How High Can You Go ?

Kaoru dan Akira adalah manajer produksi pada sebuah perusahaan. Kaoru memproduksi produk A, sedang Akira produk B. Pada saat perusahaan berencana meningkatkan standar yang dipakai untuk proses produksi, Kaoru dengan senang hati menerimanya, tetapi Akira tidak. Akira meminta perusahaan melakukan kajian terhadap standar yang baru. Apakah standar baru tersebut adalah persyaratan minimal untuk proses produksi yang tak dapat ditawar-tawar lagi, atau hanya sekedar sebuah standar ideal yang tidak ada keharusan untuk diikuti. Akira menyatakan keberatan bila harus "terbang" setinggi Kaoru.

Mengapa Akira tidak semudah Kaoru dalam menerima standar baru?

Kaoru memproduksi Produk A, yang karena sifat produksinya mikrolab, tidak membutuhkan ruang yang luas, maupun bahan baku yang banyak, sehingga biaya produksinya rendah. Perusahaan mendapat margin keuntungan yang besar karena harga jual produk A juga tinggi. Dengan sifat-sifat produksinya tersebut, produk A dapat dengan mudah mengikuti standar produksi yang tinggi. Alat-alat tertentu dapat sekali pakai, demikian juga dengan penggunaan bahan-bahan, peralatan produksi dan standar ruangan dapat dengan mudah mengikuti standar yang tinggi. Disamping itu peningkatan biaya produksi masih dapat diimbangi harga jual produk yang tinggi.

Akira bertanggung jawab terhadap Produk B yang merupakan produk yang membutuhkan bahan baku yang banyak, peralatan besar dan ruangan yang luas untuk dapat berproduksi. Harga jual produk B pun tidak tinggi, sehingga perusahaan mendapat margin keuntungan yang tipis. Akibatnya produk B cenderung diproduksi dengan mengikuti persyaratan dasar saja. Produk B tidak begitu saja dapat mengikuti standar produksi yang tinggi seperti produk A, karena harus dijaga agar biaya produksi tidak melampaui harga jual produk.

Pada dasarnya bisnis manufaktur mencari untung dari selisih antara biaya produksi dengan harga jual produk. Biaya produksi terkait erat dengan kualitas produk yang akan dihasilkan, termasuk standar produksi yang digunakan. Semakin tinggi standar produksi, berpotensi semakin membengkakkan biaya produksi. Sementara konsumen calon pembeli produk memiliki ambang batas harga yang bersedia dibayar untuk sebuah produk. Standar produksi adalah kompromi antara biaya produksi dengan jumlah uang yang bersedia dibayar konsumen untuk mendapatkan produk tersebut.

Lalu, menurut Akira, standar mana yang sebaiknya digunakan perusahaan untuk memproduksi produk B?

Bagi Akira, standar dasar yang masih memenuhi persyaratan adalah sebuah pilihan realistis bagi produk B. Margin keuntungan tipis, akan semakin menipis bila perusahaan memaksakan diri memakai standar produksi yang tinggi. Perusahaan harus sangat berhati-hati bila ingin menyeragamkan standar produksi antara produk A dengan produk B, karena hal itu bisa berarti perusahaan menjual rugi produk B
(kalimantan 5 bandung)

1 comment: