulang pertanyaan minggu lalu.
“Karena aransemennya indah, harmonis, ekspresif, enak didengar, si vokalis sesuai dengan jenis lagu dan lagu-lagunya gampang dinyanyikan. Dari album ke album mereka berhasil menyuguhkan sesuatu yang baru dan tidak mudah ditebak. Udah gitu lagu-lagunya variatif sehingga tidak cepat bosan saat didengarkan. Sebagian syairnya juga bagus. Dari semua faktor itu yang paling bagus adalah aransemen-nya” jawab Shinichi dengan mantap karena semingguan dia telah berusaha keras mencari-cari penyebab mengapa dirinya menyukai lagu-lagu grup musik itu.
“Mengapa kamu memilih Google sebagai search engine untuk mencari data-data di web ?” tanya Hiromi
“Karena Google simple. Tampilan Google waktu kita masuk ke websitenya sangat sederhana. Tanpa iklan tanpa berita macam-macam. Hanya search engine saja. Mudah digunakan dan sangat powerful dalam mencari topik-topik yang kita butuhkan dari internet. Aku juga dapat mencari jenis-jenis file tertentu saja dengan menggunakan fasilitas-fasilitas khusus pencarian. Bisa juga mencari sebuah topik dari website dari Indonesia saja atau dari website dalam bahasa Indonesia saja” jawab Shinichi.
“Mengapa kau suka naik kereta ? tanya Maruko
“Karena kereta cepat dan tidak perlu berhenti untuk beristirahat. Kereta aman, nyaman dan tidak banyak dipengaruhi naik turunnya medan yang dilalui. Tempat duduk kereta juga cukup lapang untuk meluruskan kaki. Kelebihan yang lain adalah lampu gerbong kereta selalu dinyalakan walaupun sudah tengah malam sehingga aku bisa membaca” jawab Shinichi.
“Juga karena kau sangat menikmati acara nungguin kereta berangkat sambil makan nasi rawon di dekat pintu belakang Stasiun Bandung. Terus saat sampai tujuan kau bisa beristirahat sejenak sambil minum Milo panas dan makan donat di Twins Donat ditemani koran pagi. Dua hal itu adalah alasan lain mengapa kau suka naik kereta kan?” kata Maruko sambil tertawa. Rupanya dia sering mendengar Shinichi bercerita tentang kebiasannya pada saat berkereta.
^_^
“Mengapa kamu suka statistik? tanya Hiromi
Shinichi agak terkejut dengan pertanyaan yang tak pernah diduga akan diajukan oleh Hiromi. Setelah terdiam beberapa saat akhirnya dia berhasil menemukan beberapa point yang membuatnya menyukai statistik.
“Karena statistik adalah salah satu cabang matematika yang paling menghargai emosi. Statistik memberi tempat untuk faktor-faktor yang bersifat behavioral, tingkah laku dan sifat-sifat individu. Statistik adalah matematika yang hangat, hidup dan sangat manusiawi karena dia mengadopsi ilmu jiwa manusia. Misalnya pada saat pengambilan sampling untuk sebuah angket.Pemilihan responden dilakukan secara hati-hati. Tidak diambil dari sekelompok orang yang sedang bergerombol- ngobrol atau pada dua orang bertetangga dekat--- karena jawaban mereka akan saling mempengaruhi” jawab Shinichi.
“Statistik juga menarik karena dia memberi prediksi bagaimana satu hal berkaitan dengan hal yang lain dengan tingkat kesalahan yang dapat diukur. Mencari hubungan dari berbagai hal adalah sifat bawaan yang melekat pada otakku. Aku adalah sangat menyukai kegiatan pelacakan hubungan antar berbagai fenomena yang berbeda. Semua itu bisa kudapat pada statistik” lanjutnya.
“Ada satu lagi alasan penting yang kau lupakan. Dahulu kala kamu mulai suka statistik setelah mengenal software SPSS. Software statistik itu membantumu menghitung dan menyimpulkan data-data statistik tanpa perlu berurusan dengan rumus-rumus yang membuatmu alergi. Jadi dirimu cukup belajar memilih metode statistik yang cocok untuk satu jenis rancangan percobaan, lalu menyerahkan perhitungannya pada SPSS” kata Maruko menambahkan seraya tersenyum simpul melihat Shinichi mengangguk-angguk membenarkan kata-katanya.
^_^
Mengapa kau suka minum yoghurt? tanya Maruko
“Karena yoghurt terasa segar, manis, dan gurih saat melumer di mulut. Aku suka yoghurt yang kental, tidak dingin dan masih fresh karena terasa sangat lembut di lidah, tidak “menggigit”, dan rasa gurih dari susu masih ada. Sensasi setelah minum yoghurt setara dengan sensasi setelah minum jamu, yaitu kita merasa segar dan serasa tubuh kita menjadi lebih sehat” jawab Shinichi
Mengapa kamu suka udang dan cumi-cumi? tanya Maruko lagi.
“Karena udang dan cumi-cumi adalah salah satu seafood yang paling lezat, gurih dan tidak amis. Setelah dimasak baik dibakar-digoreng atau dikuahi dengan santan--- daging keduanya tetap kompak tidak pecah-pecah dan succulent, saat digigit terasa “kremus-kremus” seperti ada kuah gurih yang terjebak diantara daging-daging itu sehingga menambah kenikmatan rasanya”. jawab Shinichi dengan tangkas.
^_^
“Mengapa kamu suka sepakbola hanya pada saat Piala Dunia ?” tanya Maruko
“Ha ha ha ha.....gitu ya! Karena pada saat itu tersedia banyak informasi tentang para pemain yang memperkuat setiap tim nasional. Aku dengan mudah dapat tahu karakter, skill & riwayat karir setiap pemain dan gaya bermain setiap tim. Demikian juga dengan track record dan strategi-strategi yang digunakan para pelatih. Dengan berbekal segala informasi itulah aku bisa menikmati permainan sepakbola sebagai sebuah pertarungan strategi yang sangat menarik. Sebenarnya aku lebih tertarik pada perjalanan sebuah tim menuju tangga juara daripada serunya sebuah pertandingan. Siapa saja lawan yang harus dikalahkan dan menggunakan strategi seperti apa untuk memenangkan pertandingan” jawab Shinichi
“Mengapa sampai sekarang engkau tidak membeli sebuah pesawat TV ? tanya Hiromi.
“Karena aku ingin menghemat waktu. Acara TV dengan mudah akan menjadi pelarian saat aku bosan. TV juga akan menjadi tempat lari dari hal-hal yang harus dikerjakan tetapi aku enggan mengerjakan. Aku nggak mau waktuku habis di depan TV dan melupakan hal-hal lain yang dapat kukerjakan. Aku merasa belum cukup tangguh untuk membatasi diri nonton TV sehari satu-dua jam saja. Hiks! hiks! Padahal aku pengen banget nonton film Ata-Shinchi di minggu pagi dan Detective Conan the movie di minggu sore.... ”jawab Shinichi dengan sedihnya.
^_^
“Mengapa sebelum makan terkadang kau mencium bau makanan di sendokmu” tanya Maruko
“Ha ha ha.... aku bukan seekor kucing loh!. Biasanya aku membaui makanan yang berdasar penampilan fisik terlihat aneh. Aku ingin memastikan makanan tersebut tidak berasa aneh atau makanan basi sebelum masuk ke mulutku. Kadang-kadang aku juga membaui makanan atau buah-buahan untuk mengukur apakah kira-kira aroma dan rasanya dapat ditoleransi oleh lidahku. Jadi jangan marah kalau makanan pemberianmu kucium baunya--- karena bukan semata-mata soal kebasian tetapi juga menyangkut seleraku terhadap makanan” jawab Shinichi.
Mengapa kamu suka berkebun? tanya Hiromi
“Karena aku suka hijaunya dedaunan, warna-warni tanaman dan segarnya udara di sekelilingnya. Juga karena aku suka melihat sesuatu yang tumbuh secara alami tanpa campur tangan diriku. Tanaman yang mulanya berdaun jarang menjadi berdaun rimbun tanpa aku harus menempelkan daun-daun baru. Aku suka melihat tanaman yang tumbuh dari kecil menjadi besar dan rimbun, dari tidak berbunga menjadi berbunga, dari tidak berbuah menjadi berbuah. Tanaman menyuguhkan pemandangan indah yang berbeda setiap hari. Dari setinggi mata kaki menjadi setinggi lutut, terus menjadi setinggi paha; begitulah tanaman selalu berubah.” jawab Shinichi.
^_^
Terdengar Adzan maghrib dari Masjid Cipaganti saatnya bagi mereka bertiga untuk meninggalkan warung menuju masjid. Dalam ujian tersebut Shinichi dinyatakan mulai dapat mengenali perasaan-perasaannya, mencari penyebab perasaan itu muncul dan menjabarkan penyebab itu dalam kalimat-kalimat yang informatif. Hanya saja Shinichi masih harus menambah pengetahuannya tentang hal-hal praktis, misalnya untuk dapat mendeskripsikan sebuah grup musik dengan akurat, Shinichi harus menguasai istilah-istilah dasar dalam musik sepert pitch, notasi, irama, harmoni dan vocal (nl)
Label:
cerita pendek,
Mengenal Diri
Shinichi yang Menawan (1)
Being Surender
Suatu sore ketika Maruko datang ke tempat Shinichi Kudo, dia terkejut melihat ada dua bendera putih yang dipasang bersilangan di depan kamar. Dengan terheran-heran dia bertanya ada apa gerangan dengan bendera itu. Apakah Shinichi sedang berduka cita? Atau ada sekelompok bad sector pada otaknya sehingga memasang bendera yang biasa digunakan untuk pertanda orang menyerah ?.

“Bukan! Bukan aku sedang berduka cita. Bendera putih itu tanda menyerah. Surender!. Apapun yang akan terjadi biarlah terjadi. Aku ingin berhenti mengendalikan segalanya” kata Shinichi pendek.
Maruko mengerutkan keningnya tanda tidak mengerti apa yang dimaksud Shinichi. Kemudian dia mencoba mengorek lebih dalam apa yang dimaksud dengan Surender. Apakah Shinichi akan menjadi seorang fatalis yang berdiam diri menunggu nasib?. Ataukah dia memutuskan berhenti mengeluarkan protes atas hal-hal yang dianggapnya salah ?. Bak mimpi siang bolong- lah bila Shinichi berubah menjadi si patuh yang mengerjakan segala sesuatu tanpa banyak bertanya.
“Hmmm, apakah kamu akan menghentikan kebiasaanmu mengkritik segala hal yang kau anggap perlu diperbaiki. Wah asyik dong! Tiap hari kamu hanya akan mengucapkan terimakasih!” kata Maruko dengan nada tidak percaya Shinichi mampu merubah kebiasaannya.
Shinichi tertawa mendengar pertanyaan Maruko. Dia menepis bahwa dirinya akan berubah menjadi fatalis atau menjadi si patuh. Sifat bawaan yang melekat pada dirinya (mungkin sejak bayi) menghalanginya menjadi seperti itu. Shinichi mengatakan bahwa dia masih ingin segalanya menjadi lebih baik. Cara yang paling mudah adalah dengan melancarkan kritikan untuk perbaikan. Surender yang dimaksud oleh Shinichi adalah mengenai hal-hal lain. Setidaknya meliputi tiga hal yang dianggapnya sangat mengganggunya.
Pertama adalah Shinchi menyerah pada ketidaksempurnaan: dia ingin berhenti berusaha mengerjakan segala sesuatu dengan sempurna. Mengerjakan sesuatu dengan sangat baik adalah sebuah impian. Kesempurnaan adalah sebuah kepuasan tiada tara bagi orang seperti dirinya. Namun pada kenyataannya, mengerjakan sesuatu dengan sempurna terkadang sama artinya dengan mengerjakan sesuatu dalam waktu yang lama. Bahkan sangat lama hingga melewati batas waktu yang dapat ditoleransi.Akibatnya kesempurnaan tersebut tidak ada artinya karena pekerjaan selesai tepat pada saat sudah tidak dibutuhkan lagi. Hampir sama artinya dengan tidak mengerjakan sama sekali.
Disamping itu mengejar kesempurnaan juga bisa berarti membuat pekerjaan lain tertunda. Waktu yang terbatas dan pekerjaan yang menumpuk menuntut Shinichi mengerjakan segala sesuatu “seadanya”. Kesempurnaan mau tak mau harus digantinya dengan standar minimal yang dapat diterima. Syukur- syukur bila ada cukup waktu untuk membuatnya sedikit diatas rata-rata.
Kedua adalah Shinichi menyerah, berhenti mencoba menyenangkan semua orang. Waktu yang terbatas memaksanya membuat prioritas. Mau tak mau Shinicihi harus memilih pekerjaan yang akan didahulukan dan yang akan dikerjakan kemudian. Pastilah Shinichi akan mengecewakan orang-orang yang pekerjaannya dinomorduakan. Konsekuensinya dia harus rela belajar bertebal telinga menerima keluhan dari orang-orang yang tidak mendapat prioritas. Seandainya Shinichi mencoba menyenangkan semua orang-pun pada akhirnya juga akan mengecewakan sebagian besar orang. Bahkan dia akan terjebak pada kegiatan menangani setiap permintaan berdasar urutan waktunya. Itu artinya semua pekerjaan dianggap sama. Tidak ada prioritas. Akibatnya pada saat dibutuhkan ---pekerjaan-pekerjaan yang kritis justru belum siap---sementara pekerjaan-pekerjaan remeh temeh sudah selesai.
Yang paling penting diperhatikan pada langkah berhenti menyenangkan semua orang adalah adalah kompromi. Shinichi harus belajar mengkompromikan prioritasnya dengan prioritas orang lain. Pekerjaan yang dianggapnya berprioritas rendah bisa jadi merupakan prioritas tertinggi bagi orang lain. Karenanya Shinichi harus berusaha menyeimbangkan kepentingan dirinya dengan kepentingan pihak lain dengan berpedoman pada prioritas umum yang telah digariskan oleh perusahaan. Akan lebih mudah bila Shinichi menyerahkan pembuatan prioritas pada atasannya.
Ketiga adalah Shinichi menyerah berhenti mencoba menjadi Superhero yang mampu menyelesaikan segalanya. Memang bagus bila Shinichi mengetahui segala sesuatu mulai dari aspek teknik pekerjaan seperti listrik & mesin-mesin; sampai ke aspek biologis seperti nutrisi-nutrisi yang mempengaruhi pertumbuhan mikroba. Namun lagi-lagi waktu yang menuntutnya untuk memilih. Atau dia justru tidak akan menguasai apa-pun. Segalanya akan dikuasainya dengan dangkal. Akibatnya dia tidak dapat diandalkan untuk menyelesaikan masalah-masalah utama dalam pekerjaannya yang berkaitan dengan kultivasi mikroba dan produksi toksin.
Berhenti jadi superhero juga berimplikasi pada pelimpahan beberapa pekerjaan penting pada orang-orang isekitarnya. Shinichi harus mau bolak-balik mengajari orang untuk mengerjakan sesuatu. Misalnya membuat laporan. Shinichi harus menahan diri untuk tidak mengetik sendiri perbaikan-perbaikan kecil pada draft laporan--- dia harus menyerahkan hasil koreksian kepada si pembuat laporan untuk diketik ulang--- yang mungkin akan berakhir dengan kesalahan lagi. Sabar menghadapi laporan yang bolak-balik adalah pertanda kemampuan dirinya menahan diri untuk tidak menjadi Superhero yang mengerjakan segalanya. Karena bila hal itu dilakukan, pekerjaan detail yang menyita waktu akan menjepitnya tanpa ampun. Membuatnya merasa tidak berdaya menyelesaikan- pekerjaan-pekerjaan lain yang lebih penting.
^_^
“Wow menarik sekali. Terutama point ketiga, berhenti menjadi Superhero. Hebat bila dirimu mampu membiarkan pekerjaan- pekerjaan penting dikerjakan orang lain!” teriak Maruko.
Shinichi tersenyum dan mengakui bahwa ketiga “Surender” tersebut bukanlah hal yang mudah dilakukan. Merubah kebiasaan-kebiasaan yang telah mendarah daging adalah hal yang sangat sulit dilakukan. Kata-kata yang lebih tepat adalah perubahan perlahan-lahan menuju kebiasaan baru. Barangkali dua bendera putih tersebut akan membantunya untuk mengingat- ingat bahwa dirinya sedang berusaha keras untuk menjadi seorang surender (jl. makmur-14 bandung 2006).
Suatu sore ketika Maruko datang ke tempat Shinichi Kudo, dia terkejut melihat ada dua bendera putih yang dipasang bersilangan di depan kamar. Dengan terheran-heran dia bertanya ada apa gerangan dengan bendera itu. Apakah Shinichi sedang berduka cita? Atau ada sekelompok bad sector pada otaknya sehingga memasang bendera yang biasa digunakan untuk pertanda orang menyerah ?.

“Bukan! Bukan aku sedang berduka cita. Bendera putih itu tanda menyerah. Surender!. Apapun yang akan terjadi biarlah terjadi. Aku ingin berhenti mengendalikan segalanya” kata Shinichi pendek.
Maruko mengerutkan keningnya tanda tidak mengerti apa yang dimaksud Shinichi. Kemudian dia mencoba mengorek lebih dalam apa yang dimaksud dengan Surender. Apakah Shinichi akan menjadi seorang fatalis yang berdiam diri menunggu nasib?. Ataukah dia memutuskan berhenti mengeluarkan protes atas hal-hal yang dianggapnya salah ?. Bak mimpi siang bolong- lah bila Shinichi berubah menjadi si patuh yang mengerjakan segala sesuatu tanpa banyak bertanya.
“Hmmm, apakah kamu akan menghentikan kebiasaanmu mengkritik segala hal yang kau anggap perlu diperbaiki. Wah asyik dong! Tiap hari kamu hanya akan mengucapkan terimakasih!” kata Maruko dengan nada tidak percaya Shinichi mampu merubah kebiasaannya.
Shinichi tertawa mendengar pertanyaan Maruko. Dia menepis bahwa dirinya akan berubah menjadi fatalis atau menjadi si patuh. Sifat bawaan yang melekat pada dirinya (mungkin sejak bayi) menghalanginya menjadi seperti itu. Shinichi mengatakan bahwa dia masih ingin segalanya menjadi lebih baik. Cara yang paling mudah adalah dengan melancarkan kritikan untuk perbaikan. Surender yang dimaksud oleh Shinichi adalah mengenai hal-hal lain. Setidaknya meliputi tiga hal yang dianggapnya sangat mengganggunya.
Pertama adalah Shinchi menyerah pada ketidaksempurnaan: dia ingin berhenti berusaha mengerjakan segala sesuatu dengan sempurna. Mengerjakan sesuatu dengan sangat baik adalah sebuah impian. Kesempurnaan adalah sebuah kepuasan tiada tara bagi orang seperti dirinya. Namun pada kenyataannya, mengerjakan sesuatu dengan sempurna terkadang sama artinya dengan mengerjakan sesuatu dalam waktu yang lama. Bahkan sangat lama hingga melewati batas waktu yang dapat ditoleransi.Akibatnya kesempurnaan tersebut tidak ada artinya karena pekerjaan selesai tepat pada saat sudah tidak dibutuhkan lagi. Hampir sama artinya dengan tidak mengerjakan sama sekali.
Disamping itu mengejar kesempurnaan juga bisa berarti membuat pekerjaan lain tertunda. Waktu yang terbatas dan pekerjaan yang menumpuk menuntut Shinichi mengerjakan segala sesuatu “seadanya”. Kesempurnaan mau tak mau harus digantinya dengan standar minimal yang dapat diterima. Syukur- syukur bila ada cukup waktu untuk membuatnya sedikit diatas rata-rata.
Kedua adalah Shinichi menyerah, berhenti mencoba menyenangkan semua orang. Waktu yang terbatas memaksanya membuat prioritas. Mau tak mau Shinicihi harus memilih pekerjaan yang akan didahulukan dan yang akan dikerjakan kemudian. Pastilah Shinichi akan mengecewakan orang-orang yang pekerjaannya dinomorduakan. Konsekuensinya dia harus rela belajar bertebal telinga menerima keluhan dari orang-orang yang tidak mendapat prioritas. Seandainya Shinichi mencoba menyenangkan semua orang-pun pada akhirnya juga akan mengecewakan sebagian besar orang. Bahkan dia akan terjebak pada kegiatan menangani setiap permintaan berdasar urutan waktunya. Itu artinya semua pekerjaan dianggap sama. Tidak ada prioritas. Akibatnya pada saat dibutuhkan ---pekerjaan-pekerjaan yang kritis justru belum siap---sementara pekerjaan-pekerjaan remeh temeh sudah selesai.
Yang paling penting diperhatikan pada langkah berhenti menyenangkan semua orang adalah adalah kompromi. Shinichi harus belajar mengkompromikan prioritasnya dengan prioritas orang lain. Pekerjaan yang dianggapnya berprioritas rendah bisa jadi merupakan prioritas tertinggi bagi orang lain. Karenanya Shinichi harus berusaha menyeimbangkan kepentingan dirinya dengan kepentingan pihak lain dengan berpedoman pada prioritas umum yang telah digariskan oleh perusahaan. Akan lebih mudah bila Shinichi menyerahkan pembuatan prioritas pada atasannya.
Ketiga adalah Shinichi menyerah berhenti mencoba menjadi Superhero yang mampu menyelesaikan segalanya. Memang bagus bila Shinichi mengetahui segala sesuatu mulai dari aspek teknik pekerjaan seperti listrik & mesin-mesin; sampai ke aspek biologis seperti nutrisi-nutrisi yang mempengaruhi pertumbuhan mikroba. Namun lagi-lagi waktu yang menuntutnya untuk memilih. Atau dia justru tidak akan menguasai apa-pun. Segalanya akan dikuasainya dengan dangkal. Akibatnya dia tidak dapat diandalkan untuk menyelesaikan masalah-masalah utama dalam pekerjaannya yang berkaitan dengan kultivasi mikroba dan produksi toksin.
Berhenti jadi superhero juga berimplikasi pada pelimpahan beberapa pekerjaan penting pada orang-orang isekitarnya. Shinichi harus mau bolak-balik mengajari orang untuk mengerjakan sesuatu. Misalnya membuat laporan. Shinichi harus menahan diri untuk tidak mengetik sendiri perbaikan-perbaikan kecil pada draft laporan--- dia harus menyerahkan hasil koreksian kepada si pembuat laporan untuk diketik ulang--- yang mungkin akan berakhir dengan kesalahan lagi. Sabar menghadapi laporan yang bolak-balik adalah pertanda kemampuan dirinya menahan diri untuk tidak menjadi Superhero yang mengerjakan segalanya. Karena bila hal itu dilakukan, pekerjaan detail yang menyita waktu akan menjepitnya tanpa ampun. Membuatnya merasa tidak berdaya menyelesaikan- pekerjaan-pekerjaan lain yang lebih penting.
^_^
“Wow menarik sekali. Terutama point ketiga, berhenti menjadi Superhero. Hebat bila dirimu mampu membiarkan pekerjaan- pekerjaan penting dikerjakan orang lain!” teriak Maruko.
Shinichi tersenyum dan mengakui bahwa ketiga “Surender” tersebut bukanlah hal yang mudah dilakukan. Merubah kebiasaan-kebiasaan yang telah mendarah daging adalah hal yang sangat sulit dilakukan. Kata-kata yang lebih tepat adalah perubahan perlahan-lahan menuju kebiasaan baru. Barangkali dua bendera putih tersebut akan membantunya untuk mengingat- ingat bahwa dirinya sedang berusaha keras untuk menjadi seorang surender (jl. makmur-14 bandung 2006).
Label:
cerita pendek,
Mengenal Diri
Kampung Pengundang Ular (2)
Kampung Para Pengundang Ular : Renaissance
Sepeninggal Ketua Kampung untuk berkelana seantero pelosok
negeri, para penduduk berkumpul untuk memilih pemimpin
baru. Seperti yang terjadi sebelumnya, ada dua kelompok kuat
yang bersaing dalam memperebutkan posisi Ketua Kampung.
Kelompok pendukung kebebasan ular untuk memasuki
kampung melawan kelompok penentangnya. Minggu-minggu
menjelang pemilihan terjadilah perang urat syaraf yang sangat
sengit.

Kelompok penentang ular membeberkan puluhan bukti-
bukti yang menunjukkan bahwa telah jatuh puluhan korban
tewas akibat keganasan ular dan mengatakan sudah saatnya
untuk mengusir ular dari rumah-rumah penduduk. Kelompok
pendukung ular dengan gigih memberi bukti keluarga-keluarga
yang hidup damai bersama ular-ular, bahkan mendapat
penghasilan tambahan dari para wisatawan luar kampung yang
gemar menonton atraksi-atraksi yang disuguhkan para ular.
Hanya satu hari menjelang pemilihan terjadi tiga kehebohan
besar yang mempengaruhi hasil pemilihan. Kehebohan pertama
adalah dibelinya seekor ular sanca yang ditemukan seorang
perempuan tua oleh pedagang kaya dari ibukota
dengan harga setara sekilo emas murni 24 karat. Kehebohan
kedua adalah digagalkannya perampokan di rumah
salah seorang terkaya di kampung ---karena si perampok
berteriak-teriak ketakutan--- akibat membuka lemari yang
disangka berisi perhiasan ternyata berisi belasan ekor cobra.
Peristiwa ketiga adalah dipujinya klub muda-mudi pengundang
ular sebagai klub muda-mudi teladan oleh seorang pembesar
negeri karena sukses memberantas hama tikus secara alami
tanpa racun kimia. Segera saja ketiga peristiwa itu menjadi
primadona kampanye para pendukung ular. Hasilnya-pun
nyata. Mereka sukses mengkanvaskan para penentang ular
dalam pemungutan suara.
^_^
“Hari ini kita berkumpul di halaman balai kampung untuk
merayakan kemenangan kaum pendukung kebebasan. Manusia
adalah makhluk cerdas. Dengan kemampuan otaknya manusia
bebas menentukan mana yang dianggap baik dan mana yang
buruk. Sesuatu akan baik bila kita anggap baik dan menjadi
buruk bila kita anggap buruk. Kita tidak butuh siapa-siapa.
Kita adalah makhluk tiada tara. Yang kita butuhkan adalah
kebebasan untuk menentukan pilihan. Kita adalah para pecinta
ular. Muda-mudi kita adalah para pecandu ular. Biarlah mereka
mengisi masa muda mereka dalam pelukan ular-ular yang
berbisa sekalipun. Mereka akan aman-aman saja sepanjang
mereka telah kita bekali dengan pengetahuan tentang ular dan
kiat menangkal bahaya bisa ular” kata Ketua Kampung baru
pada saat pidato pelantikan yang dibanjiri para pendukungnya.
“Saya tidak keberatan dengan teman-teman kita yang tidak
suka dengan ular. Namun saya harap mereka tidak
mengganggu pergaulan kita dengan ular-ular kelangenan.
Mereka boleh tidak setuju, tapi mereka tidak punya hak sama
sekali untuk mengusik kita. Bahwa anak-anak mereka juga
terancam oleh kehadiran para ular---sudah menjadi tugas
mereka untuk mengajari anak-anak mereka bermain ular
dengan aman. Ajari anakmu bermain ular. Jangan coba-coba
usir ular keluar kampung. Jangan ganggu kesenangan kami”
teriak Ketua Kampung yang baru menutup pidato
pelantikannya yang disambut tepuk tangan meriah para
pendukungnya.
^_^
Tak sampai satu bulan setelah pelantikan Ketua Kampung yang
baru—korban-korban kembali berjatuhan. Kali ini kebanyakan
adalah muda mudi yang coba-coba bermain dengan ular.
Disangkanya dengan sedikit pengetahuan tentang ular mereka
akan aman bermain dengan hewan berbisa tersebut. Pada
kenyataannya belasan anak muda menjadi korban. Sebagian
mati, sebagian yang lain terkapar di rumah sakit .
Namun setiapkali diadakan pemungutan suara untuk
menentukan nasib para ular, kelompok penentang ular selalu
kalah. Para pendukung ular memiliki kelompok-kelompok
kesenian ular yang rajin keliling kampung untuk menghibur
penduduk dengan gratis sehingga mereka mendapat simpati
yang luas.
^_^
Sepuluh tahun berlalu, keganasan ular semakin menjadi-jadi
namun kegilaan sebagian penduduk terhadap ular juga semakin
menjadi-jadi. Korban keganasan ular sudah dianggap biasa.
Sebagian penduduk sudah menganggapnya sebagai resiko biasa
yang dihadapi semua orang dalam kehidupan. Berita remaja
terkapar karena dipatuk ular sudah tidak menarik lagi. Para
penentang yang teriak-teriak meminta ular diusir keluar
kampung dianggap orang kuno yang tidak tahu bahwa
kebebasan adalah pangkal kemajuan. Kemarahan para
penentang sudah meluap-luap sampai ke ubun-ubun. Namun
mereka harus gigit jari karena selalu kalah populer dibanding
para pendukung kebebasan ular yang sangat canggih dalam
meraih simpati penduduk.
^_^
Menginjak tahun kesebelas tiba-tiba munculah seorang tua
yang rambutnya panjang dan jenggotnya juga panjang hampir
menyentuh tanah. Puisi yang diteriakkannyalah yang membuat
penduduk kampung mengerti bahwa Ketua Kampung Lama
mereka telah kembali. Rupanya selama sepuluh tahun
berkelana dia tidak pernah mencukur rambut dan jenggot
hingga menjadi sangat panjang.
Barangsiapa mengundang ular ke dalam rumah
untuk memangsa tikus-tikus pemakan beras,
dia juga harus rela bila si ular menggigit mati anaknya.
Karena anak suka bermain dan
ular suka menggigit bila dipermainkan.
Itu adalah sifat alami kedua makhluk ciptaan Tuhan.
Puisi itu diteriakkan tiap satu jam sekali oleh Ketua Kampung
Lama di halaman balai kampung. Malamnya para penentang
ular berduyun-duyun mendatangi Kepala Kampung Lama
untuk mengadukan merajalelanya ular sepeninggal dirinya.
Tergerak oleh nasib kampungnya yang dicengkeram dunia
ular---justru pada saat dirinya mengajarkan bahaya ular ke
seluruh penjuru negeri. Ditambah kesadaran bahwa tindakan
nyata jauh lebih berarti dari sekedar kata-kata--- Kepala
Kampung Lama bersedia memimpin kampanye untuk
menentang ular. Malam itu juga disuruhnya semua penentang
ular membuat pentungan dari batang bambu. Diperintahkan
juga mereka membuat obor-obor dan mengumpulkan garam.
Tidak lupa mereka diminta mempersiapkan panah-panah api.
Pagi harinya Ketua Kampung Lama yang telah mencukur
gundul rambutnya ---mengumpulkan seluruh penduduk
penentang ular yang juga telah mencukur gundul rambut
mereka--- di alun-alun kampung. Mereka membawa semua
perlengkapan yang telah dipersiapkan malam harinya.
Jumlah penentang ternyata jauh lebih besar dibanding para
pendukung ular.
“Hari ini kita berkumpul ditempat ini sebagai kaum pecinta
kebenaran. Kebenaran adalah kebenaran yang tidak akan
berubah menjadi kesesatan setelah seribu tahun sekalipun. Hari
ini adalah saatnya para ksatria gagah berani pembawa risalah
kebenaran untuk menghancurkan kesesatan” Ketua Kampung
Lama memulai pidatonya.
Sejenak kemudian terdengar gemuruh suara para penentang
ular berteriak-teriak mendukung pidatonya pemimpinnya.
Ketua Kampung Lama meneruskan kata-katanya :
“Api adalah api. Api adalah panas. Biarpun seribu kali sehari
mereka bilang api adalah dingin dan dilakukan selama seribu
tahun. Api tidak akan berubah menjadi dingin. Ular berbisa itu
berbahaya bila berada dirumah kita. Biarpun seribu kali sehari
mereka bilang bahwa ular-ular yang berkeliaran di kamar tidur,
di dapur, di lumbung padi tidak berbahaya – bisa ular tetap
berbahaya. Biar seribu tahun mereka bilang ular tidak
berbahaya bagi anak-anak kita --- ular tetap akan berbahaya
bagi anak-anak kita. Kebenaran adalah kebenaran. Kebenaran
harus diperjuangkan dan bukan diputuskan lewat pemungutan suara”
Mendadak Ketua Kampung Lama berhenti berpidato dan menangis
terisak-isak teringat anaknya yang tewas 10 tahun silam. Setelah
terdiam beberapa lama tiba-tiba dia berdiri diatas meja dan berteriak
dengan lantang :
“Kebebasan sejati adalah kebebasan dari perbudakan
nafsu. Kebebasan sejati adalah membebaskan diri dari
keinginan untuk selalu bersenang-senang. Kebebasan adalah
keberanian untuk menerima kenyataan bahwa ular-ular berbisa
akan membahayakan masa depan anak cucu kita. Kebebasan
adalah keberanian untuk melihat masa depan tanpa terhalang
kesenangan sesaat. Mereka telah dibutakan hatinya dari
kenyataan. Mereka berpancaindera normal namun
sesungguhnya telah buta dan tuli tidak mampu melihat
kenyataan ratusan korban keganasan ular. Nafsu telah
membuat hati mereka gelap pekat kehilangan cahaya. Hati
mereka telah mengeras seperti batu”.
Kemudian Ketua Kampung Lama memberi isyarat penentang
ular untuk bergerak.
“Hari ini nasib anak-anak kita dipertaruhkan. Mari kita
hancurkan sarang-sarang ular di dalam kampung. Kita usir
semua ular dari sekeliling kita. Kita bunuh semua ular yang
tidak mau pergi. Rawe-rawe rantas, malang-malang putung.
Kita hancurkan siapa saja yang menghalangi misi kita”
Ratusan penentang ular segera bergerak. Sarang-sarang ular
dibongkar. Lubang-lubang yang penuh ular diasapi dengan
bantuan obor. Garam-garam ditaburkan. Akibatnya ular-ular
ketakutan dan berlomba-lomba meninggalkan kampung.
Belasan ular yang mencoba melawan tewas digebuk dengan
batang-batang bambu. Ular-ular yang bersembunyi di rumah
para pendukung ular juga dipaksa keluar dan diusir
meninggalkan kawasan perumahan penduduk. Para pendukung
ular tidak mampu berbuat apa-apa. Jumlah mereka
yang sedikit ditambah panah-panah yang dibawa para
penentang ular telah menciutkan nyali mereka. Sementara
penduduk biasa yang cenderung ikut pada kelompok yang kuat
--- telah berpaling dari mereka. Kini mereka berbalik menjadi
para penentang ular.
^_^
Sebulan setelah peristiwa itu kampung praktis telah bersih dari
ular. Mungkin ada satu dua orang yang secara sembunyi-
sembunyi mengundang para ular. Namun mereka tidak akan
berani terang-terangan. Apalagi mengajak anak-anak muda
untuk bermain-main dengan ular. Tak terdengar lagi remaja
yang mati digigit ular. Bapak-bapak kembali dengan tenang
menyiangi kebunnya dari alang-alang. Ibu-ibu tak perlu
khawatir digigit ular saat mengambil padi dari lumbung. Para
orang tua tidak perlu terus-menerus mengawasi anaknya agar
tidak bermain–main dengan ular. Ketentraman dan kedamaian
menyelimuti kampung yang telah kembali menemukan jati diri
sejatinya itu. Kepala Kampung Lama-pun mendapat julukan
baru, yaitu Ksatria Gundul Pembebas Kampung dari Para
Pengundang Ular.
jl. makmur bandung
Sepeninggal Ketua Kampung untuk berkelana seantero pelosok
negeri, para penduduk berkumpul untuk memilih pemimpin
baru. Seperti yang terjadi sebelumnya, ada dua kelompok kuat
yang bersaing dalam memperebutkan posisi Ketua Kampung.
Kelompok pendukung kebebasan ular untuk memasuki
kampung melawan kelompok penentangnya. Minggu-minggu
menjelang pemilihan terjadilah perang urat syaraf yang sangat
sengit.

Kelompok penentang ular membeberkan puluhan bukti-
bukti yang menunjukkan bahwa telah jatuh puluhan korban
tewas akibat keganasan ular dan mengatakan sudah saatnya
untuk mengusir ular dari rumah-rumah penduduk. Kelompok
pendukung ular dengan gigih memberi bukti keluarga-keluarga
yang hidup damai bersama ular-ular, bahkan mendapat
penghasilan tambahan dari para wisatawan luar kampung yang
gemar menonton atraksi-atraksi yang disuguhkan para ular.
Hanya satu hari menjelang pemilihan terjadi tiga kehebohan
besar yang mempengaruhi hasil pemilihan. Kehebohan pertama
adalah dibelinya seekor ular sanca yang ditemukan seorang
perempuan tua oleh pedagang kaya dari ibukota
dengan harga setara sekilo emas murni 24 karat. Kehebohan
kedua adalah digagalkannya perampokan di rumah
salah seorang terkaya di kampung ---karena si perampok
berteriak-teriak ketakutan--- akibat membuka lemari yang
disangka berisi perhiasan ternyata berisi belasan ekor cobra.
Peristiwa ketiga adalah dipujinya klub muda-mudi pengundang
ular sebagai klub muda-mudi teladan oleh seorang pembesar
negeri karena sukses memberantas hama tikus secara alami
tanpa racun kimia. Segera saja ketiga peristiwa itu menjadi
primadona kampanye para pendukung ular. Hasilnya-pun
nyata. Mereka sukses mengkanvaskan para penentang ular
dalam pemungutan suara.
^_^
“Hari ini kita berkumpul di halaman balai kampung untuk
merayakan kemenangan kaum pendukung kebebasan. Manusia
adalah makhluk cerdas. Dengan kemampuan otaknya manusia
bebas menentukan mana yang dianggap baik dan mana yang
buruk. Sesuatu akan baik bila kita anggap baik dan menjadi
buruk bila kita anggap buruk. Kita tidak butuh siapa-siapa.
Kita adalah makhluk tiada tara. Yang kita butuhkan adalah
kebebasan untuk menentukan pilihan. Kita adalah para pecinta
ular. Muda-mudi kita adalah para pecandu ular. Biarlah mereka
mengisi masa muda mereka dalam pelukan ular-ular yang
berbisa sekalipun. Mereka akan aman-aman saja sepanjang
mereka telah kita bekali dengan pengetahuan tentang ular dan
kiat menangkal bahaya bisa ular” kata Ketua Kampung baru
pada saat pidato pelantikan yang dibanjiri para pendukungnya.
“Saya tidak keberatan dengan teman-teman kita yang tidak
suka dengan ular. Namun saya harap mereka tidak
mengganggu pergaulan kita dengan ular-ular kelangenan.
Mereka boleh tidak setuju, tapi mereka tidak punya hak sama
sekali untuk mengusik kita. Bahwa anak-anak mereka juga
terancam oleh kehadiran para ular---sudah menjadi tugas
mereka untuk mengajari anak-anak mereka bermain ular
dengan aman. Ajari anakmu bermain ular. Jangan coba-coba
usir ular keluar kampung. Jangan ganggu kesenangan kami”
teriak Ketua Kampung yang baru menutup pidato
pelantikannya yang disambut tepuk tangan meriah para
pendukungnya.
^_^
Tak sampai satu bulan setelah pelantikan Ketua Kampung yang
baru—korban-korban kembali berjatuhan. Kali ini kebanyakan
adalah muda mudi yang coba-coba bermain dengan ular.
Disangkanya dengan sedikit pengetahuan tentang ular mereka
akan aman bermain dengan hewan berbisa tersebut. Pada
kenyataannya belasan anak muda menjadi korban. Sebagian
mati, sebagian yang lain terkapar di rumah sakit .
Namun setiapkali diadakan pemungutan suara untuk
menentukan nasib para ular, kelompok penentang ular selalu
kalah. Para pendukung ular memiliki kelompok-kelompok
kesenian ular yang rajin keliling kampung untuk menghibur
penduduk dengan gratis sehingga mereka mendapat simpati
yang luas.
^_^
Sepuluh tahun berlalu, keganasan ular semakin menjadi-jadi
namun kegilaan sebagian penduduk terhadap ular juga semakin
menjadi-jadi. Korban keganasan ular sudah dianggap biasa.
Sebagian penduduk sudah menganggapnya sebagai resiko biasa
yang dihadapi semua orang dalam kehidupan. Berita remaja
terkapar karena dipatuk ular sudah tidak menarik lagi. Para
penentang yang teriak-teriak meminta ular diusir keluar
kampung dianggap orang kuno yang tidak tahu bahwa
kebebasan adalah pangkal kemajuan. Kemarahan para
penentang sudah meluap-luap sampai ke ubun-ubun. Namun
mereka harus gigit jari karena selalu kalah populer dibanding
para pendukung kebebasan ular yang sangat canggih dalam
meraih simpati penduduk.
^_^
Menginjak tahun kesebelas tiba-tiba munculah seorang tua
yang rambutnya panjang dan jenggotnya juga panjang hampir
menyentuh tanah. Puisi yang diteriakkannyalah yang membuat
penduduk kampung mengerti bahwa Ketua Kampung Lama
mereka telah kembali. Rupanya selama sepuluh tahun
berkelana dia tidak pernah mencukur rambut dan jenggot
hingga menjadi sangat panjang.
Barangsiapa mengundang ular ke dalam rumah
untuk memangsa tikus-tikus pemakan beras,
dia juga harus rela bila si ular menggigit mati anaknya.
Karena anak suka bermain dan
ular suka menggigit bila dipermainkan.
Itu adalah sifat alami kedua makhluk ciptaan Tuhan.
Puisi itu diteriakkan tiap satu jam sekali oleh Ketua Kampung
Lama di halaman balai kampung. Malamnya para penentang
ular berduyun-duyun mendatangi Kepala Kampung Lama
untuk mengadukan merajalelanya ular sepeninggal dirinya.
Tergerak oleh nasib kampungnya yang dicengkeram dunia
ular---justru pada saat dirinya mengajarkan bahaya ular ke
seluruh penjuru negeri. Ditambah kesadaran bahwa tindakan
nyata jauh lebih berarti dari sekedar kata-kata--- Kepala
Kampung Lama bersedia memimpin kampanye untuk
menentang ular. Malam itu juga disuruhnya semua penentang
ular membuat pentungan dari batang bambu. Diperintahkan
juga mereka membuat obor-obor dan mengumpulkan garam.
Tidak lupa mereka diminta mempersiapkan panah-panah api.
Pagi harinya Ketua Kampung Lama yang telah mencukur
gundul rambutnya ---mengumpulkan seluruh penduduk
penentang ular yang juga telah mencukur gundul rambut
mereka--- di alun-alun kampung. Mereka membawa semua
perlengkapan yang telah dipersiapkan malam harinya.
Jumlah penentang ternyata jauh lebih besar dibanding para
pendukung ular.
“Hari ini kita berkumpul ditempat ini sebagai kaum pecinta
kebenaran. Kebenaran adalah kebenaran yang tidak akan
berubah menjadi kesesatan setelah seribu tahun sekalipun. Hari
ini adalah saatnya para ksatria gagah berani pembawa risalah
kebenaran untuk menghancurkan kesesatan” Ketua Kampung
Lama memulai pidatonya.
Sejenak kemudian terdengar gemuruh suara para penentang
ular berteriak-teriak mendukung pidatonya pemimpinnya.
Ketua Kampung Lama meneruskan kata-katanya :
“Api adalah api. Api adalah panas. Biarpun seribu kali sehari
mereka bilang api adalah dingin dan dilakukan selama seribu
tahun. Api tidak akan berubah menjadi dingin. Ular berbisa itu
berbahaya bila berada dirumah kita. Biarpun seribu kali sehari
mereka bilang bahwa ular-ular yang berkeliaran di kamar tidur,
di dapur, di lumbung padi tidak berbahaya – bisa ular tetap
berbahaya. Biar seribu tahun mereka bilang ular tidak
berbahaya bagi anak-anak kita --- ular tetap akan berbahaya
bagi anak-anak kita. Kebenaran adalah kebenaran. Kebenaran
harus diperjuangkan dan bukan diputuskan lewat pemungutan suara”
Mendadak Ketua Kampung Lama berhenti berpidato dan menangis
terisak-isak teringat anaknya yang tewas 10 tahun silam. Setelah
terdiam beberapa lama tiba-tiba dia berdiri diatas meja dan berteriak
dengan lantang :
“Kebebasan sejati adalah kebebasan dari perbudakan
nafsu. Kebebasan sejati adalah membebaskan diri dari
keinginan untuk selalu bersenang-senang. Kebebasan adalah
keberanian untuk menerima kenyataan bahwa ular-ular berbisa
akan membahayakan masa depan anak cucu kita. Kebebasan
adalah keberanian untuk melihat masa depan tanpa terhalang
kesenangan sesaat. Mereka telah dibutakan hatinya dari
kenyataan. Mereka berpancaindera normal namun
sesungguhnya telah buta dan tuli tidak mampu melihat
kenyataan ratusan korban keganasan ular. Nafsu telah
membuat hati mereka gelap pekat kehilangan cahaya. Hati
mereka telah mengeras seperti batu”.
Kemudian Ketua Kampung Lama memberi isyarat penentang
ular untuk bergerak.
“Hari ini nasib anak-anak kita dipertaruhkan. Mari kita
hancurkan sarang-sarang ular di dalam kampung. Kita usir
semua ular dari sekeliling kita. Kita bunuh semua ular yang
tidak mau pergi. Rawe-rawe rantas, malang-malang putung.
Kita hancurkan siapa saja yang menghalangi misi kita”
Ratusan penentang ular segera bergerak. Sarang-sarang ular
dibongkar. Lubang-lubang yang penuh ular diasapi dengan
bantuan obor. Garam-garam ditaburkan. Akibatnya ular-ular
ketakutan dan berlomba-lomba meninggalkan kampung.
Belasan ular yang mencoba melawan tewas digebuk dengan
batang-batang bambu. Ular-ular yang bersembunyi di rumah
para pendukung ular juga dipaksa keluar dan diusir
meninggalkan kawasan perumahan penduduk. Para pendukung
ular tidak mampu berbuat apa-apa. Jumlah mereka
yang sedikit ditambah panah-panah yang dibawa para
penentang ular telah menciutkan nyali mereka. Sementara
penduduk biasa yang cenderung ikut pada kelompok yang kuat
--- telah berpaling dari mereka. Kini mereka berbalik menjadi
para penentang ular.
^_^
Sebulan setelah peristiwa itu kampung praktis telah bersih dari
ular. Mungkin ada satu dua orang yang secara sembunyi-
sembunyi mengundang para ular. Namun mereka tidak akan
berani terang-terangan. Apalagi mengajak anak-anak muda
untuk bermain-main dengan ular. Tak terdengar lagi remaja
yang mati digigit ular. Bapak-bapak kembali dengan tenang
menyiangi kebunnya dari alang-alang. Ibu-ibu tak perlu
khawatir digigit ular saat mengambil padi dari lumbung. Para
orang tua tidak perlu terus-menerus mengawasi anaknya agar
tidak bermain–main dengan ular. Ketentraman dan kedamaian
menyelimuti kampung yang telah kembali menemukan jati diri
sejatinya itu. Kepala Kampung Lama-pun mendapat julukan
baru, yaitu Ksatria Gundul Pembebas Kampung dari Para
Pengundang Ular.
jl. makmur bandung
Kampung Pengundang Ular (1)
Kampung Para Pengundang Ular :. Dark age
Alkisah di sebuah kampung setelah melalui perdebatan seru
akhirnya kepala kampung memutuskan ular-ular

diperbolehkan memasuki kampung dengan alasan mereka
juga punya hak untuk hidup di tanah-tanah yang berada di
lingkungan pemukiman penduduk. Mereka bebas untuk
hidup di dalam kampung dan memakan tikus-tikus yang
bersembunyi di dalam lumbung-lumbung padi para petani.
Alhasil argumen para penentang bahwa ular-ular itu sangat
membahayakan bagi orang-orang kampung, terutama bagi
anak-anak dibawah umur yang belum mengerti begitu
berbahaya-nya bisa ular--- ditolak--- karena dianggap
mengada-ada. Lebih baik setiap keluarga mendidik anak-
anak mereka agar berhati-hati bila bermain di tempat-tempat
yang sering disambangi ular daripada mengekang kebebasan
para ular.
“Bukan saatnya lagi main larang-larangan. Sekarang bukan
jaman kuda gigit besi. Setiap orang bebas melakukan apa saja
sepanjang tidak merugikan orang lain. Bukan masanya lagi
kampung mengurusi urusan pribadi penduduknya. Anda
boleh menyukai ular atau membencinya. Namun anda harus
bersedia menerima kehadiran ular disekitar kita. Bentengi
keluarga anda dengan pengetahuan tentang ular sehingga
tidak akan menjadi korban gigitan ular".
"Omong kosong kalau ular itu berbahaya. Lebih berbahaya orang-
orang yang suka mencuri beras dari lumbung petani. Lebih
berbahaya hama-hama yang menyerang tanaman padi. Lebih
berbahaya orang yang sengaja memberi pinjaman berbunga
tinggi pada petani untuk mengambil alih kepemilikan sawah.
Bereskan hal-hal tersebut terlebih dahulu sebelum teriak-teriak
menentang kehadiran ular”. Begitulah ketua kampung berorasi
pada saat acara pengguntingan pita yang manandai hadirnya
para ular.
^_^
Pada awalnya penduduk kampung sangat senang dengan
hadirnya ular-ular di rumah mereka. Tikus-tikus di lumbung
padi habis disantap binatang melata tersebut. Demikian juga
dapur-dapur penduduk terbebas dari gangguan tikus dimalam
hari. Tidur mereka juga lebih nyenyak karena tak ada lagi
bunyi berisik para tikus bekejar-kejaran di plafon rumah.
Para ular membuat tikus stress karena dikejar-kejar sampai
ke liang-liang rahasia di saluran pembuangan air sehingga
mereka terpaksa menenangkan diri dengan mengungsi ke
hutan-hutan. Saking semangatnya para ular, burung-burung
yang suka menyantap gabah yang sedang dijemur petani-pun
jauh berkurang karena dijadikan semacam menu pendamping
tikus.
Sampai suatu hari seorang bayi tewas digigit ular weling saat
ditinggal ibunya menyabit rumput di kebun. Kontan
terjadilah perdebatan seru antar pendukung dan penentang
kehadiran ular. Kali ini para pendukung ular kembali
memenangkan pemungutan suara di Balai Kampung setelah
sukses menyalahkan si Ibu yang meletakkan bayi -nya secara
sembarangan di bawah pohon kelapa.
“Seharusnya bayi diletakkan di dalam rumah bukan ditaruh-
taruh di halaman. Bukan hanya ular yang membahayakan.
Bisa saja si bayi dimakan anjing atau kucing bahkan bisa
mati karena kejatuhan kelapa” begitulah kata-kata pamungkas
yang mampu meyakinkan para tokoh kampung untuk kembali
mendukung keberadaan ular.
Bulan-bulan berikutnya korban-korban kembali berjatuhan.
Ada anak yang digigit ular saat memanjat pohon mangga.
Beberapa ibu-ibu juga digigit ular saat sedang
membersihkan kebun dari ilalang. Yang paling tragis adalah
peristiwa seorang bayi yang ditelan bulat-bulat seekor ular
sanca raksasa saat ditinggal ibunya mencuci di sungai.
Untuk peristiwa terakhir ini si Ibu disalahkan karena
meninggalkan bayi di tepi sungai yang dianggap berbahaya.
Si bayi bisa tewas karena hanyut. Lagipula mencuci di sungai
adalah kegiatan yang sudah dinyatakan terlarang sejak beberapa
tahun silam. Pendeknya pendukung kebebasan ular kembali
meraih kemenangan. Bahkan si ibu yang malang dihukum
denda karena melakukan kelalaian yang menyebabkan
kematian anaknya.
^_^
Namun semuanya berubah 180 derajad setelah anak tunggal
kepala kampung tewas digigit ular saat menendang-nendang
kepala seekor cobra. Selama berhari-hari kepala kampung
termenung menyesali peristiwa yang menimpanya.
Bagaimana mungkin anak yang setiap hari diberitahu untuk
tidak bermain-main dengan ular telah melanggar
larangannya. Hanya karena si anak penasaran setiap hari
melihat di halaman rumahnya berkeliaran seekor kobra yang
kepalanya bisa berdiri dan mengembang. Larangan yang
diberikannya, kalah oleh rasa ingin tahu yang menguasai
anaknya.
Barangsiapa mengundang ular ke dalam rumah
untuk memangsa tikus-tikus pemakan beras,
dia juga harus rela bila si ular menggigit mati anaknya.
Karena anak suka bermain dan
ular suka menggigit bila dipermainkan.
Itu adalah sifat alami kedua makhluk ciptaan Tuhan.
Seminggu setelah kematian anaknya --- setiap hari ketua
kampung berkelana dari rumah ke rumah. Berdiri di depan
pintu sambil meneriakkan kata-kata tersebut. Sepuluh tahun
lamanya si ketua berkelana dari kampung ke kampung, dari
kota ke kota untuk meneriakkan puisinya. Tak banyak orang
yang tahu maksud puisi tersebut sampai berita tewasnya anak
si ketua tersebar luas ke seluruh negeri. Kini orang menjadi
sadar bahwa si ketua ingin menebus kesalahannya dengan
mengajarkan pengalaman pahit yang menimpa dirinya.
Penyair dari kampung pengundang ular adalah julukan yang
diberikan oleh orang-orang di seluruh penjuru negeri.
(jl makmur 14 bandung)
Anugrah yang Terlupakan
“Seneng ya jadi orang pintar” kata teman Maruko padasuatu ketika di sebuah resepsi pernikahan sepupunya di
Jakarta. Teman main Maruko sewaktu masih sekolah dasar
tersebut menguraikan tentang mudahnya kehidupan yang
dijalani Maruko. Semua seperti disorongkan ke tangan, dan
masa depan yang seolah datang menghampiri dirinya tanpa
harus dikejar-kejar.
Sebenarnya apa yang disebut pintar oleh teman tersebut
hanyalah soal sekolah yang dijalani Maruko. Sekolah
Negeri yang dimasuki Maruko sejak SMP, SMA hingga
kuliah dianggapnya sebagai cermin kecerdasan. Tentu saja
anggapan tidak sepenuhnya benar dan bersifat sangat
relatif. Meskipun seseorang bersekolah di sekolah yang baik
--- negeri maupun swasta bisa saja dia dianggap kurang pintar
oleh teman-teman sekelas karena menjadi penghuni tetap
papan bawah di kelasnya. Walaupun begitu Maruko harus
mengakui bahwa di mata teman mainnya tersebut
bersekolah di sekolah yang biayanya relatif terjangkau dan
lingkungan pendidikan yang terbaik dibanding sekolah-
sekolah lain adalah sebuah anugrah yang tidak didapatkan
oleh mereka.
“Anugrah yang terlupakan” bisik Maruko dalam hati.
Segera tergambar dalam benak Maruko apabila dirinya
tidak sekolah di SMP yang baik mungkin dia tidak akan
mampu masuk SMA yang baik. Begitu seterusnya hingga
pekerjaan yang dijalaninya saat ini. Maruko layak
meragukan keberhasilan dirinya mendapatkan pekerjaan
sekarang bila tidak dibantu oleh reputasi universitas tempat
dirinya kuliah. Pada waktu wawancara manager-nya
hanya bisa menilai kemampuan calon karyawan dari
transkip nilai. Reputasi universitas berperan besar dalam
meyakinkan si manager akan kemampuan akademik
seorang calon karyawan. Waktu pertemuan yang singkat
membuat dia cenderung melihat asal usul calon
karyawan dan mempercayakan penilaian kompetensi pada
transkip nilai yang dikeluarkan oleh universitas.
^_^
Shinichi tersenyum mendengar cerita Maruko tentang
temannya yang dengan mudah dapat menemukan rangkaian
anugrah yang diturunkan Tuhan kepada Maruko. Sebuah
keberuntungan yang kita miliki yang patut untuk disyukuri
--- terkadang kita lupakan --- karena segala sesuatu yang
kita inginkan namun tidak berhasil kita dapatkan. Itu hanyalah
satu contoh kecil dan masih ada beribu-ribu anugrah lain yang
patut disyukuri namun tidak pernah disadari.
“Panca indera yang sempurna, tangan kaki yang sehat,
tubuh jarang sakit, keberanian menerima perubahan,
kemampuan mempelajari hal-hal yang baru, pekerjaan yang
baik, makanan yang cukup, tinggal di daerah yang aman,
wajah yang menawan......” Kalimat Shinichi tentang
keberuntungan Maruko bila diteruskan baru akan berakhir
berjam-jam kemudian.
jl makmur -- bandung
Label:
cerita pendek,
Mengenal Diri
Shinobu Inokuma : Pensiunan atau Perintis ?
Malam Rabo setahun yang lalu selepas Isya, Shinobu Inokuma mendadak muncul di depan pintu kantor saat Shinichi Kudo hendak pulang.Shinobu Inokuma si “perfect” itu rupanya tak ingin membuat kesalahan untuk sebuah tugas “kecil” yang dipikulnya pada acara pertemuan dengan para pensiunan perusahaan. Pada acara rutin tahunan tersebut salah satu tugas Shinobu adalah merancang kata-kata yang akan terpampang pada spanduk ucapan selamat datang. Agaknya dia tak ingin sekedar “kata-kata biasa” yang cepat dilupakan. Dia ingin kata-kata istimewa yang menunjukkan penghormatan yang besar atas karya nyata mereka di masa lalu.
Banyak ide yang muncul dalam diskusi kecil itu. Pada intinya keduanya memiliki tiga kriteria yang sama. Pertama : Harus mencerminkan penghargaan atas kerja keras pensiunan di masa lalu. Kedua : Memberi pengakuan bahwa keberhasilan perusahaan saat ini adalah atas jasa mereka. Dan yang ketiga adalah yang paling penting : yaitu berpijak pada kenyataan!.
Setelah hampir 3 jam keduanya berdebat seru sembari menghabiskan bergelas-gelas kopi panas, akhirnya mereka berhasil mengambil kata sepakat. Telah terpilih satu kalimat yang akan dibawa Shinobu ke rapat panitia keesokan harinya.
Sabtu yang cerah setahun silam, ketika Shinobu Inokuma berdiri bangga memandang sebuah spanduk yang terpasang gagah di depan pintu gerbang perusahaan. Kata-kata yang dipilihnya bersama Shinichi malam itu ternyata disetujui floor pada saat rapat panitia. Kata-kata istimewa yang tak akan mudah dilewatkan. Kata-kata singkat yang membanggakan tapi tetap berpijak pada kenyataan! Pingin tahu bunyi kata-katanya ?
SELAMAT DATANG PARA PERINTIS INDUSTRI FARMASI INDONESIA.
kalimantan no. 5 bandung
Label:
cerita pendek
Horor Saat Menyeberang Jalan
Mengapa menyeberang jalan terkadang menjadi acara yang "menakutkan" bagi Shinichi. Karena saat menyeberang jalan seolah-olah dirinya menyerahkan "nasib tubuhnya" pada kebaikan hati orang-orang yang mengendarai kendaraan. Apakah mereka bersedia memperlambat mobilnya atau agak membelokkan motornya agar tidak menerjang Shinichi. Bagaimana bila mereka meleng? Atau ngantuk? Atau seorang egois memilih menabrak Shinichi daripada harus memperlambat mobilnya. Sungguh tak enak bagi Shinichi untuk menggantungkan nasibnya pada orang lain. Sayangnya hal itu tak dapat dia hindari dalam kehidupan sehari-hari.Mau tak mau Shinichi harus bersedia menggantungkan dirinya pada orang lain. Pada saat sakit dia harus percaya pada seorang dokter. Pada saat naik kereta api dia harus percaya pada ketrampilan masinis. Bahkan pada saat makan Shinichi sebatas memilih rumah makan, selebihnya dia "harus" percaya bahwa si koki tidak menghidangkan makanan basi. Percaya, percaya dan percaya. Apalagi yang harus Shinichi lakukan selain mencoba mempercayakan banyak hal dalam hidupnya pada orang lain. Surender, berhenti mencoba mengendalikan segala sesuatu. Biarlah Tuhan yang akan menjaganya.
Hidalgo dan Rehab Rumah

Tak seperti teman-teman kuliahnya yang mengincar perusahaan-perusahaan konstruksi besar, Hidalgo bersama 3 orang temannya memilih mendirikan sendiri sebuah biro konsultan kecil yang mengkhususkan diri pada renovasi rumah pribadi ukuran sedang. Jadilah Hidalgo berburu konsumen di seantero kota, mencari orang-orang yang hendak merenovasi rumah, terutama para pemilik rumah kelas menengah yang sebenarnya tak ingin mengeluarkan biaya untuk menyewa konsultan.
Hari-hari yang sulit harus dilalui oleh Hidalgo. Betapa sulitnya sebuah biro konsultan baru untuk mendapatkan kepercayaan dari orang-orang yang hendak merenovasi rumah yang menurut mereka bisa ditangani sendiri. Disamping menyebarkan pamflet, Hidalgo harus memburu konsumen dari pintu-ke pintu, dari arisan ke arisan, sampai mendatangi koperasi karyawan perusahaan-perusahaan besar dan terkadang tengah malam baru kembali dari “perburuannya” karena calon klien hanya punya waktu luang seusai pulang kerja.
Setelah dua setengah tahun kerja keras yang melelahkan, Hidalgo mulai bisa bernafas lega. Walaupun baru 3- 4 klien tiap bulan, Hidalgo sangat optimis terhadap masa depan perusahaan. Trend penambahan jumlah klien dianggapnya sangat meyakinkan. Enam bulan yang lalu mereka baru mendapat 1 klien per bulan, bahkan setahun silam mereka hanya mendapat 1 klien tiap 2 bulan dan kini 3-4 klien perbulan adalah sebuah peningkatan yang tajam.
Pada prinsipnya Hidalgo melihat peluang pasar bagi konsultan renovasi rumah terbuka lebar karena kebanyakan orang --- awam terhadap bangunan dan banyak orang tak punya waktu luang. Terkadang seseorang yang tak tahu menahu tentang bangunan menjadi gamang saat akan merenovasi rumah. Dengan sedikit waktu yang dimiliki, mereka harus mencari tukang gambar, melakukan estimasi kebutuhan material, mencari tukang bangunan & tukang kayu, membeli material, sampai mengawasi jalannya renovasi. Belum lagi ada resiko tertipu. Hidalgo bersedia mengambil alih semua pekerjaan itu dengan bayaran yang tidak mahal. Harga sengaja dibuat semurah mungkin karena Hidalgo ingin membantu para pemilik rumah kelas menengah yang jumlahnya dianggapnya jauh lebih besar dibanding pemilik rumah mewah. Si pemilik rumah cukup datang ke Hidalgo sambil menjelaskan rencana renovasi, dan semuanya akan ditangani oleh Hidalgo sampai renovasi selesai. Pokoknya One Stop Shoping.
^_^
Shinichi Kudo mengantar Hidalgo beserta ketiga temannya ke stasiun kereta untuk pulang. Tiga hari masa liburan Hidalgo udah usai. Semalam mereka sempat bertukar cerita tentang pekerjaan, sambil di temani jagung bakar dan menikmati indahnya pemandangan kerlap-kerlip lampu Kota Baru Parahyangan yang terhampar jauh di bawah mereka. Tiga tahun silam mereka pernah melakukan hal serupa di Kaliurang, bedanya waktu itu yang mereka perbincangkan adalah rencana-rencana setelah lulus kuliah yang kini mulai terwujud, dan pemandangan yang terhampar adalah kilauan lampu-lampu kota pelajar yang menawan (nl).
Label:
cerita pendek
AKEMI
Angin berhembus kencang mengguncang pepohonan saat Maruko melangkah gontai meninggalkan gerbang kantor menyibak tumpukan daun kering yang mulai menggunung menyelimuti permukaan jalan. Ternyata sulit untuk meyakinkan orang agar mau kembali merintis sesuatu yang pernah gagal dilakukan. Harus ada bukti untuk membuat mereka yakin. Maruko harus menghadirkan seseorang yang pernah sukses merintis hal itu agar mendapat dukungan dari teman-temannya.== o ==
Sabtu pagi berhias angin kering di Taman Lalu Lintas ketika Shinichi Kudo memperkenalkan Maruko pada Akemi. Senyum Akemi mengembang saat menjabat tangan Maruko, seraya berkata bahwa dia telah mengetahui keinginan Maruko. Sesaat kemudian sambil mengawasi putri kecilnya yang asyik mengendarai mobil-mobilan, Akemi mulai bercerita.Lima tahun lalu Akemi mulai merintis tempat penitipan bayi di kantornya, sebuah perusahaan garment.
Bermula dari kesulitan yang dirasakannya saat memiliki bayi kecil. Setiap pagi sebelum berangkat dia harus mempersiapkan kebutuhan bayi untuk sehari sambil tak lupa memberi “briefing singkat” pada baby sitter; menelpon ke rumah setiap tiga jam untuk memastikan kebutuhan si kecil telah ditangani dengan baik, dan harus lebih sering menelpon lagi bila si kecil sakit. Kemudian setiap waktu istirahat dia harus bergegas mengirim ASI dalam botol untuk bayinya ke rumah. Dan yang paling berat adalah Akemi merasa tidak pernah ketemu bayinya selain malam hari, sesuatu yang membuatnya tidak nyaman.
Berangkat dari pengalaman tersebut dan ditambah pengalaman teman-teman kerjanya yang kebanyakan perempuan-- mulailah Akemi membujuk teman-temannya yang memiliki bayi untuk mendukung rencananya. Setelah hampir dua bulan menebar “bujukan maut” akhirnya Akemi berhasil mengumpulkan tujuh orang temannya untuk menjadi panitia kecil pendirian tempat penitipan bayi. Tentu saja Akemi melibatkan serikat karyawan sebagai payung untuk mewujudkan rencananya.Dengan bantuan seorang tokoh senior serikat karyawan, Akemi berhasil mendapatkan pinjaman sebuah ruang di Guest House perusahaan sebagai lokasi penitipan bayi.
Langkah berikutnya Akemi menghubungi pengelola tempat penitipan bayi “Baby Boomers” yang telah terkenal baik kualitasnya untuk mengelola tempat penitipan tersebut. Akemi berhasil menegosiasikan tarif penitipan yang lebih rendah karena Baby Boomers tak perlu menyediakan tempat, mereka cukup menyediakan tenaga pengelola penitipan bayi. Bahkan untuk tenaga dokter, Akemi bisa minta bantuan dokter poliklinik perusahaan. Akemi sengaja bekerjasama dengan tempat penitipan bayi profesional karena ingin bayi-bayi karyawan ditangani dengan baik. Disamping itu Akemi dan kawan-kawannya tak punya waktu bila harus mengelola sendiri tempat penitipan bayi. Bisa-bisa rencana pendirian tersebut tinggal rencana saja karena kesulitan mencari waktu luang seperti yang pernah terjadi pada rencana-rencana sebelumnya.
== o ==
Kini setiap waktu istirahat tampak puluhan karyawan menyambangi tempat penitipan bayi untuk menyusui atau sekedar menengok anaknya. Bahkan beberapa karyawan perusahaan tetangga ikut menitipkan bayi di tempat mereka. Hubungan karyawan dengan bayinya menjadi semakin dekat, dan mereka bisa bekerja dengan tenang karena tak perlu khawatir lagi akan nasib bayinya seperti bila ditinggal di rumah.
== o ==
Daun-daun pepohonan berguguran di Taman Lalu Lintas, belasan anak-anak meloncat-loncat gembira menangkapi daun-daun yang jatuh dari pohon-pohon yang memang saatnya meranggas itu. Maruko tersenyum melihat tingkah laku anak-anak tersebut. Semangat untuk mendirikan tempat penitipan bayi di kantor mulai tumbuh kembali. Maruko bermaksud mengundang Akemi untuk bercerita di depan teman-teman kerjanya. Mudah-mudahan rencana--yang sebenarnya diawali rasa kasihan melihat temannya jarang bertemu dengan bayinya itu-- mendapat dukungan. Terbayang dalam benaknya--cerita tentang karyawan yang mengorbankan waktu istirahat agar bisa mengirim botol ASI untuk bayinya di rumah-- kelak akan menjadi sebuah cerita kuno (nl).
Label:
cerita pendek
Subscribe to:
Posts (Atom)